Pusat Kebudayaan

Pusat Kerajinan Songkok Recca

di Bone, Sulawesi Selatan

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Menelusuri Jejak Kejayaan Bugis di Pusat Kerajinan Songkok Recca, Bone

Kabupaten Bone di Sulawesi Selatan bukan sekadar wilayah administratif, melainkan jantung dari peradaban Bugis yang kaya akan nilai filosofis dan estetika. Di tengah modernitas yang kian menderu, berdiri sebuah episentrum pelestarian identitas yang dikenal sebagai Pusat Kerajinan Songkok Recca. Destinasi ini bukan sekadar bengkel kerja bagi para pengrajin, melainkan sebuah pusat kebudayaan (Cultural Center) yang mendedikasikan eksistensinya untuk menjaga marwah Songkok Recca—penutup kepala tradisional yang menjadi simbol martabat dan strata sosial masyarakat Bone.

#

Filosofi dan Sejarah: Lebih dari Sekadar Penutup Kepala

Pusat Kerajinan Songkok Recca menjadi garda terdepan dalam mengedukasi masyarakat mengenai asal-usul Songkok Recca, yang secara historis dikenal dengan nama Songkok To Bone. Kerajinan ini lahir pada masa pemerintahan Raja Bone ke-32, Andi Mappanyukki, dan menjadi atribut wajib bagi bangsawan. Di pusat kebudayaan ini, pengunjung diajarkan bahwa setiap anyaman memiliki makna. Penggunaan benang emas (pamiring) pada pinggiran songkok bukan sekadar hiasan, melainkan indikator kasta dan kedudukan seseorang dalam struktur adat Bugis. Keberadaan pusat ini memastikan bahwa pengetahuan esoteris mengenai protokol penggunaan songkok tidak hilang ditelan zaman.

#

Aktivitas Budaya dan Program Workshop Interaktif

Salah satu pilar utama dari Pusat Kerajinan Songkok Recca adalah program "Mappasau" (Proses Pengolahan Bahan). Wisatawan dan peneliti yang berkunjung tidak hanya melihat produk jadi, tetapi dilibatkan dalam proses hulu ke hilir. Program ini mencakup:

1. Pengolahan Serat Pelepah Lontar: Pengunjung dapat melihat bagaimana serat tumbuhan lontar (borassus flabellifer) dipukul-pukul menggunakan kayu hingga menjadi serat halus yang kuat. Proses ini memerlukan ketelatenan tinggi karena kualitas serat menentukan kehalusan anyaman.

2. Teknik Manyam (Menganyam): Pusat ini menyediakan kelas intensif menganyam. Di sini, para maestro pengrajin (Panggiling) mengajarkan teknik anyaman ganda yang menjadi ciri khas songkok berkualitas tinggi.

3. Pewarnaan Alami: Pusat kebudayaan ini berkomitmen pada pembangunan berkelanjutan dengan menggalakkan penggunaan pewarna alami dari akar dan kulit kayu, sebuah praktik tradisional yang sempat meredup namun kini dihidupkan kembali melalui riset mandiri oleh komunitas pengrajin lokal.

#

Kesenian Tradisional dan Pertunjukan Pendukung

Pusat Kerajinan Songkok Recca tidak membatasi diri hanya pada kriya. Secara berkala, pusat ini menjadi panggung bagi pertunjukan seni tutur Bugis, seperti Pau-Pau Rikadong. Narasi yang dibawakan biasanya berkaitan dengan etos kerja Siri’ na Pesse (Harga diri dan empati), yang menjadi landasan moral para pengrajin dalam menghasilkan karya yang sempurna.

Selain itu, pertunjukan tari Tari Alusu sering dipentaskan untuk menyambut tamu agung atau delegasi kebudayaan. Perpaduan antara visualisasi anyaman songkok yang rumit dengan gerakan tari yang anggun menciptakan atmosfer budaya yang imersif, menjadikan tempat ini sebagai laboratorium hidup bagi seni pertunjukan Bone.

#

Program Edukasi dan Keterlibatan Masyarakat

Sebagai institusi pengembangan budaya, pusat ini memiliki program "Songkok Recca Goes to School". Melalui program ini, para pengrajin senior didatangkan ke sekolah-sekolah di Kabupaten Bone untuk memberikan pelatihan dasar menganyam kepada generasi muda. Tujuannya jelas: regenerasi. Pusat ini menyadari bahwa tanpa keterlibatan anak muda, kerajinan tangan ini akan menjadi artefak mati.

