Situs Sejarah

Kompleks Percandian Muaro Jambi

di Jambi, Jambi

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Kemegahan Kompleks Percandian Muaro Jambi: Jejak Pusat Intelektual Asia Tenggara

Kompleks Percandian Muaro Jambi bukan sekadar tumpukan bata merah kuno yang membisu di tepian Sungai Batanghari. Terletak di Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, situs ini merupakan universitas tertua dan terluas di Asia Tenggara yang pernah menjadi mercusuar peradaban Buddha pada masa kejayaannya. Dengan luas mencapai 3.981 hektar—delapan kali lipat lebih luas dari Candi Borobudur—situs ini menyimpan rekaman sejarah panjang mengenai interaksi global, diplomasi spiritual, dan kemajuan arsitektur nusantara.

#

Asal-Usul Historis dan Periode Pembangunan

Kompleks ini diperkirakan mulai dibangun dan berkembang antara abad ke-7 hingga ke-12 Masehi. Periode ini bertepatan dengan masa keemasan Kerajaan Melayu (Malayupura) dan Kerajaan Sriwijaya. Berbeda dengan candi-candi di Jawa yang mayoritas menggunakan batu andesit, Muaro Jambi dibangun menggunakan bata merah hasil pembakaran tanah liat setempat. Hal ini menunjukkan adaptasi teknologi terhadap ketersediaan material di lahan aluvial Jambi.

Pembangunan situs ini dilakukan secara bertahap. Para arkeolog menemukan bahwa setiap struktur candi di kompleks ini memiliki karakteristik lapisan bangunan yang berbeda, menandakan adanya renovasi dan perluasan yang dilakukan oleh penguasa yang berbeda selama kurun waktu lima ratus tahun. Keberadaannya di tepi Sungai Batanghari bukan tanpa alasan; sungai ini berfungsi sebagai "jalan tol" purba yang menghubungkan pedalaman Jambi dengan Selat Malaka, jalur perdagangan internasional tersibuk di dunia pada masa itu.

#

Arsitektur dan Teknik Konstruksi yang Unik

Secara arsitektural, Kompleks Percandian Muaro Jambi menampilkan gaya yang sangat spesifik. Hingga saat ini, terdapat sekitar 82 reruntuhan bangunan (menapo) yang telah ditemukan, namun baru sembilan bangunan utama yang telah dipugar sepenuhnya, di antaranya Candi Gumpung, Candi Tinggi, Candi Kembar Batu, dan Candi Kedaton.

Keunikan utama terletak pada sistem tata kota dan hidrologinya. Kompleks ini dikelilingi oleh kanal-kanal buatan (parit) yang berfungsi ganda: sebagai sistem drainase untuk mencegah banjir dari luapan Sungai Batanghari dan sebagai sarana transportasi antar-candi. Teknik penyusunan bata merah di Muaro Jambi menggunakan metode "kosod", yaitu menggosokkan satu bata dengan bata lainnya hingga saling merekat erat tanpa menggunakan semen atau perekat tambahan, hanya mengandalkan uap air dan presisi permukaan.

Di dalam candi-candi tersebut, sering ditemukan sumur-sumur kuno yang diletakkan secara presisi di tengah bangunan. Hal ini mencerminkan konsep kosmologi Hindu-Buddha mengenai Gunung Meru sebagai pusat alam semesta yang dikelilingi oleh samudra.

#

Pusat Intelektual dan Signifikansi Keagamaan

Berdasarkan catatan penjelajah Tiongkok, I-Tsing, yang berkunjung ke wilayah ini pada abad ke-7, ia menyebutkan keberadaan pusat pembelajaran agama Buddha yang sangat besar di wilayah "Mo-lo-yeu". Para ahli meyakini bahwa lokasi yang dimaksud adalah Muaro Jambi. Di sini, ribuan biksu dari berbagai penjuru Asia berkumpul untuk mendalami filsafat, tata bahasa, dan kedokteran sebelum melanjutkan studi ke Universitas Nalanda di India.

