Candi Cangkuang
di Garut, Jawa Barat
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Asal-Usul dan Penemuan Kembali
Nama "Cangkuang" diambil dari nama tanaman sejenis pandan (Pandanus furcatus) yang banyak tumbuh di sekitar rawa dan danau di lokasi tersebut. Daun cangkuang secara tradisional digunakan oleh masyarakat setempat untuk membuat tikar atau pembungkus gula aren. Penemuan kembali situs ini bermula dari catatan sejarah dalam buku Notulen Bataviaasch Genootschap tahun 1893, yang menyebutkan adanya reruntuhan bangunan kuno dan sebuah patung Dewa Siwa di Leles.
Namun, situs ini sempat terlupakan hingga tahun 1966, ketika tim peneliti yang dipimpin oleh Uka Tjandrasasmita melakukan ekskavasi besar-besaran. Penemuan ini dipicu oleh penelitian terhadap makam keramat Arif Muhammad yang berada tepat di samping reruntuhan tersebut. Tim arkeologi menemukan fondasi bangunan dan sisa-sisa batu candi yang berserakan di dasar bukit kecil yang dikelilingi oleh danau (situ).
Arsitektur dan Detail Konstruksi
Candi Cangkuang diperkirakan dibangun pada abad ke-8 Masehi, sezaman dengan candi-candi di Dataran Tinggi Dieng atau Candi Gedong Songo. Secara arsitektural, candi ini menampilkan gaya yang sangat sederhana dibandingkan candi-candi megah di Jawa Tengah atau Jawa Timur. Bangunannya berdiri di atas batur (kaki candi) berukuran 4,5 x 4,5 meter dengan tinggi sekitar 8,5 meter.
Konstruksi candi menggunakan batu andesit. Struktur bangunan terdiri dari kaki, tubuh, dan atap. Pada bagian tubuh candi, terdapat sebuah ruangan kecil (garba griya) yang di dalamnya tersimpan sebuah arca Siwa. Arca ini ditemukan dalam kondisi yang sudah tidak utuh lagi, namun masih menampakkan ciri khas ikonografi Hindu. Atap candi berbentuk piramida bertingkat dengan hiasan-hiasan kecil di setiap sudutnya, mencerminkan konsep Gunung Meru dalam kosmologi Hindu.
Penting untuk dicatat bahwa bangunan yang berdiri tegak saat ini adalah hasil rekonstruksi tahun 1974-1976. Mengingat hanya sekitar 40% batu asli yang ditemukan, tim pemugaran menggunakan batu baru yang diberi tanda khusus untuk melengkapi struktur candi agar dapat berdiri utuh kembali.
Sinkretisme: Harmoni Hindu dan Islam
Salah satu keunikan paling menonjol dari Candi Cangkuang adalah letaknya yang berdampingan dengan makam Embah Dalem Arif Muhammad. Beliau diyakini sebagai seorang panglima perang dari Kerajaan Mataram Islam yang datang ke wilayah ini pada abad ke-17 untuk menggempur VOC di Batavia. Setelah mengalami kegagalan, Arif Muhammad tidak kembali ke Mataram melainkan menetap di Leles untuk menyebarkan agama Islam.
Keberadaan candi Hindu dan makam pemuka Islam dalam satu kompleks yang sangat berdekatan (hanya berjarak beberapa meter) menunjukkan toleransi dan kesinambungan sejarah yang luar biasa. Masyarakat Kampung Pulo, yang merupakan keturunan langsung Arif Muhammad, hingga kini menjaga kedua situs tersebut dengan penuh hormat. Fenomena ini membuktikan bahwa sejarah Jawa Barat tidak mengalami diskontinuitas yang tajam, melainkan proses transisi budaya yang berjalan secara organik.
Signifikansi Sejarah dan Sosok Arif Muhammad
Secara historis, Candi Cangkuang memberikan bukti bahwa pengaruh Kerajaan Galuh atau kerajaan-kerajaan Hindu awal di Jawa Barat menjangkau wilayah pegunungan pedalaman Garut. Sebelum penemuan ini, banyak sejarawan mengira pengaruh Hindu di Jawa Barat hanya terbatas pada wilayah pesisir atau pusat kota seperti Bogor dan Ciamis.
Sosok Arif Muhammad sendiri membawa dimensi sejarah baru bagi situs ini. Beliau meninggalkan warisan berupa aturan adat di Kampung Pulo yang masih dipatuhi hingga sekarang. Misalnya, larangan memelihara hewan ternak berkaki empat seperti kambing atau sapi di dalam desa, serta larangan menambah jumlah bangunan rumah yang tetap berjumlah enam buah plus satu musala. Angka enam ini melambangkan jumlah anak perempuan Arif Muhammad, sementara musala melambangkan satu-satunya anak laki-lakinya yang meninggal dunia.
Upaya Pelestarian dan Status Saat Ini
Pemerintah Indonesia melalui Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) secara aktif mengelola Candi Cangkuang sebagai situs cagar budaya nasional. Selain pemugaran fisik, upaya pelestarian juga mencakup pengelolaan lingkungan Situ Cangkuang. Pengunjung yang ingin mencapai candi ini harus menyeberangi danau menggunakan rakit bambu tradisional, sebuah pengalaman yang menambah nuansa historis dan estetika perjalanan.
Di lokasi ini juga didirikan sebuah museum kecil yang menyimpan berbagai artefak, termasuk naskah-naskah kuno berbahan kulit kayu yang berisi ajaran Islam dan khotbah Jumat dari masa Arif Muhammad. Pelestarian Candi Cangkuang bukan hanya soal menjaga batu-batu kuno, tetapi juga menjaga memori kolektif tentang bagaimana dua peradaban besar dunia—Hindu dan Islam—pernah bersua dan hidup berdampingan di lembah Leles yang tenang.
Kesimpulan
Candi Cangkuang adalah permata sejarah Jawa Barat yang menawarkan perspektif unik tentang masa lalu nusantara. Keberadaannya menepis anggapan bahwa peninggalan Hindu di tanah Sunda telah hilang sepenuhnya. Melalui arsitekturnya yang bersahaja dan lokasinya yang berbagi ruang dengan tokoh Islam legendaris, Candi Cangkuang tetap menjadi simbol abadi dari kebhinekaan dan kedamaian spiritual masyarakat Sunda sepanjang zaman. Sebagai situs sejarah, ia bukan sekadar objek wisata, melainkan laboratorium terbuka bagi siapa saja yang ingin mempelajari akar identitas dan evolusi budaya di Jawa Barat.
📋 Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Garut
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Garut
Pelajari lebih lanjut tentang Garut dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Garut