Situs Sejarah

Situs Purbakala Tapurarang

di Fak Fak, Papua Barat

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Abadi Prasejarah: Menelusuri Kemegahan Situs Purbakala Tapurarang di Fakfak

Situs Purbakala Tapurarang merupakan salah satu khazanah arkeologi paling memukau di Indonesia Timur, tepatnya di Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Terletak di sepanjang tebing-tebing karst pesisir Distrik Kokas, situs ini bukan sekadar peninggalan fisik, melainkan sebuah galeri seni cadas (rock art) yang menyimpan teka-teki peradaban manusia ribuan tahun silam. Dikenal masyarakat lokal sebagai "Lukisan Cap Tangan Merah", Tapurarang menjadi saksi bisu perpindahan etnis, perkembangan spiritualitas, dan interaksi manusia dengan alam pesisir Papua.

#

Asal-Usul Historis dan Periodisasi

Secara kronologis, Situs Purbakala Tapurarang diperkirakan berasal dari masa Mesolitikum hingga Megalitikum. Para arkeolog memprediksi bahwa lukisan-lukisan di dinding tebing ini dibuat sekitar 1.000 hingga 3.000 tahun yang lalu. Meskipun penanggalan pasti masih menjadi subjek penelitian mendalam, keberadaan motif-motif ini sering dikaitkan dengan gelombang migrasi penduduk Austronesia yang melintasi kepulauan Nusantara menuju wilayah Pasifik.

Masyarakat setempat memiliki legenda lisan yang menyebutkan bahwa lukisan-lukisan tersebut bukanlah buatan manusia biasa, melainkan jejak orang-orang yang dikutuk menjadi batu atau tanda keberadaan roh leluhur yang menjaga wilayah laut. Namun, secara ilmiah, Tapurarang merupakan bagian dari tradisi seni cadas yang tersebar luas di kawasan "Wallacea" dan Papua, yang mencerminkan sistem kepercayaan animisme purba.

#

Karakteristik Visual dan Teknik Pembuatan

Daya tarik utama Situs Tapurarang terletak pada teknik "stencilling" dan penggambaran figuratif yang menggunakan pigmen alami. Berbeda dengan situs sejarah yang berupa bangunan batu (arsitektur), Tapurarang memanfaatkan fasad alami tebing karst yang terjal sebagai kanvasnya.

Warna dominan yang digunakan adalah merah darah, yang dihasilkan dari oker (tanah liat yang kaya akan oksida besi) dicampur dengan lemak hewan atau getah pohon sebagai pengikat. Teknik pembuatannya dilakukan dengan meletakkan tangan atau objek di atas permukaan batu, lalu menyemprotkan pigmen dari mulut atau menggunakan alat tiup sederhana. Hasilnya adalah siluet negatif yang sangat tahan lama, bahkan mampu bertahan selama ribuan tahun meski terpapar cuaca ekstrem, garam laut, dan sinar matahari langsung.

Motif yang ditemukan sangat beragam, meliputi:

1. Cap Tangan: Berbagai ukuran, dari tangan dewasa hingga anak-anak, yang sering diinterpretasikan sebagai simbol kehadiran, perlindungan, atau tanda duka cita.

2. Fauna Laut: Gambar ikan, lumba-lumba, dan penyu yang menunjukkan ketergantungan masyarakat purba Kokas pada sumber daya laut.

3. Simbol Manusia: Sosok manusia dalam bentuk sederhana (stick figure) yang terkadang memegang senjata atau dalam posisi menari.

4. Motif Geometris: Garis-garis konsentris, lingkaran, dan pola abstrak yang diduga berkaitan dengan simbol astronomi atau pemetaan wilayah.

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Terkait

Situs Tapurarang memiliki signifikansi luar biasa dalam memetakan persebaran budaya prasejarah di wilayah Pasifik Barat. Secara historis, keberadaan lukisan ini membuktikan bahwa pesisir Fakfak telah menjadi pusat aktivitas manusia yang terorganisir jauh sebelum masuknya pengaruh kekuasaan Kesultanan Maluku (Tidore dan Ternate) di wilayah tersebut.

