Situs Sejarah

Monumen Perjuangan Geger Cilegon

di Cilegon, Banten

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Monumen Perjuangan Geger Cilegon: Episentrum Perlawanan Rakyat Banten

Monumen Perjuangan Geger Cilegon bukan sekadar struktur beton yang berdiri di jantung Kota Cilegon, Provinsi Banten. Monumen ini merupakan simbol material dari salah satu pemberontakan petani terbesar dan paling terorganisir melawan pemerintah kolonial Hindia Belanda pada akhir abad ke-19. Terletak strategis di kawasan Simpang Tiga Cilegon, monumen ini mematri ingatan kolektif masyarakat Banten tentang peristiwa berdarah yang pecah pada 9 Juli 1888, yang dikenal secara luas sebagai "Geger Cilegon".

#

Latar Belakang Sejarah dan Peristiwa 1888

Akar dari berdirinya monumen ini bermula dari akumulasi penderitaan rakyat Banten di bawah administrasi kolonial. Pada tahun 1880-an, wilayah Banten Utara didera berbagai krisis, mulai dari wabah penyakit ternak (sampar), kegagalan panen, hingga beban pajak yang mencekik. Namun, pemicu utama yang membakar amarah rakyat adalah tekanan terhadap praktik keagamaan dan penghinaan terhadap institusi ulama oleh pejabat lokal yang pro-Belanda.

Peristiwa Geger Cilegon dipimpin oleh para ulama karismatik, dengan tokoh sentral Ki Wasyid, didampingi oleh tokoh-tokoh seperti Haji Abdulsalam, Haji Akhasya, dan Kyai Haji Tubagus Ismail. Gerakan ini unik karena menggabungkan unsur religiusitas (Jihad) dengan aspirasi pembebasan sosial-ekonomi. Pada fajar 9 Juli 1888, ratusan pejuang menyerbu pusat kota Cilegon, menyerang kantor asisten residen, dan menewaskan beberapa pejabat Belanda, termasuk Asisten Residen Henri Francois Dumas.

#

Pembangunan dan Karakteristik Arsitektur

Monumen Perjuangan Geger Cilegon didirikan untuk menghormati pengorbanan para syuhada yang gugur dalam peristiwa tersebut. Secara arsitektural, monumen ini mengusung gaya modern-kontemporer dengan sentuhan simbolisme lokal Banten. Struktur utamanya menjulang tinggi, melambangkan semangat yang tak kunjung padam.

Salah satu elemen paling mencolok adalah relief yang menghiasi dinding monumen. Relief ini dipahat dengan detail yang menggambarkan kronologi peristiwa, mulai dari rapat-rapat rahasia para ulama di pesantren, suasana pertempuran di jalanan Cilegon, hingga momen penangkapan dan pengasingan para pejuang. Penggunaan material batu alam dan beton bertulang memberikan kesan kokoh, mencerminkan keteguhan hati para pejuang Banten. Di bagian puncak atau sisi tertentu, seringkali terdapat simbol-simbol yang merepresentasikan identitas Cilegon sebagai "Kota Baja", mengingat kota ini merupakan pusat industri baja nasional, namun tetap tidak meninggalkan akar sejarah agraris dan religiusnya.

#

Signifikansi Tokoh dan Peran Ulama

Monumen ini menjadi pengingat akan peran vital pesantren sebagai basis perlawanan intelektual dan fisik. Ki Wasyid, yang namanya kini diabadikan sebagai nama jalan utama di Cilegon, digambarkan sebagai ahli strategi yang mampu menyatukan berbagai lapisan masyarakat. Peristiwa yang diperingati oleh monumen ini sangat signifikan karena memaksa pemerintah kolonial Belanda di Batavia untuk mengevaluasi kebijakan mereka di tanah jajahan, yang kemudian memicu lahirnya Politik Etis.

