Situs Sejarah

Makam Raja-Raja Banggae

di Majene, Sulawesi Barat

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Agung di Atas Bukit: Sejarah dan Kemegahan Kompleks Makam Raja-Raja Banggae

Makam Raja-Raja Banggae bukan sekadar deretan nisan tua yang membisu di atas perbukitan. Terletak di Kelurahan Pangali-Ali, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, situs ini merupakan saksi bisu kejayaan Kerajaan Banggae, salah satu entitas politik terpenting dalam konfederasi Pitu Babana Binanga (Tujuh Kerajaan di Muara Sungai). Berada di ketinggian sekitar 42 meter di atas permukaan laut, kompleks pemakaman ini menawarkan narasi panjang mengenai peradaban Mandar, mulai dari masa peralihan kepercayaan hingga puncak keemasan Islam di tanah Sulawesi.

#

Asal-Usul dan Periodisasi Sejarah

Kompleks Makam Raja-Raja Banggae diperkirakan mulai digunakan sejak abad ke-16 hingga abad ke-20. Situs ini merupakan area pemakaman bagi para raja (Maraudia) beserta keluarga dan pembesar Kerajaan Banggae. Secara kronologis, keberadaan makam ini mencerminkan transisi kepercayaan masyarakat Mandar. Pada lapisan tertua, terdapat indikasi tradisi megalitik yang kuat, yang kemudian berasimilasi dengan pengaruh Islam setelah kedatangan agama tersebut di wilayah Mandar pada awal abad ke-17.

Kerajaan Banggae sendiri memegang peranan vital dalam peta kekuasaan di pesisir barat Sulawesi. Sebagai bagian dari Pitu Babana Binanga, Banggae berfungsi sebagai benteng pertahanan sekaligus pusat perdagangan laut. Lokasi makam yang berada di atas bukit (Bukit Ondongan) bukan tanpa alasan; dalam kosmologi masyarakat lokal pra-Islam, tempat tinggi dianggap suci dan merupakan tempat bersemayamnya para leluhur. Pemilihan lokasi ini menunjukkan kesinambungan budaya yang harmonis antara tradisi lokal dan ajaran baru.

#

Arsitektur dan Detail Konstruksi yang Unik

Salah satu daya tarik utama dari Makam Raja-Raja Banggae adalah keragaman gaya arsitekturalnya. Terdapat ratusan makam di kompleks ini yang terbuat dari batu pasir (sandstone) dan batu karang. Secara visual, makam-makam ini dikelompokkan berdasarkan strata sosial dan periode pembuatannya.

Ciri khas yang paling menonjol adalah bentuk nisan dan jiratnya. Terdapat nisan yang berbentuk pipih, bulat, hingga nisan yang menyerupai bentuk manusia (antropomorfik) yang merupakan peninggalan masa transisi. Jirat atau badan makam sering kali dihiasi dengan relief ukiran yang sangat detail, mulai dari motif flora (sulur-suluran), geometris, hingga kaligrafi Arab yang menunjukkan pengaruh kuat Islam.

Salah satu teknik konstruksi yang unik adalah sistem "susun batu" tanpa semen, di mana balok-balok batu dipahat sedemikian rupa sehingga saling mengunci. Beberapa makam memiliki struktur cungkup atau rumah kecil di atasnya, yang dalam bahasa lokal disebut Boyang-Boyang, mencerminkan status tinggi sang penghuni makam.

#

Tokoh-Tokoh Penting dan Peristiwa Sejarah

Di dalam kompleks ini, bersemayam jasad para penguasa besar Banggae. Salah satu makam yang paling dihormati adalah makam Raja Banggae yang dikenal dengan gelar anumerta yang menunjukkan jasa mereka selama memerintah. Tokoh-tokoh seperti Maraudia Banggae ke-19, H. Andi Tonra, dan para pemegang jabatan Tomakaka dimakamkan di sini.

Keberadaan makam ini juga berkaitan erat dengan perlawanan rakyat Mandar terhadap kolonialisme Belanda. Banyak raja Banggae yang dimakamkan di sini adalah tokoh yang menolak tunduk pada perjanjian politik dengan pemerintah Hindia Belanda pada awal abad ke-20. Oleh karena itu, situs ini juga berfungsi sebagai monumen heroisme bagi masyarakat Sulawesi Barat dalam mempertahankan kedaulatan tanah Mandar.

#

Signifikansi Budaya dan Religi

Bagi masyarakat Mandar, Makam Raja-Raja Banggae melampaui fungsinya sebagai situs arkeologi. Secara budaya, situs ini adalah simbol legitimasi kerabat kerajaan dan identitas kolektif orang Majene. Hingga saat ini, tradisi ziarah masih dilakukan dengan khidmat, terutama menjelang hari-hari besar Islam atau ritual adat tertentu.

Nilai religius yang terkandung dalam ukiran nisan menunjukkan bagaimana proses Islamisasi di Mandar berlangsung secara damai dan akulturatif. Penggunaan aksara Arab-Serang (bahasa lokal yang ditulis dengan huruf Arab) pada beberapa nisan membuktikan tingkat intelektualitas dan literasi masyarakat Banggae di masa lalu. Situs ini menjadi laboratorium hidup bagi para peneliti untuk mempelajari penyebaran Islam melalui jalur maritim di Nusantara.

#

Status Pelestarian dan Restoran

Mengingat nilai sejarahnya yang sangat tinggi, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menetapkan Makam Raja-Raja Banggae sebagai Cagar Budaya Nasional. Upaya pelestarian dilakukan secara berkelanjutan untuk menjaga batu-batu nisan dari pelapukan alami akibat cuaca ekstrim dan pertumbuhan lumut.

Restorasi dilakukan dengan sangat hati-hati untuk mempertahankan keaslian bentuk dan bahan. Pembangunan pagar pembatas, jalur pejalan kaki, dan pusat informasi dilakukan untuk memfasilitasi wisatawan serta peneliti tanpa merusak ekosistem sejarah di dalamnya. Keberadaan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) wilayah Sulawesi Selatan dan Barat memegang peranan kunci dalam mengawasi integritas fisik situs ini.

#

Fakta Unik: Navigasi dan Sudut Pandang

Sebuah fakta unik yang jarang diketahui adalah bahwa lokasi makam di perbukitan ini dulunya berfungsi sebagai titik navigasi alami bagi para pelaut Mandar yang kembali dari pelayaran jauh. Dari area makam, terlihat pemandangan Teluk Mandar yang luas. Posisi makam yang menghadap ke arah kiblat namun tetap mengikuti kontur perbukitan menunjukkan kecerdasan arsitektural dalam memadukan hukum syariat dengan topografi alam.

Sebagai penutup, Makam Raja-Raja Banggae adalah sebuah ensiklopedia batu. Setiap ukiran dan susunan batunya menyimpan cerita tentang diplomasi, perang, cinta, dan ketaatan kepada Sang Pencipta. Mengunjungi situs ini bukan hanya perjalanan melihat masa lalu, melainkan upaya memahami akar jati diri manusia Mandar yang tangguh dan religius di tengah gempuran zaman modern. Dengan menjaga kelestariannya, Majene tidak hanya merawat makam, tetapi juga merawat martabat sejarah bangsa.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Bukit Ondongan, Kelurahan Pangali-Ali, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene
entrance fee
Gratis / Donasi
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 17:00

Tempat Menarik Lainnya di Majene

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Majene

Pelajari lebih lanjut tentang Majene dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Majene