Sukabumi

Rare
Jawa Barat
Luas
48,54 km²
Posisi
tengah
Jumlah Tetangga
2 wilayah
Pesisir
Tidak

Dipublikasikan: Januari 2025

Sejarah

#

Sejarah dan Perkembangan Sukabumi: Dari Perkebunan Kolonial hingga Kota Pendidikan

Sukabumi, sebuah wilayah strategis di kaki Gunung Gede dan Gunung Pangrango, memiliki narasi sejarah yang kaya dan spesifik. Meskipun secara geografis tidak berbatasan dengan garis pantai (landlocked) dengan luas wilayah sekitar 48,54 km², kota ini menjadi saksi bisu transformasi ekonomi dan politik Jawa Barat sejak era kolonial.

##

Asal-usul Nama dan Era Kolonial

Nama "Sukabumi" secara resmi digunakan pada 13 Januari 1815. Nama ini diusulkan oleh Dr. Andries de Wilde, seorang ahli bedah dan administrator perkebunan asal Belanda. Nama tersebut berasal dari bahasa Sunda, "Suka-Bumen," yang berarti tempat untuk menetap atau menetap di tempat yang disukai. Keindahan alam dan kesejukan udaranya menjadikan Sukabumi lokasi favorit bagi warga Eropa untuk beristirahat.

Pada abad ke-19, Sukabumi berkembang pesat sebagai pusat perkebunan kopi, teh, dan karet. Pertumbuhan ekonomi ini mendorong pemerintah Hindia Belanda membangun jalur kereta api dari Bogor ke Sukabumi pada tahun 1882 untuk mempermudah distribusi hasil bumi ke Pelabuhan Batavia. Pada 1 April 1914, pemerintah kolonial menetapkan Sukabumi sebagai Gemeente (Kotamadya) karena konsentrasi penduduk Eropa yang tinggi dan pentingnya wilayah ini bagi ekonomi kolonial.

##

Jejak Sejarah dan Perjuangan Kemerdekaan

Salah satu situs bersejarah paling ikonik di Sukabumi adalah Sekolah Pembentukan Perwira (Setukpa) Polri, yang pada masa Belanda merupakan Politie School. Di bidang militer, Sukabumi juga dikenal melalui peristiwa "Bojongkokosan" pada 9 Desember 1945. Meskipun lokasi utama pertempuran berada di jalur arah Bogor, peristiwa ini merupakan simbol perlawanan rakyat Sukabumi melawan konvoi tentara Sekutu (NICA/Inggris). Tokoh-tokoh lokal seperti KH Ahmad Sanusi, anggota BPUPKI dan pendiri Persatuan Umat Islam (PUI), memainkan peran vital dalam menyelaraskan nilai-nilai religius dengan nasionalisme Indonesia.

##

Warisan Budaya dan Tradisi Lokal

Kekayaan sejarah Sukabumi tercermin dalam warisan budayanya. Masyarakat Sukabumi memegang teguh tradisi agraris yang tercermin dalam upacara adat seperti Seren Taun, meskipun tradisi ini lebih kuat di wilayah kabupaten sekitar, pengaruhnya tetap terasa di identitas perkotaan. Di pusat kota, terdapat Gereja Sidang Kristus (1911) dan Vihara Widhi Sakti yang menunjukkan keragaman etnis dan toleransi beragama yang telah mengakar sejak lama. Selain itu, kesenian tradisional seperti Lais dan Degung tetap dilestarikan sebagai identitas lokal.

##

Modernisasi dan Perkembangan Terkini

Pasca kemerdekaan, Sukabumi bertransformasi dari kota peristirahatan menjadi kota pendidikan dan jasa. Pembangunan infrastruktur seperti Jalan Tol Ciawi-Sukabumi (Bocimi) kini menjadi katalisator modernisasi, menghubungkan sejarah panjang agrarisnya dengan ekonomi digital dan industri kreatif. Meski luas wilayahnya relatif kecil, Sukabumi tetap mempertahankan karakter kota yang tenang namun dinamis, menjembatani masa lalu kolonial dengan visi masa depan Jawa Barat yang inklusif. Transformasi ini membuktikan bahwa Sukabumi bukan sekadar tempat singgah, melainkan pilar penting dalam bingkai sejarah nasional Indonesia.

Geografi

#

Geografi dan Bentang Alam Kota Sukabumi

Kota Sukabumi merupakan entitas administratif yang terletak di bagian selatan Provinsi Jawa Barat. Dengan luas wilayah sekitar 48,54 km², kota ini secara geografis terletak di pedalaman dan sepenuhnya dikelilingi oleh daratan (landlocked), berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Sukabumi di seluruh penjuru mata anginnya.

