Pusat Kebudayaan

Kampung Adat Cireundeu

di Cimahi, Jawa Barat

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Menelusuri Kearifan Lokal Kampung Adat Cireundeu: Benteng Ketahanan Pangan dan Budaya Sunda di Cimahi

Kampung Adat Cireundeu merupakan sebuah permukiman tradisional yang terletak di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Jawa Barat. Nama "Cireundeu" berasal dari pohon "Reundeu", sejenis tanaman perdu yang dahulu banyak tumbuh subur di wilayah ini dan sering digunakan sebagai bahan obat herbal serta lalapan. Di tengah modernisasi Kota Cimahi yang pesat, Cireundeu tetap teguh berdiri sebagai pusat kebudayaan yang memegang erat filosofi leluhur, terutama dalam hal kemandirian pangan dan pelestarian adat istiadat Sunda.

#

Filosofi Hidup dan Kemandirian Pangan Berbasis Singkong

Karakteristik paling unik yang membedakan Kampung Adat Cireundeu dengan desa adat lainnya di Jawa Barat adalah prinsip kedaulatan pangannya. Selama lebih dari satu abad, tepatnya sejak tahun 1918, masyarakat Cireundeu tidak mengonsumsi nasi dari beras padi. Sebagai gantinya, mereka mengonsumsi "Rasi" atau Beras Singkong.

Kebiasaan ini bukan sekadar pola makan, melainkan bentuk implementasi ajaran spiritual dan filosofi hidup. Masyarakat meyakini prinsip "Teu Boga Sawah Oge Bisa Makan, Teu Boga Pare Oge Bisa Seubeuh" (Tidak punya sawah pun bisa makan, tidak punya padi pun bisa kenyang). Hal ini bermula dari sejarah panjang perjuangan melawan kolonialisme, di mana para leluhur Cireundeu mencari alternatif pangan agar tidak bergantung pada komoditas yang dikendalikan penjajah. Transformasi singkong menjadi makanan pokok ini telah menjadikan Cireundeu sebagai model nasional bagi ketahanan pangan berkelanjutan.

#

Struktur Wilayah dan Pelestarian Lingkungan

Masyarakat Cireundeu membagi wilayah hutan mereka menjadi tiga bagian fungsional yang sangat dihormati:

1. Leuweung Larangan (Hutan Terlarang): Kawasan hutan yang sama sekali tidak boleh ditebang atau dirusak pohonnya. Tujuannya adalah untuk menjaga ketersediaan air tanah bagi kehidupan masyarakat.

2. Leuweung Tutupan (Hutan Reboisasi): Kawasan hutan yang digunakan untuk penghijauan kembali. Masyarakat boleh menanam pohon di sini, namun penebangan hanya boleh dilakukan dengan izin ketat untuk kepentingan umum.

3. Leuweung Baladahan (Hutan Pertanian): Kawasan yang diperuntukkan bagi lahan pertanian masyarakat, di mana singkong sebagai komoditas utama ditanam.

Pembagian ini mencerminkan kearifan lokal dalam menjaga ekosistem. Bagi masyarakat Cireundeu, alam adalah ibu yang harus dihormati agar tetap memberikan kehidupan.

#

Kesenian Tradisional dan Pertunjukan Budaya

Sebagai pusat kebudayaan, Kampung Adat Cireundeu menjadi wadah pelestarian berbagai kesenian khas Sunda. Salah satu pertunjukan yang paling menonjol adalah Angklung Buncis. Berbeda dengan angklung pada umumnya, Angklung Buncis di Cireundeu memiliki nada dan ritme yang khas, sering kali dibawakan dalam ritual-ritual adat atau penyambutan tamu penting.

Selain itu, terdapat kesenian Karinding, alat musik tiup dari bambu yang menghasilkan suara vibrasi unik. Karinding bukan sekadar alat musik, melainkan alat komunikasi spiritual dan pengusir hama di sawah pada masa lalu. Generasi muda di Cireundeu secara rutin dilatih memainkan alat musik ini agar tradisi tidak terputus. Pertunjukan seni di sini biasanya diiringi oleh tembang-tembang Sunda yang berisi nasihat tentang menjaga alam dan hubungan antarmanusia.

#

Ritual Adat dan Festival Tahunan

Peristiwa budaya yang paling megah di Kampung Adat Cireundeu adalah perayaan 1 Sura (Tahun Baru Saka Sunda). Festival ini merupakan bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil panen dan keberlangsungan hidup selama setahun terakhir.

