Situs Sejarah

Masjid Tua Patimburak

di Fak Fak, Papua Barat

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Masjid Tua Patimburak: Simbol Harmonisasi Islam dan Arsitektur Kolonial di Tanah Papua

Masjid Tua Patimburak bukan sekadar tempat ibadah; ia adalah monumen hidup yang merekam jejak panjang penyebaran Islam di semenanjung Onin, Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Terletak di Distrik Kokas, masjid ini berdiri kokoh sebagai saksi bisu pertemuan antara tradisi lokal, pengaruh kekuasaan Kesultanan Maluku, dan sentuhan arsitektur Eropa. Sebagai salah satu masjid tertua di tanah Papua, Masjid Tua Patimburak menyimpan narasi mendalam tentang toleransi dan akulturasi budaya.

#

Asal-usul Historis dan Pendirian

Masjid Tua Patimburak didirikan pada tahun 1870, sebuah periode di mana pengaruh kekuasaan Kesultanan Tidore sangat kuat di wilayah pesisir Papua. Tokoh kunci di balik pembangunan masjid ini adalah Abuhari Kilian, seorang pemuka agama di wilayah tersebut. Pembangunan masjid ini tidak terlepas dari peran strategis wilayah Kokas sebagai titik temu perdagangan dan dakwah Islam yang dibawa oleh para pedagang dan ulama dari Maluku.

Secara historis, pendirian masjid ini menandai penguatan identitas Muslim di kalangan suku-suku lokal di Fakfak, khususnya suku Mbaham Matta. Keberadaannya membuktikan bahwa Islam telah berakar di Papua jauh sebelum periode kolonialisme Belanda mencapai puncaknya di wilayah pedalaman. Nama "Patimburak" sendiri merujuk pada kampung tempat masjid ini berada, yang hingga kini masih mempertahankan tradisi keislaman yang kental.

#

Arsitektur: Perpaduan Unik Dua Dunia

Salah satu aspek paling mencolok dari Masjid Tua Patimburak adalah gaya arsitekturnya yang tidak lazim bagi bangunan masjid tradisional di Nusantara. Masjid ini mengadopsi perpaduan antara bentuk gereja kolonial Eropa dan struktur masjid tradisional. Hal ini terlihat jelas dari bentuk bangunan utamanya yang berbentuk segi enam (heksagonal), menyerupai arsitektur bangunan publik atau gereja yang dibangun Belanda pada abad ke-19.

Struktur bangunan menggunakan kayu-kayu lokal pilihan, terutama kayu besi (kayu ulin) yang sangat kuat dan tahan terhadap cuaca tropis pesisir. Atapnya berbentuk limas bertingkat, namun dengan sudut-sudut yang mengikuti bentuk dasar heksagonal bangunan. Di bagian puncaknya, terdapat kubah kecil yang menjadi penanda identitas keislaman. Keunikan ini mencerminkan bagaimana masyarakat lokal pada masa itu menyerap pengaruh visual dari bangunan-bangunan kolonial yang mereka lihat, namun tetap mengisinya dengan ruh dan fungsi spiritual Islam.

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Masjid Tua Patimburak memiliki posisi penting dalam sejarah perjuangan masyarakat Fakfak. Selama masa penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang, masjid ini sering dijadikan pusat pertemuan para tokoh masyarakat untuk mengatur strategi sosial maupun keagamaan. Keberadaannya menjadi simbol perlawanan kultural, di mana identitas agama menjadi pemersatu warga asli Papua di tengah tekanan kolonial.

Salah satu fakta unik yang jarang diketahui adalah bahwa masjid ini sempat mengalami kerusakan selama Perang Dunia II. Saat itu, wilayah Kokas dan sekitarnya menjadi basis pertahanan tentara Jepang dari serangan sekutu. Beberapa bagian masjid terkena serpihan peluru, namun struktur utamanya tetap berdiri tegak, sebuah fenomena yang oleh masyarakat setempat dianggap sebagai bentuk perlindungan ilahi.

