Situs Sejarah

Keraton Kesultanan Bacan

di Halmahera Selatan, Maluku Utara

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Kemegahan di Selatan Moloku Kie Raha: Sejarah dan Eksistensi Keraton Kesultanan Bacan

Keraton Kesultanan Bacan bukan sekadar bangunan fisik yang berdiri di Labuha, Halmahera Selatan; ia adalah representasi hidup dari salah satu pilar utama peradaban Islam di Kepulauan Maluku. Sebagai bagian dari persekutuan Moloku Kie Raha (Empat Gunung Maluku), Kesultanan Bacan memiliki posisi unik yang membedakannya dari Ternate, Tidore, dan Jailolo. Keraton ini menjadi saksi bisu pasang surutnya kejayaan perdagangan rempah dunia dan keteguhan diplomasi masyarakat kepulauan di timur Nusantara.

#

Asal-Usul dan Fondasi Historis

Akar sejarah Kesultanan Bacan dapat ditelusuri hingga abad ke-13 atau ke-14. Menurut tradisi lisan dan catatan sejarah kolonial, pusat kekuasaan Bacan awalnya tidak berada di Labuha, melainkan di Makian sebelum berpindah ke Pulau Kasiruta. Perpindahan ibu kota ke Labuha, Pulau Bacan, baru dilakukan pada pertengahan abad ke-18, tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Sahuddin.

Pembangunan Keraton yang berdiri saat ini merupakan hasil dari renovasi dan pembangunan berkelanjutan selama berabad-abad. Nama "Bacan" sendiri sering dikaitkan dengan istilah "Membaca", yang merujuk pada tradisi intelektual dan spiritualitas Islam yang kuat di wilayah ini. Berbeda dengan Ternate dan Tidore yang sering berkonfrontasi langsung dengan bangsa Eropa, Bacan dikenal dengan strategi diplomasi yang sangat lihai, menjadikannya sebagai mediator penting di wilayah selatan Maluku.

#

Arsitektur: Perpaduan Kosmologi Lokal dan Pengaruh Kolonial

Arsitektur Keraton Kesultanan Bacan menampilkan keunikan yang khas, mencerminkan akulturasi budaya antara tradisi lokal Maluku, nilai-nilai Islami, dan sedikit sentuhan arsitektur Eropa. Bangunan utama keraton didominasi oleh penggunaan material kayu kelas satu dari hutan-hutan Halmahera, yang dikenal tahan terhadap kelembapan tinggi dan rayap.

Struktur bangunan mengikuti pola rumah panggung yang dimodifikasi. Atapnya memiliki bentuk limasan yang tinggi, yang tidak hanya berfungsi untuk sirkulasi udara tetapi juga melambangkan strata sosial dan spiritual. Salah satu detail yang paling menonjol adalah ukiran-ukiran pada ventilasi dan pilar yang menggunakan motif flora, mencerminkan kedekatan masyarakat Bacan dengan alam.

Di dalam kompleks keraton, terdapat ruang utama yang disebut Sigi Lamo (Masjid Besar) yang letaknya tidak jauh dari bangunan utama. Penempatan ini sesuai dengan konsep tata kota Islam tradisional di nusantara, di mana kekuasaan (keraton), spiritualitas (masjid), dan ekonomi (pasar) berada dalam satu poros yang selaras.

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Kesultanan Bacan memegang peranan kunci dalam peta perdagangan global karena wilayahnya merupakan penghasil utama cengkih dan pala di bagian selatan Maluku. Salah satu fakta sejarah yang unik adalah peran Bacan dalam "Ekspedisi Magellan". Catatan Antonio Pigafetta menyebutkan bahwa armada Spanyol singgah di Bacan dan menjalin hubungan perdagangan dengan Sultan Bacan saat itu.

Pada masa kolonial Belanda, Bacan memiliki status yang cukup dihormati melalui perjanjian Lange Contract. Keraton menjadi pusat perundingan yang menentukan batas-batas wilayah di Papua Barat, karena secara historis, pengaruh Kesultanan Bacan menjangkau hingga wilayah Misool, Waigeo, dan Salawati di Kepulauan Raja Ampat. Hal ini menjadikan Keraton Bacan sebagai simbol kedaulatan yang cakupannya melampaui batas administratif Maluku Utara saat ini.

