Pusat Kebudayaan

Sirkuit Makepung Delod Berawah

di Jembrana, Bali

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Tradisi Makepung: Jantung Kebudayaan Delod Berawah

Kegiatan utama yang menjadi poros sirkuit ini adalah Makepung. Secara etimologis, Makepung berasal dari kata "kepung" yang berarti berkejaran. Tradisi ini berawal dari aktivitas para petani yang mengisi waktu senggang setelah panen dengan balapan kerbau sambil membajak sawah. Namun, di Sirkuit Delod Berawah, kegiatan ini telah bertransformasi menjadi sebuah festival budaya yang megah.

Keunikan utama Makepung di sirkuit ini terletak pada ornamen dan estetika. Kerbau-kerbau yang bertanding, yang disebut Kebo Pepadu, dihiasi dengan rumbah (hiasan kepala) yang megah dan uwer (bendera kecil). Kerbau-kerbau ini menarik sebuah kereta kayu yang disebut Cikar, yang dikendarai oleh seorang joki terampil. Sirkuit Delod Berawah menjadi saksi bagaimana sinkronisasi antara manusia dan hewan diuji dalam lintasan sepanjang 1,5 hingga 2 kilometer yang menantang.

Program Pelestarian dan Pengembangan Seni Tradisional

Sirkuit Makepung Delod Berawah berfungsi sebagai laboratorium budaya di mana berbagai kesenian Jembrana dipentaskan. Program-program di pusat kebudayaan ini mencakup:

1. Pementasan Jegog Jembrana: Sebelum balapan dimulai, dentuman musik bambu raksasa khas Jembrana, Jegog, biasanya menggema di sekitar sirkuit. Musik ini memberikan semangat bagi para peserta dan hiburan bagi wisatawan. Sirkuit ini menjadi panggung penting bagi kelompok Jegog lokal untuk menunjukkan kemahiran mereka dalam seni perkusi bambu yang dinamis.

2. Edukasi Kerajinan Cikar dan Aksesori Kerbau: Di sekitar kawasan sirkuit, terdapat komunitas pengrajin yang memfokuskan diri pada pembuatan Cikar dan ukiran hiasan kerbau. Program edukasi sering diadakan bagi pemuda setempat untuk mempelajari teknik mengukir kayu dan merangkai hiasan tradisional agar keahlian ini tidak punah ditelan zaman.

3. Pelatihan Joki Muda (Papak): Menjadi joki Makepung membutuhkan keberanian dan teknik khusus. Sirkuit Delod Berawah menjadi tempat latihan bagi joki-joki muda di bawah bimbingan para senior. Mereka belajar cara mengendalikan kerbau dengan penitik (tongkat kayu) tanpa menyakiti hewan secara berlebihan, serta teknik menjaga keseimbangan di atas Cikar.

Integrasi Nilai Spiritual dan Komunitas

Keunikan Sirkuit Delod Berawah sebagai pusat kebudayaan terletak pada integrasi nilai spiritual dalam setiap kegiatannya. Sebelum balapan dimulai, dilakukan ritual Ngerebeg atau persembahyangan bersama di pura sekitar sirkuit untuk memohon keselamatan dan kelancaran acara. Ini menunjukkan bahwa Makepung bukan sekadar olahraga, melainkan bentuk syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang melimpah.

Keterlibatan masyarakat diatur melalui sistem Blok. Di Jembrana, komunitas Makepung terbagi menjadi dua kelompok besar: Blok Ijo Gading Barat dan Blok Ijo Gading Timur. Sirkuit Delod Berawah sering kali menjadi medan pertemuan netral atau tuan rumah bagi persaingan sehat antara kedua blok ini. Struktur komunitas ini memperkuat ikatan sosial antarwarga desa di seluruh Jembrana, menjadikan sirkuit ini sebagai titik temu integrasi sosial.

Festival Utama dan Peristiwa Budaya Penting

Dua acara besar yang selalu dinanti di Sirkuit Delod Berawah adalah Piala Bupati (Bupati Cup) dan Jembrana Cup. Namun, puncak dari segala aktivitas di sini adalah Gubernur Cup. Pada festival ini, ribuan pasang kerbau dari berbagai pelosok Jembrana berkumpul.

