Tasikmalaya

Rare
Jawa Barat
Luas
184,75 km²
Posisi
tengah
Jumlah Tetangga
3 wilayah
Pesisir
Tidak

Dipublikasikan: Januari 2025

Sejarah

#

Sejarah Tasikmalaya: Dari Galunggung hingga Kota Resik

Tasikmalaya, yang secara administratif terbagi menjadi Kota dan Kabupaten di Jawa Barat, memiliki akar sejarah yang sangat dalam, membentang dari era kerajaan kuno hingga pusat pergerakan kemerdekaan. Meskipun tidak memiliki garis pantai, wilayah seluas 184,75 km² (untuk wilayah kota) ini memiliki posisi geopolitik yang strategis di jalur selatan Pulau Jawa.

##

Akar Kuno dan Kerajaan Galunggung

Sejarah Tasikmalaya bermula dari Kerajaan Galunggung yang didirikan oleh Batara Sempakwaja pada abad ke-7. Wilayah ini dulunya dikenal dengan nama "Sukapura". Prasasti Geger Hanjuang yang ditemukan di Bukit Geger Hanjuang (Desa Linggawangi) bertarikh 1111 Masehi mencatat penetapan batas wilayah Rumantak oleh Sri Jayabupati. Nama "Tasikmalaya" sendiri secara etimologis diyakini berasal dari kata Tasik (danau/laut) dan Laya (bertebaran), yang merujuk pada gugusan bukit-bukit kecil (sepuluh ribu bukit) yang terbentuk akibat letusan dahsyat Gunung Galunggung pada masa prasejarah.

##

Era Kolonial dan Perpindahan Ibu Kota

Pada masa kolonial Belanda, wilayah ini merupakan bagian dari Kadipaten Sukapura. Salah satu figur kunci adalah Raden Anggadipa II yang bergelar Raden Tumenggung Wiradadaha III. Pada tahun 1832, ibu kota Kadipaten Sukapura dipindahkan dari Pasirpanjang ke Manonjaya oleh Wiradadaha VIII. Baru pada 1 Oktober 1901, nama Sukapura secara resmi diubah menjadi Kabupaten Tasikmalaya dengan pusat pemerintahan di kota Tasikmalaya saat ini. Pada masa ini, Tasikmalaya berkembang menjadi pusat perkebunan dan perdagangan karet serta teh yang signifikan bagi pemerintah Hindia Belanda.

##

Perjuangan Kemerdekaan dan Peristiwa Singaparna

Tasikmalaya mencatatkan tinta emas dalam sejarah kemerdekaan Indonesia melalui perlawanan heroik KH Zainal Mustofa. Pada 25 Februari 1944, ulama kharismatik dari Pesantren Sukamanah, Singaparna, ini memimpin pemberontakan santri melawan pendudukan Jepang. Perlawanan ini dipicu oleh penolakan keras terhadap tradisi Seikerei (membungkuk ke arah matahari terbit) yang dianggap syirik. Meskipun berakhir dengan penangkapan dan eksekusi KH Zainal Mustofa di Jakarta, peristiwa ini menjadi simbol keberanian lokal yang bergaung secara nasional.

##

Warisan Budaya dan Perkembangan Modern

Secara budaya, Tasikmalaya dikenal sebagai "Kota Santri" karena densitas pesantrennya yang sangat tinggi. Selain religiositas, warisan budaya yang tak ternilai adalah kerajinan tangan. Payung Geulis, Batik Tasikmalaya dengan motif Merak Ngibing, dan anyaman mendong telah ada sejak masa kolonial dan menjadi identitas ekonomi masyarakat. Salah satu situs bersejarah yang masih berdiri megah adalah Masjid Agung Manonjaya, yang dibangun pada tahun 1834 dan memiliki arsitektur perpaduan Neoklasik Eropa dengan struktur tradisional Jawa-Sunda.

Kini, Tasikmalaya telah bertransformasi menjadi pusat jasa dan perdagangan di Priangan Timur. Dengan semangat "Kota Resik", wilayah ini terus menjaga keseimbangan antara modernitas perkotaan dengan nilai-nilai tradisional yang diwariskan oleh para leluhur Galunggung dan pejuang kemerdekaan. Keberadaan Tugu Asmaul Husna di pusat kota menjadi monumen kontemporer yang menegaskan jati diri Tasikmalaya sebagai pusat peradaban Islam di Jawa Barat.

