Bojonegoro
CommonDipublikasikan: Januari 2025
History
#
Sejarah dan Perkembangan Kabupaten Bojonegoro: Dari Masa Kadipaten hingga Lumbung Energi
Asal-Usul dan Masa Pra-Kolonial
Jejak sejarah Bojonegoro berakar jauh sebelum terbentuknya pemerintahan formal. Wilayah ini dahulu merupakan bagian dari kekuasaan Kerajaan Majapahit. Secara etimologis, nama Bojonegoro diyakini berasal dari kata "Bojo" yang berarti istri atau subjek, dan "Negoro" yang berarti negara. Namun, identitas resminya mulai menguat pada abad ke-17. Pada 20 Oktober 1677, Mas Tumenggung Djojonegoro diangkat sebagai Bupati pertama di Jipang (sekarang berada di wilayah Kecamatan Padangan) oleh Sunan Amangkurat II dari Mataram. Tanggal inilah yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Bojonegoro. Pusat pemerintahan kemudian berpindah dari Jipang ke Desa Rajekwesi pada tahun 1725, yang dipimpin oleh Ki Bagus Harun (Tumenggung Harya Matahun).
Masa Kolonial dan Perlawanan Rakyat
Selama periode kolonial Hindia Belanda, Bojonegoro memegang peran strategis sebagai daerah penghasil kayu jati berkualitas tinggi dari hutan-hutan di Pegunungan Kendeng. Nama "Rajekwesi" secara resmi diubah kembali menjadi Bojonegoro pada tahun 1828 oleh pemerintah Belanda setelah berakhirnya Perang Diponegoro. Wilayah ini juga mencatat sejarah perlawanan rakyat yang ikonik, yaitu gerakan Samin yang dipelopori oleh Samin Surosentiko di awal abad ke-20. Ajaran Samin yang menekankan pada pembangkangan sipil tanpa kekerasan (menolak membayar pajak dan menolak aturan kehutanan Belanda) menjadi simbol perlawanan kultural yang unik dan masih lestari hingga kini di Dusun Jepang, Desa Margomulyo.
Era Kemerdekaan dan Perjuangan Fisik
Pasca proklamasi 1945, Bojonegoro menjadi medan pertempuran penting dalam mempertahankan kemerdekaan. Tokoh militer legendaris, Letnan Satu (Lettu) Suyitno, gugur dalam pertempuran melawan agresi militer Belanda di jembatan penghubung Bojonegoro-Cepu pada tahun 1949. Pengorbanannya diabadikan melalui Monumen Lettu Suyitno di Alun-Alun kota. Secara administratif, Bojonegoro merupakan bagian dari Karesidenan Bojonegoro yang mencakup Tuban dan Lamongan, menjadikannya pusat koordinasi penting di Jawa Timur bagian barat.
Warisan Budaya dan Identitas Lokal
Bojonegoro memiliki kekayaan budaya yang spesifik, salah satunya adalah Tari Thengul yang terinspirasi dari Wayang Thengul—wayang kayu khas setempat yang berbeda dengan Wayang Golek Jawa Barat. Selain itu, tradisi "Larung Sesaji" di Sungai Bengawan Solo mencerminkan hubungan mendalam masyarakat dengan sungai terpanjang di Pulau Jawa tersebut, yang secara historis menjadi jalur transportasi utama perdagangan kayu dan rempah.
Modernisasi: Menuju Lumbung Energi Nasional
Memasuki abad ke-21, wajah Bojonegoro bertransformasi secara drastis dengan ditemukannya cadangan minyak bumi raksasa di Blok Cepu, khususnya Lapangan Banyu Urip di Kecamatan Gayam. Penemuan ini menempatkan Bojonegoro sebagai produsen minyak mentah terbesar di Indonesia, menyumbang sekitar 25-30% produksi nasional. Transformasi dari daerah agraris yang sering terdampak banjir Bengawan Solo menjadi daerah industri migas telah memicu pembangunan infrastruktur masif, seperti Jembatan Sosrodilogo yang ikonik dan pengembangan agrowisata kebun belimbing di Ngringinrejo. Meski modernisasi melaju cepat, Bojonegoro tetap mempertahankan jati dirinya sebagai wilayah yang tangguh di persimpangan sejarah Jawa Mataraman dan pesisiran.
