Kuliner Legendaris

Sate Uncu Dharmasraya

di Dharmasraya, Sumatera Barat

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Menelusuri Kelezatan Sate Uncu Dharmasraya: Legenda Kuliner dari Ranah Cati Nan Tigo

Kabupaten Dharmasraya, yang dikenal sebagai gerbang timur Provinsi Sumatera Barat, tidak hanya menyimpan kekayaan sejarah Kerajaan Melayu Kuno, tetapi juga menyimpan harta karun gastronomi yang tak ternilai. Di tengah hiruk-pikuk jalur lintas Sumatera yang membelah kabupaten ini, terdapat satu nama yang telah menjadi ikon kelezatan turun-temurun: Sate Uncu Dharmasraya. Lebih dari sekadar hidangan daging tusuk, Sate Uncu adalah representasi dari perpaduan budaya, ketelatenan tradisi, dan kekayaan rempah yang menjadi identitas masyarakat Dharmasraya.

#

Asal-Usul dan Filosofi di Balik Nama "Uncu"

Nama "Uncu" dalam dialek lokal Minangkabau, khususnya di wilayah Dharmasraya dan sekitarnya, merupakan panggilan akrab untuk anak bungsu atau paman/bibi termuda dalam struktur kekeluargaan. Sate Uncu bermula dari usaha keluarga kecil yang dirintis puluhan tahun silam. Keberadaannya bermula dari keinginan untuk menyajikan hidangan yang bisa dinikmati oleh para pelancong yang melintasi jalur trans-Sumatera sekaligus menjadi kebanggaan warga lokal.

Seiring berjalannya waktu, Sate Uncu bertransformasi dari sekadar warung pinggir jalan menjadi destinasi kuliner wajib. Filosofi di balik pelayanannya adalah keramahan khas rumah tangga Minang, di mana setiap tamu dilayani seolah-olah anggota keluarga sendiri. Inilah yang membuat Sate Uncu tetap bertahan di tengah gempuran kuliner modern; ia menawarkan rasa yang konsisten dan ikatan emosional bagi para pelanggannya.

#

Karakteristik Unik: Perpaduan Kuah Merah dan Kuning

Salah satu ciri khas yang membedakan Sate Uncu Dharmasraya dari Sate Padang Pariaman (yang cenderung merah pedas) atau Sate Padang Panjang (yang kuning kental dengan aroma kunyit kuat) adalah profil rasanya yang berada di "titik temu". Dharmasraya, secara geografis berbatasan langsung dengan Provinsi Jambi dan Riau, sehingga kulinernya menyerap sedikit pengaruh dari wilayah tetangga namun tetap berakar kuat pada pakem Minang.

Kuah Sate Uncu memiliki tekstur yang sangat halus, dihasilkan dari rebusan tepung beras yang dimasak berjam-jam dengan kaldu daging asli. Warnanya cenderung jingga kemerahan yang pekat, menandakan penggunaan cabai merah keriting dan kunyit yang seimbang. Rasa yang menonjol adalah gurih yang dalam, diikuti oleh sengatan lada putih dan jintan yang memberikan efek hangat di tenggorokan—sangat cocok untuk memulihkan stamina para pengemudi jarak jauh.

#

Rahasia Daging dan Proses Pengolahan Tradisional

Kelezatan Sate Uncu terletak pada pemilihan bahan baku. Hanya daging sapi pilihan, biasanya bagian paha belakang (knuckle) atau lulur dalam, yang digunakan untuk memastikan tekstur yang empuk namun tetap berserat. Uniknya, Sate Uncu juga sangat masyhur karena olahan jeroannya, seperti lidah, jantung, dan usus yang diolah sedemikian rupa sehingga tidak menyisakan aroma amis sedikitpun.

Proses pengolahannya mengikuti teknik tradisional yang ketat:

1. Marinating (Pemerapan): Sebelum dibakar, potongan daging direbus terlebih dahulu dengan bumbu "pemasak" yang terdiri dari lengkuas, jahe, bawang putih, dan serai. Proses ini memastikan bumbu meresap hingga ke serat terdalam.

2. Pembakaran dengan Arang Tempurung: Sate Uncu tidak pernah menggunakan gas atau arang kayu biasa. Mereka setia menggunakan arang tempurung kelapa. Asap dari tempurung kelapa memberikan aroma smoky yang khas dan tidak merusak rasa asli daging.

3. Olesan Minyak Kelapa: Saat dibakar, sate diolesi dengan minyak kelapa yang telah dicampur dengan bumbu halus. Hal ini menciptakan lapisan karamelisasi yang mengkilap dan gurih di permukaan daging.

#

Komposisi Rempah dan Rahasia Dapur

Dapur Sate Uncu adalah laboratorium rempah. Tidak kurang dari 15 jenis rempah digunakan dalam pembuatan kuahnya. Selain bawang merah, bawang putih, dan cabai, terdapat penggunaan ketumbar, jintan, merica, kayu manis, cengkeh, dan kapulaga. Namun, kunci rahasianya terletak pada penggunaan "daun kunyit" dan "daun ruku-ruku" (sejenis kemangi hutan) yang dimasukkan saat proses pengentalan kuah, memberikan aroma segar yang menyeimbangkan lemak daging.