#

Tokoh dan Pengaruh Kesultanan

Hubungan antara Masjid Tua Patimburak dengan Kesultanan Tidore sangatlah erat. Pada masa itu, Fakfak berada di bawah pengaruh administratif dan spiritual Sultan Tidore. Para imam yang bertugas di masjid ini seringkali memiliki garis keturunan atau mandat langsung dari Maluku, sehingga corak ibadah dan tradisi keagamaan di Patimburak memiliki kemiripan dengan tradisi "Islam Maluku" yang inklusif.

Filosofi "Satu Tungku Tiga Batu" yang menjadi semboyan hidup masyarakat Fakfak juga tercermin dalam eksistensi masjid ini. Semboyan ini melambangkan kerukunan antara tiga agama besar (Islam, Kristen Protestan, dan Katolik) yang saling mendukung dalam satu ikatan kekeluargaan. Masjid Tua Patimburak seringkali menjadi titik temu di mana warga dari latar belakang agama yang berbeda bergotong-royong saat ada kegiatan renovasi atau perayaan hari besar.

#

Status Pelestarian dan Restorasi

Sebagai Situs Cagar Budaya, Masjid Tua Patimburak telah mengalami beberapa kali upaya renovasi untuk menjaga keasliannya. Pemerintah melalui Balai Pelestarian Kebudayaan telah melakukan konservasi secara berkala. Meskipun ada beberapa penggantian material, seperti atap yang kini menggunakan seng (sebelumnya kemungkinan menggunakan rumbia atau kayu), struktur kayu asli dan pilar-pilar utama di dalam masjid tetap dipertahankan.

Warna cat masjid yang didominasi warna putih dengan aksen hijau dan kuning juga merupakan hasil pemeliharaan yang rutin dilakukan oleh warga kampung secara swadaya. Upaya pelestarian ini tidak hanya berfokus pada fisik bangunan, tetapi juga pada tradisi lisan dan manuskrip keagamaan yang disimpan oleh para tetua kampung Patimburak.

#

Pentingnya Budaya dan Religi di Masa Kini

Hingga saat ini, Masjid Tua Patimburak tetap berfungsi penuh sebagai tempat ibadah harian. Secara kultural, masjid ini adalah jantung dari kehidupan sosial di Distrik Kokas. Setiap tahunnya, pada saat Idul Fitri atau Maulid Nabi, masjid ini menjadi pusat konsentrasi massa yang datang dari desa-desa sekitar, bahkan dari pusat kota Fakfak yang berjarak cukup jauh melalui jalur laut atau darat.

Bagi para wisatawan dan peneliti, Masjid Tua Patimburak adalah objek studi yang menarik mengenai sejarah masuknya Islam di wilayah timur Indonesia. Keberadaannya mematahkan stigma bahwa sejarah Papua hanya berpusat pada satu narasi tertentu. Masjid ini membuktikan bahwa Papua adalah tanah yang sangat heterogen dengan sejarah spiritual yang kompleks dan penuh kedamaian.

#

Fakta Unik dan Penutup

Salah satu fakta unik dari Masjid Tua Patimburak adalah keberadaan sebuah pohon beringin tua di dekat area masjid yang konon usianya hampir sama dengan bangunan tersebut. Pohon ini dianggap sebagai pelindung alami masjid dari angin kencang laut. Selain itu, di dalam masjid terdapat mimbar kayu asli yang ukirannya menunjukkan perpaduan motif flora lokal Papua dan kaligrafi Arab sederhana.

Masjid Tua Patimburak adalah warisan yang tak ternilai. Ia berdiri sebagai pengingat bahwa di ujung barat Papua, pernah dan masih ada sebuah peradaban yang mampu memadukan perbedaan arsitektur, politik, dan keyakinan menjadi sebuah harmoni yang indah. Menjaga Masjid Tua Patimburak berarti menjaga memori kolektif bangsa tentang kemajemukan Indonesia.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Kampung Patimburak, Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak
entrance fee
Gratis
opening hours
Setiap hari, waktu salat

Tempat Menarik Lainnya di Fak Fak

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Fak Fak

Pelajari lebih lanjut tentang Fak Fak dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Fak Fak