Selain Ki Wasyid, monumen ini juga menghormati jaringan ulama Banten yang terhubung hingga ke Mekkah. Sejarawan Sartono Kartodirdjo dalam karyanya yang monumental, "The Peasants' Revolt of Banten in 1888", menyebutkan bahwa gerakan ini adalah salah satu contoh paling awal dari nasionalisme religius di Indonesia. Monumen ini menjadi saksi bisu bahwa perlawanan terhadap penjajahan di Cilegon tidak dilakukan secara sporadis, melainkan melalui perencanaan yang matang di bawah bimbingan spiritual.

#

Kepentingan Budaya dan Religi

Bagi masyarakat Cilegon dan Banten pada umumnya, monumen ini memiliki dimensi sakral. Lokasinya sering menjadi titik pusat peringatan hari jadi Kota Cilegon maupun hari pahlawan. Secara budaya, monumen ini mempertegas identitas "Banten Jawara" dan "Banten Ulama"—sebuah dualitas karakter masyarakat yang berani dalam membela kebenaran dan taat dalam beragama.

Secara religi, Geger Cilegon sering dipandang sebagai bentuk Izzul Islam wal Muslimin (kemuliaan Islam dan umat Muslim). Aspirasi para pejuang untuk mendirikan negara yang bebas dari pengaruh kafir kolonial menjadi narasi yang terus diwariskan. Oleh karena itu, monumen ini tidak hanya dikunjungi sebagai objek wisata sejarah, tetapi juga sebagai tempat refleksi bagi generasi muda tentang harga sebuah kemerdekaan yang ditebus dengan darah para ulama.

#

Status Konservasi dan Upaya Pelestarian

Saat ini, Monumen Perjuangan Geger Cilegon berada di bawah pengawasan Pemerintah Kota Cilegon melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Upaya pelestarian dilakukan secara berkala melalui pembersihan relief, penataan taman di sekitar monumen, serta penyediaan papan informasi sejarah bagi pengunjung.

Meskipun berada di tengah hiruk-pikuk kota industri yang padat, pemerintah setempat berupaya menjaga agar monumen ini tidak terhimpit oleh pembangunan modern. Beberapa kali restorasi dilakukan untuk memperbaiki bagian-bagian yang tererosi oleh polusi udara industri. Pemerintah juga mengintegrasikan sejarah Geger Cilegon ke dalam kurikulum pendidikan lokal agar nilai-nilai perjuangan yang direpresentasikan oleh monumen tersebut tetap hidup di sanubari siswa-siswi di Cilegon.

#

Fakta Unik dan Warisan Sejarah

Salah satu fakta unik yang jarang diketahui adalah bahwa dampak dari Geger Cilegon menyebabkan pemerintah Belanda sempat melarang penggunaan gelar "Haji" di beberapa wilayah Banten karena dianggap sebagai simbol perlawanan. Monumen ini menjadi pengingat bahwa di tempat inilah, hegemoni Belanda sempat rontok selama beberapa hari sebelum mereka mendatangkan pasukan bantuan dari Batavia.

Selain itu, Monumen Perjuangan Geger Cilegon juga berfungsi sebagai kompas moral. Di tengah transformasi Cilegon dari kota agraris menjadi kota industri baja terbesar di Asia Tenggara, monumen ini berdiri tegak untuk mengingatkan bahwa kemajuan ekonomi tidak boleh membuat masyarakat lupa akan akar sejarah perlawanan terhadap ketidakadilan. Monumen ini adalah jangkar yang menahan identitas Cilegon agar tetap kokoh di tengah arus globalisasi.

Dengan mengunjungi Monumen Perjuangan Geger Cilegon, seseorang tidak hanya melihat tumpukan material bangunan, tetapi sedang berdialog dengan masa lalu tentang keberanian, iman, dan cinta tanah air yang tak terbatas. Ia tetap menjadi mercusuar sejarah yang menyinari perjalanan panjang Kota Cilegon dari masa kolonial hingga menjadi pilar industri Indonesia modern.

📋 Informasi Kunjungan

address
Jombang Wetan, Kecamatan Jombang, Kota Cilegon
entrance fee
Gratis
opening hours
24 Jam

Tempat Menarik Lainnya di Cilegon

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Cilegon

Pelajari lebih lanjut tentang Cilegon dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Cilegon