Situs Sejarah

Candi Sewu

di Klaten, Jawa Tengah

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Kemegahan Manunggalnya Wangsa: Sejarah dan Arsitektur Candi Sewu

Candi Sewu berdiri sebagai monumen bisu yang merepresentasikan puncak kejayaan peradaban Buddha di Jawa Tengah. Terletak di kompleks Taman Wisata Candi Prambanan, secara administratif situs ini berada di Dukuh Bener, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten. Meskipun kalah populer dibandingkan Candi Borobudur atau Candi Prambanan dalam narasi pariwisata massal, Candi Sewu memegang predikat sebagai kompleks candi Buddha terbesar kedua di Indonesia setelah Borobudur, dan secara kronologis, usianya lebih tua daripada Candi Prambanan yang bercorak Hindu.

#

Asal-Usul dan Periode Pembangunan

Candi Sewu dibangun pada abad ke-8 Masehi, tepatnya pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran (746โ€“784 M), raja kedua dari Kerajaan Mataram Kuno (Medang). Nama asli candi ini, sebagaimana tercantum dalam Prasasti Kelurak (782 M) dan Prasasti Manjusrigrha (792 M), adalah "Prasada Vajrasana Manjusrigrha". Nama tersebut memiliki arti "Rumah Manjusri", yang merujuk pada salah satu Boddhisatwa dalam ajaran Buddha Mahayana yang melambangkan kebijaksanaan transendental.

Pembangunan awal dimulai oleh Rakai Panangkaran, namun perluasan besar-besaran dilakukan oleh suksesornya, termasuk Rakai Pikatan. Menariknya, meskipun Rakai Pikatan adalah seorang penganut Hindu dari Wangsa Sanjaya, ia memperluas Candi Sewu sebagai bentuk penghormatan terhadap istrinya, Pramodawardhani, yang beragama Buddha dari Wangsa Syailendra. Hal ini membuktikan bahwa pada masa itu, toleransi beragama di tanah Jawa telah mencapai tingkat yang sangat maju.

#

Arsitektur dan Tata Ruang Mandala

Secara etimologi, "Sewu" berarti seribu dalam bahasa Jawa. Nama ini berasal dari legenda Roro Jonggrang, meski secara faktual, jumlah candi di kompleks ini adalah 249 bangunan. Struktur kompleks Candi Sewu mengadopsi konsep Mandala, sebuah representasi alam semesta dalam kosmologi Buddha.

Kompleks ini memiliki denah persegi panjang dengan ukuran 185 meter utara-selatan dan 165 meter timur-barat. Pintu masuk utama berada di sisi timur, di mana setiap gerbang dijaga oleh sepasang patung Dwarapalaโ€”raksasa penjaga yang memegang gada. Patung-patung ini dipahat dari batu andesit utuh dengan ekspresi yang gagah namun tidak menakutkan, berbeda dengan gaya Dwarapala di periode Jawa Timur yang cenderung lebih menyeramkan.

Struktur bangunan terdiri dari satu Candi Utama yang dikelilingi oleh empat baris candi perwara (pendamping). Candi Utama memiliki denah berbentuk poligon bersudut 20 yang menyerupai salib atau bintang dengan diameter 29 meter dan tinggi mencapai 30 meter. Di dalam candi utama terdapat ruangan besar (cella) yang dahulu diyakini berisi patung perunggu Dewa Manjusri setinggi empat meter, namun kini patung tersebut telah hilang, kemungkinan dijarah atau dilebur di masa lalu.

#

Signifikansi Sejarah dan Diplomasi Politik

Candi Sewu bukan sekadar tempat ibadah; ia adalah simbol rekonsiliasi politik antara dua wangsa besar di Jawa, yaitu Syailendra dan Sanjaya. Posisinya yang hanya berjarak sekitar 800 meter di sebelah utara Candi Prambanan menunjukkan adanya koeksistensi yang harmonis. Para arkeolog berpendapat bahwa Candi Sewu berfungsi sebagai pusat kegiatan keagamaan Buddha yang sangat vital, bahkan mungkin menjadi universitas atau pusat pembelajaran dharma bagi para biksu dari seluruh Asia Tenggara.

