Benteng Bernaveld
di Halmahera Selatan, Maluku Utara
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Jejak Kolonial di Jantung Halmahera: Sejarah dan Megahnya Benteng Bernaveld
Benteng Bernaveld merupakan salah satu monumen bisu paling signifikan dalam sejarah rempah-rempah dunia yang terletak di Labuha, Pulau Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Sebagai bagian dari jaringan pertahanan kolonial di wilayah Timur Nusantara, benteng ini tidak hanya berfungsi sebagai struktur militer, tetapi juga sebagai simbol perebutan hegemoni ekonomi global pada abad ke-16 hingga ke-17.
#
Asal-Usul dan Periode Pendirian
Sejarah Benteng Bernaveld tidak dapat dilepaskan dari ambisi bangsa Eropa untuk menguasai cengkih dan pala. Awalnya, situs tempat benteng ini berdiri merupakan pos pertahanan yang didirikan oleh bangsa Portugis pada tahun 1558. Pada masa itu, Portugis di bawah pimpinan Gubernur Galvao berusaha menancapkan pengaruhnya di Kesultanan Bacan. Namun, keberadaan Portugis tidak bertahan lama karena resistensi lokal dan persaingan antar-bangsa Eropa.
Pada tahun 1609, kongsi dagang Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), berhasil merebut pos tersebut dari tangan Portugis. Di bawah perintah Laksamana Simon Jansz Hoen, Belanda mulai membangun struktur permanen yang lebih kokoh di atas reruntuhan bangunan Portugis. Nama "Bernaveld" (sering juga dieja Barneveld) diambil dari nama seorang tokoh politik penting di Belanda, Johan van Oldenbarnevelt, yang merupakan salah satu pendiri VOC. Pembangunan besar-besaran dilakukan untuk memastikan Belanda memiliki kontrol penuh atas jalur distribusi rempah di wilayah Selatan Maluku.
#
Arsitektur dan Detail Konstruksi
Secara arsitektural, Benteng Bernaveld mengusung gaya benteng pertahanan Eropa abad pertengahan dengan adaptasi material lokal. Benteng ini memiliki denah berbentuk segi empat simetris dengan empat bastion (menara pengintai sekaligus penempatan meriam) di setiap sudutnya. Penggunaan bastion ini merupakan ciri khas desain militer "Trace Italienne" yang dirancang untuk meminimalisir sudut mati dari serangan musuh.
Material utama dinding benteng terdiri dari susunan batu karang, batu kali, dan batu bata yang direkatkan menggunakan campuran kapur dan pasir. Ketebalan dindingnya mencapai lebih dari satu meter, dirancang untuk menahan hantaman meriam kapal perang. Di bagian dalam benteng, terdapat sisa-sisa bangunan yang dulunya berfungsi sebagai barak prajurit, gudang penyimpanan rempah-rempah, serta rumah kediaman bagi pejabat VOC (Resident). Salah satu keunikan konstruksinya adalah sistem drainase yang terintegrasi dengan baik, mengingat lokasi Labuha yang memiliki curah hujan tinggi.
#
Signifikansi Historis dan Peristiwa Penting
Benteng Bernaveld memegang peran kunci dalam kebijakan Ekstirpasi yang dijalankan oleh VOC. Ekstirpasi adalah kebijakan pemusnahan pohon rempah milik penduduk lokal untuk menjaga stabilitas harga di pasar Eropa. Dari benteng inilah, patroli-patroli "Hongitochten" (Pelayaran Hongi) dilepaskan untuk memantau perkebunan rakyat di daratan Halmahera dan pulau-pulau sekitarnya.
Salah satu peristiwa unik yang jarang tercatat secara luas adalah peran benteng ini dalam transisi kekuasaan antara Kesultanan Bacan dan pihak kolonial. Berbeda dengan Ternate atau Tidore yang sering terlibat konfrontasi terbuka, hubungan di Bacan cenderung lebih diplomatis namun penuh tekanan. Benteng ini menjadi lokasi penandatanganan berbagai perjanjian (traktat) yang secara bertahap mengurangi kedaulatan Sultan Bacan atas wilayahnya sendiri.