Dalam perayaan 1 Sura, seluruh warga berkumpul mengenakan pakaian adat (dominan warna putih atau hitam). Rangkaian acara meliputi:

  • Ngajadikeun: Prosesi doa bersama sebagai bentuk syukur kepada Sang Pencipta.
  • Pawai Budaya: Menampilkan berbagai hasil bumi dan kesenian tradisional.
  • Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh: Tradisi makan bersama dengan menu utama Rasi dan berbagai olahan singkong lainnya, yang mempererat tali silaturahmi antarwarga dan pengunjung.

#

Program Edukasi dan Pemberdayaan Masyarakat

Kampung Adat Cireundeu telah berkembang menjadi destinasi wisata edukasi (edu-wisata). Program-program yang ditawarkan meliputi:

1. Workshop Pengolahan Singkong: Pengunjung diajarkan cara memproses singkong dari hulu ke hilir. Mulai dari memarut, memeras, mengeringkan hingga menjadi Rasi, serta mengolah limbah singkong menjadi kerupuk, dendeng kulit singkong, dan egg roll singkong.

2. Sekolah Adat: Program internal bagi pemuda setempat untuk mempelajari aksara Sunda, sejarah leluhur, dan etika hidup (tata krama) berdasarkan ajaran Sunda Wiwitan.

3. Edukasi Lingkungan: Mengajak pelajar dan mahasiswa untuk melihat langsung sistem konservasi air dan hutan yang diterapkan masyarakat adat.

Upaya ini berhasil mengubah persepsi bahwa singkong adalah "makanan kelas bawah" menjadi simbol kemandirian dan inovasi kuliner yang bernilai ekonomi tinggi.

#

Peran dalam Pengembangan Budaya Lokal

Sebagai pusat kebudayaan di Cimahi, Kampung Adat Cireundeu memainkan peran krusial sebagai penyeimbang identitas kota. Di tengah pesatnya industri manufaktur di Cimahi, Cireundeu menjadi "paru-paru" sekaligus "hati" budaya yang mengingatkan masyarakat perkotaan akan akar tradisi mereka.

Pemerintah Kota Cimahi dan berbagai lembaga akademis sering menjadikan Cireundeu sebagai pusat penelitian sosial, budaya, dan pangan. Keberadaan kampung ini mendorong pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal, di mana produk-produk olahan singkong Cireundeu kini telah menjangkau pasar di luar daerah sebagai oleh-oleh khas Cimahi yang prestisius.

#

Pelestarian Warisan Budaya di Era Digital

Masyarakat Cireundeu tidak menutup diri dari teknologi, namun mereka memanfaatkannya dengan bijak untuk pelestarian. Promosi kegiatan budaya kini dilakukan melalui media sosial untuk menarik minat generasi milenial dan Gen Z agar mau berkunjung dan belajar. Meskipun mereka menggunakan gawai dan internet, nilai-nilai inti seperti cara berpakaian, cara berbicara kepada yang lebih tua, dan konsumsi Rasi tetap dijaga dengan sangat disiplin.

Rumah-rumah penduduk yang masih mempertahankan arsitektur panggung dengan bahan kayu dan bambu juga terus dirawat. Hal ini bukan hanya untuk estetika, tetapi sebagai bentuk penghormatan terhadap arsitektur yang ramah gempa dan selaras dengan alam.

#

Penutup

Kampung Adat Cireundeu bukan sekadar situs sejarah yang beku, melainkan sebuah pusat kebudayaan yang hidup dan dinamis. Melalui konsistensi dalam memegang teguh filosofi kedaulatan pangan dan pelestarian alam, Cireundeu memberikan pelajaran berharga bagi dunia modern tentang cara hidup berkelanjutan. Keberadaannya membuktikan bahwa kemajuan zaman tidak harus berarti meninggalkan identitas, dan bahwa kekuatan sebuah bangsa bermula dari kemampuannya menghargai tanah dan tradisi leluhurnya sendiri. Dengan terus menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta, Kampung Adat Cireundeu akan tetap menjadi mercusuar budaya Sunda yang menyinari Kota Cimahi dan Indonesia.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Leuwigajah, Cimahi Selatan, Kota Cimahi
entrance fee
Sukarela / Donasi
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 17:00

Tempat Menarik Lainnya di Cimahi

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Cimahi

Pelajari lebih lanjut tentang Cimahi dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Cimahi