Situs Sejarah

Klenteng Jin De Yuan (Vihara Dharma Bhakti)

di Jakarta Barat, Jakarta

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Asal-Usul dan Pendirian: Dari Kim Tek Ie ke Dharma Bhakti

Sejarah Klenteng Jin De Yuan bermula pada tahun 1650. Klenteng ini didirikan oleh seorang Letnan Tionghoa bernama Kwee Hoen (Kwee Hoen Ko) di bawah naungan otoritas kolonial Belanda (VOC). Pada awal pendiriannya, tempat ibadah ini diberi nama Kwan Im Teng, yang merujuk pada paviliun pemujaan Dewi Kwan Im (Dewi Welas Asih). Kata "Kwan Im Teng" inilah yang kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi istilah "Klenteng" untuk menyebut tempat ibadah masyarakat Tionghoa secara umum.

Nama Jin De Yuan (atau Kim Tek Ie dalam dialek Hokkian) yang berarti "Vihara Kebajikan Emas" mulai digunakan secara luas setelah pembangunan kembali paska-tragedi besar. Nama ini mencerminkan filosofi bahwa kebajikan manusia jauh lebih berharga daripada emas, sebuah pengingat moral bagi komunitas pedagang Tionghoa yang bermukim di sekitarnya.

Arsitektur dan Detail Konstruksi: Simbolisme dalam Struktur

Secara arsitektural, Klenteng Jin De Yuan adalah representasi murni dari gaya arsitektur Tiongkok Selatan, khususnya gaya Fujian/Hokkian. Ciri khas utamanya terletak pada atap yang melengkung tajam dengan hiasan sepasang naga yang memperebutkan mustika (mutiara) di puncak bubungan, yang melambangkan perlindungan dan energi positif.

Bangunan utama didominasi oleh warna merah dan emas, dua warna yang dalam kosmologi Tionghoa melambangkan keberuntungan, kebahagiaan, dan kemuliaan. Di bagian depan, terdapat sepasang singa batu (Shi Shi) yang berfungsi sebagai penjaga spiritual. Interior klenteng dipenuhi dengan ukiran kayu yang rumit pada kolom-kolom penopang (tou-kung) dan altar-altar yang dilapisi emas. Salah satu keunikan konstruksinya adalah penggunaan teknik sambungan kayu tradisional tanpa paku yang memungkinkan bangunan tetap fleksibel terhadap getaran.

Peristiwa Berdarah 1740 dan Kebangkitan Kembali

Salah satu catatan paling kelam dalam sejarah Jin De Yuan adalah peristiwa Chinezenmoord atau Pembantaian Angke pada tahun 1740. Dalam kerusuhan massal yang dipicu oleh ketegangan ekonomi dan politik antara VOC dan warga Tionghoa, klenteng ini dibakar habis hingga rata dengan tanah. Ribuan warga Tionghoa tewas dalam peristiwa tersebut.

Namun, pada tahun 1755, seorang Kapitan Tionghoa bernama Oei Tjhie kembali memprakarsai pemugaran total klenteng ini. Kebangkitan Jin De Yuan menjadi simbol ketangguhan komunitas Tionghoa di Batavia. Bangunan yang berdiri hingga awal abad ke-21 sebagian besar merupakan hasil rekonstruksi tahun 1755 tersebut, menjadikannya salah satu struktur bangunan tertua yang masih mempertahankan bentuk aslinya di Jakarta.

Signifikansi Budaya dan Keagamaan

Jin De Yuan berfungsi sebagai "Klenteng Pusat" atau ibu dari klenteng-klenteng lain di Batavia. Secara tradisional, klenteng ini dikelola oleh dewan Kong Koan (Dewi Tata Usaha Tionghoa) yang ditunjuk oleh pemerintah kolonial. Hal ini menunjukkan posisi Jin De Yuan yang tidak hanya penting secara religius, tetapi juga secara administratif dan sosial.

