Bangunan Ikonik

Monumen Perjuangan Rakyat Bali (Bajra Sandhi)

di Denpasar, Bali

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Arsitektur dan Filosofi Monumen Perjuangan Rakyat Bali (Bajra Sandhi)

Berdiri megah di jantung Kota Denpasar, tepatnya di tengah Lapangan Niti Mandala Renon, Monumen Perjuangan Rakyat Bali—atau yang lebih dikenal sebagai Monumen Bajra Sandhi—merupakan representasi arsitektural paling spektakuler dari semangat patriotisme masyarakat Bali. Bangunan ini bukan sekadar monumen peringatan, melainkan sebuah mahakarya yang mengawinkan estetika tradisional Bali dengan prinsip desain kosmologi Hindu yang mendalam.

#

Konteks Sejarah dan Visi Pembangunan

Gagasan pembangunan monumen ini dicetuskan pada tahun 1980 oleh Prof. Ida Bagus Mantra, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Bali. Visi utamanya adalah menciptakan sebuah simbol fisik yang merangkum heroisme rakyat Bali dari masa prasejarah, masa kerajaan, hingga era perjuangan kemerdekaan.

Proses konstruksi dimulai pada tahun 1987 berdasarkan rancangan arsitek kenamaan Bali, Ir. Ida Bagus Gede Yadnya. Pembangunan memakan waktu cukup lama karena detail ornamen yang sangat rumit, hingga akhirnya diresmikan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri pada tanggal 14 Juni 2003. Pemilihan lokasi di Renon sangat strategis karena berada di pusat pemerintahan Provinsi Bali, menjadikannya titik fokus visual (landmark) kota Denpasar.

#

Estetika Arsitektur: Bentuk Bajra dan Kosmologi Hindu

Nama "Bajra Sandhi" merujuk pada bentuk fisik bangunan yang menyerupai Bajra atau Genta, lonceng suci yang digunakan oleh para pendeta Hindu (Sulinggih) dalam upacara keagamaan. Secara arsitektural, bangunan ini menerapkan prinsip Tri Angga, yakni pembagian tubuh bangunan menjadi tiga bagian utama: Nista (kaki), Madya (badan), dan Utama (kepala).

Secara filosofis, desain monumen ini mengadopsi konsep Pemutaran Mandara Giri di Ksirarnawa, sebuah epos dalam mitologi Hindu tentang pengadukan samudra susu untuk mendapatkan air suci kehidupan (Tirta Amertha). Elemen-elemen arsitekturnya melambangkan simbol-simbol dalam kisah tersebut:

1. Guci Amertha, dilambangkan oleh bagian berbentuk kumba di puncak monumen.

2. Naga Basuki, yang ekornya terwujud dekat Bedawang Akupa (kura-kura raksasa) di bagian dasar.

3. Gunung Mandara, yang direpresentasikan oleh tubuh monumen yang menjulang tinggi.

#

Simbolisme Numerik Tanggal Kemerdekaan

Salah satu keunikan arsitektur Bajra Sandhi adalah integrasi angka-angka sakral kemerdekaan Republik Indonesia (17 Agustus 1945) ke dalam elemen strukturalnya:

  • 17 anak tangga terdapat di pintu masuk utama.
  • 8 tiang agung di dalam gedung yang menjulang setinggi 45 meter.
  • 45 meter adalah tinggi keseluruhan monumen dari dasar hingga puncak.

Presisi numerik ini menunjukkan bahwa monumen ini dirancang sebagai jembatan antara identitas spiritual Bali dan identitas nasional Indonesia.

#

Struktur Internal dan Tata Ruang

Bangunan ini terdiri dari tiga lantai dengan fungsi yang berbeda-beda, menciptakan alur pengalaman pengunjung yang sistematis:

1. Lantai Dasar (Nistaning Utama Mandala): Area ini berfungsi sebagai pusat informasi, perpustakaan, dan ruang pameran foto. Secara arsitektural, bagian ini memiliki langit-langit rendah yang menciptakan suasana tenang. Terdapat kolam air di bagian tengah yang menambah kesejukan suhu mikro di dalam gedung.

