Tempat Rekreasi

Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan (TMSBK)

di Bukittinggi, Sumatera Barat

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Menjelajahi Pesona Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan (TMSBK) Bukittinggi

Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan, atau yang lebih dikenal dengan singkatan TMSBK, bukan sekadar kebun binatang biasa. Terletak di jantung Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, destinasi ini merupakan salah satu objek wisata tertua dan paling ikonik di Indonesia. Berdiri di atas Bukit Cubadak Bungkuak, TMSBK menawarkan perpaduan unik antara konservasi satwa, edukasi sejarah, dan pelestarian budaya Minangkabau dalam satu kawasan terpadu yang sejuk dan asri.

#

Jejak Sejarah dan Evolusi TMSBK

TMSBK memiliki nilai historis yang sangat mendalam. Dibangun pada tahun 1900-an oleh pemerintah kolonial Belanda, tempat ini awalnya bernama Stormpark (Taman Bunga). Pendiriannya diprakarsai oleh Graaf Van Bylandt, seorang kontrolir Belanda yang bertugas di Fort de Kock (sekarang Bukittinggi). Seiring berjalannya waktu, fungsinya berkembang dari sekadar taman bunga menjadi kebun binatang pada tahun 1929.

Pasca kemerdekaan, tempat ini mengalami berbagai renovasi dan perubahan nama hingga akhirnya dikenal sebagai Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan. Evolusinya mencerminkan bagaimana Bukittinggi tumbuh menjadi pusat pariwisata di Sumatera Barat, di mana aspek rekreasi modern mulai bersinggungan dengan upaya pelestarian warisan leluhur.

#

Pengalaman Rekreasi dan Koleksi Satwa

Aktivitas utama di TMSBK tentu saja adalah pengamatan satwa. Sebagai kebun binatang tertua di Pulau Sumatera, TMSBK menjadi rumah bagi berbagai spesies endemik Indonesia maupun satwa eksotis dari mancanegara. Pengunjung dapat melihat dari dekat kegagahan Harimau Sumatera, kecerdasan Orangutan, hingga koleksi burung (aviary) yang beragam.

Salah satu pengalaman unik yang ditawarkan adalah tata letak kandang yang mengikuti kontur perbukitan, memberikan sensasi berjalan di tengah hutan kota yang rimbun. Kehadiran gajah Sumatera dan jerapah sering menjadi pusat perhatian, terutama bagi anak-anak yang ingin berinteraksi secara visual dengan mamalia besar tersebut. Bagi para pencinta reptil, komplek reptilia menyediakan berbagai jenis ular dan kadal yang dirawat dalam fasilitas yang terjaga keamanannya.

#

Ikon Budaya: Rumah Gadang Baanjuang

Apa yang membedakan TMSBK dari kebun binatang lain di Indonesia adalah keberadaan Rumah Gadang Baanjuang yang terletak tepat di tengah kawasan. Bangunan tradisional Minangkabau ini dibangun pada tahun 1935 dan berfungsi sebagai museum etnografi.

Rumah Gadang ini memiliki arsitektur yang megah dengan atap bagonjong yang runcing dan ukiran kayu yang detail. Di dalamnya, pengunjung dapat mempelajari kekayaan budaya Minangkabau melalui koleksi pakaian adat, peralatan rumah tangga kuno, senjata tradisional seperti keris dan kurambit, serta berbagai artefak sejarah lainnya. Keberadaan museum ini memberikan dimensi edukasi budaya yang kental, menjadikan kunjungan rekreasi juga sebagai sarana belajar bagi generasi muda untuk mengenal akar budaya mereka.

#

Jembatan Limpapeh: Penghubung Ikonik

Rekreasi di TMSBK tidak lengkap tanpa melintasi Jembatan Limpapeh. Jembatan gantung berwarna kuning cerah ini membentang di atas Jalan Ahmad Yani, menghubungkan area TMSBK dengan kompleks Benteng Fort de Kock yang berada di bukit seberang.

Berjalan di atas Jembatan Limpapeh memberikan sensasi petualangan tersendiri karena guncangan halusnya saat diterpa angin. Dari atas jembatan ini, pengunjung disuguhi pemandangan panorama Kota Bukittinggi yang memukau, dengan latar belakang Gunung Merapi dan Gunung Singgalang yang menjulang gagah. Jembatan ini juga menjadi spot foto favorit karena desainnya yang estetik dan nilai simbolisnya sebagai penghubung dua situs sejarah penting.

#

Fasilitas dan Hiburan Keluarga

Sebagai destinasi ramah keluarga, TMSBK dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang yang memadai. Terdapat area bermain anak (playground) yang luas, kios-kios suvenir yang menjajakan kerajinan tangan lokal, serta deretan warung kuliner yang menyajikan makanan khas Sumatera Barat seperti Nasi Kapau dan Keripik Sanjai.

Pemerintah kota secara rutin melakukan pembenahan, termasuk penambahan fasilitas jalur pejalan kaki yang nyaman bagi lansia dan penyandang disabilitas. Area taman yang tertata rapi dengan pepohonan besar yang rindang menjadikan tempat ini lokasi yang ideal untuk piknik keluarga sambil menikmati udara sejuk pegunungan Bukittinggi yang bebas polusi.

#

Signifikansi Budaya dan Peran Komunitas

TMSBK memegang peranan vital dalam kehidupan sosial masyarakat Bukittinggi. Bagi warga lokal, tempat ini adalah ruang publik yang menjadi saksi bisu pertumbuhan kota. Secara budaya, TMSBK bertindak sebagai penjaga identitas. Kehadiran satwa endemik mengingatkan masyarakat akan pentingnya konservasi alam, sementara Rumah Gadang Baanjuang memastikan nilai-nilai adat tetap lestari di tengah arus modernisasi.

Tempat ini sering menjadi lokasi kegiatan seni dan festival budaya daerah, memperkuat posisinya sebagai pusat interaksi komunitas yang merayakan keberagaman dan warisan leluhur Minangkabau.

#

Informasi Pengunjung dan Waktu Terbaik

TMSBK terbuka untuk umum setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB. Untuk mendapatkan pengalaman terbaik, pengunjung disarankan datang pada pagi hari saat udara masih sangat segar dan satwa cenderung lebih aktif. Hari kerja (Senin-Jumat) adalah waktu yang tepat bagi mereka yang menginginkan suasana lebih tenang dan sepi dari kerumunan.

Namun, jika ingin merasakan kemeriahan khas pasar rakyat, datanglah pada hari libur nasional atau akhir pekan, di mana banyak atraksi tambahan sering disuguhkan. Lokasinya yang sangat strategis di pusat kota memudahkan akses bagi wisatawan, baik menggunakan kendaraan pribadi, angkutan kota, maupun bendi (kereta kuda tradisional) yang unik.

Dengan perpaduan antara edukasi satwa, kemegahan arsitektur tradisional, dan keindahan alam perbukitan, Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan tetap menjadi destinasi wajib yang menawarkan pengalaman rekreasi paripurna bagi siapa saja yang menginjakkan kaki di "Kota Jam Gadang" Bukittinggi.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Cindua Mato, Benteng Pasar Atas, Kec. Guguk Panjang, Kota Bukittinggi
entrance fee
Rp 25.000 per orang
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 17:00

Tempat Menarik Lainnya di Bukittinggi

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Bukittinggi

Pelajari lebih lanjut tentang Bukittinggi dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Bukittinggi