Pusat Kebudayaan

Jatiwangi art Factory (JaF)

di Majalengka, Jawa Barat

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Filosofi Tanah: Dari Material Industri Menjadi Media Artistik

Sejak didirikan pada tahun 2005 oleh Arief Yudi Rahman bersama komunitas lokal, JaF lahir dari kesadaran akan sejarah panjang Jatiwangi sebagai pusat industri genteng terbesar di Indonesia sejak zaman kolonial. Namun, ketika industri genteng mulai meredup akibat gempuran material modern seperti baja ringan, JaF hadir untuk memastikan bahwa hubungan emosional warga dengan tanah tidak ikut terkikis.

Bagi JaF, tanah liat adalah "marwah" masyarakat Majalengka. Mereka menggeser paradigma tanah liat dari sekadar bahan bangunan (genteng dan bata) menjadi media ekspresi yang multidimensi. Di sini, tanah liat dieksplorasi secara radikal melalui seni rupa, musik, arsitektur, hingga diplomasi internasional.

Musik Keramik: Bunyi dari Perut Bumi

Salah satu kontribusi paling unik dan mendunia dari JaF adalah pengembangan musik keramik. Melalui ansambel Hanyaterra, JaF menciptakan instrumen musik yang sepenuhnya terbuat dari tanah liat bakar, mulai dari gitar elektrik keramik, drum, hingga suling tanah.

Kegiatan ini memuncak dalam Festival Musik Keramik, sebuah perhelatan dua tahunan yang melibatkan ribuan warga Jatiwangi. Salah satu momen paling ikonik adalah "Rampak Genteng", sebuah orkestra massal di mana ribuan orang memukul genteng secara sinkron, menciptakan suara ritmis yang menggetarkan tanah. Ini bukan sekadar pertunjukan musik, melainkan sebuah ritual kolektif untuk merayakan kedaulatan tanah dan memperkuat solidaritas komunal.

Program Residensi Seni Internasional

JaF telah menjadi titik temu global bagi seniman, peneliti, dan kurator dari seluruh dunia melalui program residensi seninya. Seniman mancanegara diundang untuk tinggal di rumah-rumah penduduk, berinteraksi dengan buruh pabrik genteng, dan menciptakan karya yang merespons realitas lokal Jatiwangi.

Program ini menciptakan pertukaran pengetahuan yang setara. Warga lokal tidak hanya menjadi objek penelitian, tetapi menjadi kolaborator aktif. Hasil dari residensi ini seringkali berupa instalasi seni publik di ruang-ruang terbuka desa, mural di dinding pabrik, atau inovasi produk berbasis tanah liat yang memiliki nilai artistik tinggi.

Pendidikan Budaya dan Pemberdayaan Komunitas

Pendidikan adalah urat nadi JaF. Melalui berbagai lokakarya, JaF mengajarkan generasi muda Majalengka untuk bangga akan identitas agraris dan industri mereka. Program-program pendidikan ini meliputi:

1. Sekolah Tanah Liat: Pendidikan non-formal bagi anak-anak sekitar untuk mengenal teknik pengolahan tanah liat secara kreatif.

2. Literasi Desa: Upaya mendokumentasikan sejarah lisan para sesepuh dan buruh genteng ke dalam bentuk tulisan dan arsip digital.

3. Koperasi Perupa Jatiwangi: Sebuah inisiatif ekonomi kreatif yang membantu pengrajin lokal memasarkan produk kerajinan tangan yang telah diberikan sentuhan desain kontemporer.

JaF juga berperan dalam pemberdayaan perempuan melalui kegiatan artistik yang melibatkan ibu-ibu rumah tangga, mulai dari pembuatan suvenir unik hingga keterlibatan dalam manajemen festival.

Festival dan Perhelatan Budaya Ikonik

Selain Festival Musik Keramik, JaF secara rutin menyelenggarakan acara-acara yang mengaburkan batas antara seni elit dan hiburan rakyat:

  • Jatiwangi Cup: Sebuah kompetisi binaraga unik bagi para buruh pabrik genteng (jebor). Acara ini merayakan keindahan tubuh para pekerja keras yang sehari-harinya mengangkat beban tanah dan genteng. Ini adalah bentuk penghormatan terhadap martabat buruh.
  • Ceramic Music Festival: Menampilkan eksplorasi bunyi dari berbagai belahan dunia yang menggunakan material tanah.
  • Biennale Majalengka: Sebuah upaya untuk memetakan potensi seni di seluruh kabupaten Majalengka, menjadikan desa-desa sebagai galeri seni yang hidup.

Pelestarian Warisan Budaya dan Visi Kota Terakota

JaF tidak hanya terjebak pada nostalgia masa lalu. Mereka aktif melakukan advokasi terhadap pelestarian arsitektur lokal. Di tengah ancaman alih fungsi lahan menjadi kawasan industri besar, JaF mengusulkan konsep "Kota Terakota".

Visi ini bertujuan menjadikan Majalengka sebagai wilayah yang pembangunannya berbasis pada material dan estetika tanah liat. JaF mendorong penggunaan kembali bata merah dan genteng lokal dalam proyek-proyek infrastruktur modern, sehingga identitas visual daerah tetap terjaga di tengah modernisasi. Mereka percaya bahwa kemajuan ekonomi tidak harus mengorbankan akar budaya.

Peran dalam Pembangunan Budaya Lokal

Kehadiran Jatiwangi art Factory telah mengubah citra Majalengka di mata nasional dan internasional. Majalengka yang dulunya hanya dianggap sebagai daerah perlintasan sepi, kini dikenal sebagai pusat inovasi seni berbasis komunitas yang paling berpengaruh di Asia Tenggara.

JaF berhasil membuktikan bahwa pusat kebudayaan tidak harus berada di ibu kota atau kota besar yang mapan. Dengan memanfaatkan potensi lokal—yaitu tanah liat dan semangat gotong royong—mereka menciptakan ekosistem yang mandiri. Mereka berperan sebagai mediator antara kebijakan pemerintah, kepentingan investor, dan kebutuhan masyarakat lokal, memastikan bahwa suara warga tetap terdengar dalam arus pembangunan.

Kesimpulan: Tanah yang Terus Membara

Jatiwangi art Factory adalah bukti nyata bahwa seni memiliki kekuatan untuk menggerakkan perubahan sosial. Melalui tangan dingin para penggeraknya, tanah liat yang murah dan melimpah diubah menjadi emas budaya yang tak ternilai harganya.

Bagi pengunjung, JaF menawarkan pengalaman yang mendalam: mencium bau tanah setelah hujan, mendengar denting gitar keramik, dan melihat otot-otot binaraga buruh yang berkilat diterpa matahari. Di JaF, seni bukanlah sesuatu yang dipajang di balik kaca galeri yang dingin, melainkan sesuatu yang kotor oleh tanah, panas karena dibakar, dan berdenyut bersama nafas kehidupan masyarakat Jatiwangi. JaF adalah rumah bagi siapa saja yang percaya bahwa masa depan suatu bangsa sangat bergantung pada seberapa kuat mereka memegang tanah kelahirannya.

📋 Informasi Kunjungan

address
Jl. Makmur No. 604, Jatisura, Jatiwangi, Kabupaten Majalengka
entrance fee
Sukarela / Berbasis Donasi
opening hours
Senin - Sabtu, 09:00 - 17:00

Tempat Menarik Lainnya di Majalengka

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Majalengka

Pelajari lebih lanjut tentang Majalengka dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Majalengka