Geography
#
Profil Geografis Kabupaten Bojonegoro
Kabupaten Bojonegoro merupakan wilayah administratif yang terletak di pedalaman Provinsi Jawa Timur, tepatnya pada koordinat antara 111°25' hingga 112°09' Bujur Timur dan 6°59' hingga 7°37' Lintang Selatan. Dengan luas wilayah mencapai 2.323,65 km², Bojonegoro memiliki karakteristik geografis yang unik karena posisinya yang berada di tengah daratan (landlocked) tanpa garis pantai, berbatasan langsung dengan delapan wilayah administratif: Tuban, Lamongan, Nganjuk, Madiun, Ngawi, serta Blora di Jawa Tengah.
##
Topografi dan Bentang Alam
Secara topografis, wilayah Bojonegoro didominasi oleh dataran rendah yang diapit oleh dua zona pegunungan kapur. Di bagian utara, terdapat Pegunungan Kapur Utara yang memanjang, sementara di bagian selatan membentang Pegunungan Kendeng yang merupakan bagian dari zona depresi Jawa. Di antara kedua perbukitan ini, terbentang lembah sungai yang subur.
Fitur geografis yang paling ikonik adalah Sungai Bengawan Solo. Sungai terpanjang di Pulau Jawa ini mengalir membelah kabupaten dari arah barat ke timur laut sepanjang kurang lebih 100 kilometer. Keberadaan sungai ini menciptakan dataran aluvial yang sangat luas, namun di sisi lain menjadikannya wilayah yang rawan terhadap perubahan debit air ekstrem antara musim kemarau dan penghujan.
##
Iklim dan Variasi Musiman
Bojonegoro dikenal sebagai salah satu daerah dengan suhu udara tertinggi di Jawa Timur. Iklimnya tergolong tropis basah dan kering (Aw) dengan perbedaan musim yang sangat kontras. Selama musim kemarau, suhu udara dapat mencapai 36-38 derajat Celcius, sementara curah hujan tahunan berkisar antara 1.500 hingga 2.000 mm. Fenomena "Semburan Lumpur" dan rekahan tanah sering terjadi di beberapa titik pedalaman saat puncak kemarau akibat struktur tanah yang didominasi lempung hitam (grumusol).
##
Kekayaan Sumber Daya Alam
Geografi Bojonegoro menyimpan potensi mineral dan energi yang luar biasa. Wilayah ini berada di atas Cekungan Jawa Timur Utara yang kaya akan hidrokarbon. Blok Cepu, yang sebagian besar wilayah produksinya berada di Bojonegoro, menjadikannya salah satu produsen minyak bumi terbesar di Indonesia. Selain minyak, terdapat deposit kapur dan pasir darat yang melimpah di sepanjang daerah aliran sungai.
Di sektor agraris, tanah aluvial di sekitar bantaran Bengawan Solo sangat produktif untuk tanaman padi dan tembakau. Tembakau varietas Virginia Bojonegoro telah lama dikenal secara internasional karena kualitas aromanya yang khas, yang dipengaruhi oleh komposisi mineral tanah setempat.
##
Ekologi dan Biodiversitas
Sekitar 40% wilayah Bojonegoro merupakan kawasan hutan jati (Tectona grandis) yang dikelola oleh Perhutani. Hutan-hutan ini tersebar di Pegunungan Kendeng dan menjadi zona penyangga ekologis penting. Keanekaragaman hayati di wilayah ini mencakup berbagai spesies burung air di rawa-rawa musiman serta vegetasi khas hutan musim. Upaya konservasi difokuskan pada perlindungan daerah tangkapan air guna menjaga stabilitas ekosistem lembah Bengawan Solo yang terus mengalami dinamika geomorfologis.
Culture
Kekayaan Budaya Bojonegoro: Pesona Bumi Angling Dharma
Bojonegoro, sebuah kabupaten seluas 2.323,65 km² yang terletak di bagian tengah Jawa Timur, merupakan wilayah pedalaman yang menyimpan kekayaan budaya luhur. Meskipun tidak memiliki garis pantai, daerah yang berbatasan dengan delapan wilayah ini memiliki identitas budaya yang kuat, yang berakar pada sejarah Kerajaan Malawapati dan pengaruh aliran Sungai Bengawan Solo.