#

Tokoh Berpengaruh

Nama Sultan Muhammad Sahuddin tidak bisa dilepaskan dari sejarah keraton ini, karena beliaulah yang meletakkan dasar pembangunan pusat pemerintahan di Labuha. Selain itu, terdapat sosok Sultan Oesman Syah yang memerintah di awal abad ke-20. Beliau dikenal sebagai sultan yang visioner dan sangat peduli terhadap pendidikan serta modernisasi birokrasi kesultanan tanpa meninggalkan akar tradisi. Di bawah kepemimpinannya, keraton menjadi pusat diskusi bagi para intelektual di Maluku Selatan.

#

Keunikan Budaya dan Religi

Keraton Kesultanan Bacan adalah penjaga tradisi adat se atorang (adat dan aturan). Salah satu upacara yang paling sakral yang dilaksanakan di lingkungan keraton adalah Pukul Tifa, sebuah ritual musik perkusi yang digunakan untuk menyambut tamu agung atau menandai dimulainya perayaan keagamaan.

Selain itu, Bacan memiliki kekhasan dalam hal bahasa. Masyarakat di sekitar keraton menggunakan Bahasa Bacan yang secara linguistik memiliki pengaruh kuat dari Bahasa Melayu Kuno, berbeda dengan bahasa di Ternate atau Tidore. Keraton menjadi institusi terakhir yang melestarikan penggunaan bahasa ini dalam upacara-upacara resmi kesultanan.

#

Status Preservasi dan Upaya Restorasi

Saat ini, Keraton Kesultanan Bacan telah ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya oleh Pemerintah Indonesia. Upaya pelestarian terus dilakukan, terutama pada bangunan fisik yang rentan terhadap pelapukan kayu. Renovasi besar terakhir dilakukan untuk mengembalikan bentuk asli pilar-pilar utama dan mengganti bagian atap yang rusak tanpa mengubah nilai historisnya.

Meskipun fungsi politik kesultanan telah berakhir dan terintegrasi ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, peran budaya keraton tetap sentral. Sultan Bacan saat ini masih mendiami atau menggunakan keraton sebagai pusat kegiatan budaya dan ritual adat. Pemugaran tidak hanya menyasar pada bangunan, tetapi juga pada digitalisasi naskah-naskah kuno kesultanan yang tersimpan di dalam perpustakaan keraton.

#

Pentingnya Keraton Bacan di Masa Depan

Sebagai destinasi wisata sejarah unggulan di Halmahera Selatan, Keraton Bacan menawarkan pengalaman edukatif bagi wisatawan. Pengunjung tidak hanya melihat bangunan tua, tetapi juga dapat mempelajari bagaimana sistem pemerintahan tradisional mampu menjaga harmoni antara berbagai suku di wilayah kepulauan.

Keberadaan keraton ini adalah pengingat bahwa kejayaan masa lalu bukan hanya soal kekuasaan, melainkan tentang bagaimana sebuah peradaban mampu beradaptasi dengan perubahan zaman namun tetap memegang teguh identitasnya. Bagi masyarakat Halmahera Selatan, Keraton Kesultanan Bacan adalah "Rumah Besar" yang menyatukan memori kolektif mereka sebagai bangsa pelaut yang religius dan bermartabat. Dengan menjaga kelestarian keraton, Maluku Utara memastikan bahwa identitas sebagai daerah rempah yang legendaris akan terus dikenal oleh generasi mendatang.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Desa Amasing Kota, Kecamatan Bacan, Halmahera Selatan
entrance fee
Sukarela
opening hours
Dengan izin khusus/Jam kerja

Tempat Menarik Lainnya di Halmahera Selatan

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Halmahera Selatan

Pelajari lebih lanjut tentang Halmahera Selatan dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Halmahera Selatan