Kuliner Legendaris

Es Pleret Alun-Alun Blitar

di Blitar, Jawa Timur

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Menelusuri Kesegaran Legendaris Es Pleret Alun-Alun Blitar: Warisan Rasa Kota Patria

Blitar, sebuah kota yang tenang di kaki Gunung Kelud, tidak hanya dikenal sebagai tempat peristirahatan terakhir Sang Proklamator, Bung Karno. Di balik sejarah perjuangannya, Blitar menyimpan khazanah kuliner yang telah bertahan melintasi zaman. Salah satu ikon yang paling melekat dalam ingatan kolektif warga lokal maupun wisatawan adalah Es Pleret. Berlokasi strategis di kawasan Alun-Alun Blitar, minuman tradisional ini bukan sekadar pelepas dahaga, melainkan perwujudan dari kearifan lokal dalam mengolah hasil bumi menjadi mahakarya rasa.

#

Filosofi dan Asal-Usul Nama "Pleret"

Nama "Pleret" sendiri memiliki akar bahasa Jawa yang merujuk pada teknik pembuatannya. Kata ini berasal dari gerakan tangan saat membentuk adonan tepung beras. Adonan yang sudah kalis diambil sedikit demi sedikit, diletakkan di atas ibu jari, kemudian ditekan dan ditarik ("di-pleret") hingga membentuk cekungan memanjang yang unik.

Secara historis, Es Pleret telah ada di kawasan Alun-Alun Blitar sejak puluhan tahun yang lalu. Dahulu, para penjual menjajakannya menggunakan pikulan kayu yang khas, berkeliling dari kampung ke kampung sebelum akhirnya menetap di sekitar pusat kota. Keberadaannya di Alun-Alun menjadikan minuman ini sebagai elemen tak terpisahkan dari denyut nadi kehidupan sosial masyarakat Blitar. Menikmati semangkuk Es Pleret di bawah rindangnya pohon beringin Alun-Alun adalah ritual sore yang sakral bagi banyak keluarga lintas generasi.

#

Anatomi Rasa: Komposisi dan Bahan Baku Utama

Es Pleret Alun-Alun Blitar memiliki profil rasa yang kompleks namun seimbang—perpaduan antara gurih, manis, dan tekstur yang kenyal. Berikut adalah elemen-elemen utama yang membentuk karakter uniknya:

1. Pleret (Bola-bola Beras): Ini adalah bintang utamanya. Terbuat dari tepung beras berkualitas tinggi yang dicampur dengan sedikit air dan garam. Pleret yang autentik tidak memiliki isian, namun teksturnya harus pas; tidak terlalu lembek saat terkena santan dan tidak terlalu keras saat dikunyah. Bentuknya yang cekung berfungsi untuk "menampung" sedikit kuah santan di dalamnya, menciptakan ledakan rasa saat digigit.

2. Kuah Santan: Santan yang digunakan haruslah berasal dari perasan kelapa tua yang segar untuk mendapatkan konsistensi creamy yang maksimal. Santan ini direbus dengan daun pandan dan sedikit garam hingga aromanya harum.

3. Sirup Gula Merah (Juruh): Manisnya Es Pleret bukan berasal dari gula pasir, melainkan "juruh" atau sirup kental yang terbuat dari gula kelapa murni (gula jawa). Di Blitar, kualitas gula kelapa sangat diperhatikan karena akan memengaruhi kedalaman rasa dan warna dari minuman tersebut.

4. Serabi dan Cendol (Opsional): Dalam variasi lengkapnya, Es Pleret sering didampingi oleh potongan serabi kecil yang gurih dan sedikit cendol hijau, menambah dimensi tekstur dalam setiap suapan.

#

Teknik Pembuatan Tradisional: Warisan yang Terjaga

Keunikan Es Pleret terletak pada proses pembuatannya yang masih mempertahankan metode manual. Meskipun teknologi pangan berkembang pesat, para perajin Pleret di Blitar tetap memilih membentuk adonan dengan tangan satu per satu.

Proses dimulai dengan menanak tepung beras hingga setengah matang. Adonan ini kemudian diuleni saat masih hangat agar elastisitasnya terjaga. Teknik "pleret" menggunakan ibu jari memerlukan keterampilan khusus; jika tekanan terlalu kuat, adonan akan pecah, namun jika terlalu lemah, bentuknya tidak akan sempurna. Setelah dibentuk, pleret dikukus kembali hingga matang sempurna dan berwarna putih bersih.