Signifikansi keagamaan Muaro Jambi semakin diperkuat dengan ditemukannya berbagai arca seperti Prajnaparamita (Dewi Kebijaksanaan), fragmen arca Buddha, serta prasasti-prasasti pendek yang berisi mantra keagamaan. Situs ini merupakan pusat ajaran Buddha aliran Mahayana-Vajrayana. Kedekatan hubungan intelektual antara Muaro Jambi dan India terbukti dari temuan keramik Dinasti Song dan koin-koin kuno, yang membuktikan bahwa situs ini adalah titik temu kebudayaan timur dan barat.

#

Tokoh dan Peristiwa Bersejarah

Salah satu tokoh paling berpengaruh yang dikaitkan dengan Muaro Jambi adalah Atisha Dipamkara Shrijnana, seorang guru besar Buddha dari India yang kelak menjadi tokoh sentral dalam reformasi Buddha di Tibet. Menurut tradisi lisan dan beberapa literatur, Atisha menghabiskan waktu bertahun-tahun (sekitar tahun 1011-1023 M) belajar di bawah bimbingan guru besar Suvarnadvipa Dharmakirti di Jambi. Hal ini menjadikan Muaro Jambi sebagai situs yang sangat suci bagi umat Buddha di seluruh dunia, setara dengan posisi Nalanda di India.

Selain itu, situs ini menjadi saksi bisu perpindahan kekuasaan dari Sriwijaya ke Kerajaan Melayu. Setelah serangan Kerajaan Chola dari India pada abad ke-11, pusat pemerintahan dan keagamaan di Sumatera bergeser lebih dalam ke arah Jambi, menjadikan Muaro Jambi sebagai ibukota spiritual yang baru hingga akhirnya perlahan ditinggalkan pada abad ke-14 seiring masuknya pengaruh Islam dan berpindahnya jalur perdagangan.

#

Pelestarian dan Upaya Restorasi

Kompleks Percandian Muaro Jambi pertama kali dilaporkan oleh seorang perwira Inggris bernama S.C. Crooke pada tahun 1824. Namun, upaya pemugaran serius baru dimulai oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1970-an di bawah kepemimpinan arkeolog R. Soekmono. Tantangan terbesar dalam pelestarian situs ini adalah lokasinya yang berada di tengah perkebunan sawit dan pemukiman penduduk, serta ancaman industri batu bara di sepanjang sungai.

Saat ini, pemerintah Indonesia tengah berupaya keras untuk mendaftarkan Muaro Jambi sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Langkah-langkah revitalisasi terus dilakukan dengan pendekatan "Arkeologi Berbasis Masyarakat", di mana penduduk lokal dilibatkan dalam penjagaan dan pemanfaatan situs sebagai objek wisata edukasi. Restorasi dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menjaga keaslian bata merah dan struktur aslinya.

#

Fakta Unik dan Kesimpulan

Salah satu fakta unik yang jarang diketahui adalah bahwa hampir setiap candi di Muaro Jambi memiliki orientasi yang sangat akurat terhadap arah mata angin, menunjukkan pemahaman astronomi yang luar biasa dari para pembangunnya. Selain itu, ditemukannya "Menapo" (gundukan tanah yang berisi reruntuhan bata) dalam jumlah ratusan menunjukkan bahwa masih banyak rahasia yang terkubur di bawah tanah Jambi.

Muaro Jambi bukan sekadar destinasi wisata, melainkan sebuah monumen kecerdasan bangsa Indonesia di masa lalu. Sebagai bekas universitas tertua di Asia Tenggara, ia menjadi bukti bahwa nusantara pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia. Menjaga kelestarian Muaro Jambi berarti menjaga identitas intelektual bangsa yang telah terbentuk sejak ribuan tahun silam.

📋 Informasi Kunjungan

address
Desa Muara Jambi, Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi
entrance fee
Rp 10.000 per orang
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 18:00

Tempat Menarik Lainnya di Jambi

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Jambi

Pelajari lebih lanjut tentang Jambi dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Jambi