Kepahiang
CommonDipublikasikan: Januari 2025
History
#
Sejarah dan Perkembangan Kepahiang: Permata Pegunungan Bengkulu
Kepahiang merupakan sebuah kabupaten di Provinsi Bengkulu yang memiliki akar sejarah mendalam, membentang dari era tradisional hingga transformasi modernnya sebagai daerah otonom. Terletak di dataran tinggi barisan pegunungan, wilayah seluas 757,64 km² ini secara geografis tidak berbatasan dengan laut, namun memiliki peran strategis sebagai penghubung antara pesisir barat Sumatera dengan wilayah pedalaman.
##
Asal-Usul Nama dan Era Tradisional
Nama "Kepahiang" secara etimologis berasal dari bahasa lokal yang merujuk pada tanaman keluak atau Pangium edule. Dalam bahasa Rejang, tanaman ini disebut "Kayu Kepahiang". Sebelum kedatangan bangsa Eropa, wilayah ini merupakan bagian dari tanah ulayat suku Rejang, salah satu suku tertua di Sumatera. Masyarakatnya hidup dalam sistem pemerintahan tradisional yang disebut Kedatuan atau Kemargaan, di mana hukum adat Rejang menjadi landasan kehidupan sosial dan pengelolaan sumber daya alam.
##
Masa Kolonialisme dan Perkebunan
Signifikansi Kepahiang meningkat pesat pada masa kolonial Belanda. Karena iklimnya yang sejuk dan tanah vulkanik yang subur, pemerintah Hindia Belanda menjadikan wilayah ini sebagai pusat perkebunan komoditas ekspor. Pada akhir abad ke-19, pembukaan lahan besar-besaran dilakukan untuk perkebunan kopi dan teh. Salah satu peninggalan era ini adalah bangunan pabrik pengolahan di Kabawetan yang masih meninggalkan jejak arsitektur kolonial. Pada masa ini, Kepahiang berada di bawah struktur administrasi Onderafdeeling Rejang Lebong. Kehadiran Belanda juga membawa infrastruktur jalan yang membelah perbukitan, menghubungkan Bengkulu (Bencoolen) dengan Palembang.
##
Perjuangan Kemerdekaan dan Tokoh Kunci
Selama masa revolusi fisik (1945–1949), Kepahiang menjadi basis pertahanan pejuang kemerdekaan. Letaknya yang berada di jalur perlintasan membuatnya menjadi medan pertempuran sengit untuk menghalangi pergerakan pasukan Belanda menuju pedalaman. Tokoh lokal seperti Letnan Kolonel Santoso memiliki peran krusial dalam mengorganisir perlawanan rakyat di wilayah ini. Masyarakat Kepahiang terlibat aktif dalam menyuplai logistik bagi para gerilyawan yang bersembunyi di hutan-hutan sekitar lereng Gunung Kaba.
##
Pembentukan Daerah Otonom dan Modernisasi
Secara administratif, Kepahiang dulunya merupakan bagian dari Kabupaten Rejang Lebong. Namun, semangat reformasi dan aspirasi masyarakat untuk mempercepat pembangunan memicu gerakan pemekaran. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2003, Kepahiang resmi berdiri sebagai kabupaten mandiri pada tanggal 7 Januari 2004. Sejak saat itu, pembangunan infrastruktur seperti Tugu Kopi di pusat kota menjadi simbol identitas daerah sebagai penghasil kopi utama di Bengkulu.
##
Warisan Budaya dan Identitas
Warisan sejarah Kepahiang tercermin dalam pelestarian adat Rejang dan situs-situs bersejarah. Tradisi "Kejei", sebuah tarian sakral yang biasanya dilakukan dalam upacara adat besar, tetap dijaga sebagai identitas kolektif. Selain itu, hubungan erat wilayah ini dengan alam terlihat dari perlindungan terhadap bunga raksasa Rafflesia arnoldii yang sering ditemukan di kawasan hutan lindung liku sembilan, yang secara historis menjadi bagian dari narasi botani dunia sejak ditemukan oleh Stamford Raffles dan Joseph Arnold.
