Museum Nasional Indonesia
di Jakarta Pusat, Jakarta
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Asal-Usul dan Periode Pendirian
Akar sejarah Museum Nasional bermula dari semangat pencerahan Eropa yang merambah ke Hindia Belanda. Pada tanggal 24 April 1778, sekelompok intelektual Belanda mendirikan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Ikatan Kesenian dan Ilmu Pengetahuan Batavia). Lembaga ini merupakan organisasi independen yang bertujuan memajukan penelitian dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang biologi, fisika, arkeologi, sastra, etnologi, dan sejarah.
Salah satu pendiri utamanya, J.C.M. Radermacher, menyumbangkan sebuah rumah di Jalan Kalibesar beserta koleksi buku dan benda budaya yang menjadi cikal bakal museum. Seiring bertambahnya koleksi, terutama pada masa pemerintahan Inggris di bawah Letnan Gubernur Sir Stamford Raffles (1811β1816), kapasitas gedung lama tidak lagi memadai. Raffles memerintahkan pembangunan gedung baru di Society de Harmonie (sekarang area Sekretariat Negara), namun koleksi terus membengkak hingga akhirnya pemerintah kolonial membangun gedung permanen di lokasi saat ini pada tahun 1862 dan resmi dibuka untuk umum pada tahun 1868.
Arsitektur Neo-Klasik dan Simbolisme Gajah
Secara arsitektural, Museum Nasional Indonesia adalah mahakarya gaya Indisch Empire atau Neo-Klasik yang sangat populer di abad ke-19. Gedung lama, yang kini disebut sebagai Gedung A (Gedung Gajah), dirancang dengan pilar-pilar besar bergaya Yunani-Romawi yang memberikan kesan megah dan formal. Struktur ini memiliki halaman tengah terbuka (courtyard) yang berfungsi untuk pencahayaan alami dan sirkulasi udara, sebuah adaptasi cerdas terhadap iklim tropis.
Nama populer "Museum Gajah" berasal dari sebuah patung gajah perunggu yang berdiri tegak di halaman depan. Patung ini merupakan hadiah dari Raja Chulalongkorn (Rama V) dari Thailand yang berkunjung ke museum pada tahun 1871 sebagai bentuk penghargaan atas keramahtamahan Batavia. Kehadiran patung ini begitu ikonik sehingga nama "Museum Gajah" jauh lebih melekat di telinga masyarakat dibandingkan nama resminya.
Pada tahun 2007, museum ini memperluas diri dengan meresmikan Gedung B (Gedung Arca). Berbeda dengan Gedung A, Gedung B mengusung arsitektur modern namun tetap harmonis dengan bangunan lama, menyediakan ruang pameran tematik yang lebih luas untuk menampung ribuan koleksi yang sebelumnya tersimpan di gudang.
Signifikansi Sejarah dan Koleksi Tak Ternilai
Museum Nasional menyimpan lebih dari 141.000 benda bersejarah yang terbagi dalam kategori prasejarah, arkeologi masa Hindu-Buddha, keramik, numismatik (mata uang), heraldik, sejarah, dan etnografi. Keberadaannya sangat penting karena menyimpan "sertifikat kelahiran" bangsa Indonesia dalam bentuk prasasti-prasasti kuno.
Salah satu koleksi paling signifikan adalah Prasasti Mulawarman dari abad ke-4 Masehi, yang merupakan bukti tertua keberadaan tulisan (huruf Pallawa) di Nusantara. Selain itu, terdapat patung Prajnaparamita yang ditemukan di Singasari, Jawa Timur. Patung ini dianggap sebagai salah satu karya seni pahat terbaik di dunia karena kehalusan detailnya, melambangkan Dewi Kebijaksanaan serta diyakini sebagai perwujudan Ken Dedes, ratu pertama Singasari.
Museum ini juga menjadi saksi bisu peristiwa-peristiwa besar, termasuk pengembalian benda-benda jarahan masa kolonial. Banyak koleksi emas dari Lombok dan Bali yang sempat dibawa ke Belanda kini telah kembali dan dipamerkan di Ruang Khasanah Emas di lantai empat Gedung B, menunjukkan kejayaan kerajaan-kerajaan Nusantara di masa lalu.
Tokoh dan Hubungan Lintas Zaman
Selain J.C.M. Radermacher dan Raffles, tokoh-tokoh seperti Dr. P.V. van Stein Callenfels, yang dikenal sebagai bapak prasejarah Indonesia, memiliki keterkaitan erat dengan pengembangan koleksi arkeologi di sini. Setelah kemerdekaan, peran museum beralih sepenuhnya ke tangan putra-putri Indonesia. Pada tahun 1962, Lembaga Kebudayaan Indonesia menyerahkan pengelolaan museum kepada pemerintah Republik Indonesia, yang kemudian statusnya ditetapkan sebagai Museum Nasional melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1979.
Museum ini juga mencerminkan keragaman budaya melalui koleksi etnografinya. Setiap sudut ruangan menampilkan alat musik tradisional, rumah adat dalam bentuk miniatur, hingga senjata tradisional dari Sabang sampai Merauke, mempertegas semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Upaya Pelestarian dan Restorasi
Sebagai Situs Cagar Budaya, Museum Nasional terus berupaya menjaga integritas fisiknya. Tantangan besar dihadapi ketika terjadi kebakaran pada September 2023 yang melanda bagian belakang Gedung A. Namun, peristiwa ini memicu gelombang besar upaya restorasi modern yang melibatkan ahli internasional dan teknologi digital.
Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, melakukan revitalisasi besar-besaran yang tidak hanya fokus pada perbaikan bangunan, tetapi juga pada digitalisasi koleksi. Restorasi ini bertujuan untuk menjadikan Museum Nasional sebagai institusi kelas dunia yang interaktif, di mana pengunjung dapat menikmati narasi sejarah melalui teknologi augmented reality tanpa menghilangkan nilai historis dari struktur bangunan aslinya.
Pentingnya Budaya dan Edukasi
Bagi masyarakat Indonesia, Museum Nasional bukan sekadar objek wisata, melainkan pusat pendidikan karakter. Di sinilah identitas nasional dikonstruksi melalui pemahaman tentang akar budaya bersama. Keberadaan keramik-keramik dari Dinasti Han, Tang, dan Ming di museum ini juga membuktikan bahwa Nusantara telah menjadi titik temu perdagangan internasional sejak ribuan tahun lalu, menunjukkan sifat inklusif dan terbuka bangsa Indonesia terhadap pengaruh luar.
Dengan statusnya sebagai institusi yang melintasi zaman, Museum Nasional Indonesia tetap berdiri tegak sebagai penjaga memori kolektif bangsa. Setiap lantai, setiap koridor, dan setiap arca di dalamnya membisikkan cerita tentang kejayaan, perjuangan, dan kearifan lokal yang membentuk Indonesia saat ini. Melalui upaya pelestarian yang berkelanjutan, museum ini memastikan bahwa generasi mendatang tidak akan kehilangan kompas sejarah mereka di tengah arus globalisasi.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Jakarta Pusat
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Jakarta Pusat
Pelajari lebih lanjut tentang Jakarta Pusat dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Jakarta Pusat