Situs Sejarah

Museum Lapawawoi

di Bone, Sulawesi Selatan

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Agung Kerajaan Bone: Menelusuri Sejarah dan Warisan Museum Lapawawoi

Museum Lapawawoi bukan sekadar bangunan tua yang berdiri di jantung Kota Watampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Ia adalah kapsul waktu yang menyimpan fragmen kejayaan Kerajaan Bone, salah satu kerajaan Bugis terbesar di Nusantara. Berlokasi di Jalan Latenritatta, museum ini menempati bekas bangunan istana atau rumah jabatan peninggalan masa kolonial yang kini menjadi simbol identitas dan kebanggaan masyarakat Bone.

#

Asal-Usul dan Periode Pendirian

Museum ini secara resmi didirikan pada tanggal 5 Januari 1971 oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Bone. Penamaannya diambil dari sosok pahlawan nasional sekaligus Raja Bone ke-31, yaitu Andi Mappanyukki Sultan Ibrahim yang bergelar Lapawawoi Karaeng Sigeri. Penggunaan nama ini merupakan bentuk penghormatan atas kegigihan beliau dalam melawan ekspansi Belanda di tanah Bugis pada awal abad ke-20.

Bangunan yang kini menjadi museum ini sebenarnya memiliki akar sejarah yang jauh lebih tua. Dahulunya, kompleks ini merupakan bagian dari area istana dan kantor pemerintahan pada masa pemerintahan Raja Bone ke-32, Andi Mappanyukki. Struktur bangunan yang kita lihat hari ini merupakan hasil perpaduan antara kebutuhan administratif kolonial dan fungsi kediaman bangsawan tinggi Bone pada masa transisi kekuasaan.

#

Arsitektur dan Detail Konstruksi

Secara arsitektural, Museum Lapawawoi menampilkan gaya Indische Empire, sebuah gaya arsitektur yang populer di Hindia Belanda yang memadukan estetika Eropa dengan adaptasi iklim tropis. Bangunan ini memiliki ciri khas berupa langit-langit yang tinggi, jendela-jendela besar untuk sirkulasi udara yang maksimal, serta pilar-pilar kokoh yang memberikan kesan megah dan otoriter.

Meskipun dipengaruhi gaya Barat, elemen lokal Bugis tetap terasa dalam tata ruangnya. Struktur bangunan utama terbagi menjadi beberapa ruangan besar yang dulunya berfungsi sebagai ruang tamu kenegaraan (balairung), ruang kerja raja, dan kamar pribadi keluarga kerajaan. Material bangunan didominasi oleh tembok tebal dengan lantai ubin marmer kuno yang memberikan kesan sejuk di tengah cuaca panas Sulawesi Selatan. Di bagian depan, terdapat selasar luas yang menjadi ciri khas bangunan-bangunan administratif di era transisi abad ke-19 ke abad ke-20.

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Terkait

Museum Lapawawoi berdiri sebagai saksi bisu berakhirnya kedaulatan absolut Kerajaan Bone di bawah tekanan politik Belanda. Peristiwa yang paling melekat dengan nama museum ini adalah Ekspedisi Bone (Bone Expedition) tahun 1905, di mana Lapawawoi Karaeng Sigeri memimpin perlawanan rakyat Bone melawan pasukan Belanda yang dipimpin oleh Jenderal van Heutsz.

Kekalahan dalam perang tersebut menyebabkan Lapawawoi diasingkan ke Bandung, namun semangat perlawanannya tetap menjadi fondasi moral bagi rakyat Bone. Museum ini mengabadikan periode-periode kritis tersebut, mulai dari masa kejayaan perdagangan rempah, hubungan diplomatik dengan Kerajaan Gowa, hingga masa perjuangan kemerdekaan Indonesia di mana tokoh-tokoh dari Bone berperan aktif dalam diplomasi tingkat nasional.

#

Tokoh dan Koleksi Bersejarah

Nama Andi Mappanyukki adalah figur sentral yang menghubungkan masa lalu kerajaan dengan era republik. Beliau adalah putra dari Raja Gowa ke-34, namun karena garis keturunan ibunya, beliau diangkat menjadi Raja Bone. Selain beliau, sosok Andi Pabbenteng juga memiliki keterkaitan erat dengan pengelolaan awal aset-aset budaya di gedung ini.

