Situs Sejarah

Keraton Kasepuhan

di Cirebon, Jawa Barat

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

#

Keraton Kasepuhan: Manifestasi Agung Peradaban Islam dan Akulturasi Budaya di Cirebon

Keraton Kasepuhan bukan sekadar kompleks bangunan tua di pesisir utara Jawa; ia adalah rekaman hidup dari transisi kekuasaan, penyebaran agama Islam, dan harmoni lintas budaya yang telah bertahan selama lebih dari lima abad. Terletak di Kelurahan Kasepuhan, Lemahwungkuk, Kota Cirebon, keraton ini memegang predikat sebagai keraton tertua, terbesar, dan paling terawat di Cirebon, menjadikannya episentrum sejarah Jawa Barat yang tak ternilai harganya.

##

Asal-Usul Historiografi dan Berdirinya Keraton

Akar sejarah Keraton Kasepuhan bermula pada tahun 1447 Masehi dengan berdirinya Dalem Agung Pakungwati oleh Pangeran Cakrabuana (Walangsungsang), putra sulung dari Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran. Nama "Pakungwati" diambil dari nama putri Pangeran Cakrabuana, Ratu Dewi Pakungwati, yang kemudian menikah dengan Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah).

Pada tahun 1529, kompleks ini diperluas oleh Pangeran Mas Mochammad Arifin II, cicit dari Sunan Gunung Jati. Perluasan inilah yang kemudian membentuk struktur utama Keraton Kasepuhan yang kita kenal sekarang. Peralihan nama dari Keraton Pakungwati menjadi Keraton Kasepuhan terjadi pada tahun 1677, menyusul pembagian kekuasaan Kesultanan Cirebon menjadi dua yakni Kasepuhan dan Kanoman karena intrik politik yang dipicu oleh intervensi kolonial Belanda (VOC).

##

Arsitektur: Simfoni Akulturasi Empat Budaya

Salah satu keunikan paling mencolok dari Keraton Kasepuhan adalah gaya arsitekturnya yang spesifik dan eklektik. Bangunan ini mencerminkan perpaduan harmonis antara unsur Hindu-Jawa, Islam, Tiongkok, dan Eropa.

Dinding luar keraton yang terbuat dari bata merah tanpa plester mengingatkan pada gaya arsitektur era Majapahit. Di gerbang utama atau Gedung Siti Inggil, pengunjung akan disambut oleh struktur bata merah dengan ukiran yang halus. Hal yang paling unik adalah tempelan piring-piring porselen asli dari Dinasti Ming dan Qing (Tiongkok) serta keramik Delft (Belanda) pada dinding-dinding bangunan utama. Piring-piring ini bukan sekadar hiasan, melainkan simbol hubungan diplomatik dan perdagangan internasional Cirebon di masa lampau.

Kompleks keraton terbagi menjadi beberapa bagian fungsional:

1. Siti Inggil: Terletak di bagian depan, berfungsi sebagai tempat sultan melihat latihan keprajuritan atau memberikan pengarahan. Terdapat lima bangunan utama (pendopo) di atas Siti Inggil, masing-masing memiliki fungsi spesifik seperti Mande Malang Semirang yang memiliki tiang berjumlah 20, melambangkan sifat-sifat Allah.

2. Bangsal Pringgadani: Ruang tunggu bagi para tamu sultan.

3. Bangsal Prabayasa: Ruang singgasana sultan yang sangat sakral.

4. Langgar Agung: Masjid kecil di dalam keraton yang merepresentasikan nafas Islami dalam kehidupan istana.

##

Signifikansi Sejarah dan Tokoh Sentral

Tokoh paling sentral dalam sejarah Kasepuhan tentu saja adalah Sunan Gunung Jati. Sebagai salah satu dari Wali Songo, beliau menjadikan Cirebon sebagai pusat dakwah Islam di Jawa Barat. Di bawah kepemimpinannya, Cirebon melepaskan diri dari pengaruh Pajajaran dan tumbuh menjadi kesultanan yang berdaulat.