Geografi

#

Geografi dan Bentang Alam Tasikmalaya

Tasikmalaya merupakan salah satu pusat gravitasi geografis di wilayah Priangan Timur, Provinsi Jawa Barat. Secara administratif, wilayah ini terbagi menjadi Kota Tasikmalaya dengan luas 184,75 km² yang berfungsi sebagai pusat urban, serta Kabupaten Tasikmalaya yang melingkupinya dengan bentang alam yang jauh lebih luas. Terletak di pedalaman Pulau Jawa, wilayah ini dikelilingi oleh daratan (landlocked) tanpa garis pantai langsung, namun memiliki karakteristik topografi yang sangat dinamis.

##

Topografi dan Hidrologi

Karakteristik utama topografi Tasikmalaya adalah dataran tinggi bergelombang hingga perbukitan terjal yang merupakan bagian dari jalur vulkanik aktif. Di sebelah utara, wilayah ini didominasi oleh kehadiran Gunung Galunggung, sebuah gunung api aktif yang sejarah letusannya telah membentuk struktur tanah dan sebaran material vulkanik di seluruh lembah Tasikmalaya.

Bentang alamnya dihiasi oleh formasi "Sepuluh Ribu Bukit" (Ten Thousand Hills), sebuah fenomena geomorfologi unik berupa perbukitan kecil (hummocks) yang tersebar di dataran rendah, terbentuk akibat endapan lahar purba. Dari sisi hidrologi, Tasikmalaya dialiri oleh sungai-sungai besar seperti Sungai Ci Medang dan Sungai Ci Wulan yang mengalir membelah lembah, menyediakan sumber irigasi vital bagi pertanian sekaligus menjadi drainase alami bagi curah hujan tinggi di wilayah ini.

##

Iklim dan Variasi Musiman

Tasikmalaya memiliki iklim tropis basah (Af menurut klasifikasi Köppen) dengan tingkat kelembapan yang tinggi sepanjang tahun. Suhu udara rata-rata berkisar antara 20°C hingga 30°C, namun di wilayah kaki gunung, suhu bisa turun drastis pada malam hari. Pola curah hujan sangat dipengaruhi oleh monsun, di mana musim hujan biasanya berlangsung dari Oktober hingga April. Intensitas hujan yang tinggi di wilayah perbukitan seringkali menciptakan mikroklimat yang sejuk dan berkabut, menjadikannya area penyangga air yang penting bagi wilayah di bawahnya.

##

Sumber Daya Alam dan Ekologi

Kekayaan alam Tasikmalaya berakar pada kesuburan tanah vulkaniknya. Di sektor pertanian, wilayah ini merupakan lumbung padi organik dan penghasil kerajinan anyaman berbasis serat alam seperti pandan dan bambu. Selain itu, terdapat deposit mineral non-logam yang signifikan, termasuk pasir galunggung yang berkualitas tinggi untuk konstruksi, serta potensi panas bumi (geothermal) di sekitar kawasan pegunungan.

Secara ekologis, Tasikmalaya memiliki zona biodiversitas yang kaya, mulai dari ekosistem hutan hujan tropis pegunungan di lereng Galunggung hingga area persawahan bertingkat di lembah-lembahnya. Flora endemik seperti berbagai jenis anggrek hutan dan fauna seperti elang jawa masih dapat ditemukan di kawasan konservasi hutan lindung. Vegetasi alami ini berperan krusial dalam menjaga stabilitas tanah di kemiringan curam untuk mencegah erosi dan menjaga ketersediaan air tanah bagi penduduk di pedalaman Jawa Barat ini.

Budaya

Pesona Budaya Tasikmalaya: Sang Mutiara dari Priangan Timur

Tasikmalaya, yang sering dijuluki sebagai "Delhi van Java", merupakan pusat kebudayaan Sunda di wilayah Priangan Timur yang memiliki karakteristik religius dan kreatif yang sangat kental. Meskipun secara geografis tidak memiliki garis pantai, kota ini membangun identitas budayanya melalui kedalaman tradisi agraris, kemahiran artistik, dan nilai-nilai religius yang kuat.

#

Tradisi, Adat, dan Keagamaan

Budaya Tasikmalaya sangat dipengaruhi oleh nafas Islam, yang terlihat dari banyaknya pondok pesantren bersejarah seperti Miftahul Huda dan Suryalaya. Salah satu tradisi yang paling terjaga adalah Upacara Adat Hajat Lembur di Kampung Naga. Masyarakat Kampung Naga merupakan komunitas adat yang memegang teguh *pikukuh* (aturan adat) dalam menjaga kelestarian alam dan kesederhanaan hidup. Mereka menolak penggunaan listrik dan mesin sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur. Selain itu, terdapat tradisi Ngumbah Pusaka, yaitu pensucian benda-benda peninggalan sejarah yang dilakukan pada bulan Maulud.

