Situs Sejarah

Kawasan Kota Tua Donggala

di Donggala, Sulawesi Tengah

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Kejayaan Maritim: Menelusuri Sejarah Kawasan Kota Tua Donggala

Kawasan Kota Tua Donggala merupakan saksi bisu kejayaan perdagangan maritim di pesisir barat Pulau Sulawesi. Terletak di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, kawasan ini bukan sekadar sekumpulan bangunan tua, melainkan sebuah artefak tata kota masa kolonial yang pernah menjadi pusat ekonomi terpenting di Teluk Palu sebelum peran tersebut perlahan bergeser ke Kota Palu. Menelusuri Kota Tua Donggala berarti membuka kembali lembaran sejarah tentang jalur rempah, kekuasaan kolonial Belanda, dan perlawanan lokal yang gigih.

#

Asal-Usul dan Pendirian: Gerbang Utama Sulawesi Tengah

Sejarah Kawasan Kota Tua Donggala berakar kuat pada posisi geografisnya yang strategis. Pada abad ke-19, Donggala berfungsi sebagai pelabuhan utama bagi Kerajaan Banawa. Karena kedalaman perairannya yang alami dan terlindung dari ombak besar, pemerintah kolonial Hindia Belanda melalui Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) menjadikan Donggala sebagai pelabuhan singgah utama di rute pelayaran niaga internasional.

Pembangunan kota secara formal dimulai ketika Belanda menetapkan Donggala sebagai pusat pemerintahan Afdeeling Midden Celebes (Wilayah Sulawesi Tengah) pada awal abad ke-20. Status ini menjadikan Donggala sebagai titik distribusi barang-barang ekspor seperti kopra, rotan, dan kayu cendana menuju pasar Eropa dan Asia Timur. Di sinilah, infrastruktur perkotaan mulai dibangun, memisahkan area pelabuhan, kawasan pemukiman Eropa, dan pemukiman warga lokal.

#

Arsitektur dan Detail Konstruksi: Akulturasi di Pesisir

Karakteristik arsitektur di Kawasan Kota Tua Donggala menampilkan perpaduan unik antara gaya Indische Empire, gaya kolonial fungsional, dan pengaruh lokal. Bangunan-bangunan di kawasan ini umumnya memiliki dinding tebal dari susunan batu bata merah yang kokoh dengan langit-langit tinggi untuk sirkulasi udara optimal di daerah pesisir yang panas.

Salah satu ciri khas yang menonjol adalah penggunaan jendela dan pintu yang berukuran sangat besar dengan ornamen kayu jati. Banyak bangunan yang masih menyisakan struktur asli berupa pilar-pilar besar di bagian depan (veranda). Selain bangunan beton, terdapat pula rumah-rumah panggung kayu milik para saudagar Bugis dan Arab yang menetap di sana untuk berdagang. Material bangunan seperti ubin (tegel) dan beberapa komponen logam kabarnya didatangkan langsung dari Eropa melalui kapal-kapal KPM, memberikan sentuhan kemewahan pada masanya di tengah belantara Sulawesi.

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Donggala bukan hanya pusat perdagangan, tetapi juga pusat administrasi dan militer. Kawasan ini menjadi saksi penandatanganan berbagai perjanjian antara penguasa lokal (Raja-Raja Banawa) dengan pemerintah Belanda. Peristiwa penting yang tercatat adalah peran Donggala sebagai basis logistik selama masa pergolakan politik di awal kemerdekaan Indonesia.

Pada masa pendudukan Jepang, kawasan ini sempat menjadi target serangan udara karena fungsinya sebagai pelabuhan strategis. Pasca-kemerdekaan, Donggala tetap memegang peranan penting hingga tahun 1960-an sebelum akhirnya aktivitas pelabuhan besar dialihkan ke Pelabuhan Pantoloan karena pendangkalan di Teluk Donggala. Penurunan aktivitas ekonomi inilah yang secara tragis membuat kawasan ini seolah "terhenti dalam waktu," menjaga bangunan-bangunannya dari pembongkaran demi modernisasi.

