Situs Sejarah

Museum Mulawarman

di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Agung Kesultanan di Museum Mulawarman: Episentrum Sejarah Kutai Kartanegara

Museum Mulawarman bukan sekadar bangunan penyimpan artefak; ia adalah monumen hidup yang merangkum perjalanan panjang peradaban di tanah Kalimantan Timur. Berdiri megah di Kota Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, museum ini menempati bekas istana Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, yang merupakan salah satu entitas politik tertua dan paling berpengaruh di Nusantara.

#

Asal-Usul Historis dan Periode Pendirian

Akar sejarah Museum Mulawarman tidak dapat dipisahkan dari transformasi politik Kesultanan Kutai. Gedung yang kita lihat hari ini sebenarnya adalah bangunan istana permanen ketiga yang dibangun oleh pihak kesultanan. Istana sebelumnya, yang terbuat dari kayu ulin, mengalami kerusakan dan dipandang perlu untuk diganti dengan bangunan yang lebih modern dan tahan api sesuai perkembangan zaman.

Pembangunan gedung ini dimulai pada tahun 1932 di masa pemerintahan Sultan Adji Muhammad Parikesit, Sultan Kutai Kartanegara ke-21. Pemerintah Kolonial Belanda melalui arsiteknya turut andil dalam perancangan gedung ini, yang akhirnya selesai dan diresmikan pada tahun 1936 sebagai Paleis van den Sultan van Koetei. Setelah masa kemerdekaan, tepatnya pada tanggal 25 November 1971, bangunan istana ini secara resmi diserahkan oleh Sultan Adji Muhammad Parikesit kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur untuk dijadikan museum, yang kemudian diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia saat itu, Fuad Hassan.

#

Arsitektur: Perpaduan Modernitas Eropa dan Simbolisme Lokal

Secara arsitektural, Museum Mulawarman menampilkan gaya kolonial yang sangat kental dengan sentuhan Art Deco yang disesuaikan dengan iklim tropis. Bangunannya didominasi oleh warna putih bersih, memberikan kesan megah dan berwibawa. Struktur utamanya terbuat dari beton bertulang, sebuah inovasi konstruksi pada masanya yang membedakannya dari bangunan tradisional Kalimantan yang umumnya berbahan kayu.

Lantai museum dilapisi dengan marmer berkualitas tinggi yang didatangkan langsung dari Eropa. Salah satu ciri khas yang mencolok adalah keberadaan pilar-pilar besar yang menyangga teras depan, menciptakan ruang terbuka yang luas untuk sirkulasi udara. Di bagian dalam, tata ruang museum mempertahankan struktur istana asli, dengan ruang tamu agung (Singgasana), kamar tidur sultan, dan ruang perjamuan yang kini difungsikan sebagai ruang pamer koleksi utama. Di halaman depan, terdapat patung Lembuswana, makhluk mitologi yang menjadi lambang Kesultanan Kutai, yang memiliki kepala singa, belalai gajah, bersayap garuda, dan bersisik ikan—sebuah simbol sinkretisme budaya yang mendalam.

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Museum ini memegang status hukum sebagai situs cagar budaya yang sangat vital karena menyimpan jejak Kerajaan Kutai Martadipura (kerajaan Hindu tertua di Indonesia) dan Kesultanan Kutai Kartanegara. Di sinilah tersimpan replika Yupa, prasasti batu bertuliskan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta dari abad ke-4 Masehi yang menjadi bukti otentik dimulainya zaman sejarah (zaman tulisan) di Nusantara.

Peristiwa penting yang melekat pada lokasi ini adalah transisi kekuasaan dari monarki tradisional menuju integrasi dengan Republik Indonesia. Penyerahan istana menjadi museum pada tahun 1971 menandai kerelaan keluarga kerajaan untuk membagikan warisan leluhur mereka kepada publik demi kepentingan edukasi dan pelestarian identitas bangsa.

#

Tokoh dan Koleksi Ikonik

Tokoh sentral yang namanya diabadikan sebagai nama museum ini adalah Raja Mulawarman, raja terbesar dari Kerajaan Kutai Martadipura yang dikenal karena kedermawanannya menyumbangkan 20.000 ekor sapi kepada para kaum Brahmana. Namun, secara fisik, museum ini lebih banyak merefleksikan era Sultan Adji Muhammad Parikesit.

Koleksi di dalam museum sangat spesifik dan tak ternilai harganya. Di antaranya adalah Singgasana Sultan yang berlapis emas, mahkota asli sultan (replika dipajang di sini, yang asli berada di Museum Nasional Jakarta), serta berbagai perhiasan kerajaan seperti Kalung Uncal. Kalung emas berhias relief Ramayana ini merupakan atribut kebesaran yang konon hanya ada dua di dunia; satu di India dan satu di Kutai. Selain itu, terdapat koleksi keramik kuno dari Dinasti Ming, Qing, dan Yuan yang membuktikan bahwa Kutai telah menjadi simpul perdagangan internasional sejak berabad-abad silam.

#

Pelestarian dan Upaya Restorasi

Sebagai situs sejarah tingkat nasional, Museum Mulawarman berada di bawah pengawasan ketat Balai Pelestarian Kebudayaan. Restorasi dilakukan secara berkala dengan prinsip mempertahankan keaslian material. Tantangan terbesar dalam pelestarian ini adalah kelembapan udara Kalimantan yang tinggi, yang dapat merusak struktur beton dan koleksi organik seperti naskah kuno dan kain tenun Ulap Doyo.

Pada tahun-tahun terakhir, pemerintah daerah telah melakukan revitalisasi pada area taman dan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas tanpa mengubah fasad asli bangunan. Digitalisasi koleksi juga mulai dilakukan agar data sejarah tetap tersimpan meskipun artefak fisik mengalami penuaan alami.

#

Relevansi Budaya dan Religi

Secara kultural, Museum Mulawarman adalah pusat dari upacara adat Erau, festival budaya tahunan terbesar di Kalimantan Timur. Upacara "Belimbur" dan prosesi penurunan Naga yang sakral selalu bermuara atau berawal dari lingkungan museum ini. Hal ini menunjukkan bahwa museum bukan sekadar tempat penyimpanan barang mati, melainkan ruang sakral di mana tradisi spiritual dan adat istiadat Kutai tetap dipraktikkan hingga hari ini.

Keberadaan makam para Sultan Kutai di sebelah utara gedung museum menambah dimensi religius pada situs ini. Peziarah datang dari berbagai penjuru Kalimantan untuk memberikan penghormatan, menjadikan kompleks Museum Mulawarman sebagai titik temu antara sejarah politik, kebanggaan etnis, dan spiritualitas masyarakat setempat. Dengan segala kekayaan narasi yang dimilikinya, Museum Mulawarman tegak berdiri sebagai penjaga gerbang waktu yang menghubungkan masa kejayaan Hindu kuno dengan masa depan Kalimantan yang modern.

📋 Informasi Kunjungan

address
Jl. Tepian Pandan, Panji, Kec. Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara
entrance fee
Rp 10.000 - Rp 15.000 per orang
opening hours
Selasa - Minggu, 09:00 - 16:00

Tempat Menarik Lainnya di Kutai Kartanegara

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Kutai Kartanegara

Pelajari lebih lanjut tentang Kutai Kartanegara dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Kutai Kartanegara