#

Seni Pertunjukan dan Musik

Tasikmalaya memiliki kekayaan seni pertunjukan yang khas, salah satunya adalah Lais. Kesenian ini menampilkan kemahiran akrobatik di atas seutas tali rotan yang direntangkan di antara dua bambu panjang. Selain itu, terdapat tari Payung Geulis yang melambangkan keanggunan wanita Tasikmalaya. Dalam bidang musik, pengaruh instrumen bambu sangat dominan melalui Calung dan Angklung Landung. Masyarakat lokal juga melestarikan seni Terbang Cipatujah, sebuah musik perkusi bernuansa Islami yang menggunakan rebana berukuran besar.

#

Kriya dan Tekstil Tradisional

Sebagai "Kota Resik", Tasikmalaya adalah pusat kerajinan tangan terbaik di Jawa Barat. Produk unggulannya adalah Payung Geulis, payung kertas dekoratif dengan motif lukisan bunga yang menjadi ikon kota. Dalam bidang tekstil, Batik Tasikmalaya memiliki ciri khas warna yang lebih cerah (sogan) dan motif alam yang tegas seperti *Merak Ngibing* dan *Lutung Kasarung*. Selain batik, daerah Rajapolah terkenal dengan seni Anyaman Mendong dan pandan yang diolah menjadi tas, tikar, hingga sandal (kelom geulis), yang menunjukkan kreativitas tinggi masyarakat dalam memanfaatkan bahan alam.

#

Kuliner dan Cita Rasa Lokal

Dunia kuliner Tasikmalaya sangat spesifik. Salah satu yang paling ikonik adalah Nasi Tutug Oncom (TO), yaitu nasi hangat yang diaduk dengan oncom bakar dan bumbu kencur. Untuk kudapan, terdapat Kue Balok dan Citruk (aci dicitak miring). Tasikmalaya juga terkenal dengan Bakso Tasik yang memiliki karakteristik saus bawang dan sambal hijau yang berbeda dari bakso daerah lain.

#

Bahasa dan Identitas

Masyarakat menggunakan Bahasa Sunda dialek Priangan Timur. Dialek ini dikenal memiliki intonasi yang lembut namun dengan beberapa kosa kata yang khas (idiomatis). Ekspresi seperti *"Mangga linggih"* atau penggunaan partikel *"atuh"* sangat sering terdengar dalam percakapan sehari-hari. Pakaian tradisional yang umum dikenakan saat acara adat adalah Sinjang (kain panjang) dan Kebaya Sunda bagi wanita, serta Baju Pangsi hitam dengan ikat kepala (totopong) bagi pria, yang mencerminkan ketegasan sekaligus kerendahhatian warga Tasikmalaya.

Wisata

#

Menemukan Pesona Tersembunyi Tasikmalaya: Kota Resik di Jantung Jawa Barat

Tasikmalaya, yang sering dijuluki sebagai "Sang Mutiara dari Priangan Timur," merupakan destinasi yang menawarkan perpaduan harmonis antara kekayaan alam pegunungan, warisan budaya yang kental, dan kreativitas industri kerajinan. Dengan luas wilayah sekitar 184,75 km², kota ini menyajikan atmosfer sejuk khas dataran tinggi Jawa Barat yang memikat setiap pelancong.

##

Keajaiban Alam dan Petualangan Luar Ruangan

Meskipun wilayah kotanya tidak berbatasan langsung dengan garis pantai, Tasikmalaya dikelilingi oleh lanskap vulkanik yang dramatis. Ikon utamanya adalah Gunung Galunggung. Wisatawan dapat menapaki 620 anak tangga menuju bibir kawah untuk menikmati pemandangan danau hijau yang tenang di dasarnya. Bagi pencari ketenangan, pemandian air panas alami di kaki gunung ini menjadi tempat relaksasi yang sempurna. Selain itu, terdapat Curug Badak dan Curug Batu Hanoman yang menawarkan kesegaran air terjun di tengah hutan pinus yang asri, sangat cocok untuk aktivitas hiking ringan dan fotografi alam.

##

Warisan Budaya dan Situs Bersejarah

Tasikmalaya adalah pusat peradaban Sunda yang religius dan kreatif. Destinasi budaya yang wajib dikunjungi adalah Kampung Naga di Neglasari. Desa adat ini tetap mempertahankan gaya hidup tradisional tanpa listrik dan bangunan yang seragam, memberikan gambaran nyata tentang kearifan lokal masa lalu. Untuk wisata religi dan arsitektur, Masjid Agung Tasikmalaya berdiri megah dengan desain yang memadukan estetika modern dan nilai filosofis Islam yang kuat. Jangan lewatkan pula sentra kerajinan Bordir Kawalu dan Payung Geulis yang telah menjadi simbol seni visual khas Tasikmalaya yang diakui secara nasional.