Salah satu fakta unik adalah lokasi lukisan yang berada di ketinggian tebing yang sulit dijangkau. Beberapa lukisan berada puluhan meter di atas permukaan laut pada dinding tegak lurus. Hal ini memunculkan spekulasi sejarah mengenai perubahan permukaan air laut di masa lalu atau penggunaan perancah bambu yang sangat canggih oleh manusia purba. Peristiwa alam seperti pengangkatan tektonik juga berperan dalam memposisikan galeri alam ini pada letak yang sekarang kita lihat.

#

Tokoh dan Periode Terkait

Meskipun tidak merujuk pada tokoh individu seperti raja atau pahlawan nasional karena sifatnya yang prasejarah, Situs Tapurarang berkaitan erat dengan periode "The Great Migration". Situs ini sering dikaitkan dengan pengaruh kebudayaan Lapita yang menyebar ke wilayah Oseania. Di masa yang lebih modern, situs ini mulai menarik perhatian peneliti Barat pada awal abad ke-20, di mana laporan-laporan kolonial Belanda mulai mencatat keberadaan "tebing berdarah" di Kokas sebagai anomali arkeologi yang penting di Nugini Barat.

#

Makna Budaya dan Religi

Bagi masyarakat lokal di Distrik Kokas, Tapurarang adalah tempat suci. Lukisan-lukisan ini dianggap sebagai representasi dari nenek moyang mereka. Ada kepercayaan bahwa warna merah pada lukisan tersebut berasal dari darah manusia purba yang tumpah saat terjadi peristiwa sakral. Oleh karena itu, pengunjung sering dilarang menyentuh lukisan secara langsung untuk menjaga kesucian dan keutuhan situs.

Situs ini juga mencerminkan kosmologi masyarakat pesisir Papua yang membagi dunia menjadi tiga lapis: dunia atas (roh), dunia tengah (manusia), dan dunia bawah (laut). Letak lukisan di antara batas air laut dan langit (di dinding tebing) melambangkan titik temu antara dimensi-dimensi tersebut.

#

Status Preservasi dan Upaya Restorasi

Saat ini, Situs Purbakala Tapurarang dilindungi di bawah Undang-Undang Cagar Budaya Republik Indonesia. Meskipun lukisan-lukisannya telah bertahan selama ribuan tahun karena proses mineralisasi alami (di mana pigmen menyatu dengan kalsit batu), ancaman kerusakan tetap ada. Faktor utama kerusakan adalah pengelupasan batuan akibat kristalisasi garam dan pertumbuhan mikroorganisme seperti lumut dan liken.

Pemerintah Kabupaten Fakfak bersama Balai Pelestarian Kebudayaan telah melakukan berbagai upaya untuk menjaga situs ini. Restorasi fisik sulit dilakukan karena keunikan bahan pigmen purba, sehingga fokus utama adalah pada "pelestarian preventif". Ini mencakup pembuatan jalur akses yang tidak merusak tebing, pemasangan papan informasi, dan pembatasan jumlah pengunjung di titik-titik rawan.

Fakta unik lainnya adalah bahwa Situs Tapurarang hanya dapat dinikmati dengan maksimal saat air laut sedang pasang. Wisatawan harus menggunakan perahu panjang (longboat) untuk mendekat ke dinding tebing. Hal ini secara alami membatasi aksesibilitas dan membantu menjaga situs dari vandalisme manusia yang tidak bertanggung jawab.

#

Kesimpulan Sejarah

Situs Purbakala Tapurarang di Fakfak bukan sekadar coretan di atas batu; ia adalah dokumen visual tertua yang dimiliki Papua Barat. Melalui warna merah oker yang tak kunjung pudar, kita diajak memahami bagaimana manusia ribuan tahun lalu berkomunikasi, mengekspresikan jati diri, dan menghormati alam semesta. Sebagai salah satu situs seni cadas terbaik di dunia, Tapurarang tetap menjadi identitas budaya yang tak ternilai bagi rakyat Fakfak dan warisan penting bagi sejarah peradaban manusia global.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak, Papua Barat
entrance fee
Sukarela / Biaya sewa perahu nelayan
opening hours
Terbuka 24 jam (disarankan pagi atau siang hari)

Tempat Menarik Lainnya di Fak Fak

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Fak Fak

Pelajari lebih lanjut tentang Fak Fak dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Fak Fak