Situs Sejarah

Makam Bung Karno

di Blitar, Jawa Timur

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Makam Bung Karno: Episentrum Sejarah dan Spiritualitas Nasionalisme di Blitar

Makam Bung Karno merupakan sebuah kompleks pemakaman bagi Proklamator sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Terletak di Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, Jawa Timur, situs ini bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir seorang tokoh besar, melainkan simbol identitas bangsa dan pusat ziarah politik bagi rakyat Indonesia.

#

Latar Belakang Sejarah dan Kontroversi Penetapan Lokasi

Wafatnya Soekarno pada 21 Juni 1970 di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, menyisakan polemik sejarah terkait lokasi pemakamannya. Dalam wasiatnya, Bung Karno sebenarnya berkeinginan untuk dimakamkan di bawah pohon rindang di kawasan Priangan (Jawa Barat), atau setidaknya di tempat yang tenang. Namun, Pemerintahan Orde Baru di bawah Soeharto memutuskan untuk memakamkan beliau di Blitar dengan alasan agar dekat dengan makam ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai.

Secara politis, banyak sejarawan menilai pemindahan lokasi ke Blitar merupakan upaya de-Soekarnoisasi oleh rezim saat itu untuk menjauhkan pengaruh figur Soekarno dari pusat kekuasaan di Jakarta. Pemakaman dilakukan pada 22 Juni 1970 melalui upacara kenegaraan yang dipimpin oleh Jenderal Panggabean. Sejak saat itu, Blitar yang semula dikenal sebagai kota kecil, berubah menjadi titik fokus perhatian nasional.

#

Arsitektur: Perpaduan Modernitas dan Tradisi Jawa

Gaya arsitektur Makam Bung Karno mengalami transformasi signifikan dari masa ke masa. Pada awalnya, makam ini sangat sederhana. Perubahan besar terjadi pada tahun 1978 melalui renovasi besar-besaran yang diprakarsai oleh pemerintah. Arsitektur situs ini mengusung konsep Joglo Jawa yang sangat kuat, namun dipadukan dengan sentuhan modernitas.

Kompleks makam terbagi dalam tiga zona utama yang mencerminkan filosofi kehidupan manusia: *Halaman Luar*, *Halaman Tengah*, dan *Halaman Utama (Cungkup)*. Bangunan utama yang menaungi nisan Bung Karno disebut dengan Astana Mulyo. Bangunan ini berbentuk Joglo khas Jawa dengan atap bertingkat tiga yang disebut Tajuk.

Bahan bangunan menggunakan material berkualitas tinggi seperti marmer Tulungagung dan kayu jati pilihan. Detail ukiran pada pilar-pilar bangunan mencerminkan akulturasi budaya, di mana motif-motif tradisional Jawa berpadu dengan simbol-simbol perjuangan. Di dalam Cungkup Astana Mulyo, terdapat tiga nisan: Bung Karno berada di tengah, diapit oleh makam ayahnya, R. Soekeni Sosrodihardjo, dan ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai. Nisan Bung Karno sendiri terbuat dari batu pualam hitam dengan tulisan: "Di sini beristirahat Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia."

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Makam Bung Karno menjadi saksi bisu berbagai peristiwa sejarah pasca-kemerdekaan. Setiap menjelang momen nasional seperti Hari Kemerdekaan 17 Agustus atau Hari Lahir Pancasila 1 Juni, situs ini menjadi pusat perhatian. Salah satu fakta sejarah yang unik adalah adanya tradisi "Ziarah Politik". Hampir seluruh tokoh penting di Indonesia, mulai dari presiden-presiden setelahnya hingga aktivis pergerakan, merasa perlu mengunjungi makam ini untuk mendapatkan legitimasi spiritual maupun politik.

Keberadaan makam ini juga memperkuat posisi Blitar sebagai "Kota Proklamator". Di masa lalu, akses menuju makam sempat dibatasi dan dijaga ketat oleh militer untuk mencegah pengkultusan individu. Namun, seiring dengan bergulirnya Era Reformasi, akses dibuka seluas-luasnya, dan situs ini berkembang menjadi destinasi wisata sejarah nomor satu di Jawa Timur.

#

Pelestarian dan Pengembangan Kompleks Perpustakaan

Pemerintah Indonesia secara konsisten melakukan upaya pelestarian. Salah satu langkah paling visioner adalah pembangunan Perpustakaan dan Museum Bung Karno yang diresmikan pada tahun 2004 oleh Presiden Megawati Soekarnoputri. Penambahan fasilitas ini mengubah status situs dari sekadar makam menjadi pusat studi sejarah.

Restoran dan konservasi bangunan dilakukan secara berkala untuk menjaga keutuhan marmer dan struktur kayu Joglo dari kerusakan cuaca. Area sekitarnya kini telah ditata dengan konsep pedestrian yang luas, taman yang asri, serta kolam air yang memberikan suasana tenang bagi para peziarah.

#

Dimensi Kultural dan Religi

Makam Bung Karno memiliki kedudukan unik dalam budaya masyarakat Indonesia. Di satu sisi, ia adalah situs sejarah formal, namun di sisi lain, ia memiliki dimensi religi yang kental. Banyak peziarah datang bukan hanya untuk mempelajari sejarah, tetapi juga untuk mendoakan beliau dalam tradisi "nyekar" atau tahlilan.

Fenomena "sumur doa" atau air di sekitar makam yang sering dianggap membawa berkah oleh sebagian masyarakat menunjukkan betapa kuatnya pengaruh figur Bung Karno dalam psikologi massa. Secara kultural, makam ini menjadi simbol penyatuan nasionalisme dan spiritualitas, di mana nilai-nilai kebangsaan dirayakan berdampingan dengan nilai-nilai religius.

#

Fakta Sejarah Unik

Terdapat beberapa fakta unik yang jarang diketahui publik mengenai situs ini:

1. Pagar Kaca: Pada masa Orde Baru, makam Bung Karno sempat disekat dengan pagar kaca tebal untuk membatasi interaksi fisik peziarah dengan nisan. Pagar ini baru dilepas sepenuhnya setelah pergantian rezim.

2. Patung Perunggu: Di pintu masuk kompleks, terdapat patung perunggu Bung Karno yang sedang duduk membaca buku, melambangkan kecerdasan intelektual beliau.

3. Gong Perdamaian: Di kawasan ini juga terdapat Gong Perdamaian Dunia sebagai simbol bahwa pemikiran Bung Karno tentang perdamaian internasional tetap relevan hingga kini.

#

Kesimpulan

Makam Bung Karno di Blitar adalah lebih dari sekadar monumen kematian; ia adalah monumen kehidupan bagi pemikiran-pemikiran besar tentang kemerdekaan, marhaenisme, dan persatuan. Dengan arsitektur yang megah namun tetap berpijak pada tradisi Jawa, situs ini terus berdiri sebagai pengingat bagi generasi muda tentang dedikasi seorang pemimpin yang menyerahkan seluruh hidupnya untuk kedaulatan Indonesia. Pelestarian situs ini merupakan tanggung jawab kolektif guna memastikan bahwa api semangat Bung Karno tidak pernah padam di bumi nusantara.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Ir. Soekarno No. 152, Bendogerit, Kec. Sananwetan, Kota Blitar
entrance fee
Rp 3.000 (Sumbangan kebersihan)
opening hours
Setiap hari, 07:00 - 17:00

Tempat Menarik Lainnya di Blitar

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Blitar

Pelajari lebih lanjut tentang Blitar dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Blitar