Pusat Kebudayaan

Makam Syekh Yusuf

di Gowa, Sulawesi Selatan

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

1. Aktivitas dan Program Kebudayaan Berbasis Religi

Aktivitas di Makam Syekh Yusuf berpusat pada integrasi antara ritual keagamaan dan tradisi lokal. Program rutin yang menjadi daya tarik utama adalah "Ziarah Budaya". Berbeda dengan ziarah pada umumnya, program ini mencakup edukasi mengenai silsilah keluarga kerajaan Gowa dan penyebaran Islam di Nusantara.

Setiap hari Jumat dan hari-hari besar Islam, kompleks ini menyelenggarakan pembacaan Barazanji dalam bahasa Makassar yang menggunakan dialek khas Gowa. Program ini bukan sekadar aktivitas religius, melainkan upaya pelestarian sastra lisan. Selain itu, terdapat program "Ma’udu" atau perayaan Maulid yang dilaksanakan dengan tradisi Bakka’ (penyajian makanan dalam wadah kayu besar yang dihias), yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat dari keturunan bangsawan hingga rakyat biasa.

2. Seni Tradisional dan Pertunjukan di Pelataran Makam

Sebagai pusat kebudayaan, kompleks Makam Syekh Yusuf sering menjadi lokus pementasan seni tradisional yang memiliki nilai sakral. Salah satu pertunjukan yang sering digelar adalah tari Ganrang Bulo. Meski bersifat jenaka, pementasan di area ini seringkali menyisipkan pesan-pesan moral yang diwariskan oleh Syekh Yusuf, seperti konsep Siri’ na Paccce.

Selain itu, seni musik Sinrilik—narasi sejarah yang diiringi instrumen keso-keso—menjadi program rutin untuk menyambut tamu-tamu kehormatan atau peneliti budaya. Narasi yang dibawakan biasanya berkisar pada kisah heroik Syekh Yusuf sejak dari Gowa, Banten, hingga pengasingannya di Sri Lanka dan Afrika Selatan. Pementasan ini berfungsi sebagai media transmisi sejarah bagi generasi muda agar tidak kehilangan akar identitasnya.

3. Kerajinan Tangan dan Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya

Di sekitar koridor pintu masuk kompleks, terdapat pusat kerajinan yang dikelola oleh komunitas lokal. Fokus utama kerajinan di sini adalah pembuatan Songkok Guru (peci khas Makassar dengan anyaman serat rotan atau sutra) dan replika senjata tradisional Badik.

Program pemberdayaan masyarakat di sini mengajarkan teknik menenun sutra lokal dengan motif-motif tradisional Gowa kepada para perempuan di sekitar situs. Produk-produk ini tidak hanya dijual sebagai suvenir, tetapi menjadi bagian dari kampanye pelestarian busana adat. Wisatawan dapat belajar langsung cara menganyam atau melihat proses pembuatan sarung sutra, yang menjadikan kompleks ini sebagai pusat edukasi kriya yang hidup.

4. Program Edukasi dan Keterlibatan Masyarakat

Makam Syekh Yusuf berfungsi sebagai laboratorium sejarah bagi para pelajar dan akademisi. Terdapat program "Sekolah Warisan" yang bekerja sama dengan pemerintah daerah Gowa, di mana para siswa diajak untuk mempelajari naskah-naskah kuno (Lontara) yang mencatat ajaran Tasawuf Syekh Yusuf.

Keterlibatan masyarakat terwujud melalui komunitas "Penjaga Makam" atau Passilo’. Mereka bukan hanya bertugas menjaga kebersihan, tetapi juga menjadi kurator cerita rakyat. Setiap bulan, diadakan diskusi budaya yang disebut Tudang Sipulung, di mana para tokoh adat, pemuda, dan pemerintah duduk bersama untuk membahas isu-isu sosial dengan menggunakan perspektif kearifan lokal.

5. Festival Budaya dan Peristiwa Luar Biasa

Salah satu peristiwa kebudayaan paling megah adalah "Festival Syekh Yusuf" yang diadakan secara berkala. Festival ini seringkali melibatkan delegasi dari Afrika Selatan, mengingat Syekh Yusuf adalah pahlawan nasional di kedua negara. Acara ini mencakup parade busana adat, lomba pidato bahasa Makassar, dan pameran kuliner tradisional seperti Coto Gowa dan Kue Tradisional Iko.

