Masjid Mantingan
di Jepara, Jawa Tengah
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Arsitektur Masjid Mantingan: Harmoni Estetika Akulturasi dan Jejak Sejarah Jepara
Masjid Mantingan bukan sekadar tempat ibadah; ia adalah monumen hidup yang merekam titik temu antara berbagai peradaban besar di Nusantara. Terletak di Desa Mantingan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, masjid ini berdiri sebagai salah satu bangunan ikonik yang merepresentasikan transisi estetika dari era Hindu-Buddha menuju era Islam pada abad ke-16. Dibangun pada tahun 1559 M (1481 Saka), masjid ini merupakan perwujudan cinta, duka, sekaligus visi arsitektural yang melampaui zamannya.
#
Sejarah dan Konteks Pembangunan
Pembangunan Masjid Mantingan erat kaitannya dengan sosok Ratu Kalinyamat, penguasa kuat Jepara yang membangun kompleks ini sebagai bentuk penghormatan dan makam bagi suaminya, Sultan Hadlirin (Pangeran Toyib). Berdasarkan prasasti yang ditemukan di atas mihrab, masjid ini didirikan pada tahun yang ditandai dengan candrasengkala "Rupa Brahmana Warna Sari" (1481 Saka).
Tokoh kunci di balik keindahan arsitektur masjid ini adalah Tjie Wie Gwan, seorang arsitek terampil asal Tiongkok yang merupakan ayah angkat Sultan Hadlirin. Setelah Sultan Hadlirin wafat, Tjie Wie Gwan (yang kemudian dikenal dengan gelar Sungging Badar Duwung) mengabadikan keahliannya dalam seni ukir dan penataan ruang untuk menciptakan sebuah kompleks bangunan yang memadukan unsur Tionghoa, Hindu-Majapahit, dan nilai-nilai Islam.
#
Karakteristik Arsitektur dan Akulturasi Visual
Secara struktural, Masjid Mantingan mengadopsi tipologi masjid tradisional Jawa yang ditandai dengan atap tumpang (bersusun). Namun, yang membedakannya adalah detail ornamennya yang sangat spesifik dan unik. Gaya arsitekturnya mencerminkan sinkretisme budaya yang sangat kental.
1. Atap dan Struktur Utama: Masjid ini memiliki atap tajug tiga tingkat yang melambangkan filosofi Iman, Islam, dan Ihsan. Meskipun struktur utamanya telah mengalami renovasi, esensi spasialnya tetap mempertahankan pola bangunan Jawa kuno dengan soko guru (tiang utama) sebagai penyangga beban pusat.
2. Lantai Tinggi (Batur): Memasuki area masjid, pengunjung akan melihat bahwa bangunan utama berdiri di atas pondasi yang cukup tinggi, mirip dengan struktur kaki candi. Hal ini memberikan kesan monumental dan sakral, sebuah teknik yang umum ditemukan pada arsitektur klasik Jawa Timur.
#
Inovasi Estetika: Relief "Medallion" yang Ikonik
Salah satu daya tarik arsitektural paling signifikan dari Masjid Mantingan adalah keberadaan 114 panel relief batu putih (batu kapur) yang tertempel pada dinding masjid. Relief ini merupakan inovasi visual yang luar biasa pada masanya. Mengingat ajaran Islam yang melarang penggambaran makhluk hidup secara realistis (antropomorfik), para seniman di bawah arahan Sungging Badar Duwung menciptakan teknik Stilisasi.
Pola-pola tumbuhan (lung-lungan), bunga teratai, dan bentuk geometris digubah sedemikian rupa sehingga jika dilihat sekilas hanya tampak seperti rangkaian flora, namun jika dicermati, beberapa relief membentuk siluet hewan seperti gajah atau monyet. Teknik ini dikenal sebagai gaya "Sungging", yang kemudian menjadi cikal bakal seni ukir Jepara yang mendunia. Penggunaan batu putih ini memberikan kontras visual yang elegan terhadap struktur kayu dan bata merah yang dominan di lingkungan sekitar.
#
Tata Ruang dan Elemen Simbolis
Kompleks Masjid Mantingan dirancang dengan zonasi yang sangat teratur, mencerminkan hierarki kesucian. Terdapat tiga area utama: halaman luar, halaman tengah, dan area inti (masjid dan makam).
- Mihrab dan Mimbar: Area mihrab dihiasi dengan ukiran yang sangat halus, menunjukkan kemahiran teknik pahat tingkat tinggi. Mimbar kayu yang ada di dalamnya juga mengikuti pola ukiran khas Jepara yang rumit namun tetap anggun.
- Gapura Bentar dan Paduraksa: Akses menuju kompleks makam di belakang masjid menggunakan gapura bergaya Hindu yang megah. Kehadiran gapura ini menegaskan bahwa Islam di Jawa tidak menghapus identitas arsitektur lokal, melainkan mengadopsinya sebagai wadah baru bagi nilai-nilai tauhid.
- Mustaka: Puncak atap masjid dihiasi dengan mustaka dari tanah liat yang memiliki bentuk khas, menambah estetika garis langit bangunan yang harmonis dengan lingkungan pedesaan.
#
Signifikansi Sosial dan Budaya
Masjid Mantingan bukan hanya objek wisata religi, tetapi juga pusat identitas bagi masyarakat Jepara. Arsitektur masjid ini adalah "cetak biru" bagi julukan Jepara sebagai The World Carving Center. Setiap motif yang ada di dinding masjid telah dipelajari selama berabad-abad oleh para perajin lokal sebagai standar keindahan dan kerumitan teknik ukir.
Secara sosial, masjid ini menjadi saksi bisu kejayaan maritim Kerajaan Kalinyamat. Letaknya yang strategis di pesisir utara Jawa menjadikan masjid ini sebagai simbol keterbukaan masyarakat Jepara terhadap pengaruh asing—baik dari Tiongkok, Arab, maupun pedalaman Jawa—yang disatukan dalam harmoni bangunan.
#
Pengalaman Pengunjung dan Fungsi Saat Ini
Saat ini, Masjid Mantingan berfungsi ganda sebagai tempat ibadah harian dan cagar budaya yang dilindungi. Pengunjung yang datang akan disambut oleh suasana yang tenang dan teduh. Lantai masjid yang dingin dan sirkulasi udara yang terjaga berkat atap tinggi memberikan kenyamanan termal alami tanpa memerlukan banyak perangkat mekanis.
Pada hari-hari besar Islam atau haul Ratu Kalinyamat, masjid ini menjadi pusat konsentrasi massa. Meskipun telah mengalami beberapa kali pemugaran (terutama pada tahun 1970-an untuk memperkuat struktur bangunan yang sempat rusak), pengelola tetap mempertahankan panel-panel relief asli yang menjadi jiwa dari bangunan ini.
#
Kesimpulan
Masjid Mantingan adalah mahakarya arsitektur yang melampaui fungsinya sebagai tempat sujud. Ia adalah sebuah narasi visual tentang bagaimana seni dapat menjadi jembatan antar-keyakinan. Melalui perpaduan batu putih yang diukir halus, atap tumpang yang kokoh, dan tata ruang yang filosofis, Masjid Mantingan tetap berdiri tegak sebagai ikon kebanggaan Jawa Tengah yang mengingatkan kita pada kekayaan intelektual dan estetika nenek moyang di masa lalu. Bagi para pecinta arsitektur, mengunjungi Mantingan adalah perjalanan kembali ke masa di mana batu dan kayu bisa bicara tentang sejarah, cinta, dan pengabdian.
📋 Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Jepara
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Jepara
Pelajari lebih lanjut tentang Jepara dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Jepara