Benteng Van der Wijck
di Kebumen, Jawa Tengah
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Jejak Megah Benteng Van der Wijck: Saksi Bisu Kolonialisme di Gombong
Benteng Van der Wijck bukan sekadar tumpukan bata merah kuno yang berdiri kokoh di Gombong, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Situs sejarah ini merupakan salah satu peninggalan militer Hindia Belanda yang paling unik di Indonesia, baik dari segi arsitektur maupun nilai historisnya. Sebagai benteng pertahanan yang telah melewati berbagai zaman, bangunan ini menjadi saksi bisu transformasi kekuasaan dari era kolonial Belanda, pendudukan Jepang, hingga masa kemerdekaan Republik Indonesia.
#
Asal-Usul dan Periode Pembangunan
Sejarah Benteng Van der Wijck bermula pada awal abad ke-19. Awalnya, bangunan ini bukanlah sebuah benteng pertahanan yang masif, melainkan kantor perdagangan Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) atau maskapai perdagangan Hindia Belanda. Namun, pecahnya Perang Diponegoro atau Perang Jawa (1825–1830) mengubah fungsi strategis wilayah Gombong.
Jenderal Frans David Cochius, seorang ahli strategi militer Belanda, menyadari pentingnya Gombong sebagai titik logistik dan pertahanan untuk memutus jalur gerilya pasukan Pangeran Diponegoro di wilayah Bagelen dan sekitarnya. Pada tahun 1818, pembangunan dimulai dan secara bertahap bangunan ini dialihfungsikan menjadi barak militer dan benteng pertahanan. Nama "Van der Wijck" sendiri diambil dari nama Carel Herman Aart van der Wijck, seorang tokoh militer Belanda yang menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada periode 1893-1899, sebagai bentuk penghormatan atas jasanya dalam memperkuat pertahanan kolonial.
#
Keunikan Arsitektur: Bentuk Oktagon yang Ikonik
Salah satu aspek paling menonjol dari Benteng Van der Wijck adalah gaya arsitekturnya. Berbeda dengan benteng-benteng Belanda lainnya yang umumnya berbentuk persegi atau bintang (bastion), Benteng Van der Wijck memiliki bentuk oktagon atau segi delapan beraturan. Bentuk ini sangat jarang ditemukan di Indonesia dan dirancang untuk memberikan sudut pandang 360 derajat bagi penjaga agar tidak ada titik buta (blind spot) saat memantau musuh.
Benteng ini dibangun sepenuhnya menggunakan bata merah tanpa plesteran luar, yang memberikan kesan estetika yang kuat sekaligus kokoh. Luas bangunan mencapai sekitar 3.606 meter persegi dengan ketinggian mencapai 10 meter. Struktur bangunan terdiri dari dua lantai; lantai bawah digunakan sebagai barak prajurit, ruang logistik, dan kantor, sementara lantai atas berfungsi sebagai benteng pertahanan utama yang dilengkapi dengan lubang-lubang pengintai dan tempat meletakkan meriam.
Ketebalan dindingnya mencapai 1,4 meter, dirancang untuk menahan gempuran meriam berat pada masanya. Di bagian tengah benteng terdapat halaman terbuka luas yang berfungsi sebagai tempat apel prajurit atau latihan militer. Keunikan lainnya adalah atap benteng yang datar dan terbuat dari beton tebal, yang kini telah dilengkapi dengan rel kereta mini untuk wisatawan—sebuah inovasi modern yang tidak mengubah struktur asli namun memberikan pengalaman berbeda.
#
Signifikansi Historis dan Peristiwa Penting
Selama Perang Diponegoro, benteng ini berfungsi sebagai pusat koordinasi taktik Stelsel Benteng (Benteng Stelsel). Strategi ini bertujuan untuk mempersempit ruang gerak pasukan Diponegoro dengan membangun benteng-benteng kecil yang saling terhubung di setiap wilayah yang berhasil dikuasai Belanda. Gombong menjadi pangkalan utama karena letaknya yang strategis di jalur selatan Jawa.
Setelah Perang Jawa berakhir, benteng ini bertransformasi menjadi Pupillen School, sebuah sekolah militer khusus untuk anak-anak keturunan Eropa dan pribumi dari kalangan bangsawan yang dipersiapkan menjadi bintara militer Hindia Belanda (KNIL). Sekolah ini beroperasi hingga masuknya tentara Jepang ke Indonesia pada tahun 1942.
Pada masa pendudukan Jepang (1942–1945), benteng ini beralih fungsi menjadi kamp pelatihan bagi tentara PETA (Pembela Tanah Air). Setelah Indonesia merdeka, kompleks benteng ini dikuasai oleh TNI dan sempat digunakan sebagai barak bagi Angkatan Darat. Sejarah mencatat bahwa banyak tokoh militer penting Indonesia yang pernah mengenyam pendidikan atau bertugas di lingkungan militer Gombong ini.
#
Pelestarian dan Status Saat Ini
Pemerintah Kabupaten Kebumen bekerja sama dengan pihak swasta dan TNI melakukan upaya restorasi besar-besaran pada akhir tahun 1990-an. Sejak tahun 2000, Benteng Van der Wijck resmi dibuka sebagai objek wisata sejarah dan budaya. Meskipun telah mengalami pemugaran, keaslian struktur bangunan tetap dipertahankan. Warna merah bata yang mendominasi seluruh permukaan bangunan menjadi ciri khas yang sangat fotogenik dan menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara.
Saat ini, benteng ini dikelola sebagai situs wisata edukasi. Di dalam kompleks benteng, pengunjung dapat melihat sisa-sisa penjara bawah tanah, ruang amunisi, dan barak-barak tua. Keberadaan hotel dan taman bermain di sekitar area benteng memang memberikan nuansa modern, namun inti dari nilai sejarah benteng ini tetap terjaga melalui pemeliharaan dinding-dinding tua dan struktur oktagonnya yang megah.
#
Fakta Unik dan Budaya Populer
Satu fakta unik yang mungkin tidak banyak diketahui adalah bahwa Benteng Van der Wijck pernah menjadi lokasi syuting film laga kolosal Indonesia, The Raid 2: Berandal. Lorong-lorong benteng yang panjang dan atmosfernya yang suram namun megah memberikan latar belakang visual yang sangat kuat untuk adegan penjara dalam film tersebut.
Secara kultural, benteng ini menjadi identitas bagi warga Gombong dan Kebumen. Situs ini membuktikan bahwa Kebumen memiliki peran vital dalam peta sejarah militer Nusantara. Keberadaan benteng ini juga menjadi pengingat akan kerasnya perjuangan rakyat melawan penjajahan, serta bagaimana sebuah bangunan kolonial dapat bertransformasi menjadi aset edukasi bagi generasi mendatang.
#
Kesimpulan
Benteng Van der Wijck adalah mahakarya arsitektur militer yang melampaui fungsinya sebagai alat perang. Dengan bentuk segi delapan yang unik, dinding bata merah yang ikonik, dan sejarah panjang yang mencakup tiga zaman, benteng ini berdiri sebagai monumen peringatan akan kompleksitas sejarah Indonesia. Pelestarian situs ini sangat krusial agar generasi masa depan dapat memahami bahwa kemerdekaan Indonesia diraih melalui proses yang panjang, melibatkan sengketa wilayah, strategi militer yang canggih, dan ketahanan fisik bangunan-bangunan seperti Benteng Van der Wijck di jantung Jawa Tengah.
📋 Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Kebumen
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Kebumen
Pelajari lebih lanjut tentang Kebumen dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Kebumen