##

Penjelajahan Kuliner yang Autentik

Pengalaman ke Tasikmalaya belum lengkap tanpa mencicipi nasi tutug oncom (TO), hidangan nasi yang diaduk dengan oncom bakar dan disajikan dengan lenca serta gorengan hangat. Bagi pecinta mi, Mie Bakso Laksana memberikan cita rasa legendaris dengan tekstur bakso yang kenyal dan kuah kaldu yang gurih. Untuk buah tangan, pilihlah Kolontong dan Rangicining yang renyah, atau kerajinan anyaman mendong yang elegan.

##

Akomodasi dan Keramahtamahan Lokal

Masyarakat Tasikmalaya dikenal dengan keramahannya yang hangat (Sunda: someah). Di pusat kota, tersedia berbagai pilihan akomodasi mulai dari hotel butik hingga hotel berbintang yang modern. Bagi yang ingin merasakan pengalaman autentik, tersedia homestay di sekitar area desa wisata yang memungkinkan interaksi langsung dengan warga lokal.

##

Waktu Terbaik untuk Berkunjung

Waktu terbaik untuk mengunjungi Tasikmalaya adalah pada musim kemarau, antara bulan Mei hingga September, demi mendapatkan pandangan kawah Galunggung yang cerah. Selain itu, bulan Oktober sering kali meriah dengan perayaan Hari Jadi Kota Tasikmalaya yang menampilkan berbagai festival budaya dan pameran kerajinan kreatif.

Ekonomi

#

Profil Ekonomi Kota Tasikmalaya: Pusat Perdagangan dan Industri Kreatif Priangan Timur

Tasikmalaya, yang sering dijuluki sebagai "Mutiara dari Priangan Timur", memegang peranan vital sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di koridor selatan Jawa Barat. Dengan luas wilayah 184,75 km² yang sepenuhnya dikelilingi daratan, kota ini telah bertransformasi dari basis agraris menjadi pusat jasa, perdagangan, dan industri kreatif yang dinamis.

##

Sektor Industri Kreatif dan Kerajinan Unggulan

Kekuatan ekonomi utama Tasikmalaya terletak pada sektor industri pengolahan skala kecil dan menengah (IKM). Kota ini merupakan sentra kerajinan tangan yang telah menembus pasar internasional. Produk unggulan seperti Payung Geulis, yang menjadi ikon budaya, serta kerajinan Mendong (anyaman serat tumbuhan) dari Kecamatan Purbaratu menjadi komoditas ekspor penting. Selain itu, industri alas kaki berupa Kelom Geulis dan sentra bordir di Kawalu menjadikan Tasikmalaya sebagai pusat busana muslim dan perlengkapan ibadah terbesar di Jawa Barat, yang menyerap ribuan tenaga kerja lokal.

##

Perdagangan, Jasa, dan Konektivitas Infrastruktur

Sebagai kota non-pesisir, Tasikmalaya mengandalkan konektivitas darat sebagai urat nadi perekonomian. Kehadiran Jalan Lingkar Utara dan rencana pembangunan Tol Cileunyi-Garut-Tasikmalaya (Cigatas) diproyeksikan akan memangkas biaya logistik dan mempercepat distribusi barang menuju Bandung dan Jakarta. Sektor perdagangan berkontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), didukung oleh eksistensi pusat perbelanjaan modern dan pasar tradisional strategis seperti Pasar Cikurubuk yang menjadi hub distribusi pangan bagi kabupaten sekitarnya.

##

Sektor Pertanian dan Ketahanan Pangan

Meskipun urbanisasi meningkat, sektor pertanian tetap dipertahankan melalui intensifikasi lahan. Tasikmalaya dikenal dengan produksi padi organik dan perikanan air tawar. Karena tidak memiliki wilayah laut, ekonomi kelautan tidak relevan secara geografis; namun, budidaya ikan kolam air deras di wilayah seperti Indihiang dan Cipedes memberikan kontribusi pada ketahanan pangan dan pendapatan masyarakat lokal.

##

Pariwisata dan Tren Ketenagakerjaan

Pariwisata berbasis kuliner dan religi menjadi penggerak ekonomi baru. Wisata kuliner dengan kekhasan seperti Nasi Toto dan Mie Bakso Tasik menarik kunjungan wisatawan regional setiap akhir pekan, yang berdampak positif pada tingkat okupansi hotel dan sektor jasa transportasi.

