Situs Sejarah

Museum Negeri Provinsi Bali (Museum Bali)

di Denpasar, Bali

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Peradaban di Jantung Kota: Sejarah Lengkap Museum Negeri Provinsi Bali

Museum Negeri Provinsi Bali, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Museum Bali, bukan sekadar tempat penyimpanan artefak kuno. Terletak di pusat Kota Denpasar, tepatnya di sisi timur Lapangan Puputan Badung, museum ini merupakan monumen hidup yang merekam ketangguhan budaya Bali di tengah arus kolonialisme dan modernisasi. Berdiri sebagai museum tertua di Bali, institusi ini menjadi saksi bisu transisi kekuasaan dari kerajaan-kerajaan tradisional menuju era pemerintahan modern.

#

Asal-Usul dan Periode Pendirian

Gagasan pendirian Museum Bali lahir dari keprihatinan tokoh-tokoh intelektual Belanda dan seniman setempat terhadap eksodus benda-benda budaya Bali ke luar negeri. Pada awal abad ke-20, setelah peristiwa Puputan Badung (1906) dan Puputan Klungkung (1908), banyak artefak berharga jatuh ke tangan kolektor pribadi atau dibawa ke Eropa.

Adalah W.F.J. Kroon, asisten residen Bali dan Lombok, yang pertama kali mencetuskan ide pembangunan museum pada tahun 1910. Ia bekerja sama dengan arsitek Jerman, Curt Grundler, serta sejumlah arsitek tradisional Bali (Undagi) seperti I Gusti Ketut Kandel dan I Gusti Ketut Rai. Pembangunan fisik dimulai pada tahun 1910 dan selesai pada tahun 1925. Meskipun bangunan rampung dalam rentang waktu tersebut, museum ini baru diresmikan secara formal pada 8 Desember 1932 oleh Yayasan Bali Museum.

#

Arsitektur: Representasi Istana dan Pura

Salah satu keunikan utama Museum Bali terletak pada gaya arsitekturnya yang menerapkan konsep Tri Mandala dan menggabungkan elemen arsitektur pura (tempat suci) serta puri (istana raja). Kompleks museum ini terdiri dari empat gedung utama yang masing-masing mewakili gaya arsitektur dari berbagai wilayah di Bali:

1. Gedung Tabanan: Menampilkan ciri khas arsitektur Bali bagian selatan dengan ukiran yang halus dan detail. Gedung ini awalnya digunakan untuk menyimpan koleksi peralatan tari dan kostum.

2. Gedung Karangasem: Mewakili gaya arsitektur Bali Timur. Karakteristiknya terlihat pada penggunaan ornamen yang lebih padat dan pengaruh estetika kerajaan-kerajaan di timur Bali.

3. Gedung Buleleng: Mencerminkan gaya Bali Utara yang lebih terbuka dan memiliki sentuhan pengaruh asing (akulturasi) yang lebih kentara pada detail hiasannya.

4. Gedung Timur: Merupakan bangunan tambahan yang berfungsi sebagai ruang pameran tetap untuk koleksi prasejarah dan arkeologi.

Struktur bangunan menggunakan material lokal seperti batu padas (sandstone) dan bata merah tanpa plester, menciptakan nuansa klasik yang megah. Keberadaan Candi Bentar (gerbang terbelah) dan Kori Agung (gerbang utama bertutup) mempertegas identitas museum ini sebagai replika lanskap budaya Bali yang sakral.

#

Signifikansi Historis dan Peristiwa Terkait

Museum Bali berdiri di atas lahan yang secara historis merupakan bagian dari wilayah Kerajaan Badung. Lokasinya sangat dekat dengan bekas Istana Denpasar yang hancur dalam peristiwa Puputan Badung 1906. Pembangunan museum di lokasi ini dianggap sebagai simbol kebangkitan kembali martabat budaya masyarakat Bali setelah kehancuran politik akibat kolonialisme.

Pada masa pendudukan Jepang (1942–1945), aktivitas museum sempat mengalami stagnasi. Namun, pasca kemerdekaan Indonesia, pengelolaan museum diambil alih oleh Pemerintah Provinsi Bali pada tahun 1966 sebelum akhirnya diserahkan kepada Pemerintah Pusat di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1969. Statusnya kemudian ditetapkan sebagai Unit Pelaksana Teknis di bawah Pemerintah Provinsi Bali hingga saat ini.