Peristiwa penting lainnya adalah Accera Kalompoang, sebuah ritual pencucian benda-benda pusaka kerajaan Gowa. Meskipun inti ritual berada di Istana Balla Lompoa, rangkaian prosesi dan doa-doa keselamatan seringkali dimulai atau dihubungkan dengan kunjungan ke Makam Syekh Yusuf sebagai bentuk penghormatan kepada guru spritual raja-raja Gowa.

6. Pelestarian Warisan Budaya dan Arsitektur

Pelestarian di Makam Syekh Yusuf dilakukan dengan pendekatan konservasi fisik dan nilai. Arsitektur makam yang menampilkan perpaduan gaya lokal Makassar dengan sentuhan arsitektur Islam klasik dipertahankan dengan ketat. Penggunaan material kayu dan ukiran khas Gowa pada atap serta gerbang masuk dirawat secara berkala menggunakan teknik tradisional.

Selain fisik bangunan, pelestarian juga mencakup "Warisan Takbenda" berupa ajaran-ajaran moral Syekh Yusuf yang dirangkum dalam kitab-kitabnya. Upaya digitalisasi naskah kuno yang tersimpan di sekitar situs sedang digalakkan agar nilai-nilai filosofis tersebut dapat diakses oleh masyarakat global, sekaligus melindungi dokumen asli dari kerusakan fisik.

7. Peran Strategis dalam Pembangunan Kebudayaan Lokal

Makam Syekh Yusuf memegang peranan sebagai kompas moral dan budaya bagi masyarakat Sulawesi Selatan. Situs ini menjadi jangkar yang menghubungkan masa lalu kejayaan Kerajaan Gowa dengan ambisi masa depan masyarakatnya. Dalam pembangunan daerah, kompleks ini menjadi pusat pengembangan pariwisata berbasis religi dan budaya (Halal Tourism) yang berkelanjutan.

Keberadaan pusat kebudayaan ini mendorong tumbuhnya rasa bangga (pride) di kalangan pemuda Gowa. Dengan menjadikan Makam Syekh Yusuf sebagai titik temu aktivitas kreatif, identitas budaya Makassar tidak hanya tersimpan di museum, tetapi terus berinteraksi dengan dinamika zaman. Syekh Yusuf, melalui situs makamnya, tetap "berbicara" melalui setiap tarian, lantunan doa, dan kerajinan yang dihasilkan oleh tangan-tangan masyarakat Gowa.

8. Keunikan Budaya: Simpul Persaudaraan Lintas Benua

Satu aspek unik yang tidak ditemukan di pusat kebudayaan lain di Indonesia adalah peran Makam Syekh Yusuf sebagai jembatan diplomasi budaya antara Indonesia dan Afrika Selatan (Nelson Mandela menyebutnya sebagai 'Putra Terbaik Afrika'). Hal ini melahirkan program "Pertukaran Budaya Diaspora", di mana keturunan melayu di Cape Town sering berkunjung ke Gowa untuk merunut kembali asal-usul musik dan kuliner mereka yang berakar dari tradisi yang dibawa oleh Syekh Yusuf.

Secara keseluruhan, Makam Syekh Yusuf di Gowa bukan hanya tempat peristirahatan terakhir seorang ulama besar, melainkan sebuah institusi kebudayaan yang dinamis. Ia adalah tempat di mana sejarah dihormati, seni dirayakan, dan nilai-nilai kemanusiaan diajarkan kembali kepada setiap generasi yang datang bersimpuh di bawah naungan kubahnya yang ikonik.

📋 Informasi Kunjungan

address
Jl. Syekh Yusuf, Lakiung, Kec. Somba Opu, Kabupaten Gowa
entrance fee
Gratis / Donasi
opening hours
Setiap hari, 07:00 - 21:00

Tempat Menarik Lainnya di Gowa

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Gowa

Pelajari lebih lanjut tentang Gowa dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Gowa