Situs Sejarah

Masjid Agung Sang Cipta Rasa

di Cirebon, Jawa Barat

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Masjid Agung Sang Cipta Rasa: Simbol Harmoni Islam dan Budaya Jawa di Cirebon

Masjid Agung Sang Cipta Rasa bukan sekadar bangunan peribadatan; ia adalah monumen hidup yang merekam jejak penyebaran Islam di Tanah Jawa. Terletak di kompleks Keraton Kasepuhan, Kota Cirebon, Jawa Barat, masjid ini berdiri sebagai salah satu masjid tertua di Indonesia yang masih mempertahankan keaslian arsitekturnya sejak abad ke-15. Nama "Sang Cipta Rasa" sendiri mengandung filosofi mendalam: "Sang" bermakna keagungan, "Cipta" berarti membangun, dan "Rasa" melambangkan kegunaan atau niat yang tulus.

#

Asal-Usul Historis dan Masa Pendirian

Masjid ini didirikan pada tahun 1480 Masehi, pada masa pemerintahan Sunan Gunung Jati (Syekh Syarif Hidayatullah). Pembangunannya merupakan proyek besar yang melibatkan kolaborasi lintas kebudayaan dan kekuatan politik di Nusantara kala itu. Menurut catatan sejarah, Masjid Agung Sang Cipta Rasa dibangun dalam waktu yang sangat singkat—konon hanya dalam satu malam menurut legenda setempat—sebagai wujud kesungguhan para Wali Songo dalam menyediakan pusat dakwah.

Pembangunan masjid ini dipimpin langsung oleh Sunan Kalijaga sebagai arsitek utama, atas restu dari Sunan Gunung Jati. Dalam proses pengerjaannya, Sunan Kalijaga memboyong sekitar 500 pekerja ahli dari Kerajaan Majapahit, Demak, dan Cirebon sendiri. Hal ini menjelaskan mengapa masjid ini memiliki perpaduan gaya arsitektur yang sangat unik, menggabungkan elemen Hindu-Jawa dengan nilai-nilai Islam.

#

Arsitektur dan Detail Konstruksi yang Unik

Salah satu ciri paling mencolok dari Masjid Agung Sang Cipta Rasa adalah ketiadaan menara. Berbeda dengan masjid-masjid modern yang menonjolkan ketinggian menara, masjid ini justru tampil rendah hati dengan atap berbentuk limasan tumpang tiga, yang melambangkan tiga tahapan spiritual dalam Islam: Iman, Islam, dan Ihsan.

Struktur utama masjid ditopang oleh 30 tiang kayu jati berukuran besar. Keunikan yang paling legendaris adalah keberadaan "Saka Tatal"—sebuah tiang utama (saka guru) yang tidak terbuat dari satu batang pohon utuh, melainkan susunan kepingan-kepingan kayu jati (tatal) yang diikat menjadi satu. Saka Tatal ini merupakan karya monumental Sunan Kalijaga yang menyimbolkan bahwa kekuatan besar dapat lahir dari persatuan bagian-bagian kecil (persatuan umat).

Pintu masuk utama masjid dirancang sangat rendah, yang mengharuskan setiap jemaah untuk menundukkan kepala saat masuk. Secara filosofis, ini adalah pengingat agar setiap manusia menanggalkan kesombongannya sebelum menghadap Sang Pencipta. Di bagian dalam, terdapat mihrab yang dihiasi dengan ukiran motif bunga teratai, yang merupakan pengaruh kuat dari seni rupa Majapahit.

#

Tokoh Penting dan Peristiwa Bersejarah

Masjid ini tidak bisa dilepaskan dari peran Sunan Gunung Jati sebagai penguasa Cirebon sekaligus ulama besar. Di sinilah pusat koordinasi strategi dakwah Wali Songo di wilayah barat Pulau Jawa dilakukan. Selain Sunan Gunung Jati dan Sunan Kalijaga, tokoh seperti Sunan Kudus juga berperan dalam memberikan sentuhan estetika pada bagian-bagian tertentu masjid.

Salah satu peristiwa sejarah yang unik dan masih dilestarikan hingga kini adalah tradisi "Azan Pitu" (Azan Tujuh). Tradisi ini bermula dari sebuah legenda tentang wabah penyakit dan gangguan gaib yang menyerang Cirebon pada masa lampau. Konon, untuk mengusir bala tersebut, Sunan Gunung Jati memerintahkan tujuh orang muazin untuk mengumandangkan azan secara bersamaan. Hingga saat ini, setiap salat Jumat, tujuh orang muazin berpakaian serba putih akan mengumandangkan azan secara serentak di Masjid Agung Sang Cipta Rasa.

#

Signifikansi Budaya dan Keagamaan

Bagi masyarakat Cirebon, Masjid Agung Sang Cipta Rasa adalah jantung spiritual. Masjid ini menjadi pusat perayaan hari besar Islam, seperti Grebeg Syawal dan Maulid Nabi (Panjang Jimat). Keterkaitan erat antara masjid dengan Keraton Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan menjadikannya simbol legitimasi kekuasaan Islam yang berbasis pada kearifan lokal.

Di halaman masjid, terdapat sumber air yang dikenal sebagai "Banyu Cipta Rasa". Masyarakat setempat meyakini air ini memiliki khasiat tertentu dan sering digunakan untuk berwudu atau dibawa pulang oleh para peziarah. Keberadaan sumur ini menambah dimensi sakralitas situs ini sebagai tempat pembersihan lahir dan batin.

#

Pelestarian dan Restorasi

Sebagai Situs Cagar Budaya nasional, Masjid Agung Sang Cipta Rasa terus mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah dan keluarga keraton. Meskipun telah berusia lebih dari lima abad, struktur kayu jati aslinya masih sangat kokoh. Upaya restorasi dilakukan secara berkala dengan sangat hati-hati agar tidak mengubah bentuk asli maupun nilai historisnya.

Tantangan utama dalam pelestarian adalah menjaga kayu-kayu kuno dari pelapukan dan rayap. Penggunaan bahan pengawet alami dan teknik perawatan tradisional tetap diutamakan. Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Balai Pelestarian Kebudayaan secara rutin melakukan pendokumentasian dan pemeliharaan fisik untuk memastikan bahwa warisan Wali Songo ini tetap tegak berdiri bagi generasi mendatang.

#

Penutup: Warisan yang Tak Lekang oleh Waktu

Masjid Agung Sang Cipta Rasa adalah bukti nyata bahwa Islam masuk ke Nusantara bukan dengan menghancurkan budaya lokal, melainkan dengan merangkul dan memperkayanya. Keberadaan Saka Tatal, tradisi Azan Pitu, dan perpaduan arsitektur Jawa-Islam di masjid ini adalah pesan abadi tentang toleransi dan persatuan. Sebagai salah satu pilar sejarah di Cirebon, masjid ini terus memancarkan "rasa" keagungan yang mengajak setiap pengunjungnya untuk merenungi kedalaman spiritualitas dan kekayaan sejarah bangsa Indonesia. Bagi siapa pun yang mengunjungi Cirebon, menginjakkan kaki di lantai kayu masjid ini adalah sebuah perjalanan menembus waktu menuju masa keemasan dakwah Islam di tanah Jawa.

📋 Informasi Kunjungan

address
Jl. Kasepuhan, Lemahwunghu, Kota Cirebon
entrance fee
Gratis (Donasi sukarela)
opening hours
24 Jam (Waktu ibadah)

Tempat Menarik Lainnya di Cirebon

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Cirebon

Pelajari lebih lanjut tentang Cirebon dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Cirebon