Situs Sejarah

Monumen Perjuangan Desa Tebat Monok

di Kepahiang, Bengkulu

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Perlawanan Rakyat di Monumen Perjuangan Desa Tebat Monok

Monumen Perjuangan Desa Tebat Monok berdiri bukan sekadar sebagai struktur beton di pinggir jalan lintas yang menghubungkan Kabupaten Kepahiang dengan Kota Bengkulu. Situs ini merupakan representasi fisik dari memori kolektif masyarakat Rejang di dataran tinggi pegunungan Bukit Barisan dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Terletak di Desa Tebat Monok, Kecamatan Kepahiang, monumen ini menjadi saksi bisu betapa sengitnya perlawanan gerilya yang dilakukan oleh rakyat setempat melawan agresi militer penjajah.

#

Latar Belakang Sejarah dan Periode Pendirian

Sejarah berdirinya Monumen Perjuangan Desa Tebat Monok berakar pada peristiwa pasca-proklamasi 17 Agustus 1945, khususnya selama masa Agresi Militer Belanda I dan II (1947–1949). Wilayah Kepahiang, yang secara geografis merupakan pintu masuk strategis menuju pedalaman Bengkulu dan Sumatra Selatan, menjadi zona pertempuran yang panas. Desa Tebat Monok dipilih sebagai lokasi monumen karena wilayah ini dulunya merupakan garis depan pertahanan dan tempat terjadinya penyergapan besar-beruntun terhadap konvoi militer Belanda.

Monumen ini diinisiasi dan dibangun pada era Orde Baru oleh Pemerintah Daerah bersama legiun veteran setempat untuk mengabadikan semangat patriotisme rakyat Kepahiang. Pembangunannya bertujuan agar generasi muda tidak melupakan bahwa kemerdekaan di tanah Rejang ini ditebus dengan darah dan air mata, bukan sekadar pemberian cuma-cuma dari penjajah.

#

Arsitektur dan Detail Konstruksi

Secara arsitektural, Monumen Perjuangan Desa Tebat Monok mengusung gaya realisme heroik yang khas dengan monumen-monumen perjuangan di Indonesia pada masanya. Struktur utamanya terdiri dari sebuah tugu yang menjulang tinggi dengan puncak yang menyerupai bambu runcing atau terkadang diinterpretasikan sebagai bentuk kobaran api semangat yang tak kunjung padam.

Pada bagian dinding monumen, terdapat relief-relief yang dipahat dengan detail untuk menggambarkan kronologi perjuangan. Relief tersebut menampilkan adegan rakyat yang bersenjatakan peralatan seadanya—seperti parang, tombak, dan bambu runcing—bahu-membahu dengan tentara reguler dalam melakukan taktik gerilya. Konstruksi tugu ini menggunakan material beton cor yang kokoh dengan lapisan semen yang dicat, mencerminkan ketangguhan tekad para pejuang. Di sekitar monumen terdapat pelataran yang sering digunakan untuk upacara peringatan hari besar nasional, memberikan kesan khidmat bagi siapa pun yang berkunjung.

#

Signifikansi Historis dan Peristiwa Penting

Signifikansi utama dari situs ini adalah sebagai pengingat akan "Pertempuran Tebat Monok". Salah satu fakta unik yang jarang diketahui secara luas adalah efektivitas taktik hit and run (tabrak lari) yang diterapkan oleh pejuang lokal di kawasan hutan sekitar Tebat Monok. Karena topografinya yang berbukit dan rimbun, para pejuang memanfaatkan kelokan tajam di jalanan Tebat Monok untuk menjebak truk-truk militer Belanda yang melintas dari arah Pelabuhan Pulau Baai menuju pusat kota Kepahiang.

Peristiwa yang paling dikenang adalah ketika para pejuang berhasil melumpuhkan komunikasi logistik Belanda dengan merusak jembatan-jembatan kecil di sekitar desa, memaksa konvoi musuh berhenti di titik yang sudah dikepung. Keberanian rakyat Tebat Monok dalam memberikan informasi intelijen mengenai pergerakan musuh kepada Tentara Keamanan Rakyat (TKR) menjadi kunci keberhasilan operasi-operasi militer di wilayah ini.