Di dalam museum, pengunjung dapat menyaksikan berbagai koleksi langka yang tidak ditemukan di tempat lain:

1. Peralatan Makan Raja: Terbuat dari keramik Tiongkok dinasti Ming dan Qing serta peralatan perak peninggalan Belanda.

2. Senjata Tradisional: Berbagai jenis keris Bugis (teddung pulaweng), tombak, dan badik yang memiliki nilai spiritual tinggi.

3. Replika Regalia (Arajang): Meskipun benda-benda Arajang yang asli disimpan di tempat yang sangat rahasia dan sakral, museum ini memiliki catatan dan replika mengenai benda-benda kebesaran raja.

4. Baju Adat dan Tekstil: Koleksi kain sutra Bugis dengan motif kuno yang melambangkan strata sosial pemakainya.

5. Dokumen Sejarah: Naskah-naskah kuno (Lontara) yang mencatat silsilah raja-raja Bone serta hukum adat yang pernah berlaku.

#

Status Preservasi dan Upaya Restorasi

Sebagai bangunan cagar budaya, Museum Lapawawoi berada di bawah pengawasan Dinas Kebudayaan Kabupaten Bone. Tantangan terbesar dalam preservasi bangunan ini adalah usia material dan kelembapan udara. Selama beberapa dekade terakhir, telah dilakukan beberapa kali upaya renovasi ringan, terutama pada bagian atap dan pengecatan ulang tanpa mengubah bentuk aslinya.

Pemerintah daerah berupaya mempertahankan keaslian material kayu dan ubin asli. Restorasi dilakukan dengan sangat hati-hati agar nilai historisnya tidak hilang. Selain fisik bangunan, upaya digitalisasi naskah Lontara juga mulai dilakukan untuk memastikan pengetahuan sejarah yang tersimpan di dalam museum dapat diakses oleh generasi mendatang tanpa merusak fisik naskah yang asli.

#

Kepentingan Budaya dan Religi

Bagi masyarakat Bone, Museum Lapawawoi bukan sekadar objek wisata. Tempat ini dianggap memiliki nilai "Siri' na Pesse" (harga diri dan empati), sebuah filosofi hidup masyarakat Bugis. Museum ini menjadi pusat edukasi bagi pelajar untuk memahami silsilah keluarga dan sejarah nenek moyang mereka.

Secara religi, koleksi dalam museum ini juga mencerminkan proses Islamisasi di Bone yang dimulai sejak abad ke-17. Pengaruh Islam terlihat jelas pada ukiran-ukiran kaligrafi di beberapa peralatan kayu dan naskah-naskah agama yang tersimpan di sana. Museum ini sering menjadi titik awal atau bagian dari rangkaian upacara adat tahunan seperti Mattampung atau pembersihan benda pusaka, yang menunjukkan bahwa fungsi museum masih menyatu dengan napas spiritual masyarakat lokal.

#

Fakta Unik Museum Lapawawoi

Salah satu fakta unik yang jarang diketahui adalah bahwa museum ini menyimpan koleksi gigi asli dari Raja Bone ke-31, Lapawawoi Karaeng Sigeri. Koleksi ini dibawa pulang dari tempat pengasingan beliau di Bandung sebagai bentuk penghormatan terakhir. Selain itu, terdapat sebuah meriam kuno di halaman museum yang menurut legenda setempat, suaranya pernah terdengar hingga ke wilayah tetangga saat terjadi peristiwa besar di istana.

Dengan segala koleksi dan cerita yang dikandungnya, Museum Lapawawoi tetap berdiri tegak sebagai penjaga memori kolektif bangsa. Ia mengingatkan setiap pengunjung bahwa di tanah Bone, pernah berdiri sebuah peradaban besar yang menjunjung tinggi hukum, diplomasi, dan keberanian melawan ketidakadilan. Mengunjungi Museum Lapawawoi adalah sebuah perjalanan spiritual dan intelektual untuk memahami akar budaya Sulawesi Selatan yang mendalam.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. MH. Thamrin No.9, Watampone, Kabupaten Bone
entrance fee
Donasi sukarela
opening hours
Senin - Sabtu, 08:00 - 16:00

Tempat Menarik Lainnya di Bone

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Bone

Pelajari lebih lanjut tentang Bone dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Bone