Situs Sejarah

Candi Muara Takus

di Kampar, Riau

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Candi Muara Takus: Jejak Kejayaan Peradaban Buddhis di Jantung Riau

Candi Muara Takus merupakan sebuah kompleks percandian kuno yang terletak di Desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Sebagai satu-satunya kompleks peninggalan sejarah berbentuk candi di Riau, situs ini menjadi bukti nyata adanya pengaruh kuat agama Buddha dan aktivitas peradaban tinggi di tengah hutan Sumatera pada masa lampau. Keberadaannya memberikan gambaran unik mengenai jalur perdagangan dan persebaran agama yang melintasi sungai-sungai besar di pedalaman Sumatera.

#

Asal-Usul dan Periodisasi Sejarah

Meskipun waktu pasti pembangunannya masih menjadi subjek perdebatan di kalangan arkeolog, Candi Muara Takus diyakini telah ada sejak masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya, diperkirakan antara abad ke-7 hingga abad ke-12 Masehi. Beberapa ahli sejarah berpendapat bahwa kompleks ini mencapai puncak fungsinya pada abad ke-11 atau ke-12 Masehi. Nama "Muara Takus" sendiri diambil dari nama sungai kecil yang bermuara ke Sungai Kampar Kanan, yaitu Sungai Takus. Dalam bahasa lokal, "Takus" diduga berasal dari kata "Tua" dan "Kus" (dari bahasa Sanskerta/Tionghoa), yang merujuk pada kuil atau tempat suci yang sudah tua.

Situs ini pertama kali dilaporkan oleh seorang peneliti Barat bernama Cornet De Groot pada tahun 1860. Sejak saat itu, berbagai penelitian dilakukan oleh para ahli seperti WP Groeneveldt, Yzerman, dan Schnitger untuk mengungkap tabir sejarah di balik tumpukan bata merah tersebut. Hubungan erat situs ini dengan Sriwijaya diperkuat dengan lokasinya yang strategis di jalur sungai yang menghubungkan pantai timur Sumatera ke wilayah pedalaman, yang merupakan jalur ekonomi penting kala itu.

#

Arsitektur dan Detail Konstruksi yang Unik

Kompleks Candi Muara Takus dikelilingi oleh pagar tembok berukuran 74 x 74 meter yang terbuat dari batu putih. Di dalam area ini, terdapat beberapa bangunan utama yang memiliki karakteristik arsitektur berbeda dibandingkan dengan candi-candi di Jawa. Salah satu ciri khas yang paling mencolok adalah penggunaan material konstruksi yang terdiri dari campuran batu bata, batu pasir (sandstone), dan batu sungai.

Bangunan-bangunan utama di dalam kompleks ini meliputi:

1. Candi Mahligai: Merupakan bangunan yang paling utuh dan ikonik. Berbentuk menara (stupa) setinggi kurang lebih 14,30 meter, candi ini memiliki kemiripan dengan stupa-stupa di Myanmar atau Sri Lanka. Bagian puncaknya berbentuk silinder dengan hiasan kelopak bunga teratai (padma). Keunikan Candi Mahligai terletak pada bentuknya yang ramping dan menjulang, sangat berbeda dengan stupa bulat di Borobudur.

2. Candi Tua: Merupakan bangunan terbesar dalam kompleks ini. Candi ini berbentuk persegi panjang dengan ukuran dasar 32,80 x 21,80 meter. Konstruksinya terdiri dari tumpukan batu bata merah dan memiliki tangga di sisi timur dan barat. Struktur ini diyakini sebagai bangunan utama untuk upacara keagamaan.

3. Candi Bungsu: Terletak di sebelah barat Candi Mahligai. Candi ini memiliki keunikan karena dibangun menggunakan dua jenis material yang berbeda: bagian utara dari batu pasir dan bagian selatan dari batu bata merah. Hal ini menunjukkan adanya dua fase pembangunan atau renovasi pada masa yang berbeda.

4. Candi Palangka: Terletak di sebelah timur Candi Mahligai, merupakan bangunan terkecil yang berfungsi sebagai altar atau tempat persembahan.