Penggunaan api kayu bakar dalam proses perebusan santan dan pembuatan juruh juga masih ditemukan di beberapa kedai legendaris. Asap dari kayu bakar diyakini memberikan aroma smoky tipis yang menambah keautentikan rasa yang tidak bisa dihasilkan oleh kompor gas modern.

#

Pengalaman Kuliner di Alun-Alun Blitar

Mengunjungi Alun-Alun Blitar tanpa mencicipi Es Pleret terasa tidak lengkap. Di sini, Anda akan menemukan deretan pedagang yang setia dengan gerobak khasnya. Cara penyajiannya sangat sederhana namun menggugah selera. Penjual akan mengambil segenggam pleret, menambahkannya dengan potongan serabi, lalu menyiramnya dengan santan putih yang kontras dengan sirup gula merah yang pekat di dasar mangkuk. Bongkahan es batu ditambahkan di akhir untuk memberikan kesegaran yang kontras dengan gurihnya santan.

Tradisi makan di sini sangat kental dengan budaya "lesehan" atau duduk di atas tikar. Masyarakat Blitar sering berkumpul di sore hari, menikmati semangkuk Es Pleret sambil memandang monumen atau sekadar mengobrol. Ini adalah bentuk interaksi sosial yang mempererat ikatan komunitas, di mana kasta sosial seolah luruh dalam segarnya kuah santan dan manisnya gula kelapa.

#

Signifikansi Budaya dan Pelestarian

Es Pleret bukan sekadar produk komersial; ia adalah identitas. Di tengah gempuran minuman kekinian seperti boba atau kopi susu, Es Pleret tetap bertahan sebagai primadona lokal. Hal ini dikarenakan adanya keterikatan emosional antara kuliner ini dengan memori masa kecil warga Blitar.

Beberapa keluarga di Blitar telah menjadi produsen Pleret selama tiga generasi. Keahlian ini diwariskan secara lisan dan praktik langsung, menjaga agar resep rahasia dan teknik memelintir adonan tidak punah. Pemerintah Kota Blitar pun turut berperan dengan menjadikan Es Pleret sebagai menu wajib dalam festival budaya dan acara penyambutan tamu-tamu kenegaraan, menegaskan posisinya sebagai "Diplomasi Rasa" dari Kota Patria.

#

Keunikan yang Membedakan

Apa yang membedakan Es Pleret Blitar dengan minuman serupa seperti Es Dawet atau Es Cendol di daerah lain di Jawa Timur? Perbedaannya terletak pada "jiwa" dari Pleret itu sendiri. Jika dawet terbuat dari tepung sagu atau aren yang licin, Pleret memiliki kepadatan yang memberikan rasa kenyang lebih lama. Selain itu, penggunaan gula kelapa asli Blitar memberikan rasa manis yang "legit" dan tidak meninggalkan rasa serak di tenggorokan.

Warna putih bersih dari pleret yang melambangkan kesucian, bersatu dengan warna cokelat dari gula yang melambangkan tanah, seringkali dianggap oleh masyarakat setempat sebagai simbol harmoni antara manusia dan alam.

#

Penutup: Merayakan Keaslian

Es Pleret Alun-Alun Blitar adalah bukti nyata bahwa kesederhanaan bahan baku, jika diolah dengan ketulusan dan teknik yang tepat, dapat menghasilkan warisan kuliner yang abadi. Ia adalah perpaduan antara seni tangan, hasil bumi Blitar, dan sejarah panjang masyarakatnya.

Bagi siapa pun yang berkunjung ke Blitar, menyempatkan diri untuk duduk di pinggir Alun-Alun dan menyesap dinginnya Es Pleret adalah cara terbaik untuk mengenal kota ini lebih dalam. Di setiap mangkuknya, terdapat cerita tentang ketekunan para perajin, kehangatan warga Jawa Timur, dan rasa yang tidak akan pernah lekang oleh waktu. Es Pleret bukan sekadar minuman; ia adalah detak jantung kuliner Blitar yang terus berdenyut, menyegarkan setiap jiwa yang singgah.

📋 Informasi Kunjungan

address
Sekitar Alun-Alun Kota Blitar, Jl. Merdeka
entrance fee
Mulai dari Rp 5.000 per porsi
opening hours
Setiap hari, 09:00 - 16:00

Tempat Menarik Lainnya di Blitar

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Blitar

Pelajari lebih lanjut tentang Blitar dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Blitar