Berbeda dengan sate di daerah lain yang terkadang terasa terlalu "berat" karena tepung, Sate Uncu berhasil menjaga keseimbangan antara kekentalan tepung beras dengan ketajaman kaldu. Setiap suapan memberikan ledakan rasa rempah yang kompleks namun tetap harmonis.

#

Tradisi Penyajian dan Budaya Makan Lokal

Menyantap Sate Uncu adalah sebuah ritual budaya. Sate disajikan di atas piring yang dialasi daun pisang yang telah dipanaskan (dilayur). Daun pisang ini bukan sekadar alas, melainkan penambah aroma alami saat bersentuhan dengan kuah panas.

Sebagai pendamping utama, terdapat ketupat (katupek) yang dibungkus dengan janur kelapa pilihan. Tekstur ketupatnya padat namun lembut, mampu menyerap kuah dengan sempurna. Tak lupa, taburan bawang goreng merah yang melimpah di atasnya memberikan tekstur renyah (crunchy). Bagi masyarakat Dharmasraya, makan sate belum lengkap tanpa "Keripik Jengkol" atau "Karak Kaliang" (kerupuk khas Minang dari singkong) yang diremukkan di atas kuah.

Di kedai Sate Uncu, sering terlihat interaksi sosial yang hangat. Meja panjang menjadi tempat bertemunya para pejabat daerah, pedagang pasar, hingga keluarga yang sedang merayakan sesuatu. Di sini, strata sosial seolah luruh oleh kenikmatan yang sama.

#

Warisan Keluarga dan Konsistensi Rasa

Keberhasilan Sate Uncu menjadi legenda di Dharmasraya tidak lepas dari peran keluarga besar yang menjaga resep ini secara turun-temurun. Tidak sembarang orang boleh meracik bumbu induk. Biasanya, sosok "Uncu" atau tetua keluarga yang memegang kendali atas takaran rempah untuk menjaga konsistensi rasa agar tidak berubah selama puluhan tahun.

Ketelatenan ini terlihat dari cara mereka memperlakukan bahan. Cabai yang digunakan adalah cabai lokal Dharmasraya yang memiliki tingkat kepedasan dan warna yang stabil. Air yang digunakan untuk memasak pun diperhatikan kualitasnya. Standarisasi yang tidak tertulis namun dijalankan dengan disiplin tinggi inilah yang membuat pelanggan dari luar kota, seperti Padang, Jambi, atau Jakarta, selalu menyempatkan diri singgah.

#

Sate Uncu dalam Konteks Pariwisata Dharmasraya

Dharmasraya saat ini sedang giat mempromosikan wisata sejarah, terutama situs Candi Padang Roco dan Candi Pulau Sawah. Sate Uncu hadir sebagai pelengkap sempurna bagi pengalaman wisata tersebut. Jika candi-candi menceritakan kejayaan masa lalu melalui batu, Sate Uncu menceritakan kejayaan budaya melalui lidah.

Pemerintah daerah setempat sering kali menjadikan Sate Uncu sebagai sajian utama dalam acara-acara kenegaraan atau festival budaya seperti Festival Pamalayu. Hal ini semakin memperkokoh posisi Sate Uncu bukan sekadar bisnis kuliner, melainkan aset budaya daerah.

#

Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Rasa

Sate Uncu Dharmasraya adalah bukti nyata bahwa kuliner adalah entitas yang hidup. Ia tumbuh dari tanah Dharmasraya, menghirup udara yang sama dengan pohon-pohon sawit dan karet yang membentang luas di kabupaten ini, dan disajikan dengan cinta oleh tangan-tangan yang menghargai warisan leluhur.

Bagi siapa pun yang melintasi jalur lintas Sumatera di wilayah Sumatera Barat, aroma asap dari bakaran Sate Uncu adalah sebuah panggilan pulang. Ia adalah pengingat bahwa di antara deru mesin kendaraan dan panjangnya perjalanan, selalu ada tempat untuk bersinggah, menikmati kehangatan rempah, dan merayakan kekayaan rasa yang telah melegenda. Menyantap Sate Uncu bukan hanya tentang mengenyangkan perut, melainkan tentang menghargai sebuah mahakarya kuliner yang dijaga dengan dedikasi dan cinta dari Ranah Cati Nan Tigo.

📋 Informasi Kunjungan

address
Jl. Lintas Sumatera, Pulau Punjung, Kabupaten Dharmasraya
entrance fee
Mulai dari Rp 20.000 per porsi
opening hours
Setiap hari, 10:00 - 22:00

Tempat Menarik Lainnya di Dharmasraya

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Dharmasraya

Pelajari lebih lanjut tentang Dharmasraya dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Dharmasraya