##

Topografi dan Morfologi Wilayah

Secara topografis, Kota Sukabumi berada pada ketinggian rata-rata 584 hingga 700 meter di atas permukaan laut. Wilayah ini dicirikan oleh morfologi yang bervariasi, mulai dari dataran tinggi yang landai di bagian selatan hingga perbukitan bergelombang di bagian utara. Letaknya berada tepat di kaki Gunung Gede dan Gunung Pangrango, yang memberikan pengaruh signifikan terhadap kemiringan lereng kota. Struktur geologinya didominasi oleh batuan vulkanik muda hasil aktivitas gunung api, yang menciptakan tanah andosol dan latosol yang sangat subur.

Jaringan hidrografi kota ini diperkuat oleh keberadaan beberapa sungai utama yang membelah wilayah, seperti Sungai Cipelang, Sungai Cimandiri, dan Sungai Cikunyung. Sungai-sungai ini mengalir dari arah utara menuju selatan, membentuk lembah-lembah sungai sempit yang menjadi sistem drainase alami bagi kawasan perkotaan.

##

Karakteristik Iklim dan Cuaca

Kota Sukabumi memiliki iklim tropis basah dengan pengaruh pegunungan yang kuat. Suhu udara rata-rata harian berkisar antara 20°C hingga 29°C, memberikan kesejukan khas dataran tinggi yang membedakannya dari kota-kota pesisir di Jawa Barat. Curah hujan di wilayah ini tergolong tinggi, mencapai 2.000 hingga 3.000 mm per tahun. Fenomena hujan orografis sering terjadi akibat massa udara yang naik ke lereng Gunung Gede-Pangrango, sehingga musim hujan biasanya berlangsung lebih panjang dengan kelembapan udara yang konsisten tinggi di atas 70%.

##

Sumber Daya Alam dan Potensi Agraria

Meskipun luas wilayahnya terbatas, Sukabumi memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, khususnya di sektor pertanian dan air tanah. Kesuburan tanah vulkanik mendukung produksi komoditas hortikultura serta tanaman pangan. Di sektor mineral, wilayah sekitar kota memiliki deposit material batuan dan pasir yang terkadang terbawa oleh aliran sungai dari hulu pegunungan. Selain itu, potensi sumber air bawah tanah di Sukabumi sangat melimpah, menjadikannya salah satu titik penting bagi industri air minum dalam kemasan di Indonesia.

##

Zona Ekologi dan Biodiversitas

Sebagai wilayah penyangga bagi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Kota Sukabumi merupakan zona ekologi transmisi yang penting. Vegetasi di wilayah ini mencakup sisa-sisa hutan sekunder dan perkebunan rakyat yang masih rimbun. Keanekaragaman hayati mencakup berbagai jenis burung montane dan serangga endemik Jawa. Ruang Terbuka Hijau (RTH) di kota ini berfungsi sebagai koridor ekologis bagi fauna lokal, sekaligus berperan vital dalam menjaga cadangan air tanah bagi wilayah Jawa Barat bagian selatan.

Budaya

#

Sukabumi: Mozaik Budaya di Jantung Priangan Barat

Sukabumi, sebuah wilayah yang terletak di kaki Gunung Gede-Pangrango, merupakan representasi penting dari kebudayaan Sunda di Jawa Barat. Meskipun secara administratif terbagi menjadi Kota dan Kabupaten, identitas budayanya menyatu dalam nafas "Pajampangan" dan semangat masyarakat agraris yang religius.

##

Tradisi, Adat Istiadat, dan Upacara Lokal

Salah satu tradisi paling ikonik di wilayah Sukabumi adalah Seren Taun, khususnya yang dirayakan oleh masyarakat Kasepuhan Ciptagelar di Cisolok. Upacara ini merupakan bentuk syukur atas panen padi yang melimpah. Ritualnya melibatkan prosesi pemindahan padi ke dalam *Leuit* (lumbung) yang diiringi doa-doa kuno. Selain itu, terdapat tradisi Ngabuburit yang konon istilahnya populer dari kebiasaan warga lokal menunggu waktu berbuka, serta tradisi Cianjuran yang juga berakar kuat di sini karena kedekatan historis dengan wilayah tetangga.

