Situs Sejarah

Situs Goa Karst Sangkulirang-Mangkalihat

di Kutai Timur, Kalimantan Timur

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Peradaban Tua di Jantung Kalimantan: Situs Karst Sangkulirang-Mangkalihat

Situs Karst Sangkulirang-Mangkalihat bukan sekadar formasi batuan kapur raksasa yang membentang di Kabupaten Kutai Timur dan Berau, Kalimantan Timur. Kawasan ini merupakan arsip alam dan budaya yang menyimpan memori kolektif kemanusiaan dari masa Pleistosen hingga Holosen. Meliputi area seluas kurang lebih 1,8 juta hektar, situs ini menjadi saksi bisu migrasi manusia purba dan perkembangan seni cadas (rock art) tertua di dunia.

#

Asal-Usul Historis dan Periode Pembentukan

Secara geologis, bentang alam karst ini terbentuk selama jutaan tahun melalui proses pelarutan batu gamping. Namun, signifikansi historisnya sebagai hunian manusia dimulai sekitar 40.000 hingga 52.000 tahun yang lalu. Penelusuran arkeologis yang dilakukan oleh tim gabungan Indonesia dan Prancis (ITB dan Institut de Recherche pour le Développement) sejak tahun 1990-an mengungkap bahwa gua-gua di kawasan ini telah dihuni oleh kelompok manusia pemburu-pengumpul.

Penemuan paling revolusioner terjadi di Gua Tewet, Gua Ham, dan Gua Karim, di mana penanggalan radiokarbon dan metode Uranium-series dating pada lapisan kalsit yang menutupi lukisan dinding menunjukkan bahwa seni cadas di sini jauh lebih tua daripada yang ditemukan di Eropa (seperti Gua Lascaux di Prancis). Hal ini menempatkan Sangkulirang-Mangkalihat sebagai titik sentral dalam peta evolusi kognitif manusia di Asia Tenggara.

#

Karakteristik Arsitektur Alam dan Detail Konstruksi

Berbeda dengan situs sejarah berupa bangunan buatan manusia (man-made), "arsitektur" Sangkulirang-Mangkalihat adalah hasil karya alam yang dimanfaatkan secara cerdas oleh manusia purba. Situs ini terdiri dari ribuan gua dan ceruk yang terletak di tebing-tebing curam, seringkali berada puluhan meter di atas permukaan tanah saat ini.

Gua-gua tersebut memiliki struktur interior yang kompleks, dengan stalaktit dan stalagmit yang berfungsi sebagai pilar alami. Manusia purba memilih gua berdasarkan orientasi cahaya matahari dan aksesibilitas terhadap sumber air dari sungai-sungai di bawahnya seperti Sungai Bengalon dan Sungai Karangan. Ruang-ruang di dalam gua dibagi secara fungsional: area depan yang terang digunakan sebagai tempat tinggal dan bengkel alat batu, sementara ceruk-ceruk yang lebih dalam dan gelap digunakan untuk aktivitas ritual dan penguburan.

#

Signifikansi Historis: Evolusi Seni Cadas Dunia

Signifikansi utama situs ini terletak pada ribuan gambar tangan (hand stencils) dan lukisan figuratif yang menghiasi dinding gua. Gambar-gambar ini bukan sekadar dekorasi, melainkan sistem komunikasi visual awal. Keunikan historis yang tidak ditemukan di tempat lain adalah transisi gaya penggambaran:

1. Periode Tertua: Didominasi oleh cap tangan berwarna merah oker dan gambar hewan besar seperti banteng purba (Bos javanicus).

2. Periode Transisi: Munculnya motif-motif garis, titik, dan simbol abstrak yang menunjukkan perkembangan pemikiran simbolik.

3. Periode Austronesia: Sekitar 4.000 tahun lalu, muncul lukisan berwarna hitam yang menggambarkan aktivitas manusia seperti menari, berburu, dan penggunaan perahu, yang menandai kedatangan penutur bahasa Austronesia ke nusantara.

Salah satu fakta unik adalah ditemukannya motif "tangan yang saling terhubung" dengan garis-garis serupa silsilah keluarga atau hubungan antar-kelompok, yang memberikan gambaran tentang struktur sosial masyarakat prasejarah di Kalimantan.

