Masjid Agung Al-Faroek
di Kutai Timur, Kalimantan Timur
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Kemegahan Arsitektur Masjid Agung Al-Faroek: Simbol Spiritualitas dan Modernitas Kutai Timur
Masjid Agung Al-Faroek bukan sekadar tempat ibadah bagi masyarakat Sangatta; ia adalah manifesto arsitektural yang merepresentasikan ambisi, identitas, dan kemajuan Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Berdiri kokoh di kawasan pusat perkantoran Bukit Pelangi, masjid ini menjadi titik fokal visual yang mendominasi cakrawala kota sekaligus menjadi jantung aktivitas sosial-keagamaan bagi penduduk setempat.
#
Konteks Sejarah dan Visi Pembangunan
Pembangunan Masjid Agung Al-Faroek tidak terlepas dari pemekaran wilayah Kutai Timur pada akhir dekade 1990-an. Pemerintah daerah kala itu menginginkan sebuah ikon yang mampu menyatukan masyarakat dalam satu wadah spiritualitas yang megah. Nama "Al-Faroek" sendiri diambil dari gelar sahabat Nabi Muhammad SAW, Umar bin Khattab, yang berarti pembeda antara yang hak dan yang batil.
Lokasinya di Bukit Pelangi memberikan keuntungan topografis. Masjid ini dibangun di atas lahan yang cukup tinggi, sehingga menaranya dapat terlihat dari kejauhan, bahkan dari arah laut Selat Makassar. Pembangunannya merupakan bagian dari rencana induk (masterplan) kawasan perkantoran yang terintegrasi, menjadikan fungsi pemerintahan dan spiritualitas berada dalam satu poros yang harmonis.
#
Gaya Arsitektur dan Prinsip Desain
Arsitektur Masjid Agung Al-Faroek mengadopsi gaya Eklektik-Modern. Desainnya merupakan perpaduan antara elemen klasik Timur Tengah, estetika modern kontemporer, dan sentuhan kearifan lokal Kalimantan. Salah satu prinsip desain utama yang diterapkan adalah "Keterbukaan dan Kemegahan", yang terlihat dari skala bangunan yang masif namun tetap menyambut dengan ruang-ruang terbuka di sekelilingnya.
Struktur bangunan didominasi oleh garis-garis tegas yang mencerminkan kekokohan, berpadu dengan lengkungan-lengkungan khas arsitektur Islam tradisional pada bagian jendela dan pintu. Fasad bangunan menggunakan palet warna yang cenderung netral namun elegan, seperti putih dan krem, yang dikombinasikan dengan aksen hijau pada kubah besarnya—sebuah warna yang melambangkan kesuburan tanah Kalimantan dan kedamaian dalam Islam.
#
Elemen Ikonik: Kubah dan Menara
Fitur yang paling mencolok dari Masjid Agung Al-Faroek adalah sistem kubahnya. Masjid ini memiliki satu kubah utama yang sangat besar di bagian tengah, dikelilingi oleh beberapa kubah pendamping yang lebih kecil di sekelilingnya. Kubah ini tidak menggunakan ubin keramik konvensional, melainkan material panel komposit modern yang tahan terhadap cuaca ekstrem tropis Kalimantan. Pola geometris pada kubah mengikuti prinsip fraktal Islami yang rumit namun simetris.
Menara masjid (minaret) dibangun dengan ketinggian yang menjulang, berfungsi tidak hanya sebagai tempat pengeras suara azan, tetapi juga sebagai mercusuar visual. Desain menaranya menggabungkan bentuk dasar persegi yang bertransformasi menjadi poligon di bagian atas, diakhiri dengan kubah kecil dan ornamen bulan sabit. Struktur menara ini dirancang untuk tahan terhadap beban angin yang tinggi di area bukit.
#
Inovasi Struktur dan Interior
Masuk ke bagian dalam (interior), pengunjung akan disambut oleh ruang salat utama yang sangat luas tanpa banyak pilar penyangga di tengah. Hal ini dimungkinkan melalui penggunaan teknologi long span (bentang lebar) pada struktur atapnya. Ruang tanpa sekat ini memberikan kesan tak terbatas (infinity) dan memastikan saf salat tidak terputus, yang secara teologis sangat penting dalam ibadah berjamaah.
Mihrab masjid ini merupakan sebuah mahakarya seni pahat dan kaligrafi. Dibuat dengan detail yang sangat teliti, mihrab menonjolkan kombinasi antara ukiran kayu jati dan aplikasi logam kuningan. Kaligrafi yang menghiasi dinding interior menggunakan gaya Khat Tsuluts yang megah, memuat ayat-ayat Al-Qur'an tentang keagungan penciptaan alam semesta. Pencahayaan alami dimaksimalkan melalui penggunaan jendela-jendela tinggi dengan kaca patri (stained glass) yang memberikan efek dramatis saat sinar matahari masuk pada pagi dan sore hari.
#
Signifikansi Budaya dan Sosial
Masjid Agung Al-Faroek telah bertransformasi lebih dari sekadar bangunan fisik; ia adalah pusat peradaban di Kutai Timur. Secara sosial, masjid ini menjadi ruang publik di mana masyarakat dari berbagai latar belakang etnis yang ada di Sangatta—seperti Dayak, Kutai, Bugis, dan Jawa—bertemu dalam harmoni.
Kawasan halaman masjid yang luas sering digunakan untuk kegiatan besar, mulai dari pelepasan jamaah haji, perayaan hari besar Islam, hingga festival keagamaan yang melibatkan UMKM lokal. Keberadaan masjid ini telah mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan Bukit Pelangi, menjadikannya destinasi wisata religi yang wajib dikunjungi bagi wisatawan yang datang ke Kalimantan Timur.
#
Pengalaman Pengunjung dan Lansekap
Pengalaman pengunjung dimulai sejak melewati gerbang utama yang megah. Area parkir yang tertata rapi dan taman-taman yang hijau memberikan kesan sejuk di tengah cuaca Sangatta yang panas. Penataan lansekap di sekitar masjid memperhatikan aspek keberlanjutan dengan menyediakan area resapan air yang luas.
Di malam hari, Masjid Agung Al-Faroek menampilkan wajah yang berbeda. Sistem pencahayaan arsitektural (architectural lighting) yang dirancang secara dinamis menyoroti lekuk-lekuk bangunan dan kubah, menciptakan pantulan cahaya yang indah. Bagi para fotografer dan pecinta arsitektur, momen senja di masjid ini menawarkan pemandangan siluet yang ikonik dengan latar belakang langit Kalimantan yang luas.
#
Kesimpulan: Warisan Arsitektur untuk Masa Depan
Dengan segala kemegahan dan detail yang dimilikinya, Masjid Agung Al-Faroek berdiri sebagai monumen keberhasilan pembangunan di Kutai Timur. Ia berhasil menggabungkan fungsi teknis sebagai bangunan publik dengan fungsi sakral sebagai rumah ibadah. Melalui inovasi struktural, pemilihan material yang adaptif terhadap iklim, dan desain yang menghormati tradisi namun tetap visioner, masjid ini akan terus menjadi kebanggaan masyarakat Kutai Timur selama berabad-abad mendatang.
Sebagai sebuah karya arsitektur, Al-Faroek adalah bukti bahwa di tengah kekayaan sumber daya alam Kalimantan, terdapat pula kekayaan kreativitas dan spiritualitas yang terwujud dalam bentuk beton, baja, dan doa.
📋 Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Kutai Timur
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Kutai Timur
Pelajari lebih lanjut tentang Kutai Timur dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Kutai Timur