2. Lantai Dua (Madyaning Utama Mandala): Bagian ini adalah inti dari narasi sejarah monumen. Di sini terdapat 33 diorama yang menceritakan perjalanan sejarah Bali. Desain interiornya menggunakan pencahayaan temaram untuk memfokuskan perhatian pada diorama, sementara detail ukiran batu padas pada dindingnya menunjukkan kemahiran pemahat lokal.

3. Lantai Tiga (Utamaning Utama Mandala): Terletak di bagian atas atau "kepala" genta. Untuk mencapai lantai ini, pengunjung harus menaiki tangga melingkar (spiral staircase) yang cukup sempit, menyimbolkan pendakian spiritual. Di puncak, terdapat ruang terbuka yang tenang di mana pengunjung dapat menikmati pemandangan 360 derajat kota Denpasar dan hamparan hijau Lapangan Renon.

#

Inovasi Material dan Ornamen

Meskipun terlihat seperti bangunan tradisional, Bajra Sandhi menggunakan teknologi beton bertulang yang dilapisi dengan batu padas kelabu khas Bali. Penggunaan batu padas ini memberikan tekstur purbakala namun tetap kokoh. Ornamen-ornamennya, mulai dari karang boma di atas pintu masuk hingga ukiran bunga kamboja dan sulur-suluran, dikerjakan dengan tingkat presisi tinggi secara manual.

Struktur bangunan ini juga dirancang untuk tahan terhadap guncangan gempa, mengingat Bali berada di zona seismik aktif. Pondasi yang kuat dan distribusi beban yang simetris melalui bentuk lingkaran dan persegi (mandala) memberikan stabilitas struktural yang luar biasa.

#

Signifikansi Budaya dan Sosial

Bajra Sandhi telah bertransformasi dari sekadar monumen sejarah menjadi ikon budaya dan pusat aktivitas sosial. Ruang terbuka hijau di sekelilingnya berfungsi sebagai "paru-paru" Denpasar, tempat warga melakukan aktivitas luar ruangan, yang melengkapi fungsi monumen sebagai ruang publik.

Secara visual, siluet Bajra Sandhi yang kontras dengan langit biru Denpasar sering menjadi objek studi bagi mahasiswa arsitektur untuk mempelajari bagaimana prinsip Asta Kosala Kosali (feng shui-nya Bali) dapat diterapkan pada bangunan berskala besar tanpa kehilangan nilai estetikanya.

#

Pengalaman Pengunjung dan Keberlanjutan

Saat ini, Bajra Sandhi dikelola dengan integrasi teknologi modern, termasuk penggunaan kode QR untuk informasi sejarah. Pengalaman pengunjung dimulai dari gerbang agung (Candi Bentar) yang megah, melewati jalur setapak yang simetris, hingga mencapai inti monumen. Angin sepoi-sepoi yang masuk melalui celah-celah arsitektur terbuka di lantai atas memberikan kenyamanan termal alami, mengurangi ketergantungan pada pendingin ruangan elektrik.

Sebagai sebuah karya arsitektur, Monumen Perjuangan Rakyat Bali adalah bukti nyata bahwa tradisi tidak harus statis. Melalui Bajra Sandhi, Ir. Ida Bagus Gede Yadnya berhasil membuktikan bahwa bahasa arsitektur tradisional Bali mampu berbicara dalam skala monumental, menyampaikan pesan keberanian, spiritualitas, dan persatuan bangsa kepada generasi mendatang. Monumen ini tetap berdiri tegak sebagai penjaga memori kolektif rakyat Bali di tengah modernisasi kota Denpasar yang pesat.

📋 Informasi Kunjungan

address
Jl. Raya Puputan No.142, Panjer, Denpasar Selatan
entrance fee
Rp 25.000 - Rp 50.000 per orang
opening hours
Senin - Jumat, 08:00 - 18:00; Sabtu - Minggu, 09:00 - 18:00

Tempat Menarik Lainnya di Denpasar

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Denpasar

Pelajari lebih lanjut tentang Denpasar dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Denpasar