#

Tokoh dan Periode Terkait

Meskipun tidak ada "tokoh" individu dari masa prasejarah yang tercatat namanya, situs ini terkait erat dengan migrasi besar manusia modern (Homo sapiens) dari daratan Asia menuju Sahul (Australia dan Papua). Kawasan ini merupakan "jembatan budaya" yang menghubungkan tradisi alat batu paleolitik dengan tradisi neolitik.

Dalam sejarah yang lebih modern, kawasan ini berada di bawah pengaruh Kesultanan Kutai Kartanegara. Masyarakat lokal, terutama suku Dayak Basap, telah lama menganggap gua-gua ini sebagai tempat keramat. Mereka berperan sebagai penjaga tradisional (custodian) yang menjaga kerahasiaan lokasi gua selama berabad-abad sebelum akhirnya teridentifikasi oleh ilmuwan modern seperti Luc-Henri Fage dan Pindi Setiawan.

#

Kepentingan Budaya dan Religi

Bagi masyarakat Dayak Basap, Karst Sangkulirang-Mangkalihat bukan sekadar tumpukan batu, melainkan entitas spiritual. Banyak gua yang dianggap sebagai tempat persemayaman roh leluhur. Fungsi religi ini terlihat dari temuan arkeologis berupa peti mati kayu (lungun) yang diletakkan di ceruk-ceruk tinggi. Praktik penguburan ini menunjukkan keyakinan akan kehidupan setelah kematian dan penghormatan tinggi terhadap nenek moyang.

Seni cadas di sini juga mencerminkan kosmologi masyarakat purba tentang hubungan manusia dengan alam. Penggambaran hewan yang sangat detail menunjukkan adanya penghormatan terhadap entitas non-manusia yang menjadi sumber penghidupan mereka.

#

Status Preservasi dan Upaya Restorasi

Saat ini, Situs Karst Sangkulirang-Mangkalihat berstatus sebagai Cagar Budaya Nasional melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Pemerintah Indonesia juga telah mendaftarkan situs ini ke dalam daftar sementara (Tentative List) Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 2015.

Tantangan pelestarian di kawasan ini sangat besar. Ancaman utama datang dari aktivitas pertambangan semen yang mengincar batu gamping berkualitas tinggi, perkebunan kelapa sawit yang merambah kawasan buffer zone, serta vandalisme. Restorasi di situs ini lebih bersifat konservasi fisik lukisan dinding dari serangan mikroorganisme dan keretakan batuan akibat perubahan iklim mikro.

Upaya kolaboratif antara Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) wilayah XIV, pemerintah daerah Kutai Timur, dan komunitas lokal terus ditingkatkan. Pengembangan ekowisata berbasis komunitas menjadi strategi utama agar masyarakat mendapatkan manfaat ekonomi tanpa merusak situs. Pengunjung kini diatur dengan ketat, di mana masuk ke gua-gua sensitif seperti Gua Tewet memerlukan izin khusus dan pendampingan ahli guna menjaga kelembapan udara yang dapat merusak pigmen warna purba.

#

Kesimpulan Historis

Situs Goa Karst Sangkulirang-Mangkalihat adalah perpustakaan batu yang menyimpan bab pertama sejarah kemanusiaan di Kalimantan. Keberadaannya membuktikan bahwa ribuan tahun sebelum munculnya kerajaan-kerajaan besar di Nusantara, manusia di pedalaman Kalimantan telah memiliki kemampuan artistik yang tinggi, struktur sosial yang tertata, dan hubungan yang harmonis dengan alam. Menjaga situs ini bukan hanya menjaga warisan Kutai Timur, tetapi menjaga fragmen penting dari sejarah peradaban manusia global.

📋 Informasi Kunjungan

address
Kecamatan Karangan dan Sandaran, Kabupaten Kutai Timur
entrance fee
Dikelola masyarakat lokal / Sukarela
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 17:00

Tempat Menarik Lainnya di Kutai Timur

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Kutai Timur

Pelajari lebih lanjut tentang Kutai Timur dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Kutai Timur