Kawasan Depok Lama (Sejarah Cornelis Chastelein)
di Depok, Jawa Barat
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Jejak Sejarah Kawasan Depok Lama: Warisan Cornelis Chastelein dan Kaum Depok Asli
Kawasan Depok Lama merupakan sebuah anomali sejarah di tengah modernitas Kota Depok, Jawa Barat. Berbeda dengan wilayah sekitarnya yang berkembang sebagai kota satelit Jakarta, Depok Lama memiliki akar historis yang sangat spesifik, bermula dari ambisi seorang pejabat tinggi Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) bernama Cornelis Chastelein pada akhir abad ke-17. Kawasan ini bukan sekadar pemukiman tua, melainkan simbol dari sebuah eksperimen sosial, ekonomi, dan religi yang unik di tanah Jawa.
#
Asal-Usul dan Pendirian: Ambisi Cornelis Chastelein
Sejarah Depok Lama dimulai ketika Cornelis Chastelein, seorang anggota Dewan Hindia (Raad van Indie) yang dikenal memiliki pandangan progresif dan religius, membeli lahan di wilayah Depok (singkatan dari De Eerste Protestantsche Organisatie van Kristenen menurut legenda setempat, meski secara etimologi berasal dari kata bahasa Sunda "Padepokan") pada 18 Mei 1696. Chastelein membeli tanah ini dari penguasa kolonial untuk dijadikan perkebunan kopi, lada, dan kakao.
Namun, yang membedakan Chastelein dari tuan tanah Belanda lainnya adalah visinya terhadap tenaga kerja. Ia tidak menggunakan sistem kerja paksa yang kejam, melainkan membawa 150 budak dari berbagai daerah di Nusantara seperti Bali, Makassar, Ambon, dan Timor. Para pekerja ini kemudian dibebaskan dan dikonversi menjadi pemeluk agama Kristen Protestan. Sebelum wafat pada 28 Juni 1714, Chastelein menulis wasiat yang revolusioner: ia memerdekakan seluruh pekerjanya dan menghibahkan tanah miliknya seluas 1.244 hektar kepada mereka secara kolektif. Kelompok inilah yang kemudian dikenal sebagai "Belanda Depok" atau 12 Marga Depok (Jonathans, Laurens, Bacas, Loen, Soedira, Isakh, Samuel, Leander, Joseph, Tholense, Jacob, dan Zadokh).
#
Gaya Arsitektur dan Detail Konstruksi
Kawasan Depok Lama menampilkan gaya arsitektur Indische Empire Style, sebuah perpaduan antara estetika Eropa dengan adaptasi iklim tropis. Ciri khas bangunan di kawasan ini adalah dinding bata yang tebal, langit-langit tinggi untuk sirkulasi udara, jendela besar dengan jalusi (krepyak), dan beranda luas di bagian depan.
Salah satu bangunan paling ikonik adalah Gereja Immanuel Depok. Meski bangunan aslinya yang berbahan kayu hancur akibat gempa bumi tahun 1834, gereja ini dibangun kembali dengan struktur batu yang kokoh pada tahun 1854. Arsitekturnya mencerminkan kesederhanaan Protestan namun tetap megah dengan menara lonceng yang khas. Selain itu, terdapat gedung Gemeente Bestuur (Balai Kota Depok lama) yang saat ini digunakan sebagai Rumah Sakit Harapan, menunjukkan struktur bangunan pemerintahan kolonial yang fungsional dengan pilar-pilar besar. Jalan Pemuda, yang menjadi jantung kawasan ini, masih menyisakan beberapa rumah tua dengan halaman luas yang mencerminkan tata kota perkebunan abad ke-19.
#
Signifikansi Historis dan Peristiwa Penting
Depok Lama memiliki status unik dalam sejarah Indonesia karena pernah berdiri sebagai "Republik" kecil yang otonom selama masa kolonial. Berdasarkan wasiat Chastelein, masyarakat Depok memiliki pemerintahan sendiri yang dipimpin oleh seorang Presiden yang dipilih dari kalangan 12 marga tersebut. Otonomi ini berlangsung hingga masa kemerdekaan Indonesia.