#

Tokoh dan Periode Sejarah Terkait

Nama-nama besar seperti Raja Lamarauna dari Kerajaan Banawa sangat lekat dengan sejarah kawasan ini. Beliau dikenal sebagai pemimpin yang harus melakukan diplomasi rumit dengan Belanda untuk menjaga kedaulatan rakyatnya di tengah tekanan kolonial. Selain itu, keberadaan makam-makam kuno dan masjid di sekitar kota tua menunjukkan pengaruh kuat para pedagang Hadramaut (Yaman) yang menyebarkan Islam di wilayah ini.

Periode emas Donggala terjadi antara tahun 1900 hingga 1950-an. Pada masa ini, Donggala dikenal sebagai "Kota Pelabuhan" yang kosmopolit, di mana bahasa Melayu, Belanda, Bugis, dan Kaili berbaur di pasar-pasar dan dermaga. Keberadaan gudang-gudang besar milik perusahaan Belanda seperti Internatio dan Borsumij menjadi bukti betapa besarnya perputaran uang di kawasan ini pada masa itu.

#

Upaya Pelestarian dan Restorasi

Saat ini, Kawasan Kota Tua Donggala menghadapi tantangan pelestarian yang serius. Banyak bangunan yang mengalami kerusakan akibat usia, cuaca ekstrem pesisir, dan dampak bencana alam, termasuk gempa bumi dan tsunami tahun 2018 yang melanda wilayah Sulawesi Tengah. Meskipun beberapa bangunan mengalami kerusakan struktural, fasad asli kota tua ini tetap bertahan sebagai identitas daerah.

Pemerintah Kabupaten Donggala bersama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) terus berupaya melakukan revitalisasi. Langkah-langkah yang diambil meliputi pendataan bangunan cagar budaya, perbaikan infrastruktur jalan di kawasan kota tua, serta promosi sebagai destinasi wisata sejarah. Kesadaran masyarakat lokal pun mulai tumbuh dengan mengubah beberapa rumah tua menjadi kafe atau ruang kreatif tanpa menghilangkan nilai historisnya.

#

Makna Budaya dan Religi

Bagi masyarakat Sulawesi Tengah, khususnya suku Kaili dan Banawa, Kota Tua Donggala adalah simbol harga diri. Kawasan ini merepresentasikan masa di mana mereka merupakan pemain utama dalam jaringan perdagangan dunia. Secara religius, kawasan ini juga menjadi titik awal masuknya berbagai pengaruh keagamaan melalui pelabuhan, yang terlihat dari arsitektur masjid-masjid tua di sekitar kawasan yang memiliki sentuhan arsitektur Timur Tengah dan Nusantara.

#

Fakta Sejarah Unik

Salah satu fakta unik dari Kota Tua Donggala adalah adanya sistem drainase bawah tanah kuno yang dibangun Belanda, yang pada masanya dianggap sebagai salah satu yang tercanggih di Sulawesi. Selain itu, Donggala pernah diusulkan menjadi ibu kota provinsi Sulawesi Tengah sebelum akhirnya Palu dipilih karena pertimbangan lahan yang lebih luas untuk pengembangan kota modern.

Keunikan lainnya adalah "Rumah Gantung," sebuah struktur bangunan yang menjorok ke laut yang dulunya berfungsi sebagai kantor pemantau lalu lintas kapal. Meski kini banyak yang tinggal puing, sisa-sisanya tetap menjadi pengingat betapa sibuknya perairan Donggala di masa lalu.

Kawasan Kota Tua Donggala adalah mutiara sejarah yang harus dijaga. Keberadaannya memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana sebuah kota tumbuh dari interaksi antar-bangsa, perdagangan yang jujur, dan ketangguhan dalam menghadapi perubahan zaman. Melalui pelestarian yang berkelanjutan, Donggala diharapkan dapat kembali bersinar, bukan lagi sebagai pelabuhan dagang, melainkan sebagai pusat edukasi dan pariwisata sejarah yang mendunia.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Kelurahan Boya, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala
entrance fee
Gratis
opening hours
Setiap hari, 24 jam

Tempat Menarik Lainnya di Donggala

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Donggala

Pelajari lebih lanjut tentang Donggala dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Donggala