Situs Sejarah

Benteng Martello Pulau Kelor

di Kepulauan Seribu, Jakarta

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Asal-Usul dan Konteks Sejarah

Pembangunan Benteng Martello di Pulau Kelor tidak dapat dilepaskan dari dinamika politik global pada abad ke-18 dan ke-19. Nama "Martello" sendiri merujuk pada desain menara pertahanan yang terinspirasi dari menara di Mortella Point, Corsica. Ketika Inggris berhasil memukul mundur pasukan Prancis menggunakan menara tersebut, desain ini kemudian diadopsi oleh berbagai angkatan laut dunia, termasuk Belanda.

Benteng di Pulau Kelor dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1850. Pembangunan ini merupakan bagian dari sistem pertahanan melingkar (ring) untuk melindungi Batavia dari serangan kapal-kapal perang musuh, terutama Inggris, yang saat itu menjadi rival utama Belanda di perairan Asia. Pulau Kelor, yang secara geografis terletak sangat strategis dekat dengan Pulau Onrust dan Pulau Cipir, dipilih sebagai titik pertahanan terdepan karena posisinya yang mampu memantau langsung jalur navigasi kapal menuju pelabuhan Sunda Kelapa.

Karakteristik Arsitektur dan Konstruksi

Secara arsitektural, Benteng Martello Pulau Kelor memiliki keunikan yang membedakannya dari benteng-benteng daratan di Jawa. Benteng ini berbentuk lingkaran (sirkular) dengan diameter sekitar 14 meter. Struktur utamanya dibangun menggunakan batu bata merah berkualitas tinggi yang direkatkan dengan campuran kapur dan pasir, menciptakan dinding yang sangat tebal dan kokoh untuk menahan hantaman meriam.

Desain silindris ini bukan sekadar estetika, melainkan strategi militer. Bentuk bundar memungkinkan meriam yang ditempatkan di bagian atas benteng untuk berputar 360 derajat, memberikan daya jangkau tembakan ke segala arah tanpa hambatan sudut mati. Di bagian tengah benteng, terdapat sebuah pilar beton besar yang berfungsi sebagai penopang struktur sekaligus poros bagi mekanisme perputaran meriam berat.

Salah satu fakta unik dari konstruksi ini adalah penggunaan material lokal yang dikombinasikan dengan teknologi Eropa. Meskipun bata merahnya diproduksi secara massal di Jawa, desain teknisnya mengikuti standar pertahanan pesisir modern pada masanya. Lubang-lubang intai (loopholes) yang sempit di dinding benteng dirancang sedemikian rupa agar prajurit di dalam dapat menembak dengan aman tanpa terekspos serangan balasan dari luar.

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Pulau Kelor dan Benteng Martello-nya memegang peranan vital dalam sistem pertahanan "Pulau Onrust dkk". Pada masa kejayaannya, benteng ini berfungsi sebagai menara pengawas dan baterai pertahanan pantai. Jika ada kapal asing yang mencurigakan mendekati Batavia, benteng ini akan memberikan sinyal peringatan ke Pulau Onrust yang merupakan pangkalan logistik dan perbaikan kapal utama Belanda.

Selain fungsi militer, Pulau Kelor juga menyimpan sejarah kelam terkait kesehatan masyarakat. Bersama dengan Pulau Cipir dan Pulau Onrust, kawasan ini pernah digunakan sebagai tempat karantina penyakit menular. Meskipun Benteng Martello adalah struktur pertahanan, lingkungan di sekitarnya menjadi saksi perjuangan manusia melawan wabah pes dan kolera yang dibawa oleh kapal-kapal dagang dari luar negeri.

Peristiwa penting yang sering dikaitkan dengan lokasi ini adalah letusan dahsyat Gunung Krakatau pada tahun 1883. Gelombang tsunami yang dihasilkan oleh letusan tersebut menghantam gugusan Kepulauan Seribu dengan kekuatan luar biasa. Benteng Martello di Pulau Kelor mengalami kerusakan parah akibat bencana alam ini. Sebagian besar dinding bagian atas runtuh, meninggalkan struktur yang kini kita lihat sebagai reruntuhan eksotis. Inilah alasan mengapa Benteng Martello di Pulau Kelor tampak "terpotong" dibandingkan dengan benteng serupa di Pulau Bidadari yang relatif lebih utuh.

Tokoh dan Periode Terkait

Benteng ini sangat erat kaitannya dengan kebijakan pertahanan Gubernur Jenderal Van den Bosch dan para insinyur militer Belanda di pertengahan abad ke-19. Pada periode ini, Belanda sedang berusaha memperkuat kembali cengkeramannya di Nusantara setelah berakhirnya masa pendudukan Inggris (1811-1816). Pembangunan benteng ini mencerminkan ketakutan Belanda akan kembalinya kekuatan angkatan laut Inggris ke perairan Jawa.

Di era modern, Pulau Kelor juga dikenal dalam sejarah kebudayaan populer Indonesia. Keindahan reruntuhan benteng ini pernah menjadi lokasi pernikahan pasangan selebritas papan atas, yang secara tidak langsung meningkatkan kesadaran publik akan keberadaan situs sejarah ini sebagai destinasi wisata sejarah (heritage tourism).

Pelestarian dan Status Saat Ini

Saat ini, Benteng Martello Pulau Kelor berstatus sebagai Cagar Budaya yang dilindungi di bawah pengelolaan Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta. Upaya konservasi terus dilakukan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut akibat abrasi air laut dan faktor cuaca. Mengingat posisinya yang berada di pulau kecil yang rendah, pemerintah telah membangun tanggul penahan gelombang di sekeliling pulau untuk menjaga sisa-sisa fondasi benteng agar tidak terkikis oleh ombak Teluk Jakarta.

Restoran dan pembersihan situs secara berkala dilakukan dengan prinsip mempertahankan keaslian bentuk reruntuhannya. Tidak ada upaya untuk membangun kembali bagian yang runtuh guna menjaga nilai historis dan estetika "ruin" yang menjadi daya tarik utamanya. Pengunjung yang datang ke sini dapat melihat sisa-sisa ruang penyimpanan amunisi dan struktur melingkar yang masih berdiri tegar meski telah berusia lebih dari satu setengah abad.

Penutup dan Nilai Budaya

Benteng Martello Pulau Kelor bukan sekadar tumpukan batu bata merah. Ia adalah simbol ketahanan, teknologi militer masa lalu, dan pengingat akan posisi strategis Jakarta dalam kancah perdagangan dunia. Bagi masyarakat Indonesia, situs ini merupakan laboratorium sejarah terbuka untuk mempelajari bagaimana arsitektur pertahanan berevolusi dan bagaimana alam (melalui letusan Krakatau) mampu mengubah lanskap sejarah dalam sekejap.

Keberadaannya di tengah laut dengan latar belakang gedung-gedung pencakar langit Jakarta di kejauhan menciptakan kontras yang dramatis antara masa lalu dan masa depan. Melestarikan Benteng Martello berarti menjaga memori kolektif bangsa tentang perjalanan panjang sejarah maritim di Nusantara.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Pulau Kelor, Kepulauan Seribu Utara
entrance fee
Rp 5.000 per orang
opening hours
Setiap hari, 07:00 - 17:00

Tempat Menarik Lainnya di Kepulauan Seribu

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Kepulauan Seribu

Pelajari lebih lanjut tentang Kepulauan Seribu dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Kepulauan Seribu