#

Tokoh dan Periode Terkait

Situs ini berkaitan erat dengan tokoh-tokoh militer dan pejuang lokal Bengkulu, seperti Letnan Kolonel Santoso dan para komandan kompi yang beroperasi di wilayah Sub-Teritorial Bengkulu (STB). Selain militer formal, monumen ini juga memberikan penghormatan kepada para "Pejuang Tak Dikenal"—petani dan penduduk desa Tebat Monok yang merelakan rumah mereka menjadi dapur umum atau pos pengintai bagi para gerilyawan.

Keterkaitan periode sejarahnya sangat kuat dengan masa Revolusi Fisik. Saat itu, Kepahiang merupakan basis pertahanan penting karena posisinya yang tinggi (pegunungan), yang memungkinkan para pejuang memantau pergerakan musuh dari dataran rendah pesisir Bengkulu.

#

Upaya Pelestarian dan Restorasi

Sebagai sebuah situs sejarah di bawah naungan Pemerintah Kabupaten Kepahiang, Monumen Perjuangan Desa Tebat Monok telah mengalami beberapa kali renovasi untuk menjaga estetika dan kekokohan strukturnya. Restorasi biasanya difokuskan pada pengecatan ulang relief agar detail cerita perjuangan tetap terbaca dengan jelas, serta pembersihan area taman di sekeliling tugu.

Meskipun terkadang terkendala anggaran, masyarakat setempat memiliki kesadaran tinggi untuk menjaga kebersihan situs ini. Keberadaan monumen ini juga didaftarkan sebagai objek sejarah yang dilindungi, guna mencegah alih fungsi lahan di sekitarnya yang dapat merusak pemandangan historis situs tersebut. Pemerintah daerah terus berupaya mengintegrasikan monumen ini sebagai bagian dari rute wisata sejarah di Kabupaten Kepahiang.

#

Makna Budaya dan Sosial

Bagi masyarakat Desa Tebat Monok dan Kabupaten Kepahiang pada umumnya, monumen ini memiliki nilai budaya sebagai simbol identitas "Wong Kito" yang memiliki harga diri tinggi dan anti-penjajahan. Secara sosial, monumen ini berfungsi sebagai pusat edukasi luar ruangan bagi sekolah-sekolah di wilayah sekitar. Setiap tanggal 17 Agustus atau Hari Pahlawan 10 November, situs ini menjadi pusat perhatian di mana nilai-nilai luhur kepahlawanan ditransformasikan kepada generasi penerus.

Keberadaan monumen ini di tengah pemukiman warga juga menciptakan ikatan emosional bahwa perjuangan bukan hanya milik tentara, melainkan milik seluruh elemen desa. Secara simbolis, monumen ini menegaskan bahwa kemajuan yang dirasakan oleh warga Kepahiang saat ini adalah buah dari keberanian para leluhur mereka yang bertempur di hutan-hutan Tebat Monok puluhan tahun silam.

#

Kesimpulan Fakta Unik

Satu hal yang membedakan Monumen Perjuangan Desa Tebat Monok dengan tugu lainnya adalah lokasinya yang berada tepat di jalur perlintasan utama. Hal ini secara filosofis menunjukkan bahwa perjuangan rakyat tidak terjadi di tempat tersembunyi, melainkan di jalan-jalan yang setiap hari dilalui oleh anak cucu mereka. Monumen ini adalah pengingat harian bagi setiap pelintas jalan bahwa di bawah aspal dan di balik rimbunnya pohon kopi di Tebat Monok, pernah ada sejarah besar yang menentukan nasib bangsa Indonesia di ujung barat Sumatra.

📋 Informasi Kunjungan

address
Desa Tebat Monok, Kecamatan Kepahiang, Kabupaten Kepahiang
entrance fee
Gratis
opening hours
Setiap hari, 24 Jam

Tempat Menarik Lainnya di Kepahiang

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Kepahiang

Pelajari lebih lanjut tentang Kepahiang dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Kepahiang