Masjid Kuno Bayan Beleq
di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Jejak Fajar Islam di Gumi Gora: Sejarah dan Arsitektur Masjid Kuno Bayan Beleq
Masjid Kuno Bayan Beleq bukan sekadar bangunan peribadatan; ia adalah monumen hidup yang menandai titik mula penyebaran agama Islam di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Terletak di Desa Bayan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, masjid ini berdiri kokoh di atas sebuah bukit rendah, menjadi saksi bisu transformasi spiritual masyarakat Sasak dari kepercayaan lokal menuju ajaran tauhid.
#
Asal-Usul dan Periodisasi Sejarah
Masjid Kuno Bayan Beleq diyakini sebagai masjid tertua di Pulau Lombok. Berdasarkan catatan sejarah lisan dan naskah lontar setempat, masjid ini didirikan sekitar abad ke-16, bertepatan dengan gelombang awal kedatangan Islam yang dibawa oleh para mubaligh dari Jawa, khususnya melalui jalur perdagangan dan syiar yang terkait dengan Sunan Giri dari Gresik.
Tokoh kunci yang sering dikaitkan dengan berdirinya masjid ini adalah Syekh Gaos Abdul Razak. Beliau merupakan seorang penyebar agama Islam yang diyakini datang dari Baghdad, namun melalui proses panjang di tanah Jawa sebelum akhirnya menetap di Bayan. Keberadaan masjid ini menandai pergeseran zaman dari era Kerajaan Hindu-Buddha menuju era kesultanan Islam di wilayah tersebut. Nama "Beleq" sendiri dalam bahasa Sasak berarti "Besar" atau "Utama", merujuk pada statusnya sebagai masjid pusat bagi komunitas Muslim awal di wilayah utara Lombok.
#
Arsitektur Khas dan Filosofi Konstruksi
Arsitektur Masjid Kuno Bayan Beleq mencerminkan sinkretisme budaya yang mendalam dan kearifan lokal yang tinggi. Bangunan ini tidak menggunakan semen, beton, atau paku besi, melainkan mengandalkan material alam yang tersedia di sekitarnya.
1. Struktur Fondasi dan Lantai: Masjid ini berdiri di atas fondasi batu sungai yang disusun rapi tanpa perekat kimia. Lantainya berupa tanah yang dikeraskan, memberikan kesan kerendahhatian dan kedekatan manusia dengan asal-usul penciptaannya.
2. Dinding Gedek: Dinding masjid terbuat dari anyaman bambu (gedek) yang memungkinkan sirkulasi udara tetap terjaga dengan baik. Penggunaan bambu ini juga melambangkan fleksibilitas dan ketahanan masyarakat lokal terhadap guncangan gempa yang sering melanda wilayah lingkar Rinjani.
3. Atap Tumpang: Atapnya berbentuk tumpang (tumpang dua) yang terbuat dari susunan bambu yang dibelah (santek). Bentuk atap ini memiliki kemiripan dengan arsitektur masjid-masjid kuno di Jawa, yang secara filosofis melambangkan tingkatan dalam ajaran Islam: Syariat, Tarekat, Hakikat, dan Marifat.
4. Saka Guru: Di bagian dalam, terdapat empat tiang utama (saka guru) yang terbuat dari kayu nangka. Kayu nangka dipilih karena ketahanan dan filosofi "nangka" yang dalam bahasa lokal dikaitkan dengan "tetangga" atau kebersamaan.
#
Makna Budaya dan Peristiwa Bersejarah
Masjid Kuno Bayan Beleq bukan sekadar tempat salat lima waktu. Di masa lalu, masjid ini merupakan pusat pemerintahan adat dan agama yang terintegrasi. Salah satu peristiwa sejarah penting yang melekat pada situs ini adalah proses Islamisasi masyarakat Sasak melalui metode "Islam Wetu Telu".
Wetu Telu merupakan praktik sinkretisme yang menggabungkan ajaran Islam dengan tradisi lokal dan Hindu-Jawa yang sudah ada sebelumnya. Meskipun saat ini mayoritas masyarakat Bayan telah menjalankan Islam secara murni (Waktu Lima), Masjid Kuno Bayan Beleq tetap menjadi simbol penghormatan terhadap leluhur dan sejarah panjang evolusi keyakinan di Lombok. Masjid ini digunakan secara aktif hanya pada momen-momen tertentu, seperti perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dikenal dengan ritual "Maulid Adat".
#
Tokoh dan Makam Keramat
Di sekitar kompleks masjid, terdapat beberapa makam kuno yang sangat dihormati oleh masyarakat setempat. Makam-makam ini merupakan tempat peristirahatan terakhir para penyebar Islam awal dan tokoh adat Bayan. Beberapa di antaranya adalah Makam Reak, Makam Sesait, dan Makam Anyar.
Keberadaan makam-makam ini mempertegas fungsi Masjid Bayan sebagai pusat spiritual. Para peziarah yang datang tidak hanya berasal dari Lombok, tetapi juga dari luar pulau untuk menghormati jasa para wali yang telah menanamkan fondasi moral dan agama di tanah Bayan. Tokoh-tokoh seperti Penghulu, Raden, dan kiai adat masih memegang peranan penting dalam menjaga kelestarian ritual di area ini.
#
Pelestarian dan Upaya Restorasi
Sebagai Situs Cagar Budaya yang dilindungi oleh Undang-Undang, Masjid Kuno Bayan Beleq dikelola dengan pengawasan ketat dari Balai Pelestarian Kebudayaan. Upaya restorasi dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menjaga keaslian materialnya.
Salah satu tantangan terbesar dalam pelestarian situs ini adalah bencana alam. Pada tahun 2018, saat gempa bumi dahsyat mengguncang Lombok, Masjid Kuno Bayan Beleq mengalami kerusakan pada beberapa bagian strukturnya. Namun, berkat gotong royong masyarakat adat dan bantuan pemerintah, masjid ini berhasil dipulihkan kembali menggunakan teknik tradisional agar tetap sesuai dengan bentuk aslinya. Penggunaan material alami seperti bambu dan kayu mengharuskan adanya penggantian secara berkala setiap beberapa dekade, yang dilakukan melalui upacara adat khusus.
#
Relevansi Sosial dan Religi Saat Ini
Saat ini, Masjid Kuno Bayan Beleq menjadi daya tarik wisata sejarah utama di Lombok Utara. Namun, pengelolaannya tetap mengedepankan kesakralan situs. Pengunjung diwajibkan menggunakan pakaian adat Sasak (sapuk dan kain tenun) saat memasuki area masjid sebagai bentuk penghormatan terhadap norma setempat.
Masjid ini menjadi pengingat akan keragaman cara Islam masuk dan diterima di Nusantara—bukan melalui penaklukan, melainkan melalui adaptasi budaya dan pendekatan persuasif. Keberadaannya memperkuat identitas masyarakat Bayan sebagai masyarakat yang memegang teguh adat istiadat tanpa meninggalkan kewajiban sebagai umat beragama.
Secara keseluruhan, Masjid Kuno Bayan Beleq adalah permata sejarah yang menyimpan narasi tentang ketangguhan, spiritualitas, dan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan. Ia tetap berdiri tegak di kaki Gunung Rinjani, menyambut setiap fajar dengan kesederhanaan yang megah, menjaga warisan para wali untuk generasi mendatang.
📋 Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Lombok Utara
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Lombok Utara
Pelajari lebih lanjut tentang Lombok Utara dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Lombok Utara