Peristiwa paling kelam dalam sejarah kawasan ini terjadi pada masa Revolusi Kemerdekaan, yang dikenal sebagai peristiwa "Gedoran Depok" pada Oktober 1945. Karena kedekatan budaya dan sejarah mereka dengan Belanda, masyarakat Depok Lama dicurigai sebagai kaki tangan kolonialis oleh para pejuang kemerdekaan. Kawasan ini diserbu, harta benda dijarah, dan banyak warga Depok Lama yang ditawan. Peristiwa ini menandai berakhirnya isolasi eksklusif masyarakat Depok dan integrasi penuh mereka ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tahun 1952, setelah tanah partikelir mereka dilepaskan kepada pemerintah Indonesia dengan ganti rugi.
#
Tokoh dan Pengaruh Budaya
Tokoh sentral tentu saja Cornelis Chastelein, yang makamnya (meski lokasinya masih diperdebatkan antara Jakarta dan Depok) tetap dihormati sebagai bapak pendiri. Selain 12 marga, tokoh seperti pengurus yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (LCC) berperan penting dalam menjaga keberlangsungan komunitas ini.
Secara budaya, Depok Lama adalah titik temu berbagai etnis Nusantara yang dipersatukan oleh agama dan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar di masa lalu. Hal ini menciptakan identitas unik: mereka bukan orang Belanda secara biologis, namun memiliki gaya hidup kebarat-baratan yang kental pada masanya. Tradisi perayaan seperti "28 Juni" (hari wafatnya Chastelein) masih diperingati oleh keturunan 12 marga sebagai hari pembebasan dan syukur.
#
Status Preservasi dan Upaya Restorasi
Saat ini, Kawasan Depok Lama menghadapi tantangan besar akibat tekanan urbanisasi. Banyak bangunan bersejarah yang telah beralih fungsi atau dihancurkan untuk pembangunan ruko dan perumahan modern. Namun, kesadaran akan pentingnya pelestarian mulai tumbuh. Pemerintah Kota Depok telah menetapkan beberapa bangunan di sepanjang Jalan Pemuda dan Jalan Kenanga sebagai bangunan cagar budaya.
Lembaga Cornelis Chastelein (LCC) memainkan peran vital dalam restorasi mandiri. Mereka mengelola aset-aset peninggalan seperti gedung sekolah dan gereja agar tetap sesuai dengan bentuk aslinya. Komunitas lokal dan sejarawan terus mendorong agar kawasan ini dijadikan sebagai "Kota Tua Depok" yang terintegrasi, serupa dengan kawasan Kota Tua Jakarta, guna menarik wisatawan berbasis sejarah dan edukasi.
#
Pentingnya Nilai Keagamaan dan Sosial
Gereja Immanuel bukan sekadar bangunan, melainkan pusat spiritual yang membentuk moralitas masyarakat Depok asli selama tiga abad. Nilai-nilai yang diajarkan Chastelein tentang kemandirian dan persaudaraan lintas etnis (melalui 12 marga) menjadi pondasi sosial yang kuat. Depok Lama adalah bukti nyata dari eksperimen sosial awal di Hindia Belanda tentang bagaimana sebuah komunitas multietnis dapat hidup berdampingan di bawah payung hukum dan keyakinan yang sama, jauh sebelum konsep pluralisme modern didengungkan.
#
Fakta Sejarah Unik
Salah satu fakta unik adalah bahwa Depok memiliki sistem hukum dan pengadilan sendiri sebelum tahun 1942. Selain itu, lonceng di Gereja Immanuel yang ada saat ini merupakan benda bersejarah yang suaranya telah terdengar di kawasan tersebut selama lebih dari 150 tahun. Fakta lain yang jarang diketahui adalah bahwa Chastelein melarang penanaman padi di lahan Depok pada awal pendiriannya, karena ia ingin fokus pada tanaman komoditas ekspor dan menjaga drainase tanah agar tidak menjadi rawa yang membawa penyakit malaria.
Kawasan Depok Lama tetap berdiri sebagai pengingat akan sepotong sejarah yang hilang; sebuah cerita tentang pembebasan, iman, dan ketahanan sebuah komunitas kecil di tengah arus besar perubahan zaman di Indonesia.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Depok
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Depok
Pelajari lebih lanjut tentang Depok dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Depok