Situs Sejarah

Candi Plaosan

di Klaten, Jawa Tengah

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Asal-usul Historis dan Masa Pembangunan

Candi Plaosan dibangun pada masa pemerintahan Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya (Hindu) dan permaisurinya, Pramodawardhani dari Dinasti Syailendra (Buddha). Berdasarkan Prasasti Cri Kahulunan (842 M) dan Prasasti Karangtengah, kompleks ini diperkirakan rampung pada pertengahan abad ke-9. Pembangunan situs ini bukan sekadar proyek keagamaan, melainkan sebuah monumen politik dan personal yang menandai penyatuan dua dinasti besar yang sebelumnya sering bersaing di tanah Jawa.

Situs ini terbagi menjadi dua kelompok utama: Plaosan Lor (Utara) dan Plaosan Kidul (Selatan). Meskipun keduanya berada dalam satu garis imajiner, Plaosan Lor memiliki skala yang lebih besar dan kondisi yang lebih utuh dibandingkan saudaranya di selatan.

Arsitektur: Perpaduan estetika Hindu-Buddha

Candi Plaosan dikenal dengan julukan "Candi Kembar" karena keberadaan dua bangunan utama yang identik di kompleks Plaosan Lor. Secara arsitektural, situs ini mengadopsi gaya Buddha Mahayana, namun dengan sentuhan detail yang menunjukkan pengaruh Hindu yang kuat, mencerminkan latar belakang pasangan kerajaan pembangunnya.

Bangunan utama terdiri dari dua lantai. Di dalam masing-masing candi utama, terdapat enam ruangan yang terbagi menjadi tiga ruangan di lantai bawah dan tiga di lantai atas. Struktur lantai dua ini dulunya terbuat dari kayu, yang terbukti dari adanya lubang-lubang penyangga balok kayu pada dinding batu candi. Hal ini menunjukkan kecanggihan konstruksi masa itu yang mampu memadukan material batu andesit dengan struktur kayu yang kompleks.

Bagian atap candi dihiasi dengan deretan stupa, namun bentuk tubuh candi cenderung lebih ramping dan tinggi seperti langgam candi Hindu. Salah satu keunikan yang tidak ditemukan di candi lain adalah adanya relief yang menggambarkan sosok manusia dengan pakaian bangsawan, yang diyakini sebagai potret para pendonor atau bangsawan yang ikut berkontribusi dalam pembangunan candi tersebut.

Signifikansi Sejarah dan Narasi Toleransi

Nilai sejarah utama Candi Plaosan terletak pada perannya sebagai bukti nyata perdamaian melalui pernikahan politis. Rakai Pikatan yang beragama Hindu Siwa tetap memberikan dukungan penuh terhadap keinginan istrinya, Pramodawardhani, untuk membangun pusat peribadatan Buddha yang megah. Keberhasilan pembangunan ini menandai periode stabilitas di Jawa Tengah, di mana konflik antar-keyakinan diredam oleh diplomasi perkawinan.

Di kompleks ini juga ditemukan banyak prasasti pendek yang dipahat pada batu-batu candi perwara (candi pendamping). Prasasti-prasasti ini mencatat nama-nama tokoh yang mempersembahkan bangunan tersebut, memberikan gambaran kepada sejarawan mengenai struktur sosial dan sistem birokrasi kerajaan Mataram Kuno.

Tokoh Kunci dan Relasi Kekuasaan

Keberadaan Candi Plaosan tidak dapat dilepaskan dari sosok Pramodawardhani. Sebagai putri dari Samaratungga (pembangun Borobudur), ia membawa pengaruh seni Syailendra yang sangat halus ke wilayah Prambanan. Di sisi lain, Rakai Pikatan menunjukkan kapasitasnya sebagai penguasa yang inklusif. Melalui kerja sama ini, arsitektur Jawa Kuno mencapai titik estetika yang sangat detail, yang terlihat dari kehalusan relief Vidyadhara dan Vidyadhari yang menghiasi dinding candi.

Selain pasangan kerajaan tersebut, tokoh-tokoh lokal yang disebut dalam prasasti-prasasti kecil di sana menunjukkan bahwa pembangunan candi merupakan usaha kolektif rakyat dan bangsawan daerah, bukan hanya keinginan tunggal penguasa pusat.

Upaya Pelestarian dan Restorasi

Sebagai situs cagar budaya, Candi Plaosan telah melalui berbagai tahap pemugaran yang panjang. Restorasi besar-besaran dimulai pada masa pemerintahan kolonial Belanda melalui Oudheidkundige Dienst dan dilanjutkan oleh pemerintah Indonesia melalui Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X.

Tantangan terbesar dalam pelestarian situs ini adalah banyaknya batu yang hilang atau hancur akibat gempa bumi di masa lalu, termasuk gempa besar tahun 2006 yang melanda Klaten dan Yogyakarta. Hingga saat ini, ratusan candi perwara dan stupa di sekeliling bangunan utama masih berupa tumpukan batu yang sedang dalam proses identifikasi dan penyusunan kembali (anastilosis).

Kepentingan Budaya dan Religi di Masa Kini

Bagi umat Buddha, Candi Plaosan tetap menjadi tempat suci untuk melakukan ziarah dan upacara keagamaan, terutama pada perayaan Waisak atau ritual Sangha lainnya. Sementara bagi masyarakat umum, situs ini menjadi destinasi wisata sejarah yang menawarkan pemandangan eksotis, terutama saat matahari terbenam menyinari dinding batu candi yang berlatar belakang hamparan sawah hijau.

Secara budaya, Candi Plaosan menginspirasi konsep "Bhinneka Tunggal Ika" melalui bukti fisik bangunan. Ia menjadi pengingat bahwa perbedaan keyakinan bukanlah penghalang untuk menciptakan sesuatu yang indah dan abadi secara bersama-sama.

Fakta Unik: Relief dan Simbolisme

Satu fakta unik yang membedakan Plaosan dari Candi Borobudur atau Sewu adalah keberadaan relief yang menggambarkan figur laki-laki (pada candi selatan di kompleks Lor) dan figur perempuan (pada candi utara di kompleks Lor). Relief laki-laki menggambarkan para Bodhisatwa dengan sikap tangan tertentu, sementara relief perempuan menggambarkan dewi-dewi dalam agama Buddha. Hal ini sering ditafsirkan oleh masyarakat lokal sebagai simbol maskulinitas dan feminitas yang seimbang, yang memperkuat mitos bahwa candi ini adalah lambang cinta sejati Rakai Pikatan dan Pramodawardhani.

Selain itu, keberadaan parit buatan yang dulunya mengelilingi kompleks ini menunjukkan bahwa arsitek masa lalu sudah memikirkan sistem drainase dan pertahanan situs dari luapan air, sekaligus menciptakan efek visual candi yang seolah-olah mengapung di atas air.

Dengan segala kemegahan dan nilai filosofisnya, Candi Plaosan bukan sekadar tumpukan batu andesit. Ia adalah dokumen bisu namun nyata tentang kejayaan intelektual, spiritual, dan sosial bangsa Indonesia di masa lampau yang harus terus dijaga kelestariannya demi generasi mendatang.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Candi Plaosan, Bugisan, Kec. Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah
entrance fee
Rp 10.000 - Rp 50.000 per orang
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 17:00

Tempat Menarik Lainnya di Klaten

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Klaten

Pelajari lebih lanjut tentang Klaten dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Klaten