Bagi masyarakat lokal, pusat ini berfungsi sebagai koperasi kebudayaan. Masyarakat di sekitar Bone, khususnya dari Desa Paccing yang menjadi sentra utama, mendapatkan pembinaan mengenai standarisasi kualitas dan akses pasar. Hal ini membuktikan bahwa pusat kebudayaan mampu mengintegrasikan pelestarian tradisi dengan pemberdayaan ekonomi kerakyatan.

#

Perhelatan Budaya dan Festival Tahunan

Pusat Kerajinan Songkok Recca menjadi aktor kunci dalam perhelatan Hari Jadi Bone (HJB). Setiap tahun, pusat ini menyelenggarakan eksibisi "Songkok Recca Terhalus", di mana para pengrajin berkompetisi menunjukkan keahlian mereka. Selain itu, pusat ini sering mengadakan festival "Mappere" (ayunan raksasa tradisional) di pelataran pusat kerajinan untuk menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara.

Event-event ini bukan sekadar seremoni, melainkan ruang negosiasi budaya di mana identitas lokal ditegaskan kembali. Pusat ini juga menjadi titik kumpul bagi kolektor benda pusaka dan budayawan dari seluruh Sulawesi Selatan untuk mendiskusikan perkembangan wastra dan kriya Nusantara.

#

Upaya Pelestarian Warisan Budaya Takbenda

Pusat Kerajinan Songkok Recca memainkan peran krusial dalam pendaftaran Songkok Recca sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia. Melalui dokumentasi sistematis mengenai motif, teknik, dan sejarah lisan, pusat ini menyediakan basis data yang kuat bagi pemerintah pusat dan UNESCO.

Salah satu inovasi konservasi yang dilakukan adalah pembuatan Digital Library of Recca, sebuah database yang merekam profil setiap pengrajin sepuh dan teknik-teknik anyaman langka yang hampir punah. Langkah ini memastikan bahwa meskipun pengrajinnya tiada, ilmunya tetap tersimpan secara digital untuk dipelajari generasi mendatang.

#

Peran dalam Pembangunan Kebudayaan Lokal

Keberadaan Pusat Kerajinan Songkok Recca telah mengubah paradigma masyarakat terhadap kerajinan tangan. Jika dahulu menganyam dianggap sebagai pekerjaan sampingan, kini melalui pembinaan di pusat ini, menjadi pengrajin Songkok Recca adalah profesi yang membanggakan dan prestisius.

Pusat ini juga mendorong diversifikasi produk tanpa menghilangkan marwah aslinya. Kini, teknik anyaman Recca juga diaplikasikan pada tas, dompet, dan hiasan dinding, yang semuanya dikurasi dengan ketat oleh pusat kebudayaan untuk memastikan kualitas "Bolone" (khas Bone) tetap terjaga. Hal ini memperluas jangkauan budaya Bugis ke kancah internasional melalui pameran-pameran kerajinan di luar negeri.

#

Kesimpulan: Jembatan Masa Lalu dan Masa Depan

Pusat Kerajinan Songkok Recca di Bone adalah bukti nyata bahwa kebudayaan tidak harus statis untuk tetap lestari. Dengan memadukan penghormatan mendalam terhadap tradisi leluhur dan adaptasi terhadap kebutuhan edukasi modern, pusat ini berhasil menjadikan Songkok Recca sebagai ikon yang tetap relevan.

Di bawah naungan pusat kebudayaan ini, setiap helai serat lontar yang dianyam bukan hanya menjadi sebuah penutup kepala, melainkan untaian doa, kerja keras, dan kebanggaan kolektif masyarakat Bone. Berkunjung ke Pusat Kerajinan Songkok Recca adalah perjalanan spiritual dan intelektual untuk memahami bahwa dalam setiap lingkaran anyamannya, terdapat filosofi hidup yang melingkar tak terputus: menjaga masa lalu untuk menerangi masa depan.

📋 Informasi Kunjungan

address
Desa Paccing, Kecamatan Awangpone, Kabupaten Bone
entrance fee
Gratis
opening hours
Setiap hari, 09:00 - 17:00

Tempat Menarik Lainnya di Bone

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Bone

Pelajari lebih lanjut tentang Bone dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Bone