#
Tradisi dan Upacara Adat
Salah satu tradisi paling ikonik adalah Samin. Masyarakat Samin di Dusun Jepang, Desa Margomulyo, memegang teguh ajaran Samin Surosentiko yang mengedepankan kejujuran, kesederhanaan, dan perlawanan tanpa kekerasan terhadap ketidakadilan. Selain itu, terdapat upacara Manganan atau Sedekah Bumi yang dilakukan di hampir setiap desa sebagai bentuk syukur atas hasil panen. Di kawasan Kayangan Api, api abadi yang tak pernah padam, sering diadakan ritual pengambilan api untuk hari jadi kabupaten serta ruwatan bagi masyarakat setempat.
#
Kesenian dan Pertunjukan
Ikon kesenian Bojonegoro yang paling terkenal adalah Tari Thengul. Tarian ini terinspirasi dari Wayang Thengul, yaitu wayang golek kayu khas Bojonegoro yang memiliki gerakan kaku namun ekspresif. Selain itu, terdapat Sandur, pertunjukan teater rakyat yang memadukan unsur tari, musik, dan drama ritual. Sandur melibatkan tokoh-tokoh seperti Cawik dan Balun, dengan atraksi memanjat bambu (kalong) yang melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan.
#
Kuliner Khas dan Cita Rasa Lokal
Dapur Bojonegoro menawarkan keunikan yang tidak ditemukan di daerah lain. Ledre adalah camilan khas berbentuk gapit panjang dengan aroma pisang raja yang kuat. Untuk hidangan utama, Sego Buwuhan menjadi primadona; nasi dengan lauk mi, sayur tewel (nangka muda), sate daging sapi, dan rempeyek yang dibungkus daun jati. Selain itu, Sego Gulo dan olahan Iwak Gloso dari Waduk Pacal memberikan variasi rasa gurih dan manis yang otentik.
#
Bahasa dan Dialek
Masyarakat Bojonegoro menggunakan bahasa Jawa dengan dialek yang khas, sering disebut sebagai percampuran antara dialek Jawa Tengah (Mataraman) dan Jawa Timuran. Salah satu ekspresi unik yang sering digunakan adalah kata "leh" atau "nem" di akhir kalimat sebagai penekanan, serta penggunaan istilah "ndak" untuk menyatakan negasi yang lebih halus dibandingkan dialek Suroboyoan.
#
Busana dan Tekstil
Bojonegoro memiliki motif batik khas yang dikenal dengan Batik Jonegoroan. Motif ini tidak menggunakan pola geometris klasik, melainkan mengangkat kearifan lokal seperti motif Gringsing, Sata Gondo Wangi (tembakau), Pari Sumilak (padi), dan Kayangan Api. Untuk pakaian tradisional, pria sering mengenakan busana khas Samin yang serba hitam dengan ikat kepala (udeng) sebagai simbol kesahajaan.
#
Festival Budaya
Setiap tahun, Festival Bengawan diselenggarakan untuk merayakan sungai terpanjang di Jawa yang membelah kabupaten ini. Festival ini menampilkan parade perahu hias dan ritual larung sesaji. Perayaan ini bukan sekadar hiburan, melainkan pengingat akan pentingnya sungai sebagai urat nadi kehidupan masyarakat Bojonegoro sejak zaman dahulu. Melalui perpaduan antara tradisi lisan, seni pertunjukan, dan kuliner, Bojonegoro terus mengukuhkan dirinya sebagai jantung kebudayaan Jawa yang tetap lestari di tengah modernisasi.
Tourism
#
Menjelajahi Pesona Bojonegoro: Permata Tersembunyi di Jantung Jawa Timur
Bojonegoro, sebuah kabupaten yang terletak strategis di bagian tengah Provinsi Jawa Timur, menawarkan pesona wisata yang unik dan autentik. Dengan luas wilayah mencapai 2.323,65 km² yang berbatasan dengan delapan wilayah tetangga, kabupaten ini bertransformasi dari sekadar daerah penghasil minyak menjadi destinasi wisata unggulan yang memadukan keajaiban geologi, kekayaan budaya, dan kuliner khas.