Kini, Kepahiang berdiri sebagai kabupaten yang mandiri dengan lima wilayah tetangga yang berbatasan langsung, yakni Kabupaten Rejang Lebong, Kabupaten Empat Lawang (Sumatera Selatan), Kabupaten Lahat (Sumatera Selatan), Kabupaten Seluma, dan Kabupaten Bengkulu Tengah. Transformasi dari pusat perkebunan kolonial menjadi kabupaten modern menunjukkan ketangguhan masyarakat Kepahiang dalam mengarungi arus sejarah Indonesia.
Geography
#
Geografi Kabupaten Kepahiang: Jantung Pegunungan Bengkulu
Kabupaten Kepahiang merupakan salah satu wilayah administratif di Provinsi Bengkulu yang memiliki karakteristik geografis unik sebagai daerah pedalaman. Dengan luas wilayah mencapai 757,64 km², kabupaten ini secara astronomis terletak pada koordinat 3°23'23" – 3°43'53" Lintang Selatan dan 102°24'40" – 102°46'05" Bujur Timur. Sebagai daerah yang tidak berbatasan dengan garis pantai (landlocked), Kepahiang terletak di bagian barat Provinsi Bengkulu dan dikelilingi oleh lima wilayah administratif tetangga, yaitu Kabupaten Rejang Lebong di utara, Kabupaten Musi Rawas (Sumatera Selatan) di timur, Kabupaten Empat Lawang (Sumatera Selatan) di tenggara, Kabupaten Seluma di selatan, dan Kabupaten Bengkulu Tengah di barat.
##
Topografi dan Bentang Alam
Kepahiang didominasi oleh topografi dataran tinggi yang merupakan bagian dari rangkaian Pegunungan Bukit Barisan. Wilayah ini berada pada ketinggian rata-rata 400 hingga 1.500 meter di atas permukaan laut. Fitur geomorfologi yang paling mencolok adalah keberadaan Gunung Kaba, sebuah gunung api aktif yang puncaknya menawarkan pemandangan kawah ganda yang eksotis. Selain pegunungan, wilayah ini dicirikan oleh lembah-lembah subur dan perbukitan bergelombang yang terbentuk dari aktivitas vulkanik masa lampau. Sungai Musi yang legendaris memiliki hulu di wilayah ini, tepatnya di Pegunungan Bukit Daun, yang kemudian mengalir membelah daratan dan menjadi urat nadi drainase utama bagi kawasan tersebut.
##
Iklim dan Pola Cuaca
Karena lokasinya yang berada di ketinggian, Kepahiang memiliki iklim tropis pegunungan yang cenderung sejuk dan lembap. Suhu udara rata-rata berkisar antara 18°C hingga 28°C, jauh lebih rendah dibandingkan wilayah pesisir Bengkulu. Curah hujan di wilayah ini tergolong tinggi, dengan pola musim yang dipengaruhi oleh angin muson. Musim hujan biasanya berlangsung dari Oktober hingga April, memberikan pasokan air yang melimpah bagi ekosistem hutan hujan tropis dan sektor pertanian lokal. Kabut tebal seringkali menyelimuti lembah-lembah di pagi hari, menciptakan mikroklimat yang mendukung pertumbuhan vegetasi tertentu.
##
Sumber Daya Alam dan Biodiversitas
Kekayaan alam Kepahiang bertumpu pada sektor agraris dan kehutanan. Tanah vulkanik yang kaya unsur hara menjadikan wilayah ini sebagai sentra produksi kopi robusta dan teh di Sumatera. Selain itu, terdapat potensi panas bumi (geotermal) di sekitar kawasan Gunung Kaba yang menjadi sumber energi terbarukan. Secara ekologis, Kepahiang merupakan rumah bagi flora langka Rafflesia arnoldii dan Rafflesia gadutensis yang sering ditemukan mekar di kawasan hutan lindung maupun cagar alam seperti Taman Wisata Alam (TWA) Bukit Kaba. Keanekaragaman hayati di zona ekologi ini mencakup berbagai spesies burung endemik dan primata yang menghuni tutupan hutan primer yang masih terjaga di lereng-lereng pegunungan.
