Situs Megalitikum Tinggi Hari
di Lahat, Sumatera Selatan
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Asal-Usul Historiografi dan Periodisasi
Situs Megalitikum Tinggi Hari diperkirakan berasal dari masa tradisi megalitik dinamis yang berkembang antara 1.000 hingga 3.000 tahun yang lalu. Berbeda dengan megalitik statis di wilayah lain yang cenderung sederhana, peninggalan di Tinggi Hari menunjukkan pengaruh kuat dari masa perundagian atau zaman logam. Periodisasi ini ditandai dengan kemahiran para pemahat purba dalam membentuk batu andesit menjadi figur-figur yang sangat detail dan ekspresif.
Secara historis, situs ini merupakan bagian dari kebudayaan Pasemah (Basemah). Para arkeolog berpendapat bahwa masyarakat pendukung kebudayaan ini memiliki struktur sosial yang kompleks dan terorganisir. Keberadaan arca-arca besar di Tinggi Hari menunjukkan adanya sistem kepemimpinan yang mapan, di mana artefak tersebut kemungkinan besar dibangun sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur atau kepala suku yang telah wafat.
Gaya Arsitektur dan Detail Konstruksi
Ciri khas utama dari Situs Tinggi Hari adalah gaya pahatannya yang bersifat dinamis dan naturalis. Tidak seperti menhir atau dolmen di Eropa yang berbentuk geometris kaku, artefak di Tinggi Hari menampilkan bentuk-bentuk organik. Salah satu mahakarya di situs ini adalah "Arca Manusia Dililit Ular" dan "Arca Orang Mengapit Gajah".
Konstruksi arca-arca ini menggunakan batu andesit besar yang dipahat dengan teknik tinggi. Detail pada wajah, seperti mata yang melotot, bibir tebal, dan telinga yang lebar, menunjukkan karakteristik fisik ras tertentu atau simbolisme kekuatan spiritual. Selain arca, di kompleks Tinggi Hari juga ditemukan Lumpang Batu (batu berlubang), Dolmen (meja batu), dan Bilik Batu (ruang kubur batu). Bilik batu di lokasi ini memiliki keunikan tersendiri karena dinding bagian dalamnya sering kali dihiasi dengan lukisan berwarna (polikrom) menggunakan pigmen alami berwarna merah, hitam, dan kuning, yang menggambarkan pola-pola geometris atau figur manusia.
Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Terkait
Situs Tinggi Hari memegang peranan kunci dalam memahami migrasi manusia purba di Asia Tenggara. Penemuan artefak yang menyerupai bentuk nekara perunggu di atas relief batu menunjukkan adanya interaksi antara kebudayaan lokal Basemah dengan kebudayaan Dong Son dari Vietnam Utara. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat Tinggi Hari pada masa lalu tidak terisolasi, melainkan menjadi bagian dari jaringan perdagangan dan pertukaran budaya regional.
Salah satu peristiwa sejarah penting yang dikaitkan dengan situs ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Van der Hoop pada tahun 1932. Arkeolog Belanda tersebut mendokumentasikan situs ini secara mendalam dalam bukunya "Megalithic Remains in South Sumatra". Hasil penelitiannya membuka mata dunia internasional bahwa Sumatera Selatan memiliki salah satu peradaban megalitik paling maju di dunia, yang setara dengan kebudayaan megalitik di Pulau Paskah atau Stonehenge dalam hal nilai artistiknya.
Tokoh dan Periodisasi Kebudayaan
Meskipun nama-nama individu dari masa pembangunan situs ini tidak tercatat dalam tradisi tulis, memori kolektif masyarakat lokal (tutur lisan) sering mengaitkan keberadaan batu-batu ini dengan sosok legendaris "Si Pahit Lidah". Dalam mitologi setempat, arca-arca tersebut diyakini sebagai manusia atau hewan yang dikutuk menjadi batu oleh kesaktian tokoh tersebut. Namun, secara ilmiah, tokoh-tokoh yang direpresentasikan dalam arca-arca tersebut diyakini sebagai pemimpin klan, pejuang, atau dukun (shaman) yang memegang peranan penting dalam struktur religi megalitik.
Periodisasi kebudayaan di Tinggi Hari juga menunjukkan fase transisi. Arca-arca yang mengenakan perlengkapan perang seperti helm dan pedang menunjukkan bahwa pada masa itu, masyarakat telah mengenal teknologi logam dan mungkin sering terlibat dalam konflik antar suku atau upaya pertahanan wilayah.
Fungsi Kultural dan Religi
Bagi masyarakat purba Tinggi Hari, situs ini berfungsi sebagai pusat kegiatan sakral. Dolmen dan lumpang batu yang ditemukan di sana bukan sekadar alat fungsional, melainkan sarana upacara pemujaan arwah nenek moyang (ancestor worship). Masyarakat percaya bahwa roh leluhur bersemayam di tempat-tempat tinggi dan batu-batu besar.
Situs ini juga berfungsi sebagai penanda status sosial. Hanya keluarga atau kelompok elit yang mampu memobilisasi tenaga kerja untuk memahat dan memindahkan batu-batu raksasa seberat ratusan kilogram dari sungai ke atas bukit. Oleh karena itu, Tinggi Hari dapat dianggap sebagai "monumen kejayaan" dari klan-klan yang pernah mendominasi wilayah Lahat di masa lampau.
Status Konservasi dan Upaya Pelestarian
Saat ini, Situs Megalitikum Tinggi Hari berada di bawah pengawasan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VI. Meskipun telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya, tantangan pelestarian tetap ada, terutama terkait dengan faktor alam seperti lumut, pelapukan batu, dan vandalisme.
Upaya restorasi telah dilakukan secara bertahap, termasuk pembuatan cungkup (atap pelindung) untuk beberapa arca utama guna menghindari kerusakan akibat hujan asam dan sinar matahari langsung. Pemerintah Kabupaten Lahat juga mulai mempromosikan situs ini sebagai destinasi wisata sejarah berbasis edukasi. Kesadaran masyarakat lokal di Desa Tinggi Hari juga mulai meningkat, di mana mereka ikut menjaga keamanan situs demi kelestarian warisan moyang mereka.
Fakta Unik dan Kesimpulan
Salah satu fakta unik dari Situs Tinggi Hari adalah posisi arca-arcanya yang selalu menghadap ke arah Gunung Dempo. Hal ini menunjukkan pengetahuan astronomi dan kepercayaan kosmologi yang mendalam, di mana Gunung Dempo dianggap sebagai poros suci dunia. Selain itu, teknik pahatan "relief timbul" yang ditemukan di sini dianggap sebagai salah satu yang tertua dan tersulit di masanya, menunjukkan bahwa seniman purba Tinggi Hari telah mengenal perspektif tiga dimensi sebelum pengaruh Hindu-Budha masuk ke Nusantara.
Situs Megalitikum Tinggi Hari adalah saksi bisu kebesaran peradaban masa lalu yang mampu mengharmonisasikan manusia, alam, dan spiritualitas. Melalui batu-batu yang membisu ini, kita diajak untuk memahami akar identitas bangsa yang telah memiliki standar estetika dan organisasi sosial yang tinggi sejak ribuan tahun yang lalu. Menjaga Tinggi Hari berarti menjaga memori kolektif tentang keagungan sejarah Sumatera Selatan.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Lahat
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Lahat
Pelajari lebih lanjut tentang Lahat dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Lahat