##
Keajaiban Geologi dan Alam yang Eksotis
Meskipun tidak memiliki garis pantai, Bojonegoro menyuguhkan fenomena alam langka yang sulit ditemukan di tempat lain. Ikon utamanya adalah Kayangan Api, sumber api abadi yang tak pernah padam meski diguyur hujan deras. Fenomena geologi ini telah ada sejak zaman Majapahit dan menjadi lokasi sakral untuk pengambilan api PON. Bagi pecinta air, Waduk Pacal menawarkan pemandangan bendungan peninggalan Belanda yang megah dengan latar perbukitan hijau. Selain itu, Negeri di Atas Angin di Kecamatan Sekar menyajikan panorama pegunungan dari ketinggian Pos Thuk, tempat terbaik untuk menikmati kabut pagi dan matahari terbit.
##
Jejak Budaya dan Sejarah
Kekayaan budaya Bojonegoro tercermin dalam Situs Geopark Nasional Hamparan Minyak Tradisional Wonocolo. Di sini, pengunjung dapat melihat langsung proses penambangan minyak secara tradisional menggunakan struktur kayu yang ikonik. Untuk pengalaman sejarah, Museum Rajekwesi menyimpan berbagai artefak purbakala yang ditemukan di sepanjang aliran Sungai Bengawan Solo. Kehidupan masyarakat lokal juga sangat kental dengan tradisi Tayub dan kerajinan batik Jonegoroan yang memiliki motif khas seperti Gringsing dan Sata Ganda Wangi.
##
Petualangan dan Aktivitas Luar Ruangan
Bagi pencari adrenalin, Bojonegoro menawarkan pengalaman menyusuri Sungai Bengawan Solo dengan perahu tradisional. Anda juga bisa mengeksplorasi Goa Lowo yang menantang atau melakukan trekking di kawasan hutan jati yang luas. Salah satu pengalaman unik yang wajib dicoba adalah "Agrowisata Belimbing Ngringinrejo". Di kebun seluas 20 hektar ini, pengunjung bisa memetik langsung buah belimbing madu yang berukuran besar dan manis langsung dari pohonnya.
##
Wisata Kuliner dan Keramahan Lokal
Perjalanan ke Bojonegoro belum lengkap tanpa mencicipi Ledre, camilan renyah berbahan dasar pisang raja yang menjadi buah tangan khas. Untuk hidangan berat, Sego Buwuhan yang berisi nasi dengan campuran mi, momoh tempe, dan daging sapi yang dibungkus daun jati menawarkan cita rasa tradisional yang tak terlupakan. Masyarakat Bojonegoro dikenal dengan keramahannya yang hangat, tercermin dalam pelayanan di berbagai pilihan akomodasi, mulai dari hotel berbintang di pusat kota hingga homestay berbasis desa wisata yang menawarkan pengalaman hidup bersama penduduk lokal.
##
Waktu Terbaik untuk Berkunjung
Waktu terbaik untuk mengunjungi Bojonegoro adalah pada musim kemarau (Mei hingga September). Pada periode ini, akses menuju objek wisata alam lebih mudah dijangkau, dan fenomena Kayangan Api terlihat paling indah di malam hari saat udara kering. Selain itu, akhir tahun biasanya dimeriahkan dengan perayaan Hari Jadi Bojonegoro yang penuh dengan festival budaya dan pameran ekonomi kreatif.
Economy
#
Profil Ekonomi Kabupaten Bojonegoro: Episentrum Energi dan Agribisnis Jawa Timur
Kabupaten Bojonegoro, yang terletak di posisi strategis bagian tengah Provinsi Jawa Timur, merupakan wilayah seluas 2.323,65 km² yang tidak memiliki garis pantai. Meskipun dikelilingi sepenuhnya oleh daratan dan berbatasan langsung dengan delapan wilayah (Tuban, Lamongan, Jombang, Nganjuk, Madiun, Ngawi, serta Blora dan Rembang di Jawa Tengah), Bojonegoro telah bertransformasi dari daerah agraris tradisional menjadi pilar energi nasional.
