Masjid Tua Katangka
di Gowa, Sulawesi Selatan
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Asal-Usul dan Fondasi Sejarah
Masjid Tua Katangka didirikan pada tahun 1603, sebuah penanda penting dalam kronik sejarah Nusantara. Pembangunannya terjadi pada masa pemerintahan Raja Gowa XIV, Sultan Alauddin, dan Raja Tallo VII, Sultan Abdullah Awwalul Islam. Nama "Katangka" sendiri diambil dari jenis pohon kayu katangka (Pistacia lentiscus) yang dahulu banyak tumbuh di area tersebut. Menurut tradisi lisan setempat, kayu dari pohon inilah yang digunakan sebagai material utama pembangunan struktur awal masjid.
Lokasi masjid ini sangat strategis karena berada dalam lingkup benteng pertahanan dan dekat dengan kompleks makam raja-raja Gowa. Hal ini menegaskan bahwa sejak awal, masjid ini berfungsi sebagai pusat gravitasi keagamaan dan politik bagi Kesultanan Gowa. Keberadaannya menandai transisi besar masyarakat Makassar dari kepercayaan leluhur menuju tauhid Islam, setelah kedatangan tiga ulama besar dari Minangkabau: Dato’ ri Bandang, Dato’ ri Pattimang, dan Dato’ ri Tiro.
Arsitektur: Harmoni Empat Budaya
Secara visual, Masjid Tua Katangka menyajikan kekayaan arsitektur yang sangat spesifik. Bangunan ini merupakan hasil sintesis dari empat pengaruh budaya: lokal Makassar, Jawa, Arab, dan Eropa (khususnya Belanda dan Portugis).
Struktur utama masjid memiliki dinding yang sangat tebal, mencapai 120 centimeter. Ketebalan ini bukan tanpa alasan; selain untuk menopang beban atap yang berat, dinding tersebut berfungsi sebagai benteng pertahanan saat terjadi konflik bersenjata. Bahan bangunannya terdiri dari batu bata yang direkatkan dengan campuran putih telur, pasir, dan kapur—sebuah teknik konstruksi kuno yang terbukti sangat tahan lama.
Atap masjid berbentuk tumpang dua, yang mengingatkan pada arsitektur masjid-masjid kuno di Jawa (seperti Demak), namun dengan sentuhan lokal. Di puncak atap terdapat ornamen "Mustaka" yang khas. Pengaruh Eropa terlihat pada bentuk jendela dan pintu yang lebar dengan lengkungan di bagian atas, mirip dengan gaya Indische. Sementara itu, pengaruh Arab terpancar kuat pada kaligrafi yang menghiasi mimbar dan dinding interior.
Detail Interior dan Mimbar yang Ikonik
Salah satu artefak sejarah paling berharga di dalam masjid ini adalah mimbarnya. Mimbar Masjid Katangka terbuat dari kayu jati berukir yang sangat halus. Keunikannya terletak pada adanya atap kecil di atas mimbar yang menyerupai kubah atau mahkota, serta anak tangga yang diapit oleh ukiran naga atau sulur-suluran yang sering diinterpretasikan sebagai pengaruh budaya Cina atau pra-Islam.
Di dalam ruang utama, terdapat enam tiang penyangga yang melambangkan Rukun Iman. Tiang-tiang ini berbentuk bulat dan besar, memberikan kesan kokoh dan agung. Di bagian mihrab (tempat imam), terdapat prasasti kuno yang dipahat pada dinding, memberikan informasi mengenai renovasi-renovasi yang pernah dilakukan, termasuk penyebutan tahun dalam kalender Hijriah.
Peran Tokoh dan Signifikansi Peristiwa
Masjid ini menjalin kaitan erat dengan tokoh-tokoh besar Nusantara. Sultan Alauddin, raja pertama Gowa yang memeluk Islam, menjadikan masjid ini sebagai tempat belajar agama bagi para bangsawan dan rakyat. Selain itu, pahlawan nasional Sultan Hasanuddin, yang dikenal sebagai "Ayam Jantan dari Timur", juga menjalankan ibadahnya di sini sebelum maju ke medan perang melawan VOC.
Pada masa kolonial, Masjid Katangka bukan hanya tempat shalat, melainkan juga markas konsolidasi bagi para pejuang. Kedekatannya dengan makam Syekh Yusuf Al-Makassari (seorang ulama dan pejuang lintas benua) menambah bobot religius dan historis kawasan ini. Area sekitar masjid menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi para penguasa Gowa, menjadikan kompleks ini sebagai "pusat memori" bagi identitas orang Makassar.
Restorasi dan Pelestarian
Sepanjang empat abad eksistensinya, Masjid Tua Katangka telah mengalami beberapa kali renovasi. Catatan sejarah menunjukkan restorasi dilakukan pada masa pemerintahan Sultan Mahmud (1818), kemudian oleh Raja Gowa ke-32, Andi Idjo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang pada tahun 1963.
Saat ini, Masjid Tua Katangka berstatus sebagai Cagar Budaya nasional di bawah perlindungan Balai Pelestarian Kebudayaan. Meskipun telah mengalami pembenahan pada bagian lantai dan pengecatan, otoritas terkait tetap mempertahankan keaslian struktur utama. Tantangan pelestarian saat ini mencakup perlindungan terhadap material kayu asli yang mulai dimakan usia serta pengaturan drainase di sekitar lokasi untuk mencegah kelembapan berlebih pada dinding kuno yang tebal.
Hubungan Budaya dan Religi Hari Ini
Hingga saat ini, Masjid Tua Katangka tetap berfungsi aktif sebagai masjid jami'. Setiap hari Jumat, masjid ini dipenuhi jamaah yang ingin merasakan atmosfer spiritual masa lalu. Pada hari-hari besar Islam seperti Idul Fitri atau Maulid Nabi, masjid ini menjadi pusat perayaan yang menggabungkan ritual agama dengan adat istiadat setempat.
Keunikan lain adalah keberadaan sumur tua di samping masjid. Air dari sumur ini dianggap memiliki berkah oleh sebagian masyarakat, sebuah bentuk kepercayaan lokal yang masih bertahan di tengah modernitas. Pengunjung yang datang tidak hanya berasal dari Sulawesi Selatan, tetapi juga peneliti dan wisatawan mancanegara yang ingin mempelajari sejarah persebaran Islam di wilayah timur Indonesia.
Penutup: Warisan yang Tak Lekang oleh Waktu
Masjid Tua Katangka adalah bukti nyata bahwa Islam masuk ke Sulawesi Selatan melalui jalan damai dan kebudayaan. Ia berdiri sebagai simbol keteguhan iman masyarakat Gowa sekaligus keterbukaan mereka terhadap pengaruh dunia luar. Dengan dindingnya yang tebal dan mimbarnya yang megah, Katangka terus membisikkan kisah tentang kejayaan masa lalu kepada generasi masa kini, mengingatkan bahwa identitas sebuah bangsa tidak bisa dilepaskan dari akar spiritual dan sejarahnya. Sebagai Situs Sejarah, Masjid Katangka bukan sekadar puing masa lalu, melainkan jantung yang terus berdenyut bagi masyarakat Sulawesi Selatan.
📋 Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Gowa
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kami