Situs Sejarah

Keraton Matan Tanjungpura

di Ketapang, Kalimantan Barat

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Keraton Matan Tanjungpura: Saksi Bisu Kejayaan Peradaban di Tanah Ketapang

Keraton Matan Tanjungpura, yang terletak di Kelurahan Mulia Kerta, Kecamatan Benua Kayong, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, bukan sekadar bangunan kayu tua yang berdiri di tepian Sungai Pawan. Situs ini merupakan representasi fisik dari salah satu kerajaan tertua di Pulau Kalimantan, yakni Kerajaan Tanjungpura, yang jejaknya telah tercatat sejak zaman Kerajaan Singasari dan Majapahit. Sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Muhammad Jamaluddin, Keraton Matan menjadi simbol kedaulatan, pusat penyebaran Islam, dan titik temu perdagangan lintas nusantara di pesisir barat Kalimantan.

#

Asal-Usul Historis dan Masa Pendirian

Secara historis, Kerajaan Tanjungpura telah mengalami perpindahan pusat pemerintahan berkali-kali akibat dinamika politik dan serangan luar. Nama "Matan" sendiri merujuk pada periode ketika pusat kekuasaan bergeser dari Sukadana ke wilayah Matan. Keraton yang berdiri saat ini, yang juga dikenal sebagai Keraton Mulia Kerta, dibangun pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Jamaluddin (1845–1924).

Pembangunan keraton ini menandai era stabilisasi kekuasaan setelah periode panjang konflik dengan kolonial Belanda dan persaingan antar-kerajaan lokal. Pemilihan lokasi di pinggir Sungai Pawan tidaklah sembarangan; sungai tersebut merupakan urat nadi transportasi dan perdagangan yang menghubungkan pedalaman Kalimantan dengan jalur maritim internasional. Keraton ini menjadi suksesor dari bangunan-bangunan sebelumnya yang hancur atau ditinggalkan di wilayah Tanjungpura Lama dan Sukadana.

#

Arsitektur dan Detail Konstruksi

Arsitektur Keraton Matan Tanjungpura mengusung gaya tradisional Melayu pesisir dengan pengaruh kolonial yang halus. Bangunan ini didominasi oleh penggunaan kayu ulin (kayu besi) yang dikenal sangat kuat dan tahan terhadap cuaca tropis serta serangan rayap. Struktur bangunan berbentuk rumah panggung, sebuah adaptasi terhadap lingkungan bantaran sungai yang rawan luapan air.

Warna kuning mendominasi fasad bangunan, yang dalam tradisi Melayu melambangkan kemuliaan, keagungan, dan otoritas sultan. Salah satu ciri khas unik adalah keberadaan "Pintu Gerbang Sembilan" dan detail ukiran selulur tumbuhan pada ventilasi dan pilar yang menggabungkan estetika Islam dengan kearifan lokal. Di dalam keraton, terdapat ruang utama yang disebut Balairung, tempat sultan menerima tamu agung dan mengadakan upacara adat. Konstruksi atapnya menggunakan sirap kayu yang disusun rapi, memberikan kesan megah sekaligus sejuk di dalamnya.

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Keraton Matan memegang peranan vital dalam peta politik Kalimantan Barat pada abad ke-19. Situs ini menjadi saksi penandatanganan berbagai perjanjian diplomatik, termasuk hubungan yang kompleks dengan pemerintah Hindia Belanda. Salah satu peristiwa yang paling dikenang adalah peran Keraton Matan dalam menjaga kedaulatan wilayah dari ekspansi asing melalui diplomasi yang cerdik.

Selain itu, keraton ini merupakan titik temu antara budaya Dayak di pedalaman dan budaya Melayu di pesisir. Hubungan harmonis ini tercermin dalam sistem pemerintahan kerajaan yang sering melibatkan tokoh-tokoh lokal dari berbagai etnis dalam struktur adatnya. Peristiwa "Penobatan Sultan" selalu menjadi momen krusial yang menyatukan seluruh rakyat di Kabupaten Ketapang, menandai regenerasi kepemimpinan yang sakral.