##
Sektor Hulu Migas dan Industri Strategis
Keunikan ekonomi Bojonegoro terletak pada dominasi sektor pertambangan dan penggalian. Wilayah ini menaungi Blok Cepu, dengan Lapangan Banyu Uru di Kecamatan Gayam sebagai kontributor utama produksi minyak mentah nasional (sekitar 25-30% lifting minyak nasional). Eksistensi operator besar seperti ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) dan Pertamina EP Cepu telah menciptakan efek pengganda (multiplier effect) pada industri jasa penunjang migas lokal, konstruksi, dan penyerapan tenaga kerja ahli maupun lokal melalui program pengembangan masyarakat.
##
Revitalisasi Pertanian dan Produk Unggulan
Meskipun sektor migas mendominasi PDRB, sektor pertanian tetap menjadi penyerap tenaga kerja terbesar. Sebagai salah satu lumbung pangan Jawa Timur, Bojonegoro mengandalkan komoditas padi dan palawija. Produk ikonik yang menjadi ciri khas ekonomi lokal adalah Salak Wedi dan Belimbing Ngringinrejo yang dikembangkan melalui konsep agrowisata. Selain itu, Bojonegoro merupakan produsen Tembakau Virginia kualitas ekspor yang menjadi bahan baku utama industri rokok besar di Indonesia.
##
Kerajinan Tradisional dan Ekonomi Kreatif
Sektor industri pengolahan didorong oleh pemanfaatan sumber daya alam non-migas. Bojonegoro dikenal luas melalui kerajinan Bubut Cukit (kerajinan kayu jati) dari kawasan Margomulyo. Kelimpahan bahan baku kayu jati berkualitas tinggi dari hutan Perhutani menjadikan industri furnitur dan ukiran kayu sebagai komoditas ekspor yang signifikan. Di sektor ekonomi kreatif, kerajinan Batik Bojonegoro dengan motif "Pari Sumilak" dan "Sata Gondo Wangi" terus berkembang sebagai identitas budaya sekaligus penggerak UMKM lokal.
##
Infrastruktur dan Konektivitas
Sebagai wilayah daratan, konektivitas darat menjadi tulang punggung ekonomi. Pembangunan Jembatan Terusan Bojonegoro-Tuban (TBT) dan Jembatan Terusan Bojonegoro-Blora (TBB) telah memperlancar arus barang lintas provinsi. Jalur kereta api ganda (double track) yang melintasi Stasiun Bojonegoro mempermudah distribusi logistik menuju Surabaya dan Semarang, sementara rencana pengembangan gerbang tol di wilayah selatan diproyeksikan akan semakin mengintegrasikan industri lokal dengan rantai pasok nasional.
##
Tren Ketenagakerjaan dan Masa Depan
Pemerintah daerah saat ini fokus pada diversifikasi ekonomi agar tidak terlalu bergantung pada dana bagi hasil (DBH) migas. Investasi diarahkan pada sektor jasa, perhotelan, dan pariwisata berbasis alam seperti Kayangan Api dan Waduk Pacal. Tren ketenagakerjaan menunjukkan pergeseran dari sektor primer ke sektor tersier, seiring dengan meningkatnya taraf pendidikan dan digitalisasi UMKM di wilayah "Bumi Angling Dharma" ini.
Demographics
#
Demografi Kabupaten Bojonegoro: Profil dan Dinamika Penduduk
Kabupaten Bojonegoro, yang terletak di bagian tengah-barat Provinsi Jawa Timur, memiliki karakteristik demografis yang unik sebagai wilayah agraris yang bertransformasi menjadi pusat energi nasional. Dengan luas wilayah mencapai 2.323,65 km², kabupaten ini dihuni oleh sekitar 1,3 juta jiwa. Kepadatan penduduk rata-rata berada di angka 560 jiwa per km², namun distribusinya tidak merata. Konsentrasi penduduk tertinggi berada di wilayah perkotaan seperti Kecamatan Bojonegoro, serta koridor sepanjang aliran Sungai Bengawan Solo yang subur.