##

Kesenian dan Seni Pertunjukan

Sukabumi memiliki kesenian khas yang eksentrik bernama Lais. Kesenian ini menampilkan kemahiran seseorang menari dan melakukan atraksi akrobatik di atas tali bambu yang dibentangkan tinggi. Selain Lais, seni Bebegig dan Wayang Golek gaya Sukabumian sering dipentaskan dalam hajatan warga. Di bidang musik, instrumen Dogdog Lojor menjadi pengiring utama dalam upacara adat, menghasilkan ritme perkusi yang magis dan membangkitkan semangat kebersamaan.

##

Kuliner dan Gastronomi Lokal

Dapur Sukabumi menawarkan cita rasa yang spesifik. Mochi Sukabumi adalah ikon kuliner yang tak terbantahkan; kue kenyal berbahan tepung ketan dengan isian kacang tanah ini merupakan warisan akulturasi budaya Tionghoa dan lokal. Selain itu, terdapat Bubur Ayam Sukabumi yang khas dengan kuah kuning, jerohan, dan tekstur bubur yang lebih kental dibandingkan versi daerah lain. Jangan lupakan Geco (Tauge Tauco), hidangan yang memadukan tauge segar dengan siraman saus tauco yang gurih dan sedikit asam, mencerminkan pengaruh pesisir meskipun Sukabumi kota tidak berbatasan langsung dengan laut.

##

Bahasa dan Dialek

Masyarakat Sukabumi menggunakan Bahasa Sunda dengan dialek yang cenderung halus namun memiliki intonasi yang khas, sering disebut sebagai Sunda Priangan Barat. Terdapat beberapa kosakata unik yang sering digunakan, seperti penggunaan kata "Meni" untuk penekanan (sangat) atau partikel "atuh" yang ditempatkan secara spontan dalam percakapan sehari-hari untuk mempertegas maksud.

##

Busana dan Tekstil Tradisional

Dalam hal busana, Sukabumi dikenal dengan Batik Sukabumi yang memiliki motif khas seperti *Lampion* (melambangkan keberagaman), *Pala* (rempah khas daerah), dan *Hijau Daun*. Masyarakat tradisionalnya, terutama di lingkungan Kasepuhan, masih memegang teguh penggunaan Iket (ikat kepala) bagi pria dan kain kebaya sederhana bagi wanita sebagai simbol kesahajaan dan penghormatan terhadap leluhur.

##

Praktik Keagamaan dan Festival Budaya

Kehidupan beragama di Sukabumi sangat kental dengan nuansa Islami yang berpadu dengan kearifan lokal. Festival Hari Jadi Sukabumi biasanya dirayakan dengan karnaval budaya yang menampilkan *Helaran* (parade) seni rakyat. Selain itu, perayaan Maulid Nabi sering dimeriahkan dengan tradisi Panjang Jimat di beberapa wilayah, di mana warga mengarak makanan dan hasil bumi sebagai bentuk sedekah dan rasa syukur kolektif.

Wisata

Menjelajahi Pesona Sukabumi: Harmoni Alam dan Budaya di Jawa Barat

Terletak di kaki Gunung Gede dan Gunung Pangrango, Sukabumi merupakan destinasi yang menawarkan pelarian sempurna dari hiruk-pikuk megapolitan. Meski wilayah kotanya hanya seluas 48,54 km² dan tidak bersentuhan langsung dengan garis pantai, Kota Sukabumi berfungsi sebagai gerbang utama menuju petualangan luar biasa di Jawa Barat.

#

Keajaiban Alam dan Petualangan Luar Ruangan

Daya tarik utama Sukabumi terletak pada bentang alamnya yang dramatis. Di sebelah utara, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango menawarkan jalur pendakian yang menantang dengan ekosistem hutan hujan tropis yang terjaga. Bagi pencari adrenalin, Situ Gunung Suspension Bridge adalah destinasi wajib. Jembatan gantung tengah hutan terpanjang di Asia Tenggara ini memberikan sensasi berjalan di atas kanopi hutan menuju Curug Sawer yang megah. Selain itu, kawasan Selabintana menawarkan taman-taman hijau yang sejuk, cocok untuk piknik keluarga dengan latar pemandangan pegunungan yang ikonik.

#

Jejak Sejarah dan Kekayaan Budaya

Sukabumi menyimpan warisan kolonial yang kental. Wisatawan dapat mengunjungi Stasiun Sukabumi yang bergaya arsitektur lama atau menyusuri kawasan bangunan tua di pusat kota. Sisi religius dan budaya juga tercermin kuat pada Vihara Widhi Sakti, sebuah klenteng bersejarah yang menjadi pusat perayaan Cap Go Meh dengan atraksi Barongsai yang memukau. Kehangatan masyarakat Sunda yang ramah akan menyambut setiap pengunjung dengan filosofi "Someah", menciptakan atmosfer yang nyaman bagi para pelancong.

