Situs Sejarah

Museum Fatahillah (Museum Sejarah Jakarta)

di Jakarta Barat, Jakarta

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Kolonial di Jantung Kota: Sejarah Komprehensif Museum Fatahillah

Museum Sejarah Jakarta, yang lebih populer dikenal sebagai Museum Fatahillah, berdiri megah di sisi selatan Lapangan Fatahillah, Kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. Sebagai salah satu landmark paling ikonik di Indonesia, gedung ini bukan sekadar struktur beton dan kayu, melainkan saksi bisu transformasi pemukiman rawa menjadi pusat pemerintahan kolonial yang ambisius, serta saksi perjuangan panjang bangsa Indonesia menuju kemerdekaan.

#

Asal-Usul dan Periode Pembangunan: Dari Balai Kota ke Museum

Gedung yang kita kenal sekarang sebenarnya adalah bangunan ketiga yang berfungsi sebagai Stadhuis (Balai Kota) Batavia. Balai kota pertama dibangun pada tahun 1620 di dekat tepi Sungai Ciliwung, namun segera digantikan karena kondisi tanah yang tidak stabil. Pembangunan gedung yang berdiri saat ini dimulai pada tahun 1707 atas perintah Gubernur Jenderal Joan van Hoorn.

Proses konstruksinya memakan waktu tiga tahun dan baru diresmikan pada 10 Juli 1710 oleh Gubernur Jenderal Abraham van Riebeeck. Selama masa kolonial, gedung ini berfungsi sebagai pusat administrasi pemerintahan kota Batavia, kantor pajak, hingga tempat bagi Raad van Justitie (Dewan Pengadilan). Statusnya sebagai pusat pemerintahan bertahan hingga tahun 1913, sebelum akhirnya kantor pemerintahan pindah ke wilayah Weltevreden (sekarang area sekitar Medan Merdeka).

Setelah sempat digunakan sebagai kantor Pemerintah Provinsi Jawa Barat (1925-1942) dan markas militer Jepang, gedung ini akhirnya diresmikan sebagai Museum Sejarah Jakarta oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, pada 30 Maret 1974.

#

Arsitektur: Neoklasik yang Megah dan Fungsional

Secara arsitektural, Museum Fatahillah mengadopsi gaya Barok Klasik (sering disebut juga Neoklasik Belanda) abad ke-17. Desainnya sangat menyerupai Istana Dam di Amsterdam, yang mencerminkan ambisi VOC untuk menciptakan "Amsterdam di Timur".

Bangunan ini terdiri dari struktur utama dengan dua sayap di sisi timur dan barat, serta bangunan sandang yang digunakan sebagai kantor dan ruang pengadilan. Salah satu fitur yang paling mencolok adalah menara lonceng (cupola) di bagian atap yang berfungsi sebagai penunjuk waktu dan tanda peringatan bagi warga kota. Di puncak menara terdapat penunjuk arah angin berbentuk kapal kecil yang ikonik.

Material bangunan didominasi oleh batu bata merah dengan lapisan plester putih tebal, sementara lantai aslinya menggunakan ubin batu marmer dan kayu jati berkualitas tinggi. Pintu-pintu besar dengan ornamen ukiran kayu menunjukkan kemakmuran VOC pada masa itu. Uniknya, di bawah kemegahan ini terdapat ruang bawah tanah yang gelap dan sempit, yang berfungsi sebagai penjara bagi para tahanan yang menunggu persidangan atau eksekusi.

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Museum Fatahillah bukan hanya pusat administrasi, tetapi juga panggung bagi peristiwa-peristiwa kelam dalam sejarah Jakarta. Di depan gedung ini, tepatnya di Lapangan Fatahillah (dahulu Stadhuisplein), sering dilakukan eksekusi mati di depan publik bagi para pemberontak atau kriminal.

Salah satu peristiwa paling tragis yang terkait dengan lokasi ini adalah "Tragedi Angke" atau "Chinezenmoord" pada Oktober 1740. Ribuan warga etnis Tionghoa dibantai oleh tentara VOC, dan banyak dari mereka yang ditahan atau diadili di gedung ini sebelum akhirnya dihukum mati. Peristiwa ini meninggalkan luka mendalam dalam sejarah integrasi sosial di Batavia.

Selain itu, gedung ini menjadi saksi bisu perubahan kekuasaan dari Belanda ke Inggris (1811-1816), kembali ke Belanda, hingga pendudukan Jepang. Setiap transisi kekuasaan meninggalkan jejak administratif yang tersimpan dalam arsip-arsip sejarah yang kini menjadi koleksi museum.