Culture
#
Kekayaan Budaya Kepahiang: Jantung Tradisi di Tanah Rejang
Kepahiang, sebuah kabupaten seluas 757,64 km² yang terletak di dataran tinggi pegunungan Bukit Barisan, merupakan salah satu pilar kebudayaan suku Rejang di Provinsi Bengkulu. Sebagai wilayah yang tidak berbatasan dengan garis pantai, identitas budaya Kepahiang terbentuk dari harmoni antara alam pegunungan yang sejuk dengan nilai-nilai adat yang diwariskan secara turun-temurun.
##
Adat Istiadat dan Upacara Lokal
Masyarakat Kepahiang memegang teguh filsafat "Adat diisi, Lembaga dituang." Salah satu tradisi yang masih lestari adalah upacara Kedurai Agung, sebuah ritual syukuran kolektif yang dilakukan untuk menghormati leluhur dan memohon keberkahan panen. Selain itu, terdapat tradisi Cuak Macak, yakni prosesi adat dalam pernikahan Rejang yang melibatkan negosiasi antara keluarga mempelai dengan bahasa yang puitis dan penuh kiasan. Kehidupan sosial di sini diatur oleh Bumei Kutei, sebuah tatanan masyarakat komunal yang sangat menghargai musyawarah.
##
Kesenian dan Warisan Pertunjukan
Kepahiang memiliki kekayaan seni pertunjukan yang khas, salah satunya adalah Tari Kejei. Tarian ini merupakan tarian sakral yang dahulu hanya dipentaskan dalam acara pengangkatan Biku (pemimpin adat) atau pernikahan bangsawan. Uniknya, Tari Kejei dilakukan berpasangan dengan gerakan yang gemulai namun penuh wibawa, diiringi oleh alat musik tradisional seperti gong, kelintang, dan redap. Selain itu, terdapat seni Gitar Tunggal yang sering membawakan lagu-lagu bertema kerinduan atau nasihat kehidupan dalam dialek lokal.
##
Kuliner Khas dan Cita Rasa Pegunungan
Geografi Kepahiang yang dingin sangat memengaruhi kulinernya. Makanan yang paling ikonik adalah Lema. Berbeda dengan kuliner Bengkulu pesisir, Lema khas Kepahiang terbuat dari rebung (bambu muda) yang dicincang dan dicampur dengan ikan mujair atau sepat, kemudian difermentasi dalam lubang bambu. Hasilnya adalah cita rasa asam pedas yang unik dengan aroma yang menyengat namun menggugah selera. Selain itu, Kepahiang dikenal sebagai penghasil kopi Robusta terbaik, di mana budaya "Ngopi" telah menjadi bagian integral dari interaksi sosial warga di kedai-kedai tradisional.
##
Bahasa dan Ekspresi Lokal
Bahasa dominan yang digunakan adalah Bahasa Rejang dialek Kepahiang (Rejang Ho). Keunikan bahasa ini terletak pada adanya aksara asli yang disebut Ka-Ga-Nga. Hingga kini, beberapa tetua adat masih mampu menuliskan mantra atau silsilah keluarga menggunakan aksara kuno ini pada media bambu atau kulit kayu. Penggunaan kata "Oi" sebagai sapaan akrab atau penekanan dalam kalimat menjadi ciri khas komunikasi sehari-hari masyarakat setempat.
##
Tekstil dan Busana Tradisional
Dalam acara adat, masyarakat Kepahiang mengenakan busana tradisional yang didominasi warna merah, hitam, dan emas. Kain yang digunakan adalah Batik Besurek dengan motif khas Kepahiang yang mengombinasikan kaligrafi Arab dengan gambar Bunga Rafflesia atau motif pucuk rebung. Kaum wanita biasanya mengenakan sunting atau hiasan kepala yang disebut Keloak Paku, sementara kaum pria mengenakan penutup kepala yang disebut Destar.
##
Keagamaan dan Festival Budaya
Meskipun mayoritas beragama Islam, praktik budaya di Kepahiang sering kali berakulturasi dengan tradisi lokal. Festival tahunan seperti Festival Bukit Kaba sering menjadi ajang untuk memamerkan potensi budaya, mulai dari lomba memasak Lema hingga paguluran seni tradisional, yang menarik wisatawan ke wilayah barat Bengkulu ini.