Komposisi Etnis dan Budaya
Mayoritas penduduk Bojonegoro adalah etnis Jawa dengan dialek khas "Jonegoroan" yang lugas. Keberagaman budaya terlihat dari keberadaan komunitas Samin (Sedulur Sikep) di wilayah selatan, seperti Margomulyo, yang mempertahankan nilai-nilai kejujuran dan perlawanan tanpa kekerasan. Selain itu, terdapat minoritas Tionghoa dan Arab yang terkonsentrasi di pusat kota, menciptakan akulturasi budaya yang harmonis, terutama dalam tradisi lokal seperti perayaan tahun baru Imlek yang bersanding dengan tradisi Tayuban.
Struktur Usia dan Piramida Penduduk
Struktur kependudukan Bojonegoro berbentuk piramida ekspansif yang mulai menyempit di bagian bawah, menunjukkan penurunan angka kelahiran. Kelompok usia produktif (15-64 tahun) mendominasi lebih dari 68% populasi, memberikan peluang bonus demografi. Namun, terdapat tantangan pada kelompok usia lanjut yang terus meningkat seiring perbaikan layanan kesehatan dan angka harapan hidup yang kini mencapai 71 tahun.
Pendidikan dan Urbanisasi
Tingkat literasi di Bojonegoro telah melampaui 92%, didorong oleh program beasiswa daerah yang masif. Transformasi dari sektor pertanian ke industri migas (Blok Cepu) telah mengubah pola okupasi penduduk. Fenomena urbanisasi terlihat pada perkembangan pesat di sekitar area proyek strategis nasional, di mana desa-desa mulai mengadopsi gaya hidup urban. Meskipun demikian, sekitar 60% penduduk masih menetap di wilayah pedesaan dengan ketergantungan pada sektor pertanian padi dan tembakau.
Pola Migrasi dan Pergerakan Penduduk
Migrasi di Bojonegoro bersifat dinamis. Sebagai daerah penghasil minyak, wilayah ini menarik tenaga kerja ahli dari luar daerah (migrasi masuk). Sebaliknya, migrasi keluar (urbanisasi ke Surabaya atau Jakarta) tetap tinggi di kalangan lulusan baru yang mencari peluang di sektor jasa. Karakteristik unik lainnya adalah mobilitas sirkuler petani yang bekerja di sektor konstruksi luar kota saat musim kemarau, namun kembali ke desa saat musim tanam tiba.
💡 Fakta Unik
- 1.Wilayah ini merupakan lokasi penemuan fosil manusia purba Homo soloensis dan Elephas namadicus (gajah purba) yang kini tersimpan di museum lapangan daerah setempat.
- 2.Kesenian tradisional Tari Orek-Orek yang menggambarkan kegembiraan pemuda-pemudi setelah bekerja gotong royong berasal dari daerah yang berbatasan langsung dengan Jawa Tengah ini.
- 3.Benteng Van den Bosch, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Benteng Pendem, berdiri megah di pertemuan aliran sungai Bengawan Solo dan sungai Madiun.
- 4.Kabupaten ini dijuluki sebagai Kota Bambu dan sangat terkenal di seluruh Indonesia sebagai penghasil utama keripik tempe yang renyah dan gurih.
Destinasi di Bojonegoro
Semua Destinasi→Kayangan Api
Fenomena geologi berupa api abadi yang tak pernah padam meski diguyur hujan deras ini merupakan sala...
Situs SejarahWaduk Pacal
Bangunan bendungan megah peninggalan era kolonial Belanda tahun 1933 ini menawarkan panorama perbuki...
Wisata AlamTeksas Wonocolo
Dikenal sebagai 'Little Texas' Indonesia, kawasan ini menyuguhkan pemandangan unik ratusan sumur min...
Bangunan IkonikMasjid Agung Bojonegoro
Terletak tepat di jantung kota, masjid ini memadukan estetika modern dengan sentuhan tradisional yan...
Wisata AlamLedokombo
Destinasi wisata hutan pinus yang menawarkan udara sejuk dan spot foto instagenic di lereng Gunung P...
Kuliner LegendarisSego Buwuhan
Kuliner khas Bojonegoro yang kaya rasa, terdiri dari nasi dengan aneka lauk pauk seperti momoh tempe...
Tempat Lainnya di Jawa Timur
Lokasi Serupa
Panduan Perjalanan Terkait
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiUji Pengetahuanmu!
Apakah kamu bisa menebak Bojonegoro dari siluet petanya?