Gereja Sinta
di Kapuas, Kalimantan Tengah
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Menelusuri Jejak Sejarah Gereja Sinta: Simbol Peradaban dan Religi di Kapuas
Gereja Sinta bukan sekadar bangunan peribadatan; ia adalah monumen hidup yang merekam jejak panjang penyebaran agama Kristen dan perkembangan sosial di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Terletak di Kuala Kapuas, gereja ini berdiri sebagai saksi bisu transformasi masyarakat Dayak dari masa tradisional menuju era modernitas yang dibawa oleh misi pekabaran Injil dari Eropa. Sebagai salah satu situs sejarah (Situs Cagar Budaya) yang paling dihormati di Kalimantan Tengah, Gereja Sinta merangkum narasi tentang keteguhan iman, arsitektur kolonial, dan integrasi budaya.
#
Asal-Usul dan Periode Pendirian
Sejarah Gereja Sinta tidak dapat dipisahkan dari kedatangan para misionaris dari Rheinische Missionsgesellschaft (RMG) asal Jerman pada abad ke-19. Namun, bangunan yang kita kenal sekarang merupakan hasil dari proses panjang penataan kawasan misi di sepanjang aliran Sungai Kapuas. Gereja Sinta didirikan pada awal abad ke-20, tepatnya sekitar tahun 1910-an, untuk melayani komunitas Kristen yang terus berkembang di wilayah Kuala Kapuas yang saat itu merupakan pusat administrasi dan perdagangan penting di wilayah selatan Kalimantan.
Pemberian nama "Sinta" sendiri memiliki makna mendalam dalam bahasa Dayak Ngaju, yang berarti "Cinta" atau "Kasih". Nama ini dipilih untuk mencerminkan inti dari ajaran Kristiani serta harapan agar gereja ini menjadi pusat kasih sayang bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang latar belakang kesukuan.
#
Arsitektur dan Detail Konstruksi
Secara arsitektural, Gereja Sinta merupakan perpaduan antara gaya kolonial Eropa dengan adaptasi material lokal yang sangat kuat. Bangunan aslinya mengusung konsep Indische Empire, namun disesuaikan dengan iklim tropis Kalimantan yang lembap. Struktur utama gereja ini didominasi oleh kayu ulin (Eusideroxylon zwageri) atau kayu besi, yang merupakan material konstruksi paling prestisius dan tahan lama di Kalimantan.
Salah satu ciri khas yang paling menonjol adalah bentuk jendela dan pintu yang tinggi dengan ventilasi yang lebar, memungkinkan sirkulasi udara optimal di tengah cuaca panas. Menara gereja yang menjulang menjadi markah tanah (landmark) di Kuala Kapuas, yang di puncaknya sering kali terdapat simbol salib yang dapat dilihat dari kejauhan, bahkan dari arah sungai. Bagian interior gereja menampilkan langit-langit tinggi tanpa plafon masif, memperlihatkan kerangka kayu yang disusun dengan teknik pertukangan tingkat tinggi, mencerminkan ketelitian para tukang lokal yang dibimbing oleh arsitek misionaris.
#
Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting
Gereja Sinta menjadi saksi berbagai peristiwa krusial dalam sejarah Kalimantan Tengah. Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), gereja ini sempat mengalami masa sulit di mana aktivitas keagamaan dibatasi dan beberapa fasilitasnya dialihfungsikan oleh militer Jepang. Namun, bangunan ini tetap kokoh berdiri melewati gejolak perang kemerdekaan.
Paling signifikan, Gereja Sinta adalah rahim bagi lahirnya Gereja Kalimantan Evangelis (GKE). Di sinilah koordinasi antarjemaat di sepanjang sungai-sungai besar di Kalimantan dilakukan. Gereja ini juga menjadi pusat pendidikan, di mana para misionaris tidak hanya mengajarkan Alkitab, tetapi juga literasi dan kesehatan, yang kemudian melahirkan kaum intelektual Dayak pertama yang berperan dalam pembentukan Provinsi Kalimantan Tengah pada tahun 1957.
#
Tokoh dan Periode Terkait
Beberapa tokoh penting yang namanya terpatri dalam sejarah Gereja Sinta antara lain adalah Pendeta Eduard Kriele dan tokoh-tokoh misionaris RMG yang kemudian dilanjutkan oleh Basel Mission dari Swiss. Di kalangan lokal, nama-nama seperti tokoh Dayak yang menjadi penatua gereja di masa awal kemerdekaan turut menjaga keberlangsungan gereja ini sebagai institusi sosial.
Periode emas Gereja Sinta terjadi pada pertengahan abad ke-20, ketika ia berfungsi sebagai "Gereja Induk" bagi stasi-stasi penginjilan di pedalaman Kapuas. Gereja ini menjadi tempat pertemuan besar sinode-sinode awal yang menentukan arah kebijakan gereja di tanah borneo.
#
Status Preservasi dan Upaya Restorasi
Sebagai situs sejarah yang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya oleh pemerintah daerah, Gereja Sinta mendapatkan perhatian khusus dalam hal pelestarian. Meskipun telah mengalami beberapa kali renovasi untuk memperbaiki bagian-bagian kayu yang lapuk atau mengganti atap sirap yang rusak, keaslian bentuk fasadnya tetap dipertahankan.
Pemerintah Kabupaten Kapuas bersama dengan Majelis Jemaat GKE secara rutin melakukan perawatan untuk memastikan struktur kayu ulinnya tetap kuat. Tantangan terbesar dalam preservasi adalah ancaman pelapukan akibat kelembapan tinggi dan perubahan lingkungan di sekitar bantaran sungai. Upaya restorasi terakhir difokuskan pada pengembalian warna asli bangunan dan penataan halaman agar tetap sesuai dengan estetika masa lalu, namun tetap fungsional untuk kegiatan jemaat modern.
#
Nilai Budaya dan Religius
Bagi masyarakat Kapuas, Gereja Sinta lebih dari sekadar tempat ibadah mingguan. Ia adalah simbol identitas. Bagi warga Dayak Kristen, gereja ini adalah monumen transformasi budaya dari tradisi luhur nenek moyang menuju peradaban yang berlandaskan kasih Kristiani. Keberadaan gereja ini juga menunjukkan potret toleransi yang tinggi di Kalimantan Tengah; letaknya yang seringkali berdekatan dengan pemukiman muslim dan pusat perdagangan menunjukkan harmoni sosial yang telah terjaga selama lebih dari satu abad.
Setiap perayaan besar seperti Natal dan Paskah, Gereja Sinta menjadi pusat perhatian, di mana tradisi lokal sering kali berpadu dengan liturgi gerejawi, menciptakan suasana religius yang khas Kalimantan. Kidung-kidung dalam bahasa Dayak Ngaju yang bergema di dalam dinding kayu tua ini menciptakan resonansi spiritual yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.
#
Kesimpulan
Gereja Sinta di Kapuas adalah permata sejarah yang tak ternilai. Melalui arsitektur kayu ulinnya yang megah dan narasi sejarah yang melekat padanya, ia menceritakan kisah tentang ketahanan, adaptasi, dan iman. Sebagai situs sejarah, ia mengingatkan generasi muda Kalimantan Tengah akan akar sejarah mereka, sekaligus mengajak semua pihak untuk terus menjaga warisan fisik dan nilai-nilai kasih yang diwakilinya. Menjaga Gereja Sinta berarti menjaga ingatan kolektif tentang bagaimana sebuah masyarakat dibangun di atas fondasi spiritualitas dan persaudaraan.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Kapuas
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Kapuas
Pelajari lebih lanjut tentang Kapuas dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Kapuas