Tourism
Menjelajahi Pesona Kepahiang: Permata Pegunungan di Bengkulu
Terletak di bagian barat Pulau Sumatera, Kabupaten Kepahiang merupakan wilayah dataran tinggi di Provinsi Bengkulu yang menawarkan kesejukan udara dan panorama alam yang memukau. Dengan luas wilayah 757,64 km², kabupaten ini berbatasan langsung dengan lima wilayah administratif, termasuk Kabupaten Rejang Lebong dan Empat Lawang. Meskipun tidak memiliki garis pantai, Kepahiang menyimpan kekayaan alam berupa pegunungan dan air terjun yang menjadikannya destinasi unggulan bagi pencinta ekowisata.
#
Keajaiban Alam dan Petualangan Air Terjun
Kepahiang dijuluki sebagai negeri di atas awan berkat topografinya yang berbukit. Salah satu daya tarik utamanya adalah Kebun Teh Kabawetan. Di sini, pengunjung dapat berjalan menyusuri hamparan hijau yang luas sembari menikmati udara pegunungan yang bersih. Bagi pencinta tantangan, Air Terjun Sengkuang dan Air Terjun Curug Embun menawarkan kesegaran air pegunungan yang jatuh di antara tebing-tebing batu yang eksotis. Pengalaman unik yang tidak boleh dilewatkan adalah mencari bunga raksasa Rafflesia Arnoldii yang sering mekar di kawasan hutan lindung Boven Lais, sebuah fenomena langka yang menjadi ikon kebanggaan masyarakat setempat.
#
Warisan Budaya dan Sejarah
Secara kultural, Kepahiang memiliki jejak sejarah yang kuat. Wisatawan dapat mengunjungi situs bersejarah seperti bendungan peninggalan kolonial Belanda di PLTA Musi. Selain itu, kehidupan masyarakat Suku Rejang yang harmonis memberikan warna tersendiri. Pengunjung dapat melihat arsitektur rumah tradisional dan memahami kearifan lokal dalam menjaga ekosistem hutan. Meskipun tidak memiliki candi besar, keberadaan makam-makam kuno dan cerita rakyat tentang asal-usul nama Kepahiang (dari pohon kluwak/kepayang) memberikan kedalaman sejarah bagi para penjelajah budaya.
#
Wisata Kuliner dan Aroma Kopi
Kepahiang adalah surga bagi pencinta kopi. Sebagai salah satu penghasil kopi terbaik di Bengkulu, mencicipi Kopi Robusta Kepahiang langsung di kedai lokal adalah keharusan. Untuk makanan khas, cobalah Lemea, hidangan unik berbahan dasar rebung yang difermentasi dengan ikan air tawar, memberikan cita rasa asam pedas yang autentik. Jangan lupa mencicipi olahan ikan sidat yang menjadi komoditas unggulan sungai-sungai di wilayah ini.
#
Akomodasi dan Waktu Terbaik Berkunjung
Keramahtamahan penduduk lokal tercermin dari menjamurnya *homestay* di sekitar kawasan Kabawetan, yang memungkinkan wisatawan merasakan kehidupan pedesaan yang tenang. Tersedia pula hotel-hotel melati di pusat kota dengan fasilitas yang memadai. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pada Mei hingga September saat musim kemarau, guna memastikan akses menuju air terjun tetap aman dan pemandangan pegunungan tidak tertutup kabut tebal. Jika beruntung, kunjungan Anda mungkin bertepatan dengan festival tahunan "Mountain Valley" yang menampilkan berbagai atraksi seni dan pameran kopi lokal.
Economy
#
Profil Ekonomi Kabupaten Kepahiang, Bengkulu
Kabupaten Kepahiang, yang terletak di bagian barat Provinsi Bengkulu, merupakan wilayah pedalaman seluas 757,64 km² yang tidak memiliki garis pantai. Terletak di dataran tinggi Bukit Barisan, kabupaten ini berbatasan langsung dengan lima wilayah administratif, termasuk Kabupaten Rejang Lebong dan Empat Lawang. Karakteristik geografisnya yang berbukit dengan tanah vulkanis subur menjadikan sektor agraris sebagai tulang punggung utama perekonomian daerah.
