Situs Biting
di Lumajang, Jawa Timur
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Asal-Usul Historis dan Periode Pendirian
Nama "Biting" sendiri berasal dari kata dalam bahasa Madura "Benteng" (bhiting), yang merujuk pada fungsi utama kawasan ini sebagai instalasi pertahanan militer. Secara historis, Situs Biting diyakini mulai berkembang pesat pada akhir abad ke-13, tepatnya sekitar tahun 1293 Masehi. Pembangunannya berkaitan erat dengan peristiwa politik besar setelah runtuhnya Kerajaan Singhasari dan berdirinya Majapahit.
Berdasarkan naskah kuno Pararaton dan Kidung Harsawijaya, kawasan ini identik dengan ibu kota Kerajaan Lumajang Tigang Juru yang dipimpin oleh Arya Wiraraja. Setelah membantu Raden Wijaya mendirikan Majapahit, Arya Wiraraja menagih janji pembagian wilayah timur Jawa (daerah Lamajang Tigang Juru) yang meliputi wilayah Lumajang, Panarukan, dan Blambangan. Situs Biting berfungsi sebagai pusat pemerintahan sekaligus benteng pertahanan utama bagi kerajaan otonom tersebut.
Arsitektur dan Detail Konstruksi Benteng
Karakteristik arsitektur Situs Biting sangat unik dan berbeda dari candi-candi pada umumnya di Jawa Timur. Fokus utamanya adalah fungsionalitas militer. Benteng ini memiliki luas total mencapai kurang lebih 135 hektar, menjadikannya salah satu kompleks pemukiman berbenteng terluas di masanya.
Struktur utama yang paling menonjol adalah dinding benteng (talud) yang terbuat dari susunan bata merah berukuran besar. Bata-bata ini memiliki dimensi yang jauh lebih besar dibandingkan bata modern, mencerminkan teknik pembakaran tinggi era klasik. Benteng ini memiliki panjang sekitar 10 kilometer dengan lebar dinding mencapai 6 meter dan ketinggian yang diperkirakan dulunya mencapai 10 meter.
Keunikan konstruksinya terletak pada sistem pertahanan ganda. Situs ini dikelilingi oleh sungai alam, yaitu Sungai Bondoyudo dan Sungai Mayang, yang berfungsi sebagai parit pertahanan alami. Arsitek masa lalu memanfaatkan kontur sungai ini untuk menyulitkan musuh masuk ke area inti (keraton). Di dalam kawasan ini, ditemukan pula sisa-sisa struktur yang diduga sebagai pintu gerbang (gapura), menara pengawas, dan pondasi bangunan hunian yang tertata secara rapi menurut pola tata kota kuno.
Signifikansi Historis dan Peristiwa Penting
Situs Biting adalah simbol kedaulatan wilayah timur. Salah satu peristiwa paling signifikan yang terkait dengan situs ini adalah "Perang Paregreg", perang saudara besar di Majapahit antara istana barat (Vikramawardhana) dan istana timur (Bhre Wirabhumi). Lumajang, dengan Biting sebagai jantungnya, menjadi basis kekuatan bagi faksi timur.
Selain itu, situs ini menjadi bukti nyata dari "Negara Transisi". Di sinilah terjadi asimilasi budaya antara pengaruh Hindu-Buddha yang kuat dari pedalaman Jawa dengan pengaruh pesisir yang lebih dinamis. Penemuan keramik dari Dinasti Yuan, Ming, dan Qing di area ini menunjukkan bahwa Biting bukan sekadar benteng militer terisolasi, melainkan pusat perdagangan internasional yang terhubung dengan jaringan maritim global melalui pelabuhan-pelabuhan di pantai utara dan timur.
Tokoh Kunci: Arya Wiraraja dan Menak Koncar
Tokoh yang paling melekat dengan narasi Biting adalah Arya Wiraraja (Banyak Wide). Ia adalah seorang ahli strategi ulung yang pernah menjabat sebagai Rakryan Demung di Singhasari sebelum menjadi Adipati Sumenep dan akhirnya raja di Lumajang. Kecerdasannya dalam berdiplomasi dan membangun infrastruktur pertahanan membuat Lumajang menjadi wilayah yang disegani oleh Majapahit pusat.
Selain Wiraraja, nama Menak Koncar juga muncul dalam tradisi lisan dan catatan sejarah lokal sebagai penguasa Lumajang pada periode berikutnya. Ia sering diasosiasikan dengan masa transisi menuju pengaruh Islam di wilayah tersebut. Keberadaan makam kuno di dalam kompleks situs, yang dikenal sebagai Makam Menak Koncar, memperkuat lapisan sejarah bahwa Situs Biting tetap digunakan hingga masa penyebaran Islam di Jawa Timur.
Status Pelestarian dan Upaya Restorasi
Selama berdekade-dekade, Situs Biting sempat terabaikan dan banyak bagian benteng yang tertimbun tanah atau rusak akibat aktivitas penambangan pasir dan perluasan pemukiman penduduk. Namun, sejak tahun 2010-an, kesadaran akan pentingnya situs ini mulai meningkat. Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur bersama komunitas peduli sejarah lokal secara masif melakukan ekskavasi dan zonasi.
Saat ini, Situs Biting telah ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya tingkat Provinsi. Upaya pengamanan dilakukan dengan membangun pagar pelindung di titik-titik krusial dan mendirikan Museum Situs Biting yang menyimpan artefak hasil temuan seperti fragmen gerabah, keramik asing, dan senjata kuno. Tantangan terbesar saat ini adalah melakukan restorasi pada struktur bata yang mulai melapuk akibat faktor cuaca dan integrasi kawasan sejarah dengan tata ruang kota modern Lumajang.
Kepentingan Budaya dan Religi
Bagi masyarakat Lumajang, Situs Biting bukan sekadar objek wisata arkeologi, melainkan identitas kultural. Setiap tahun, sering diadakan prosesi budaya yang bertujuan mengenang kejayaan masa lalu dan menghormati leluhur. Makam di dalam area situs tetap menjadi tujuan ziarah bagi masyarakat yang mencari koneksi spiritual dengan tokoh Menak Koncar.
Secara akademis, Situs Biting memberikan bukti bahwa sistem perkotaan di Jawa pada abad ke-13 sudah sangat maju, dengan pemisahan yang jelas antara area militer, area pemerintahan, dan area ekonomi. Keberadaan sumur-sumur kuno di dalam situs juga menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang manajemen sumber daya air bagi populasi yang besar di dalam benteng.
Fakta Unik dan Penutup
Satu hal unik yang jarang diketahui adalah bahwa Situs Biting memiliki sistem "lubang intip" dan struktur "trap" pada dinding bentengnya yang dirancang khusus untuk serangan balik menggunakan panah atau tombak. Selain itu, komposisi kimia pada bata merah Biting menunjukkan penggunaan material lokal yang dicampur dengan perekat alami yang sangat kuat, sehingga mampu bertahan lebih dari 700 tahun meskipun terpendam dalam kondisi lembap.
Situs Biting adalah monumen ketangguhan manusia Nusantara dalam menjaga kedaulatan dan membangun peradaban. Melalui setiap susunan batanya, kita diajak untuk memahami bahwa Lumajang pernah menjadi titik episentrum politik yang menentukan jalannya sejarah besar di tanah Jawa. Pelestarian berkelanjutan adalah harga mati agar generasi mendatang tetap dapat melihat jejak kebesaran Lamajang Tigang Juru.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Lumajang
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Lumajang
Pelajari lebih lanjut tentang Lumajang dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Lumajang