#

Signifikansi Sejarah dan Tokoh Terkait

Candi Muara Takus bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol integrasi budaya antara India, daratan Asia Tenggara, dan Nusantara. Dalam catatan I-Tsing, seorang pendeta Buddha dari Tiongkok, disebutkan adanya pusat pembelajaran agama Buddha yang sangat besar di Sumatera. Para sejarawan menduga bahwa Muara Takus merupakan salah satu pusat pendidikan atau tempat peribadatan penting yang menyokong kekuasaan Sriwijaya di wilayah utara.

Situs ini juga dikaitkan dengan kedatangan pengaruh Buddha aliran Mahayana dan Vajrayana. Penemuan fragmen emas yang bertuliskan mantra-mantra Buddhis dalam huruf Nagari menunjukkan adanya hubungan intelektual yang kuat dengan Universitas Nalanda di India. Meskipun tidak ada prasasti spesifik yang menyebutkan nama raja yang membangunnya, gaya arsitekturnya mencerminkan pengaruh seni pala dari India Timur yang berkembang pada masa Dinasti Syailendra.

#

Fungsi Keagamaan dan Kebudayaan

Sebagai situs Buddhis, Muara Takus berfungsi sebagai tempat ritual keagamaan, meditasi, dan kemungkinan besar sebagai tempat kremasi atau penyimpanan abu jenazah tokoh-tokoh penting. Hingga saat ini, nilai sakralitasnya tetap terjaga. Setiap tahun, umat Buddha dari berbagai daerah, bahkan mancanegara, datang ke lokasi ini untuk merayakan Hari Raya Waisak. Prosesi pradaksina (berjalan mengelilingi candi searah jarum jam) di bawah naungan Candi Mahligai menjadi pemandangan yang mempertemukan masa lalu dengan kehidupan spiritual modern.

#

Upaya Pelestarian dan Restorasi

Kondisi Candi Muara Takus saat pertama kali ditemukan sangat memprihatinkan, dengan banyak bagian yang tertutup semak belukar dan mengalami keruntuhan akibat faktor cuaca. Upaya restorasi besar-besaran dilakukan oleh pemerintah Indonesia melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1970-an hingga 1990-an. Pemugaran ini difokuskan pada penguatan struktur bangunan tanpa menghilangkan keaslian materialnya.

Saat ini, Candi Muara Takus dikelola sebagai Cagar Budaya nasional dan telah didaftarkan sebagai salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO (Tentative List). Tantangan pelestarian saat ini mencakup perlindungan terhadap ancaman abrasi sungai serta pemeliharaan batu bata kuno yang rentan terhadap lumut dan pelapukan akibat kelembapan tinggi di wilayah Riau.

#

Fakta Unik dan Misteri yang Tersisa

Salah satu fakta unik dari Muara Takus adalah penggunaan "batu putih" untuk pagar pembatas, yang secara geologis tidak umum ditemukan di sekitar lokasi tersebut, menunjukkan bahwa material tersebut didatangkan dari tempat yang jauh. Selain itu, desain Candi Mahligai yang menyerupai "Phra Pathom Chedi" di Thailand memberikan petunjuk kuat tentang adanya pertukaran budaya lintas negara di masa lalu.

Misteri mengenai mengapa kompleks sebesar ini dibangun jauh di pedalaman, jauh dari pesisir pantai, masih terus dipelajari. Namun, keberadaan Sungai Kampar yang dahulu dapat dilayari kapal-kapal besar memberikan jawaban logis bahwa Muara Takus adalah titik pertemuan penting antara pedagang dari hulu dan hilir Sumatera.

Sebagai kesimpulan, Candi Muara Takus adalah permata sejarah yang tak ternilai bagi bangsa Indonesia. Ia berdiri sebagai monumen keberagaman dan kemajuan peradaban di tanah Melayu Riau, mengingatkan kita bahwa jauh sebelum kemerdekaan, wilayah ini telah menjadi pusat pembelajaran dan spiritualitas yang disegani di kawasan Asia Tenggara.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto Kampar
entrance fee
Rp 10.000 - Rp 15.000 per orang
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 18:00

Tempat Menarik Lainnya di Kampar

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Kampar

Pelajari lebih lanjut tentang Kampar dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Kampar