Situs Sejarah

Pura Rambut Siwi

di Jembrana, Bali

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Pura Rambut Siwi: Mahakarya Sejarah dan Spiritualitas di Jembrana

Pura Rambut Siwi berdiri megah di atas tebing karang yang menjorok ke Samudera Hindia, tepatnya di Desa Yeh Embang, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana. Sebagai salah satu Dang Kahyangan jagat yang paling dihormati di Bali, situs ini bukan sekadar tempat peribadatan, melainkan monumen sejarah yang merekam jejak penyebaran agama Hindu-Dharma serta peradaban Bali Barat pada masa lampau.

#

Asal-Usul Historis dan Masa Pendirian

Sejarah Pura Rambut Siwi sangat erat kaitannya dengan perjalanan spiritual Dang Hyang Nirartha, seorang pendeta suci dari Kerajaan Majapahit yang juga dikenal dengan gelar Pedanda Sakti Wawu Rauh. Beliau tiba di Bali pada abad ke-16 (sekitar tahun 1546 Masehi) saat masa pemerintahan Dalem Waturenggong di Kerajaan Gelgel.

Menurut naskah kuno Dwijendra Tattwa, saat Dang Hyang Nirartha melakukan perjalanan dari arah barat (Pulau Jawa) menuju timur Bali, beliau berhenti di sebuah pura kecil yang saat itu dijaga oleh seorang pemangku setempat. Pura tersebut dalam kondisi yang cukup memprihatinkan. Ketika sang pendeta berdoa di sana, kekuatan spiritualnya yang luar biasa membuat bangunan tersebut bergetar hebat. Untuk memberikan perlindungan dan sebagai kenang-kenangan bagi masyarakat setempat, beliau mencabut sehelai rambutnya dan memberikannya kepada penjaga pura untuk dipuja. Nama "Rambut Siwi" secara etimologis berasal dari kata "Rambut" dan "Siwi" yang berarti "Rambut yang Dipuja" atau "Rambut yang Disembah".

#

Arsitektur dan Detail Konstruksi

Secara arsitektural, Pura Rambut Siwi menampilkan karakteristik khas bangunan suci Bali abad pertengahan dengan sentuhan material lokal yang unik. Kompleks ini terdiri dari beberapa pura yang tersebar di area yang sangat luas, menciptakan tingkatan spiritual yang sistematis.

1. Material Batuan Karang: Berbeda dengan pura di Bali Selatan yang banyak menggunakan batu padas, Pura Rambut Siwi didominasi oleh penggunaan batu karang hitam dan bata merah yang sangat kuat. Hal ini dilakukan karena letaknya yang berada di tepi pantai, sehingga bangunan harus tahan terhadap korosi air laut dan angin kencang.

2. Struktur Trimandala: Kompleks ini mengikuti konsep Tri Mandala (Nista Mandala, Madya Mandala, dan Utama Mandala). Pura utama terletak di bagian paling tinggi (Utama Mandala), memberikan pemandangan lepas ke arah laut lepas yang dramatis.

3. Candi Bentar dan Kori Agung: Pintu masuk utama atau Kori Agung di Pura Rambut Siwi dihiasi dengan ukiran yang sangat detail, menggambarkan motif tanaman dan figur mitologi Bali. Bentuk atapnya masih mempertahankan gaya arsitektur Majapahit yang dikombinasikan dengan estetika Bali kuno.

4. Pelingkar Meru: Di area utama, terdapat berbagai Pelinggih (bangunan suci) dengan atap tumpang (tumpang pitu atau tumpang sanga) yang melambangkan lapisan gunung suci Mahameru.

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Pura Rambut Siwi memegang peranan vital sebagai "Pagar Ghaib" Bali Barat. Secara historis, keberadaan pura ini menjadi penanda batas pengaruh budaya dan agama di ujung barat pulau. Salah satu fakta unik adalah keberadaan "Pura Penataran" yang berada di lantai bawah tebing yang sejajar dengan bibir pantai. Konon, di gua-gua sekitar tebing inilah Dang Hyang Nirartha sering melakukan meditasi mendalam (yoga semadhi).