Di dalam bangunan ini, terdapat belasan altar yang didedikasikan untuk berbagai dewa-dewi. Altar utama ditempati oleh Dewi Kwan Im, namun terdapat pula pemujaan terhadap Dewa Bumi (Tu Di Gong) dan Dewa Perdagangan (Xuan Tian Shang Di). Keberagaman altar ini menunjukkan sifat inklusif klenteng yang melayani berbagai kebutuhan spiritual masyarakat, mulai dari keselamatan, kesehatan, hingga kesuksesan dalam perniagaan.

Tokoh Penting dan Peran Sosial

Selain Kapitan Oei Tjhie, banyak tokoh masyarakat Tionghoa terkemuka (Luitenants, Kapiteins, dan Majoors der Chinezen) yang memberikan kontribusi besar bagi kelangsungan klenteng ini. Pada masa lampau, Jin De Yuan juga berfungsi sebagai pusat bantuan sosial. Di sekitar klenteng, terdapat tradisi pemberian sedekah kepada mereka yang kurang mampu, sebuah praktik yang masih bertahan hingga hari ini, terutama menjelang perayaan Imlek atau Cap Go Meh.

Kebakaran 2015 dan Upaya Restorasi modern

Ujian berat kembali menimpa Jin De Yuan pada 2 Maret 2015, ketika kebakaran hebat melanda bangunan utama akibat percikan api dari lilin besar. Kebakaran ini menghanguskan sebagian besar struktur kayu kuno dan menghancurkan banyak patung dewa yang berusia ratusan tahun. Namun, patung Dewi Kwan Im yang paling sakral berhasil diselamatkan dari kobaran api.

Pasca-kebakaran, upaya restorasi difokuskan pada pengembalian bentuk asli bangunan dengan menggunakan material yang serupa. Proses restorasi ini melibatkan ahli cagar budaya untuk memastikan bahwa elemen-elemen historis tidak hilang. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menetapkan situs ini sebagai Bangunan Cagar Budaya, sehingga setiap langkah perbaikan harus mengikuti kaidah pelestarian sejarah yang ketat.

Status Pelestarian dan Nilai Unik

Sebagai bagian dari Kawasan Cagar Budaya Glodok, Klenteng Jin De Yuan kini menjadi destinasi wisata sejarah utama di Jakarta. Keunikan klenteng ini terletak pada keberadaan benda-benda bersejarah yang masih tersisa, seperti lonceng perunggu kuno buatan tahun 1825 dan berbagai prasasti batu yang mencatat sejarah renovasi bangunan.

Secara sosiologis, Jin De Yuan adalah pusat integrasi. Meskipun merupakan tempat ibadah etnis Tionghoa, keberadaannya menyatu dengan ekosistem pasar Glodok yang heterogen. Klenteng ini adalah bukti nyata dari pluralisme di Jakarta, di mana tradisi kuno dari daratan Tiongkok berhasil beradaptasi dan berakar kuat di tanah Betawi selama lebih dari tiga setengah abad.

Dengan mengunjungi Klenteng Jin De Yuan, seseorang tidak hanya melihat sebuah bangunan tua, tetapi juga menyelami narasi panjang tentang kegigihan, keyakinan, dan sejarah panjang pembentukan identitas masyarakat Tionghoa-Indonesia di Jakarta. Keberadaannya tetap menjadi mercusuar budaya yang mengingatkan generasi mendatang akan pentingnya menjaga warisan masa lalu di tengah arus modernisasi yang kian kencang.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Kemenangan III No.13, Glodok, Kec. Taman Sari, Kota Jakarta Barat
entrance fee
Gratis / Donasi sukarela
opening hours
Setiap hari, 06:00 - 18:00

Tempat Menarik Lainnya di Jakarta Barat

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Jakarta Barat

Pelajari lebih lanjut tentang Jakarta Barat dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Jakarta Barat