Situs Sejarah

Situs Bekas Pengasingan Savanajaya

di Buru, Maluku

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Asal Usul dan Periode Pembentukan

Pembentukan Savanajaya bermula pada akhir dekade 1960-an, tepatnya ketika pemerintah Orde Baru memutuskan untuk memindahkan ribuan tahanan politik kategori B dari berbagai penjara di Jawa ke Pulau Buru. Savanajaya dipilih sebagai lokasi Unit I dari pemukiman Inrehab (Instalasi Rehabilitasi) karena lokasinya yang relatif datar dan dialiri sungai, meski saat itu masih berupa rawa-rawa dan padang ilalang (savana) yang ganas.

Pembangunan dimulai secara intensif pada tahun 1969. Nama "Savanajaya" sendiri mengandung harapan simbolis: "Savana" merujuk pada padang rumput yang luas, dan "Jaya" berarti kemenangan atau keberhasilan. Secara kolektif, nama ini mencerminkan ambisi pemerintah untuk menaklukkan alam liar Buru melalui tangan para tahanan. Berbeda dengan unit-unit lain yang lebih menyerupai barak militer, Savanajaya dirancang sebagai "desa percontohan" yang nantinya akan dihuni oleh para tapol bersama keluarga mereka yang didatangkan dari Jawa.

Arsitektur dan Detail Konstruksi

Arsitektur di Situs Savanajaya mencerminkan fungsionalitas murni dengan sentuhan desain kolonial-tropis yang disederhanakan. Bangunan-bangunan awal di situs ini dibangun menggunakan material lokal yang dipadukan dengan semen dan papan kayu jati atau meranti yang diolah sendiri oleh para tahanan.

Salah satu landmark arsitektural yang paling menonjol adalah Gedung Kesenian Savanajaya. Bangunan ini memiliki struktur atap pelana yang tinggi untuk sirkulasi udara, sebuah adaptasi terhadap iklim tropis Buru yang menyengat. Dindingnya terbuat dari papan kayu yang disusun rapi, sementara lantainya menggunakan semen kasar. Selain itu, rumah-rumah tinggal bagi para tapol di unit ini dibangun dengan pola grid yang teratur, menyerupai tata ruang desa-desa di Jawa (transmigrasi lokal). Hal ini dilakukan untuk menciptakan ilusi normalitas di tengah isolasi total. Uniknya, sistem irigasi yang dibangun di sekitar Savanajaya adalah hasil rekayasa teknis para tahanan yang memiliki latar belakang pendidikan teknik, menjadikan wilayah ini salah satu lumbung padi paling produktif di Maluku hingga saat ini.

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Savanajaya memegang peranan krusial sebagai pusat administratif dan sosial bagi seluruh kompleks pengasingan di Pulau Buru. Di sinilah interaksi antara para tahanan, penjaga militer, dan masyarakat lokal (suku asli Buru) terjadi secara intens. Salah satu peristiwa bersejarah yang paling diingat adalah kedatangan para istri dan anak-anak tahanan pada awal 1970-an. Savanajaya menjadi satu-satunya unit yang mengizinkan reunifikasi keluarga, sebuah kebijakan yang bertujuan untuk "mempermanenkan" keberadaan para tapol di pulau tersebut agar mereka tidak kembali ke Jawa.

Situs ini juga menjadi saksi lahirnya berbagai karya intelektual di tengah penindasan. Di bawah pengawasan ketat, para tahanan tetap berupaya mempertahankan kewarasan melalui kegiatan budaya. Di Gedung Kesenian Savanajaya, pementasan drama, musik, dan orkes sering diadakan untuk menghibur sesama tahanan maupun petugas. Kehidupan di Savanajaya adalah paradox antara penderitaan fisik akibat kerja paksa dan ketajaman intelektual yang menolak untuk padam.

Tokoh Terkemuka dan Keterkaitan Periode

Nama Savanajaya tidak dapat dipisahkan dari sosok Pramoedya Ananta Toer. Meskipun Pramoedya menghabiskan banyak waktunya di Unit XV (Lere), jejak intelektualnya merambah hingga ke Savanajaya. Banyak naskah awal dari Tetralogi Buru yang dikerjakan menggunakan mesin tik tua di lingkungan pengasingan ini. Selain Pramoedya, tokoh-tokoh seperti sastrawan Rivai Apin, pelukis Basuki Resobowo (sebelum ia pergi ke Eropa), dan ribuan cendekiawan, dosen, serta seniman lainnya pernah menginjakkan kaki di tanah Savanajaya.

Keberadaan para tokoh ini mengubah Savanajaya menjadi "universitas di tengah hutan". Mereka mengajari satu sama lain tentang pertanian, teknik bangunan, hingga bahasa asing. Periode 1969 hingga 1979 (tahun pembebasan massal) di Savanajaya adalah masa di mana identitas kemanusiaan diuji dan didefinisikan ulang melalui kerja kolektif.

Status Pelestarian dan Upaya Restorasi

Saat ini, Situs Bekas Pengasingan Savanajaya berada dalam kondisi yang memerlukan perhatian serius. Setelah para tapol dibebaskan pada tahun 1979, banyak dari mereka yang memilih menetap dan berasimilasi dengan warga transmigran umum. Desa Savanajaya kini telah berkembang menjadi desa definitif yang ramai.

Pemerintah Kabupaten Buru telah mulai menyadari potensi sejarah situs ini sebagai aset wisata sejarah (dark tourism). Gedung Kesenian telah mengalami beberapa kali renovasi ringan, meskipun bagian-bagian aslinya mulai tergerus usia. Upaya pelestarian saat ini lebih difokuskan pada pemeliharaan bangunan fisik yang tersisa dan pengumpulan artefak berupa alat-alat pertanian serta peralatan rumah tangga para tahanan. Ada dorongan dari para aktivis sejarah untuk menjadikan Savanajaya sebagai Cagar Budaya Nasional guna memastikan narasi sejarah yang terjadi di sana tidak hilang ditelan waktu.

Signifikansi Budaya dan Religi

Secara budaya, Savanajaya adalah potret keberhasilan akulturasi. Di situs ini, nilai-nilai budaya Jawa yang dibawa oleh para tahanan bersinggungan dengan kearifan lokal Maluku. Dalam hal religi, pembangunan sarana ibadah seperti Masjid dan Gereja di Savanajaya dilakukan secara gotong royong oleh para tahanan tanpa memandang latar belakang ideologi. Hal ini menciptakan fondasi toleransi yang kuat di wilayah Wayapo.

Savanajaya juga memiliki nilai filosofis tentang rekonsiliasi. Meskipun bermula dari luka politik, desa ini kini menjadi simbol kehidupan baru. Keberadaan monumen atau nisan-nisan tanpa nama di pemakaman umum sekitar situs menjadi pengingat akan mereka yang tidak sempat pulang, memberikan ruang bagi refleksi spiritual tentang pengampunan dan memori kolektif bangsa.

Sebagai penutup, Situs Bekas Pengasingan Savanajaya bukan sekadar reruntuhan masa lalu. Ia adalah sebuah narasi hidup tentang bagaimana manusia mampu bertahan di titik terendah, menciptakan peradaban dari ketiadaan, dan meninggalkan warisan berupa lahan-lahan pertanian subur yang hingga kini menghidupi ribuan jiwa di Pulau Buru. Menjaga situs ini berarti menjaga kejujuran sejarah Indonesia.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Desa Savanajaya, Kecamatan Waeapo, Kabupaten Buru
entrance fee
Sukarela
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 16:00

Tempat Menarik Lainnya di Buru

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Buru

Pelajari lebih lanjut tentang Buru dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Buru