##
Sektor Pertanian dan Perkebunan Unggulan
Sektor pertanian menyumbang porsi terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kepahiang. Komoditas primadona wilayah ini adalah kopi Robusta dan kopi Arabika. Kopi Kepahiang telah dikenal secara nasional karena cita rasanya yang khas, didukung oleh ketinggian lahan yang optimal. Selain kopi, lada dan kakao juga menjadi pilar pendapatan petani lokal. Di sektor hortikultura, Kepahiang merupakan pemasok utama sayur-mayur seperti kubis, cabai, dan tomat untuk wilayah Bengkulu serta provinsi tetangga, berkat iklimnya yang sejuk.
##
Pengembangan Industri dan Produk Lokal
Industri di Kepahiang didominasi oleh pengolahan hasil perkebunan skala kecil dan menengah (UMKM). Terdapat konsentrasi pada industri pengolahan bubuk kopi merek lokal yang mulai merambah pasar digital. Selain itu, kerajinan tradisional seperti anyaman bambu dan pemanfaatan limbah kayu sisa perkebunan menjadi produk bernilai tambah terus dikembangkan. Keunikan ekonomi lainnya adalah budidaya jamur tiram dan industri rumah tangga pengolahan gula aren (gula merah) yang menjadi mata pencaharian signifikan di tingkat desa.
##
Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
Meskipun tidak memiliki ekonomi maritim, Kepahiang mengoptimalkan potensi wisata alam sebagai penggerak ekonomi baru. Keberadaan Kebun Teh Kabawetan menjadi magnet wisatawan yang mendorong tumbuhnya sektor jasa, penginapan, dan kuliner. Fenomena bunga Rafflesia arnoldii yang sering mekar di kawasan hutan lindung liku sembilan juga menciptakan peluang ekonomi berbasis konservasi dan pemanduan wisata bagi masyarakat setempat.
##
Infrastruktur, Transportasi, dan Ketenagakerjaan
Posisi Kepahiang sangat strategis karena dilalui oleh jalan lintas provinsi yang menghubungkan Kota Bengkulu dengan Lubuklinggau (Sumatera Selatan). Infrastruktur jalan ini krusial bagi distribusi komoditas pertanian menuju pelabuhan atau pasar luar daerah. Tren ketenagakerjaan menunjukkan pergeseran perlahan dari buruh tani tradisional menuju sektor jasa dan perdagangan, seiring dengan peningkatan aksesibilitas wilayah. Pembangunan pasar sentral dan peningkatan fasilitas irigasi menjadi fokus pemerintah daerah untuk menjaga stabilitas ekonomi kerakyatan. Dengan integrasi antara produktivitas lahan dan penguatan hilirisasi industri, Kepahiang terus bertransformasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi penting di koridor barat Sumatera.
Demographics
#
Profil Demografis Kabupaten Kepahiang, Bengkulu
Kabupaten Kepahiang, yang terletak di bagian barat Provinsi Bengkulu dengan luas wilayah mencapai 757,64 km², merupakan daerah dataran tinggi yang tidak memiliki garis pantai. Karakteristik geografis ini sangat memengaruhi pola persebaran dan kepadatan penduduk di wilayah yang berbatasan dengan lima daerah administratif, termasuk Kabupaten Rejang Lebong dan Provinsi Sumatera Selatan.
Ukuran dan Kepadatan Penduduk
Berdasarkan data terbaru, populasi Kepahiang mencapai lebih dari 150.000 jiwa. Dengan luas wilayah yang terbatas dibanding kabupaten tetangga, Kepahiang memiliki tingkat kepadatan penduduk yang cukup tinggi, rata-rata di atas 200 jiwa per km². Konsentrasi penduduk terbesar berada di Kecamatan Kepahiang yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi, sementara wilayah seperti Seberang Musi memiliki kepadatan yang lebih rendah karena didominasi oleh lahan perkebunan.