Salah satu fakta unik yang jarang diketahui adalah peran Candi Sewu dalam mempertegas kedaulatan Mataram Kuno atas wilayah sekitarnya. Melalui Prasasti Manjusrigrha, diketahui bahwa peresmian penyelesaian renovasi candi dilakukan pada tanggal 2 November 792 M. Tanggal ini menjadi salah satu penanggalan paling spesifik yang dimiliki oleh situs arkeologi di Indonesia mengenai waktu penyelesaian sebuah struktur megah.

#

Kerusakan, Penemuan Kembali, dan Restorasi

Kejayaan Candi Sewu meredup seiring dengan perpindahan pusat kekuasaan Mataram Kuno ke Jawa Timur pada abad ke-10, kemungkinan akibat letusan Gunung Merapi atau konflik internal. Selama berabad-abad, situs ini tertimbun abu vulkanik dan ditumbuhi semak belukar hingga masyarakat setempat hanya mengenalnya melalui legenda.

Laporan modern pertama mengenai keberadaan situs ini muncul pada masa kolonial Inggris melalui tulisan Cornelius dan kemudian dipublikasikan dalam buku The History of Java karya Thomas Stamford Raffles pada tahun 1817. Namun, kondisi candi saat itu sangat memprihatinkan; banyak bagian bangunan yang runtuh akibat gempa bumi besar yang sering melanda wilayah Klaten dan Yogyakarta.

Upaya restorasi dimulai secara bertahap pada abad ke-20 oleh pemerintah Hindia Belanda melalui Oudheidkundige Dienst. Namun, pemugaran yang paling signifikan dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Pemugaran Candi Utama diselesaikan pada tahun 1993 dan diresmikan oleh Presiden Soeharto. Tantangan terbesar muncul saat gempa bumi Yogyakarta tahun 2006, yang mengakibatkan kerusakan struktural serius pada Candi Utama. Sejak saat itu, renovasi berkelanjutan dilakukan untuk memperkuat struktur bangunan menggunakan teknik anastilosis, yakni menyusun kembali blok-blok batu asli ke posisi semula dengan bantuan penguatan beton tersembunyi.

#

Makna Budaya dan Nilai Religius Saat Ini

Sebagai bagian dari Warisan Dunia UNESCO (World Heritage Site), Candi Sewu kini tidak hanya berfungsi sebagai objek wisata sejarah. Setiap tahunnya, umat Buddha di Indonesia dan mancanegara kembali menghidupkan fungsi spiritual candi ini melalui upacara Waisak atau perayaan keagamaan lainnya.

Keberadaan Candi Sewu memberikan pelajaran mengenai "Bhineka Tunggal Ika" yang sudah dipraktikkan ribuan tahun lalu. Di tengah lanskap Prambanan yang didominasi oleh pengaruh Hindu, Candi Sewu berdiri kokoh sebagai identitas Buddha, menciptakan harmoni arsitektural yang tak tertandingi. Detail relief pada dinding candi, yang menggambarkan motif Kalpataru (pohon kehidupan) dan makhluk-makhluk khayangan, tetap menjadi sumber inspirasi bagi seniman dan sejarawan untuk memahami kedalaman filosofi hidup masyarakat Jawa kuno.

Penyelamatan dan pelestarian Candi Sewu di Klaten menjadi krusial karena ia adalah kunci untuk memahami transisi kebudayaan dari periode Jawa Tengah ke Jawa Timur. Dengan struktur yang begitu kompleks dan sejarah yang melibatkan tokoh-tokoh besar seperti Rakai Panangkaran dan Pramodawardhani, Candi Sewu tetap menjadi salah satu permata arkeologi terpenting di Asia Tenggara yang menceritakan kisah tentang iman, politik, dan keajaiban teknik bangunan manusia masa lampau.

๐Ÿ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Raya Solo - Yogyakarta No.KM.16, Bugisan, Kec. Prambanan, Kabupaten Klaten
entrance fee
Terintegrasi dengan tiket Candi Prambanan
opening hours
Setiap hari, 06:30 - 17:00

Tempat Menarik Lainnya di Klaten

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Klaten

Pelajari lebih lanjut tentang Klaten dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Klaten