#

Wisata Kuliner Khas Sukabumi

Eksplorasi rasa di Sukabumi tidak boleh melewatkan Bubur Ayam Bunut yang legendaris, dikenal dengan teksturnya yang kental dan topping yang melimpah. Untuk kudapan manis, Mochi Sukabumi yang kenyal dalam keranjang bambu kecil (besek) adalah buah tangan wajib. Jangan lupa mencicipi Sekoteng Singapore di malam hari untuk menghangatkan tubuh di tengah udara Sukabumi yang sejuk.

#

Akomodasi dan Waktu Kunjungan Terbaik

Pilihan akomodasi di Sukabumi sangat beragam, mulai dari hotel butik bernuansa kolonial di pusat kota hingga resort glamping (glamorous camping) di area pegunungan yang menawarkan pengalaman tidur di alam terbuka dengan fasilitas bintang lima.

Waktu terbaik untuk mengunjungi Sukabumi adalah pada musim kemarau antara bulan Mei hingga September. Pada periode ini, langit cenderung cerah, memudahkan aktivitas pendakian dan eksplorasi air terjun tanpa kendala hujan lebat. Sukabumi bukan sekadar persinggahan, melainkan sebuah simfoni alam dan budaya yang menanti untuk dijelajahi di setiap sudutnya.

Ekonomi

#

Profil Ekonomi Kota Sukabumi: Hubungan Strategis dan Transformasi Sektor Jasa

Kota Sukabumi, dengan luas wilayah 48,54 km², merupakan titik simpul ekonomi krusial di koridor selatan Jawa Barat. Meskipun wilayahnya relatif kecil dan terkurung daratan (landlocked), kota ini memainkan peran vital sebagai pusat pelayanan regional bagi wilayah pedalaman Kabupaten Sukabumi yang luas.

##

Diversifikasi Sektor Unggulan

Perekonomian Kota Sukabumi didominasi oleh sektor Perdagangan Besar dan Eceran, yang berkontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Sebagai pusat distribusi, kota ini menjadi magnet bagi aktivitas komersial yang melayani kebutuhan masyarakat di Sukabumi bagian utara. Selain perdagangan, sektor Industri Pengolahan tetap menjadi pilar utama, terutama pada industri padat karya.

Sektor jasa pendidikan dan kesehatan juga berkembang pesat. Keberadaan berbagai perguruan tinggi dan rumah sakit rujukan regional menjadikan Sukabumi sebagai pusat penyedia jasa yang menarik arus modal dan manusia dari daerah sekitarnya.

##

Industri Kreatif dan Produk Lokal

Sukabumi dikenal dengan warisan industri kreatif dan kerajinan tangan yang spesifik. Salah satu produk ikonik adalah Mochi, yang telah menjadi komoditas ekonomi kreatif unggulan dan penggerak UMKM lokal. Selain kuliner, kota ini memiliki sejarah panjang dalam industri penempaan logam, khususnya kerajinan pisau dan alat pertanian di wilayah pinggiran kota yang kualitasnya telah menembus pasar nasional. Industri furnitur kayu dan olahan tekstil juga terus bertahan sebagai penyerap tenaga kerja lokal.

##

Tantangan dan Potensi Ekonomi Non-Maritim

Karena letaknya yang berada di pedalaman dan tanpa garis pantai, Kota Sukabumi tidak memiliki ekonomi maritim langsung. Namun, kota ini berfungsi sebagai hub logistik bagi hasil laut dari Palabuhanratu sebelum didistribusikan ke arah Bogor dan Jakarta. Fokus pembangunan ekonomi diarahkan pada optimalisasi lahan perkotaan melalui intensifikasi pertanian perkotaan (urban farming) dan penguatan sektor pariwisata berbasis wellness dan sejarah (bangunan kolonial).

##

Infrastruktur dan Tren Ketenagakerjaan

Transformasi ekonomi Sukabumi saat ini sangat dipengaruhi oleh pembangunan infrastruktur strategis, terutama Jalan Tol Bocimi (Bogor-Ciawi-Sukabumi) dan rencana pengembangan jalur ganda kereta api. Aksesibilitas yang membaik ini secara drastis mengurangi waktu tempuh ke Jakarta, yang memicu pergeseran tren ketenagakerjaan dari sektor informal ke sektor jasa modern dan perhotelan.