Komposisi Etnis dan Keberagaman Budaya
Demografi Kepahiang dicirikan oleh heterogenitas yang unik. Meskipun berada di tanah Rejang, komposisi etnisnya merupakan perpaduan antara suku asli Rejang, Serawai, dan populasi transmigran Jawa yang sangat signifikan. Pengaruh migrasi historis selama era kolonial dan program transmigrasi nasional menjadikan bahasa Jawa dan bahasa Rejang sering digunakan berdampingan. Keberagaman ini menciptakan struktur sosial yang harmonis dengan akulturasi budaya dalam tradisi pernikahan dan upacara adat lokal.
Struktur Usia dan Piramida Penduduk
Kabupaten ini memiliki struktur penduduk muda (ekspansif), di mana kelompok usia produktif (15-64 tahun) mendominasi lebih dari 65% total populasi. Angka ketergantungan (dependency ratio) berada pada level yang menguntungkan bagi pembangunan daerah. Namun, tantangan muncul pada kelompok usia sekolah yang membutuhkan ketersediaan infrastruktur pendidikan yang merata di wilayah perbukitan.
Pendidikan dan Literasi
Tingkat melek huruf di Kepahiang telah melampaui angka 96%, mencerminkan akses pendidikan dasar yang baik. Mayoritas penduduk usia produktif adalah lulusan sekolah menengah atas. Meskipun demikian, terdapat kesenjangan pendidikan tinggi antara penduduk di pusat kota dengan wilayah pedesaan yang mengandalkan sektor agraris.
Urbanisasi dan Dinamika Migrasi
Sebagai daerah penghubung antara Kota Bengkulu dan Lubuklinggau, Kepahiang mengalami pola urbanisasi koridor. Migrasi masuk didorong oleh sektor perkebunan kopi dan lada yang menjadi magnet bagi pekerja musiman dari Sumatera Selatan. Sebaliknya, migrasi keluar (out-migration) biasanya dilakukan oleh generasi muda untuk menempuh pendidikan tinggi di luar provinsi. Karakteristik unik Kepahiang adalah statusnya sebagai "kota transit" yang membuat mobilitas harian penduduknya sangat dinamis, memengaruhi perputaran ekonomi lokal secara signifikan.
💡 Fakta Unik
- 1.Salah satu desa di wilayah ini, Belitar Seberang, pernah meraih juara dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia berkat inovasi pengolahan air nira menjadi gula semut yang diekspor.
- 2.Kesenian bela diri tradisional yang disebut Pencak Silat Pat Petuloi merupakan warisan budaya takbenda yang berasal dari suku asli penghuni dataran tinggi ini.
- 3.Wilayah ini merupakan daerah pegunungan yang dikelilingi oleh Bukit Barisan dan memiliki sumber mata air panas alami di kaki Gunung Kaba.
- 4.Kota pusat pemerintahannya dikenal dengan julukan Kota Curup yang sangat terkenal sebagai penghasil sayur-mayur terbesar untuk memasok kebutuhan provinsi tetangga.
Destinasi di Kepahiang
Semua Destinasi→Air Terjun Sengkuang
Tersembunyi di balik rimbunnya hutan tropis, Air Terjun Sengkuang menawarkan kesegaran alami dengan ...
Wisata AlamKebun Teh Kabawetan
Membentang luas bak permadani hijau di lereng bukit, Kebun Teh Kabawetan merupakan warisan kolonial ...
Tempat RekreasiTaman Kota Kepahiang
Pusat denyut nadi kehidupan sosial masyarakat Kepahiang ini menawarkan ruang terbuka hijau yang nyam...
Bangunan IkonikMasjid Agung Baitul Hikmah
Sebagai pusat peribadatan terbesar di kabupaten ini, Masjid Agung Baitul Hikmah memukau dengan arsit...
Situs SejarahMonumen Perjuangan Desa Tebat Monok
Situs bersejarah ini didirikan untuk mengenang jasa para pahlawan lokal dalam mempertahankan kemerde...
Wisata AlamHabitat Bunga Rafflesia Arnoldii
Kepahiang merupakan salah satu titik konservasi alami bagi bunga Rafflesia arnoldii yang langka dan ...
Tempat Lainnya di Bengkulu
Lokasi Serupa
Panduan Perjalanan Terkait
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiUji Pengetahuanmu!
Apakah kamu bisa menebak Kepahiang dari siluet petanya?