Situs ini juga menjadi saksi bisu transisi kekuasaan di Bali. Selama berabad-abad, para penguasa di Jembrana menjadikan Pura Rambut Siwi sebagai tempat untuk memohon restu sebelum menjalankan pemerintahan. Keberadaan pura ini membuktikan bahwa wilayah Jembrana, yang sering dianggap sebagai wilayah terluar, memiliki akar spiritual yang sangat kuat dan terhubung langsung dengan pusat spiritualitas di Gelgel.

#

Tokoh dan Masa Keemasan

Selain Dang Hyang Nirartha, tokoh-tokoh penting yang terkait dengan situs ini adalah para penguasa lokal Jembrana di bawah naungan Kerajaan Mengwi dan kemudian Kerajaan Buleleng. Pada masa kolonial Belanda, Pura Rambut Siwi tetap dihormati dan tidak mengalami kerusakan berarti karena kesakralannya yang diakui bahkan oleh pihak luar.

Pura ini mencapai puncak renovasi besarnya pada periode modern, namun tetap mempertahankan struktur asli pada bagian-bagian inti. Hubungan antara Pura Rambut Siwi dengan Pura Tanah Lot dan Pura Uluwatu juga sangat erat, karena ketiganya merupakan rangkaian pura pesisir yang dibangun atau diperluas oleh tokoh yang sama untuk menjaga keseimbangan alam Bali.

#

Upaya Pelestarian dan Restorasi

Sebagai situs cagar budaya, Pura Rambut Siwi mendapatkan perhatian khusus dari Pemerintah Provinsi Bali dan Balai Pelestarian Kebudayaan. Mengingat lokasinya yang berada di tepi tebing yang rawan abrasi, pemerintah telah membangun tanggul penahan ombak yang masif di sepanjang dasar tebing untuk mencegah longsor yang dapat mengancam struktur pura.

Restorasi secara periodik dilakukan pada bagian ukiran batu padas dan penggantian atap ijuk. Masyarakat adat Desa Yeh Embang memegang peranan kunci dalam pelestarian ini melalui sistem ngempon (pemeliharaan kolektif). Setiap renovasi yang dilakukan wajib mengikuti aturan Asta Kosala Kosali untuk memastikan nilai historis dan vibrasi spiritualnya tidak berubah.

#

Pentingnya Budaya dan Keagamaan

Bagi masyarakat Hindu di Bali, Pura Rambut Siwi adalah salah satu tempat paling suci untuk memohon keselamatan saat melakukan perjalanan melintasi Pulau Bali. Hampir setiap pengendara yang melewati jalur utama Denpasar-Gilimanuk akan menyempatkan diri untuk berhenti sejenak dan bersembahyang di sini.

Upacara besar atau Piodalan di pura ini jatuh pada hari Rabu Umanis, wuku Perangbakat. Pada saat tersebut, ribuan umat dari seluruh penjuru Bali akan datang, menciptakan pemandangan budaya yang luar biasa di mana spiritualitas, sejarah, dan keindahan alam menyatu.

Secara keseluruhan, Pura Rambut Siwi bukan sekadar situs arkeologi. Ia adalah artefak hidup yang menghubungkan manusia Bali modern dengan warisan luhur masa Majapahit. Dengan arsitektur yang megah dan latar belakang sejarah yang mendalam, pura ini tetap berdiri teguh sebagai penjaga gerbang barat Pulau Dewata, menjaga harmoni antara daratan dan samudera.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Desa Yeh Embang Kangin, Kecamatan Mendoyo
entrance fee
Donasi sukarela / Rp 20.000 untuk wisatawan
opening hours
24 Jam (untuk ibadah)

Tempat Menarik Lainnya di Jembrana

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Jembrana

Pelajari lebih lanjut tentang Jembrana dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Jembrana