Keraton Kasepuhan juga menjadi saksi bisu perlawanan terhadap kolonialisme. Meskipun berada di bawah tekanan VOC, para sultan Kasepuhan tetap berupaya menjaga kedaulatan budaya dan agama mereka. Salah satu artefak sejarah yang paling penting di sini adalah Kereta Singa Barong. Dibuat pada tahun 1549, kereta kencana ini merupakan mahakarya teknologi transportasi kuno dengan sistem suspensi yang sangat maju pada zamannya. Bentuk kereta ini menggabungkan unsur gajah (Hindu), naga (Tiongkok), dan garuda/singa (Islam/Jawa), yang melambangkan persahabatan antar etnis dan agama.

##

Fungsi Budaya dan Religi

Hingga hari ini, Keraton Kasepuhan masih menjalankan tradisi-tradisi kuno yang menarik ribuan pengunjung. Upacara Panjang Jimat yang diadakan setiap tanggal 12 Rabiul Awal (Maulid Nabi) adalah momen paling sakral. Dalam upacara ini, benda-benda pusaka keraton dikelurkan dan dicuci dalam sebuah prosesi yang melambangkan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Selain itu, keraton berperan sebagai penjaga tradisi seni Cirebonan, mulai dari Tari Topeng Cirebon, seni gamelan, hingga seni lukis kaca. Keberadaan sumur tujuh yang dianggap keramat oleh sebagian masyarakat juga menambah dimensi spiritual dari situs ini, mencerminkan akulturasi antara kepercayaan lokal dan nilai-nilai Islam.

##

Status Preservasi dan Upaya Restoran

Sebagai bangunan yang telah berusia ratusan tahun, Keraton Kasepuhan menghadapi tantangan pelestarian yang besar. Namun, berkat statusnya sebagai Benda Cagar Budaya (BCB) yang dilindungi oleh undang-undang, upaya konservasi terus dilakukan. Restoran dilakukan secara berkala, terutama pada bagian atap sirap dan pembersihan porselen-porselen kuno yang menempel di dinding.

Pihak kesultanan, yang kini dipimpin oleh Sultan Sepuh, bekerja sama dengan pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk memastikan bahwa struktur asli tetap terjaga tanpa menghilangkan nilai historisnya. Area museum di dalam keraton kini telah ditata lebih modern untuk menyimpan benda-benda pusaka seperti keris, tombak, pakaian kebesaran, hingga naskah-naskah kuno yang ditulis di atas daun lontar.

##

Fakta Unik yang Jarang Diketahui

Salah satu fakta menarik adalah keberadaan Patung Harimau Putih di depan gerbang utama, yang merupakan simbol penghormatan kepada Prabu Siliwangi (kakek Sunan Gunung Jati), menunjukkan bahwa meskipun Cirebon telah menjadi kesultanan Islam, mereka tetap menghargai leluhur mereka yang beragama Hindu. Selain itu, tata letak keraton menghadap ke arah utara (laut) dengan gunung di belakangnya (Gunung Ciremai), mengikuti konsep kosmologi Jawa "Gunung-Segara" yang diyakini membawa keseimbangan bagi pemerintahan.

##

Kesimpulan

Keraton Kasepuhan bukan sekadar reruntuhan masa lalu, melainkan sebuah institusi yang terus bernapas. Ia adalah personifikasi dari jati diri masyarakat Cirebon yang inklusif, terbuka terhadap perbedaan, namun tetap teguh memegang akar tradisi. Melalui arsitekturnya yang megah dan sejarahnya yang panjang, Keraton Kasepuhan terus berdiri sebagai mercusuar peradaban di tanah Pasundan, mengingatkan generasi mendatang akan kejayaan dan kebijakan para leluhurnya dalam merajut keberagaman.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Kasepuhan No. 43, Lemahwunghu, Kota Cirebon
entrance fee
Rp 20.000 - Rp 25.000 per orang
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 18:00

Tempat Menarik Lainnya di Cirebon

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Cirebon

Pelajari lebih lanjut tentang Cirebon dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Cirebon