#
Tokoh dan Periode Terkait
Selain Johan van Oldenbarnevelt yang namanya diabadikan, sosok Simon Jansz Hoen merupakan figur militer sentral dalam sejarah awal benteng ini. Di sisi lain, sejarah benteng ini juga berkaitan erat dengan garis keturunan Sultan Bacan. Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Hayatuddin Shah, benteng ini menjadi titik temu budaya antara tradisi kesultanan dan administrasi kolonial.
Selama Perang Dunia II, benteng ini sempat beralih fungsi di bawah pendudukan Jepang. Pasukan Jepang menggunakan struktur kokoh Bernaveld sebagai gudang logistik dan basis pertahanan udara sebelum akhirnya direbut kembali oleh pasukan Sekutu. Jejak-jejak modifikasi kecil dari era Jepang terkadang masih dapat ditemukan pada beberapa bagian struktur fondasi.
#
Upaya Pelestarian dan Status Saat Ini
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menetapkan Benteng Bernaveld sebagai Cagar Budaya Nasional. Status ini memberikan perlindungan hukum terhadap upaya perusakan atau pengalihan fungsi lahan. Sejak awal tahun 2000-an, beberapa tahap restorasi telah dilakukan untuk memperbaiki dinding-dinding yang runtuh akibat faktor usia dan cuaca tropis yang ekstrem.
Saat ini, Benteng Bernaveld dikelola dengan baik sebagai objek wisata sejarah unggulan di Halmahera Selatan. Lingkungan di sekitar benteng telah ditata menjadi taman kota yang asri, menjadikannya ruang publik bagi masyarakat Labuha. Meskipun beberapa bagian dalam bangunan telah hilang, struktur utama dinding dan bastion tetap berdiri tegak, memberikan gambaran visual yang jelas mengenai kejayaan masa lalu.
#
Nilai Budaya dan Edukasi
Bagi masyarakat Maluku Utara, khususnya warga Bacan, Benteng Bernaveld bukan sekadar tumpukan batu tua. Ia adalah pengingat akan ketangguhan nenek moyang dalam menghadapi gelombang kolonialisme. Secara budaya, benteng ini sering menjadi latar belakang bagi festival budaya lokal, seperti Festival Bumi Saruma, yang bertujuan untuk memperkenalkan kekayaan sejarah Halmahera Selatan kepada dunia internasional.
Secara edukatif, situs ini menjadi laboratorium sejarah bagi para peneliti dan pelajar. Keberadaan benteng ini membuktikan bahwa Kepulauan Maluku pernah menjadi pusat gravitasi ekonomi dunia. Tanpa keberadaan benteng-benteng seperti Bernaveld, peta sejarah perdagangan global mungkin akan terlihat sangat berbeda hari ini.
#
Kesimpulan dan Fakta Unik
Satu fakta unik yang membedakan Bernaveld dari benteng lain di Maluku adalah lokasinya yang berada tepat di pusat kota Labuha yang modern, namun tetap mampu mempertahankan atmosfer keheningan masa lalu. Jika ditarik garis lurus, posisi benteng ini sangat strategis karena menghadap langsung ke arah laut, memungkinkan pengawasan terhadap setiap kapal yang masuk ke Teluk Labuha.
Melalui keberadaan Benteng Bernaveld, generasi masa kini dapat belajar tentang pentingnya menjaga warisan sejarah. Ia adalah monumen yang menceritakan tentang ambisi, penderitaan, diplomasi, dan akhirnya, ketahanan sebuah bangsa. Mengunjungi benteng ini adalah sebuah perjalanan melintasi waktu, menyusuri lorong-lorong batu yang pernah menyaksikan pergolakan besar umat manusia demi butiran rempah yang berharga.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Halmahera Selatan
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Halmahera Selatan
Pelajari lebih lanjut tentang Halmahera Selatan dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Halmahera Selatan