#

Tokoh-Tokoh Terkait dan Koleksi Ikonik

Beberapa tokoh besar dalam sejarah Indonesia pernah memiliki keterkaitan dengan gedung ini. Pangeran Diponegoro, pemimpin Perang Jawa, sempat ditahan di salah satu ruangan di gedung ini pada tahun 1830 sebelum diasingkan ke Manado dan Makassar. Ruang tahanan Diponegoro kini menjadi salah satu titik yang paling banyak dikunjungi wisatawan karena nilai sejarahnya yang tinggi.

Selain itu, Untung Surapati juga dikisahkan pernah merasakan dinginnya sel penjara bawah tanah di Stadhuis sebelum akhirnya melarikan diri dan melakukan perlawanan terhadap VOC.

Koleksi museum ini sangat kaya, mencakup sekitar 23.500 objek. Salah satu yang paling fenomenal adalah Meriam Si Jagur. Meriam besar ini memiliki simbol "jempol diapit jari telunjuk dan jari tengah" (manus fica) pada bagian belakangnya, yang sering disalahartikan oleh masyarakat lokal sebagai simbol kesuburan, padahal sebenarnya merupakan simbol keberuntungan atau penolak bala dalam budaya Portugis. Selain itu, terdapat pula koleksi furnitur antik dari abad ke-17 hingga ke-19 yang menunjukkan perpaduan gaya Eropa, Tionghoa, dan Betawi.

#

Status Pelestarian dan Restoran Arsitektural

Sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Nasional, Museum Fatahillah terus mengalami upaya konservasi yang intensif. Tantangan terbesar dalam pelestariannya adalah kondisi tanah di Jakarta Barat yang mengalami penurunan (land subsidence) dan ancaman banjir rob.

Restorasi besar-besaran dilakukan pada awal 1970-an di bawah arahan Ali Sadikin untuk mengembalikan estetika kolonialnya. Saat ini, pemerintah DKI Jakarta melalui Unit Pengelola Museum Kesejarahan Jakarta terus melakukan perawatan rutin pada struktur kayu dan dinding untuk mencegah pelapukan akibat kelembapan tinggi. Revitalisasi kawasan Kota Tua secara keseluruhan juga berdampak positif pada aksesibilitas dan penataan lingkungan di sekitar museum, menjadikannya zona pejalan kaki yang ramah bagi wisatawan.

#

Makna Budaya dan Sosial

Bagi warga Jakarta, Museum Fatahillah bukan sekadar situs kuno. Nama "Fatahillah" sendiri diambil dari pahlawan yang merebut pelabuhan Sunda Kelapa dari Portugis pada tahun 1527, yang kemudian mengganti namanya menjadi Jayakarta. Penggunaan nama ini merupakan simbol dekolonisasi—sebuah upaya untuk merebut kembali identitas lokal atas bangunan yang dibangun oleh penjajah.

Kini, area di depan museum menjadi ruang publik yang sangat dinamis. Dari parade sepeda ontel yang berwarna-warni hingga pertunjukan seni jalanan, Museum Fatahillah telah bertransformasi dari simbol otoritas kolonial yang menakutkan menjadi pusat edukasi dan rekreasi budaya yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

#

Fakta Unik yang Jarang Diketahui

Selain sejarah resminya, terdapat beberapa fakta unik tentang gedung ini:

1. Penjara Wanita dan Pria: Penjara bawah tanah di museum ini terbagi menjadi dua sektor. Sel pria sangat rendah sehingga tahanan tidak bisa berdiri tegak, sementara sel wanita berada di bagian yang sedikit lebih tinggi namun tetap lembap dan tidak sehat.

2. Lonceng Kematian: Lonceng di cupola atas museum dahulu hanya dibunyikan saat ada eksekusi mati atau saat ada pengumuman penting dari pemerintah. Suara lonceng ini dulunya menjadi pertanda ketakutan bagi warga Batavia.

3. Sumur yang Tersembunyi: Di halaman dalam museum, terdapat sumur tua yang dulunya menjadi sumber air utama bagi penghuni Balai Kota dan para tahanan, yang kini tetap dipertahankan sebagai bagian dari struktur asli.

Dengan segala kemegahan dan sejarah kelam yang menyertainya, Museum Fatahillah tetap berdiri kokoh sebagai pengingat akan perjalanan panjang Jakarta dari sebuah bandar perdagangan kecil menjadi megapolitan dunia.

📋 Informasi Kunjungan

address
Jl. Taman Fatahillah No.1, Pinangsia, Kec. Taman Sari, Kota Jakarta Barat
entrance fee
Rp 5.000 (Dewasa)
opening hours
Selasa - Minggu, 09:00 - 15:00

Tempat Menarik Lainnya di Jakarta Barat

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Jakarta Barat

Pelajari lebih lanjut tentang Jakarta Barat dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Jakarta Barat