Pemerintah daerah kini fokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk menghadapi digitalisasi ekonomi. Pertumbuhan pusat perbelanjaan modern dan kafe-kafe tematik mencerminkan peningkatan daya beli masyarakat serta pergeseran gaya hidup perkotaan. Dengan integrasi infrastruktur transportasi yang semakin mumpuni, Kota Sukabumi diproyeksikan akan bertransformasi menjadi kota satelit ekonomi yang mandiri, menghubungkan potensi agrowisata pegunungan dengan pasar metropolitan Jabodetabek.

Demografi

#

Profil Demografis Kota Sukabumi, Jawa Barat

Kota Sukabumi merupakan salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di wilayah Priangan Barat dengan karakteristik demografis yang dinamis meskipun memiliki luas wilayah yang relatif kecil, yakni 48,54 km². Sebagai kota yang tidak memiliki garis pantai (landlocked), konsentrasi penduduknya sangat dipengaruhi oleh fungsi kota sebagai hub perdagangan dan jasa bagi daerah penyangga di sekitarnya.

Kepadatan dan Distribusi Penduduk

Berdasarkan data terbaru, jumlah penduduk Kota Sukabumi telah melampaui 350.000 jiwa. Hal ini menciptakan tingkat kepadatan penduduk yang sangat tinggi, mencapai lebih dari 7.300 jiwa per km². Distribusi penduduk terkonsentrasi di Kecamatan Cikole dan Citamiang yang berfungsi sebagai pusat bisnis, sementara pertumbuhan pemukiman baru mulai bergeser ke arah selatan seperti Kecamatan Baros dan Lembursitu seiring dengan pengembangan infrastruktur jalan tol Bocimi.

Komposisi Etnis dan Budaya

Struktur etnis didominasi oleh suku Sunda yang membentuk identitas budaya lokal yang kuat. Namun, sebagai kota transit, terdapat keberagaman etnis yang signifikan, termasuk komunitas Tionghoa yang secara historis menetap di pusat kota (kawasan perniagaan Ahmad Yani), serta suku Jawa dan Minangkabau. Kerukunan antarumat beragama di Sukabumi tercermin dari keberadaan rumah ibadah bersejarah yang berdampingan, memperkuat modal sosial masyarakat setempat.

Struktur Usia dan Pendidikan

Kota Sukabumi memiliki struktur "penduduk muda" dengan piramida penduduk ekspansif. Sebagian besar warga berada dalam usia produktif (15-64 tahun). Tingkat literasi di kota ini sangat tinggi, mendekati 99%, yang didorong oleh statusnya sebagai pusat pendidikan regional. Keberadaan institusi pendidikan tinggi seperti Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) dan berbagai sekolah kedinasan menarik minat pelajar dari luar daerah, berkontribusi pada dinamika intelektual kota.

Urbanisasi dan Pola Migrasi

Urbanisasi di Sukabumi bersifat intensif karena keterbatasan lahan. Fenomena "komuter" sangat kental, di mana banyak penduduk bekerja di kawasan Jabodetabek namun tetap tinggal di Sukabumi. Sebaliknya, arus migrasi masuk (in-migration) didorong oleh sektor industri pengolahan dan perdagangan. Meskipun wilayahnya sepenuhnya urban, terdapat kantong-kantong masyarakat yang masih mempertahankan nilai-nilai agraris di pinggiran kota. Mobilitas penduduk diperkirakan akan terus meningkat tajam seiring selesainya akses transportasi strategis yang menghubungkan Sukabumi dengan pusat-pusat pertumbuhan nasional.

💡 Fakta Unik

  • 1.Nama wilayah ini pertama kali diusulkan oleh seorang ahli bedah Belanda bernama Dr. Andries de Wilde pada tahun 1815, yang menggabungkan kata Sansekerta dan Jawa untuk menggambarkan tempat yang disenangi.
  • 2.Tradisi memukul lesung secara berirama yang dikenal dengan nama Ngagondang masih dilestarikan oleh masyarakat setempat sebagai simbol rasa syukur atas hasil panen.
  • 3.Wilayah ini merupakan kota dengan luas daratan terkecil di Jawa Barat, namun letaknya sangat strategis karena berada tepat di kaki Gunung Gede dan Gunung Pangrango.
  • 4.Kuliner khas yang paling ikonik dari daerah ini adalah Mochi, kue kenyal berisi kacang yang biasanya dikemas dalam kotak bambu kecil bernama keranjang bambu.

Tempat Lainnya di Jawa Barat

Lokasi Serupa

Panduan Perjalanan Terkait

Memuat panduan terkait...

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Uji Pengetahuanmu!

Apakah kamu bisa menebak Sukabumi dari siluet petanya?