Dalam acara-acara ini, Sirkuit Delod Berawah berubah menjadi pasar kreatif. Selain balapan, pengunjung dapat menikmati festival kuliner khas Jembrana, seperti Ayam Betutu asli Jembrana yang memiliki cita rasa pedas yang khas, serta pameran produk UMKM lokal. Festival ini bukan hanya ajang promosi budaya, tetapi juga penggerak roda ekonomi kreatif berbasis tradisi.

Pendidikan Budaya dan Keterlibatan Generasi Muda

Pengelola sirkuit bekerja sama dengan pemerintah daerah dan sekolah-sekolah di Jembrana untuk menjadikan Makepung sebagai bagian dari kurikulum muatan lokal atau kegiatan ekstrakurikuler budaya. Siswa diajak mengunjungi sirkuit untuk mengenal anatomi kerbau, sejarah tradisi, hingga nilai-nilai filosofis di balik ornamen yang digunakan.

Upaya ini sangat krusial karena di tengah modernisasi, minat generasi muda terhadap sektor agraris menurun. Dengan menjadikan Makepung sebagai gaya hidup yang prestisius melalui sirkuit ini, generasi muda Jembrana tetap merasa bangga dengan akar budaya tani mereka. Mereka melihat bahwa menjadi pemilik kerbau atau joki adalah simbol status sosial dan penjaga kehormatan daerah.

Peran dalam Pembangunan Kebudayaan Lokal

Sirkuit Makepung Delod Berawah adalah simbol ketahanan budaya. Di tengah gempuran pariwisata massal di Bali Selatan, Jembrana melalui sirkuit ini menawarkan alternatif wisata berbasis budaya otentik (authentic cultural tourism). Keberadaan sirkuit ini memaksa pembangunan infrastruktur di desa sekitarnya tanpa menghilangkan karakteristik pedesaan yang asri.

Sirkuit ini juga mendorong riset dan dokumentasi budaya. Banyak peneliti seni dan antropolog datang ke Delod Berawah untuk mempelajari dinamika sosial masyarakat agraris Jembrana. Dokumentasi mengenai teknik pembuatan Cikar dan pola pelatihan kerbau kini mulai dibukukan berkat aktivitas intensif di sirkuit ini.

Pelestarian Warisan Budaya Tak Benda

Melalui penetapan Makepung sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh pemerintah pusat, tanggung jawab Sirkuit Delod Berawah semakin besar. Sirkuit ini berfungsi sebagai benteng pertahanan terakhir bagi kemurnian tradisi ini. Di sini, aturan-aturan tradisional (awig-awig) dalam Makepung tetap dijaga, seperti penggunaan jenis kayu tertentu untuk Cikar dan larangan penggunaan alat bantu yang dapat mencederai hewan secara permanen. Hal ini sejalan dengan konsep Tri Hita Karana, yaitu menjaga hubungan harmonis antara manusia, sesama, dan lingkungan (hewan).

Kesimpulan

Sirkuit Makepung Delod Berawah adalah representasi dari jiwa masyarakat Jembrana yang tangguh, kreatif, dan religius. Sebagai sebuah pusat kebudayaan, ia berhasil mengubah hobi sederhana para petani menjadi sebuah mahakarya seni pertunjukan yang mendunia. Melalui program edukasi, pelestarian seni Jegog, dan penyelenggaraan festival yang konsisten, sirkuit ini memastikan bahwa suara derap kaki kerbau di atas tanah Delod Berawah akan terus terdengar hingga masa depan, membawa pesan tentang kebanggaan identitas di tengah perubahan zaman.

Sirkuit ini bukan sekadar tempat berlomba, melainkan sebuah monumen hidup di mana tradisi dipelihara dengan cinta, keringat, dan kehormatan. Bagi siapa pun yang berkunjung, Sirkuit Delod Berawah menawarkan pengalaman batin yang mendalam tentang bagaimana sebuah komunitas menjaga warisan leluhurnya agar tetap relevan dan berdaya di panggung global.

๐Ÿ“‹ Informasi Kunjungan

address
Desa Delod Berawah, Kecamatan Mendoyo
entrance fee
Gratis (saat latihan) / Berbayar (saat festival)
opening hours
Sesuai kalender event (biasanya Minggu pagi)

Tempat Menarik Lainnya di Jembrana

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Jembrana

Pelajari lebih lanjut tentang Jembrana dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Jembrana