Rumah Tradisional Banua Mpoiki
di Donggala, Sulawesi Tengah
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Asal Usul dan Konteks Historis Pendirian
Nama "Banua Mpoiki" secara etimologis berasal dari bahasa Kaili. Banua berarti rumah, sementara Mpoiki merujuk pada nama tokoh atau garis keturunan bangsawan yang mendiami rumah tersebut. Secara historis, rumah ini dibangun pada masa transisi antara kedaulatan penuh kerajaan lokal dan masuknya pengaruh kolonial Belanda secara administratif di wilayah Sulawesi Tengah, sekitar akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.
Pendirian Banua Mpoiki tidak lepas dari struktur sosial masyarakat Kaili yang mengenal stratifikasi tajam. Rumah ini dikategorikan sebagai Banua Oge (Rumah Besar), yang khusus diperuntukkan bagi golongan bangsawan atau pemangku adat tertinggi yang disebut Magau. Lokasinya di Donggala mencerminkan posisi strategis kota tersebut sebagai pintu masuk utama arus barang dan budaya di Selat Makassar pada masa lampau.
Karakteristik Arsitektur dan Detail Konstruksi
Banua Mpoiki mengusung gaya arsitektur rumah panggung yang khas, namun memiliki spesifikasi yang membedakannya dengan rumah penduduk biasa. Konstruksi utamanya menggunakan kayu keras berkualitas tinggi, dominan kayu besi (kayu hitam) dan kayu cempaka, yang mampu bertahan selama lebih dari satu abad terhadap kelembapan udara laut.
1. Struktur Tiang (Gari): Rumah ini ditopang oleh puluhan tiang kayu bulat yang tidak ditanam ke dalam tanah, melainkan diletakkan di atas batu landasan (umpak). Teknik ini merupakan bentuk kearifan lokal dalam menghadapi potensi gempa bumi yang sering terjadi di sesar Palu Koro; struktur ini memungkinkan bangunan bergoyang mengikuti getaran tanpa patah atau runtuh.
2. Atap dan Ventilasi: Atapnya yang tinggi dan curam awalnya menggunakan rumbia atau bambu yang dibelah (pajeko), sebelum kemudian diganti dengan seng pada masa pemugaran. Bentuk atap ini memastikan sirkulasi udara tetap lancar di tengah cuaca pesisir Donggala yang panas.
3. Pembagian Ruang (Ganda): Bagian dalam Banua Mpoiki terbagi menjadi beberapa zona penting. Lonta Karatuna (ruang depan) berfungsi sebagai tempat menerima tamu dan musyawarah adat. Bagian tengah merupakan privasi keluarga, sementara bagian belakang digunakan untuk area dapur dan penyimpanan.
4. Ornamen dan Ukiran: Salah satu keunikan Banua Mpoiki adalah keberadaan ukiran motif flora dan geometris pada bagian anuvia (lisplang) dan tangga masuk. Motif ini melambangkan kesuburan dan keterhubungan manusia dengan alam semesta.
Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Terkait
Sebagai situs sejarah, Banua Mpoiki pernah berfungsi sebagai pusat pemerintahan adat dan tempat pertemuan para tokoh pejuang lokal. Pada masa perlawanan terhadap kolonialisme, rumah-rumah besar seperti ini sering kali menjadi tempat koordinasi rahasia antara para bangsawan Donggala dengan pejuang dari wilayah lain untuk menentang kebijakan pajak dan monopoli perdagangan Belanda.
Selain itu, Donggala pada masa kejayaan Banua Mpoiki adalah pelabuhan internasional yang melayani rute pelayaran hingga ke Singapura dan Filipina. Banua Mpoiki menjadi simbol kemakmuran ekonomi masyarakat lokal yang mampu memadukan estetika tradisional dengan kemewahan fungsional pada zamannya.
Tokoh dan Periodisasi Penting
Keberadaan Banua Mpoiki erat kaitannya dengan dinasti kepemimpinan di Donggala. Tokoh-tokoh seperti para pemangku adat dari klan Mpoiki memegang peranan penting dalam menjaga stabilitas sosial di wilayah tersebut. Pada masa pendudukan Jepang, rumah ini juga mengalami fase krusial di mana fungsi sosialnya tertekan oleh situasi perang, namun strukturnya tetap dipertahankan oleh masyarakat sebagai simbol identitas yang tidak boleh hilang.
Nilai Budaya dan Religi
Meskipun secara fisik adalah bangunan, Banua Mpoiki sarat dengan nilai-nilai filosofis. Penentuan arah hadap rumah yang biasanya menghadap ke gunung atau laut bukan tanpa alasan; hal ini melambangkan keseimbangan antara sumber kehidupan (gunung) dan jalur rezeki (laut). Dalam konteks religi, meskipun masyarakat Kaili telah memeluk Islam, proses pembangunan rumah ini tetap melibatkan ritual doa keselamatan yang memadukan ajaran agama dengan tradisi leluhur, menunjukkan sinkretisme budaya yang harmonis.
Rumah ini juga menjadi pusat pelaksanaan upacara adat seperti Vunja (pesta panen) atau prosesi pernikahan bangsawan yang melibatkan seluruh komunitas desa. Hal ini menjadikan Banua Mpoiki sebagai perekat sosial yang menjaga kohesi masyarakat Donggala.
Status Pelestarian dan Upaya Restorasi
Saat ini, Rumah Tradisional Banua Mpoiki ditetapkan sebagai situs cagar budaya di bawah pengawasan Pemerintah Kabupaten Donggala dan Balai Pelestarian Kebudayaan. Mengingat usianya yang sudah sangat tua, bangunan ini telah mengalami beberapa kali upaya restorasi untuk mengganti bagian kayu yang lapuk tanpa mengubah bentuk aslinya.
Tantangan terbesar dalam pelestarian Banua Mpoiki adalah ancaman bencana alam, seperti gempa dan tsunami yang melanda Donggala pada tahun 2018. Meskipun mengalami beberapa kerusakan minor, ketangguhan struktur panggungnya terbukti mampu menyelamatkan bangunan ini dari keruntuhan total. Pemerintah daerah kini berupaya mengintegrasikan Banua Mpoiki ke dalam rute wisata sejarah "Donggala Kota Tua" untuk meningkatkan kesadaran generasi muda akan pentingnya menjaga warisan arsitektur nusantara.
Fakta Sejarah Unik
Satu hal yang jarang diketahui adalah bahwa setiap sambungan kayu pada Banua Mpoiki asli tidak menggunakan paku besi, melainkan pasak kayu atau sistem ikat. Hal ini menunjukkan tingkat keahlian pertukangan tradisional suku Kaili yang sangat maju pada abad ke-19. Selain itu, jumlah anak tangga pada Banua Mpoiki selalu berjumlah ganjil, yang menurut kepercayaan lokal akan membawa keberuntungan dan keselamatan bagi penghuninya.
Sebagai bagian dari lanskap sejarah Sulawesi Tengah, Rumah Tradisional Banua Mpoiki bukan sekadar artefak masa lalu. Ia adalah sebuah pernyataan tentang kecerdasan arsitektural, ketahanan budaya, dan jati diri masyarakat Donggala yang terus bertahan melampaui zaman. Menjaga situs ini berarti menjaga memori kolektif bangsa tentang bagaimana peradaban di pesisir Sulawesi pernah mencapai puncak kejayaannya.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Donggala
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Donggala
Pelajari lebih lanjut tentang Donggala dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Donggala