#

Tokoh Penting dan Pusaka Kerajaan

Nama Sultan Muhammad Jamaluddin adalah sosok yang paling melekat dengan keberadaan fisik keraton ini. Beliau dikenal sebagai pemimpin yang visioner dan religius. Selain sultan, tokoh seperti Gusti Muhammad Saunan juga mencatatkan nama dalam sejarah sebagai salah satu penerus yang berusaha memodernisasi administrasi kerajaan sebelum masa kemerdekaan Indonesia.

Di dalam keraton, tersimpan berbagai artefak dan pusaka yang memiliki nilai sejarah tinggi. Salah satu yang paling unik adalah meriam-meriam kuno peninggalan masa lalu, perangkat gamelan, dan kursi singgasana berlapis warna emas. Terdapat pula naskah-naskah kuno dan silsilah raja-raja Tanjungpura yang menjadi rujukan utama para sejarawan dalam merekonstruksi sejarah Kalimantan Barat. Salah satu pusaka yang sangat dikeramatkan adalah atribut kebesaran kerajaan yang hanya dikeluarkan pada upacara-upacara tertentu.

#

Status Pelestarian dan Restorasi

Sebagai Situs Cagar Budaya, Keraton Matan Tanjungpura telah mengalami beberapa kali upaya restorasi oleh pemerintah daerah maupun Balai Pelestarian Kebudayaan. Mengingat material utamanya adalah kayu, tantangan terbesar dalam pelestarian adalah pelapukan alami dan ancaman abrasi sungai.

Restorasi yang dilakukan sejauh ini tetap mempertahankan keaslian struktur dan material kayu ulin. Meskipun beberapa bagian telah diganti, bentuk dan tata letak bangunan tetap dijaga sesuai dengan cetak biru aslinya. Saat ini, keraton berfungsi sebagai museum hidup dan pusat kegiatan kebudayaan. Wisatawan dan peneliti sering berkunjung untuk mempelajari silsilah Kerajaan Tanjungpura yang legendaris.

#

Kepentingan Budaya dan Religi

Keraton Matan bukan sekadar objek wisata, melainkan pusat spiritualitas masyarakat Melayu Ketapang. Agama Islam menjadi fondasi utama dalam kehidupan keraton, yang terlihat dari kedekatan lokasi keraton dengan masjid jemaah tertua di daerah tersebut. Setiap tahun, tradisi seperti "Rabu Kasan" atau ritual doa bersama sering kali berpangkal atau melibatkan keluarga keraton.

Bagi masyarakat lokal, keraton adalah simbol identitas. Keberadaannya memberikan rasa bangga akan akar sejarah yang kuat sebagai keturunan dari kerajaan besar yang pernah disegani di Nusantara. Upacara adat seperti pernikahan keluarga keraton atau peringatan hari besar Islam di lingkungan keraton selalu menarik antusiasme warga, membuktikan bahwa nilai-nilai tradisional masih hidup di tengah modernisasi.

#

Fakta Unik: Hubungan dengan Majapahit

Salah satu fakta unik yang jarang diketahui adalah klaim sejarah bahwa Kerajaan Tanjungpura (induk dari Matan) pernah menjadi wilayah bawahan atau mitra strategis Majapahit, sebagaimana disebutkan dalam Kitab Negarakertagama. Pengaruh ini jejaknya masih bisa ditemukan dalam beberapa istilah gelar kebangsawanan dan artefak kuno yang ditemukan di sekitar situs Tanjungpura Lama sebelum berpindah ke Matan. Selain itu, Keraton Matan dianggap sebagai pemegang estafet sah dari kebesaran Tanjungpura, menjadikannya salah satu titik sejarah tertua yang masih eksis secara fisik di Kalimantan Barat.

Dengan segala kemegahan dan sejarah yang melingkupinya, Keraton Matan Tanjungpura tetap berdiri kokoh sebagai penjaga memori kolektif masyarakat Ketapang. Ia adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu kejayaan maritim Kalimantan dengan masa depan generasi muda yang ingin mengenal jati dirinya.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Kelurahan Mulia Kerta, Kecamatan Benua Kayong, Ketapang
entrance fee
Sukarela
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 17:00

Tempat Menarik Lainnya di Ketapang

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Ketapang

Pelajari lebih lanjut tentang Ketapang dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Ketapang