Tren ketenagakerjaan saat ini menunjukkan pergeseran dari sektor informal pertanian ke sektor jasa dan industri kreatif. Pemerintah kota terus mendorong digitalisasi UMKM untuk memperluas jangkauan pasar. Dengan fokus pada pengembangan infrastruktur transportasi dan penguatan identitas industri lokal, Tasikmalaya terus mengukuhkan posisinya sebagai kota jasa terdepan yang mandiri di pedalaman Jawa Barat.

Demografi

#

Profil Demografis Kota Tasikmalaya

Kota Tasikmalaya, yang sering dijuluki sebagai "Mutiara dari Priangan Timur", merupakan pusat pertumbuhan ekonomi dan sosial di wilayah tenggara Jawa Barat. Dengan luas wilayah sekitar 184,75 km², kota ini memiliki karakteristik demografis yang dinamis dengan kepadatan penduduk yang terus meningkat secara signifikan.

Kepadatan dan Distribusi Penduduk

Berdasarkan data terbaru, jumlah penduduk Kota Tasikmalaya telah melampaui angka 730.000 jiwa. Tingkat kepadatan penduduk mencapai rata-rata 3.900 hingga 4.000 jiwa per km². Distribusi penduduk terkonsentrasi di pusat-pusat perdagangan seperti Kecamatan Cihideung dan Tawang yang memiliki kepadatan tertinggi, sementara wilayah pinggiran seperti Tamansari dan Kawalu mulai mengalami peningkatan populasi seiring dengan ekspansi lahan pemukiman.

Komposisi Etnis dan Budaya

Struktur sosial Tasikmalaya didominasi oleh etnis Sunda yang mencakup lebih dari 95% populasi. Hal ini membentuk identitas budaya yang sangat kuat, tercermin dalam penggunaan bahasa Sunda dialek Priangan dalam keseharian. Terdapat pula komunitas Tionghoa yang signifikan di kawasan pusat kota (pecinan) yang telah berasimilasi selama beberapa generasi, serta pendatang dari etnis Jawa dan Minangkabau yang umumnya bergerak di sektor perdagangan dan jasa. Religiusitas yang tinggi dengan dominasi agama Islam menjadikan Tasikmalaya dikenal sebagai "Kota Santri".

Struktur Usia dan Pendidikan

Kota ini memiliki struktur penduduk muda dengan bentuk piramida penduduk ekspansif. Kelompok usia produktif (15-64 tahun) mendominasi sekitar 68% dari total populasi, yang memberikan potensi bonus demografi bagi pengembangan sektor industri kreatif dan UMKM. Dalam sektor pendidikan, angka melek huruf telah mencapai hampir 99%. Peningkatan taraf pendidikan terlihat dari menjamurnya perguruan tinggi negeri dan swasta yang menarik mahasiswa dari luar daerah, meningkatkan rasio penduduk berpendidikan diploma dan sarjana.

Urbanisasi dan Pola Migrasi

Sebagai kota non-pesisir, Tasikmalaya berperan sebagai magnet urbanisasi bagi wilayah sekitarnya seperti Kabupaten Tasikmalaya, Ciamis, dan Pangandaran. Migrasi masuk didorong oleh ketersediaan lapangan kerja di sektor industri bordir, kelom geulis, dan perdagangan. Sebaliknya, terdapat pola migrasi keluar (merantau) ke Jakarta atau Bandung, terutama di kalangan pemuda untuk mencari pengalaman kerja di sektor formal. Transformasi dari wilayah agraris menuju masyarakat perkotaan (urban) sangat terlihat di kecamatan-kecamatan penyangga yang kini berubah menjadi kawasan hunian modern.

💡 Fakta Unik

  • 1.Wilayah ini pernah menjadi pusat pemerintahan darurat Provinsi Jawa Barat pada tahun 1946 ketika Bandung diduduki oleh pasukan Sekutu.
  • 2.Kerajinan tangan dari anyaman bambu dan mendong yang sangat mendunia membuat daerah ini dijuluki sebagai 'Delhi van Java'.
  • 3.Gunung Galunggung yang meletus dahsyat pada tahun 1982 membentuk bentang alam unik berupa ribuan bukit kecil atau 'Ten Thousand Hills' di sekeliling wilayah ini.
  • 4.Pusat industri kreatif ini sangat terkenal dengan produksi Payung Geulis yang menjadi ikon seni rupa tradisional dan Bordir yang berkualitas tinggi.

Tempat Lainnya di Jawa Barat

Lokasi Serupa

Panduan Perjalanan Terkait

Memuat panduan terkait...

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Uji Pengetahuanmu!

Apakah kamu bisa menebak Tasikmalaya dari siluet petanya?