#

Tokoh Penting dalam Perkembangan Museum

Selain W.F.J. Kroon, nama yang sangat berpengaruh dalam sejarah museum ini adalah Dr. W.F. Stutterheim dan Dr. R. Goris. Keduanya adalah ahli purbakala yang berperan besar dalam mengklasifikasikan koleksi dan melakukan penelitian mendalam terhadap benda-benda cagar budaya di Bali. Di sisi seniman lokal, keterlibatan para Undagi (arsitek tradisional) memastikan bahwa setiap ukiran dan tata letak bangunan tetap mengacu pada naskah Asta Kosala Kosali, yakni pedoman arsitektur tradisional Bali yang berbasis pada harmoni spiritual.

#

Koleksi dan Makna Budaya-Religius

Museum Bali menyimpan lebih dari 10.000 koleksi yang terbagi dalam kategori etnografi, arkeologi, historika, dan seni rupa. Beberapa koleksi yang sangat unik meliputi:

  • Sarkofagus: Wadah penguburan dari zaman megalitikum yang ditemukan di berbagai wilayah di Bali.
  • Prasasti Perunggu: Dokumen kuno yang mencatat hukum dan ketetapan raja-raja Bali kuno.
  • Koleksi Keris dan Senjata Tradisional: Benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan magis dan simbol kasta.
  • Peralatan Upacara: Berbagai benda yang digunakan dalam ritual keagamaan Hindu Bali, yang menunjukkan bahwa museum ini bukan sekadar gudang barang mati, melainkan penyimpan memori tentang praktik spiritual yang masih hidup hingga kini.

Kehadiran museum ini secara sosiologis berfungsi sebagai jembatan antara masa lalu prasejarah, masa kejayaan kerajaan Hindu-Buddha, hingga masa Bali modern. Museum ini menegaskan identitas Bali sebagai pulau yang mampu mempertahankan akar religiusnya di tengah gempuran globalisasi.

#

Pelestarian dan Restoran

Sebagai situs sejarah yang dilindungi berdasarkan Undang-Undang Cagar Budaya, Museum Bali terus mengalami upaya konservasi rutin. Mengingat material utama bangunan adalah batu padas yang rentan terhadap pelapukan akibat kelembapan dan tumbuhnya lumut, pembersihan mekanis dan kimiawi dilakukan secara berkala.

Restoran secara besar-besaran pernah dilakukan pada tahun 1960-an untuk memperbaiki bagian-bagian atap dan ornamen yang rusak. Pemerintah Provinsi Bali juga terus melakukan digitalisasi koleksi untuk memastikan data sejarah tetap terjaga meskipun objek fisiknya mengalami degradasi alami. Saat ini, Museum Bali tidak hanya berfungsi sebagai objek wisata sejarah, tetapi juga sebagai pusat penelitian bagi akademisi internasional yang ingin mempelajari peradaban Austronesia dan perkembangan agama Hindu di Nusantara.

#

Fakta Unik: "Museum Tanpa Penjaga Malam"

Salah satu fakta unik dan mistis yang sering diceritakan secara turun-temurun adalah kepercayaan masyarakat setempat bahwa benda-benda di dalam Museum Bali memiliki "penjaga" spiritualnya sendiri. Beberapa koleksi topeng barong dan benda pusaka lainnya sering kali dianggap masih memiliki aura religius yang kuat, sehingga bagi masyarakat lokal, berkunjung ke museum ini membutuhkan sikap hormat yang sama seperti saat memasuki area pura.

Melalui keberadaan Museum Negeri Provinsi Bali, narasi besar tentang ketangguhan budaya Bali tetap terjaga. Ia berdiri sebagai pengingat bahwa meskipun kekuasaan politik dapat runtuh, warisan estetika dan spiritual sebuah bangsa akan tetap abadi selama ada wadah yang menjaganya dengan penuh dedikasi.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Mayor Wisnu No.1, Dangin Puri, Denpasar Timur
entrance fee
Rp 20.000 - Rp 50.000 per orang
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 16:00 (Jumat hingga 13:00)

Tempat Menarik Lainnya di Denpasar

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Denpasar

Pelajari lebih lanjut tentang Denpasar dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Denpasar